Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Quinn Musielak
Selama beberapa jam terakhir, aku mengawas Tanoko Musielak. Pria itu di usia lima puluhan, tampak seperti konglomerat kebanyakan di Jakarta. Tapi dia bukan konglomerat biasa. Dia bajingan yang membayar transplantasi ginjal Naveen.
HP aku berdering untuk kesekian kalinya, dan sekali lagi aku cueki.
Setelah Tanoko beli makanan di kafetaria, dia duduk di salah satu meja kosong. Merasa dia akan ada di situ setidaknya lima belas menit, aku balik badan dan jalan ke kamar rumah sakit tempat putrinya dirawat.
Beda sama Remy, Tully, dan Farris, aku enggak masalah harus membunuh seorang wanita. Tapi aku enggak sekejam Cavell, yang tanpa ragu membantai satu keluarga utuh.
Selama sepuluh jam terakhir, aku mencoba mencerna kematian Naveen sambil memikirkan bagaimana caraku menghadapi kekacauan ini.
Kalau aku langsung menjatuhkan keluarga Musielak, aku enggak bakal bisa fokus menangani para bajingan penjual organ di Jakarta.
Itu prioritas aku sekarang.
Waktu aku mendekati ruangan itu, jari-jariku mengepal. Apa pun yang aku lakukan, aku enggak pernah bisa siap sepenuhnya buat momen ini. Lampunya mati. Begitu mataku menangkap sosok wanita berambut ikal yang terbaring di ranjang, rasa sakitnya langsung menyayat.
Sebagian dari Naveen masih hidup.
Pelan-pelan aku mendekat, sampai aku berdiri tepat di sampingnya, menatap wajah wanita yang sedang tertidur itu. Sekilas, aku sadar dia cantik, meskipun tubuhnya kurus banget.
Rambutnya terang, lebih condong ke cokelat. Momen itu berlalu, dan mataku menyipit menatap dia. "Kamu penyebab kematian saudaraku."
Napasnya berubah, kelopak matanya berkedip lalu terbuka. Iris birunya mencolok, tapi jelas dia belum sepenuhnya sadar waktu mencoba fokus ke aku.
Suaraku lembut, tapi penuh amarah saat aku bilang, “Ginjal itu milik aku.”
Keningnya berkerut waktu dia bergumam, “Hah?”
Belum sempat aku bilang apa-apa, dia sudah pingsan lagi. Senyum tipis muncul di bibirnya saat dia berbisik pelan, “Makasih.”
Aku memperhatikan dia sampai tertidur lagi, lalu aku mengeluarkan HP dari saku, buka kamera, dan ambil fotonya.
“Jangan terlalu senang sama ginjal itu,” geramku sebelum berbalik dan pergi.
Saat aku jalan menyusuri koridor, mataku menangkap sosok Tanoko Musielak yang datang dari arah berlawanan. Dia menatapku, dan sedetik kemudian matanya melebar karena mengenaliku.
Aku enggak kaget.
Kebanyakan bajingan Crazy Rich di Jakarta tahu soal Marunda, karena kami ikut nimbrung di hampir setiap keuntungan yang mereka dapat.
Dia mengangguk ke aku, tapi aku enggak repot-repot balas sapaan itu. Saat ini, aku butuh seluruh kendali diriku buat enggak membunuh bajingan ini di sini.
Aku enggak boleh kehilangan akal sehat. Aku harus fokus mencari semua orang yang terlibat dalam kematian Naveen.
Begitu meninggalkan rumah sakit, aku masuk ke Bentley dan menyetir ke rumah Farris.
Biasanya aku bakal ke Tully, tapi saat ini aku benar-benar enggak sanggup dengar suara bayi menangis.
HPku bergetar lagi. Aku keluarkan dari saku dan membalas singkat.
...📞...
“Apa!?”
^^^“Kamu di mana?”^^^
Marius, nadanya tegang banget.
“Aku lagi otw ke rumah Farris.”
^^^“Kita ketemu di sana.”^^^
Teleponnya mati. Aku lempar HP ke kursi penumpang. Saat menyetir di tengah jalanan yang ramai, gambaran Naveen di meja operasi kembali lagi, meremukan jiwaku.
Naveen sudah mati.
Mataku perih karena air mata yang enggak bisa jatuh. Begitu Bentley aku parkir, aku ambil HP dan naik lift ke penthouse Farris.
Saat pintu terbuka, Farris menengok ke arahku dari sofa ruang tamu. Dia taruh laptop dari pangkuannya dan berdiri.
“Ya Tuhan, Braun.”
Kakiku jalan sendiri. Mataku yang panas langsung tertuju ke dia.
Tanpa kata apa pun, Farris langsung memelukku erat.
“Aku turut berduka. Kita bakal nemuin siapa pun yang ngelakuin ini dan bunuh mereka.”
Aku angkat tangan, mencengkeram bajunya, sambil berusaha bernapas dan menahan rasa sakit yang enggak tertahankan.
Entah bagaimana caranya, aku masih berdiri tegak.
Entah bagaimana caranya, air mata aku enggak jatuh.
Aku lepas dari pelukan Farris dan jalan ke meja tempat sebotol Macallan berdiri di samping lima gelas. Aku buka botolnya, tuang beberapa, lalu bawa gelas itu ke bibir dan menelan cairan emas itu.
Pintu lift terbuka lagi, dan suara Gustav terdengar gemetar, “Aku khawatir banget! Kenapa kamu enggak ngangkat telepon?”
Aku tuang satu gelas lagi buat diriku sendiri sebelum berbalik.
Marius dan Chooper berdiri di samping Gustav, sementara Farris mendekat buat ambil minum.
“Ada yang mau minum lagi?” tanya Farris.
“Nggak, makasih,” jawab Gustav, matanya penuh cemas, melihat apa yang sedang hancur di dalam diriku. Dia menghela napas, lalu jalan ke arahku dan taruh tangannya di bahuku.
“Kamu baik-baik aja?”
Enggak ... untuk jangka panjang.
Aku menyeruput wiski dan mengangguk.
“Makasih.”
Bayangan Quinn Musielak menyerang hatiku, dan aku langsung menghabiskan sisa whisky di gelas.
Dia enggak bakal bilang makasih waktu aku ambil kembali ginjal Naveen dari tubuhnya.
Setelah taruh gelas di meja, aku jalan ke jendela besar dan menatap lampu-lampu Kota Jakarta yang terbentang di depanku.
Sambil masukkan tangan ke saku celana, aku bilang, “Aku mau tahu setiap detail tentang Tanoko dan Quinn Musielak.”
“Ayo,” jawab Farris. Aku dengar dia bergerak. “Duduk di sofa.”
Gustav berdiri di sampingku, menyilang tangan di dada. “Semuanya udah siap. Pemakamannya lusa.”
Masih menatap lampu-lampu kota, aku cuma bisa mengangguk setuju.
“Seseorang harus ngasih tahu Mamanya,” gumam Gustav pelan.
Suaraku serak waktu aku berbisik, “Aku yang bakal bilang besok.”
Begitu pintu lift terbuka lagi dan aku menengok ke belakang, aku sama sekali enggak kaget melihat Tully. Tatapannya langsung ke aku, dan dalam hitungan detik dia sudah ada di depanku, tarik aku ke dalam pelukan yang erat.
Beda sama waktu Farris memelukku, kali ini aku enggak sanggup menahan air mata. Air mata mengalir di pipiku, dan aku balas memeluk sahabatku sekuat tenaga.
Aku sudah berteman sama Tully sejak sekolah, dan selain Naveen, dia orang yang paling dekat sama aku.
“Iya, luapin aja,” bisiknya.
Rasa sakit itu langsung meledak dari dalam diriku. Sakitnya segila itu sampai badan aku gemetar.
“Sini,” kata Tully.
Sambil merangkul bahuku, dia tuntun aku naik ke lantai atas, ke salah satu kamar tamu.
Sebagai Big Boss Marunda, kami enggak boleh menunjukkan rasa takut di depan anak buah. Apa pun yang terjadi, kami harus selalu kelihatan kuat.
Tapi begitu aku sendirian sama Tully, kakiku langsung lemas. Lututku jatuh ke lantai. Dengan tangan menopang di paha, aku bahkan enggak bisa tarik napas karena rasa sakitnya kelewat parah.
Aku merasa lengan Tully melingkari bahuku lagi. Dia jadi tumpuan yang kokoh di sampingku, sementara aku hancur berkeping-keping.
Suaraku serak, penuh duka dan amarah, waktu aku berbisik, “Mereka membelah perutnya kayak ikan.”
Perutku terasa panas, empedu pun naik.
"Jantungnya ada di dalam kotak sialan itu."
“Ya Tuhan, Braun,” gumam Tully. “Aku benar-benar minta maaf.”
Aku menengok dan menatap mata sahabatku.
“Mereka hancurin adik aku.”
Rahang Tully menegang. Aku bisa lihat jelas dia merasakan penderitaanku.
“Kita bakal bunuh semua bajingan itu satu per satu.”
Aku menggeleng pelan, tarik napas dalam-dalam dengan putus asa.
Quinn Musielak akan aku urus paling terakhir.
Karena ... hanya setelah aku bisa mengubur ginjal Naveen bersama tubuhnya, baru aku bisa menemukan sedikit kedamaian.