Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Kuda-Kudaan
Lana, di lain pihak malah merasa nyaman. Untuk pertama kalinya ia bisa memeluk suaminya. Tubuhnya hangat dan merasa tentram.
"Hei, jelek! Ngapain nempel terus di badanku, hah!?"
Baru saja Lana mengangkat kepalanya, jari telunjuk Fian sudah mendorong dahinya dengan kasar menjauh. "Aduuh ...." Ia terpaksa melepas pelukan.
"Enak saja kamu main peluk aku!"
"Kamu juga. Ciium aku waktu akad nikah, hee ...," ledek Lana membalik ucapan suaminya.
Pria itu tercengang karena wanita ini berani membantahnya. Bahkan dengan meledek. "Kan aku bilang, kita harus terlihat harmonis di luar!" Ia tak kalah sewot.
"Kenapa peduli banget sih, pendapat orang!" Lana menyipitkan matanya sambil mendengus kesal.
Fian geram. Ingin rasanya ia menerangkan pada Lana, tapi kemudian batal karena ia rasa tak perlu. Wanita ini hanya perlu melakukan tugasnya saja. "Sudah sana! Kamu takkan mengerti!!"
Lana merengut sambil mata menyipit ke arah suaminya. Ia bergerak ke sofa dengan langkah gontai walau kesal. Wanita itu duduk di sana. Perutnya lapar. Kenapa Fian tiba-tiba berhenti makan? "Kenapa Mas tadi berhenti makan? Apa Mas gak lapar?" keluhnya.
Pria itu tak menyahut. Ia sibuk dengan pikirannya, walau tidak sekacau tadi.
"Mas ...." Lana sedikit merengek. Ia tak peduli kalau Fian kesal karenanya karena kini mereka sudah suami istri. Ia tak perlu lagi memikirkan apakah ia akan kehilangan pekerjaan atau tidak. Fian tak mungkin memecatnya jadi istri secepat itu kan?
"Berisik!" Konsentrasi Fian pecah karena istrinya terus mengajaknya bicara.
"Mas ...," ucap Lana mulai melembutkan suaranya. Ia ingin melembutkan kekerasan hati suaminya. Didatanginya Fian. "Kamu beneran gak laper?"
Fian memandangi Lana dengan kesal.
Wanita itu membaringkan tubuhnya ke atas kasur. "Ya udah, kalo gak mau. Aku lapar. Sayang ... makanan belum dimakan, ditinggal begitu aja di atas meja. Aku mau makan." Lana beranjak berdiri.
"Lana, kamu tidak boleh keluar!"
"Kenapa?" Wanita itu menoleh kesal.
"Tidak boleh! Aku bilang tidak boleh ya, tidak boleh!" ujar Fian makin ngotot.
"Mas ...." Wanita itu kembali mengiba. Ia menghentakkan kakinya dengan dongkol.
Fian melirik istrinya. Sesuatu terlintas dipikirkan. Tiba-tiba ia menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. "Sini, naik dulu." Kekesalannya terlihat sudah surut.
"Ck, apa sih ...." Lana bergumam sambil naik dan berguling di samping dengan mulut cemberut.
"Coba kamu naik di sini." Fian menepuk-nepuk perutnya.
"Hah?" Mata Lana terbelalak. Ia memperhatikan tempat pria itu menepuk.
"Ayo, naik," ucap pria itu dengan wajah dingin.
"Naik ke situ?" Lana menunjuk perut Fian.
"Iya, ayo." Pria itu menantikan.
"Tapi ...." Wanita itu tampak ragu.
"Ck!" Fian menatap tajam istrinya. "Ayo! Aku bilang, ayo, ya ayo!" Ia terlihat marah.
Lana menelan ludah dengan susah payah. "Berada di atasnya? Apa yang dia pikirkan?" Dengan pelan wanita itu naik ke atas perut suaminya. "Begini?"
"Kurang turun."
"Hah?"
"Kerjakan saja."
Lana menurut. "Sini?" Ia mulai tak nyaman. Di tempat 'itu'?
"Coba goyangkan."
"Heh?"
Dahi pria itu berkerut. "Kamu ngerti bahasa Indonesia, gak sih?" Ucapannya kembali ketus.
"Tapi ...."
"Lakukan saja!"
"Ini ...." Lana masih tak bergerak.
"Ada masalah!?" Fian mulai kesal.
"Bukan gitu ...."
"Lalu?"
"Tapi, kan ...." Lana menunduk malu.
"Kamu di sini membantuku, kan?"
"Membantu?" Kini kepala wanita itu ditegakkan dengan cepat.
"Aku hanya ingin tahu, apa aku bisa merasakannya."
"Merasakan. Ah, oke." Lana langsung berpikir positif dan mengerjakannya walau dengan wajah memerah. Ia mengerjakan walau dengan perasaan dan sensasi yang aneh. Awalnya ia menunduk malu, tapi kemudian ia mengangkat kepalanya ketika tidak ada reaksi apa pun dari Fian.
Ternyata pria itu tengah berkonsentrasi dengan wajah serius.
"Bagaimana?"
Namun, Fian hanya terdiam hingga Lana menghentikannya. "Mas?"
Fian membuang pandangan ke samping tapi tangan kirinya memukkul kasur dengan kepalan tangannya. "Turun," ucapnya dengan nada suara yang sedikit sesak.
"Eh ...." Lana turun. Ia bisa merasakan ada kemarahan dalam nada suara pria itu. Ia berbaring di sampingnya. Setidaknya Lana bisa menduga-duga kenapa Fian kali ini marah. Mungkin karena ia tidak bisa merasakan kakinya yang lumpuh. "Mas ... jangan kecil hati," ucapnya hati-hati. "Kan Mas masih berobat 'kan, ke dokter?"
"Kau tau apa." Terdengar suara pria itu yang parau seperti menahan isak.
"Pasti Mas bisa sembuh."
"Kalau tidak!?"
"Aku akan menemanimu sampai sembuh. Kalau tidak, aku akan menemanimu ... seumur hidupku."
Pria itu memutar kepalanya ke arah Lana. Ia malah tertawa. Padahal kedua matanya sudah memerah. "Siapa yang mau hidup denganmu!?"
Lana tampak iba melihat wajah pria itu yang tampak terluka, tapi ia juga tahu diri. Ia tertawa kecil mengingat dirinya yang bukan siapa-siapa. "Iya, ya. Siapa juga yang mau hidup denganku. Wajahku jelek."
Fian terkejut. "Kelinci jelek," ucapnya menambahkan.
Lana kaget. "Apa? Kelinci? Kelinci itu lucu lagi."
"Tapi kamu memang kelinci. Kelinci yang paling jelek!" Sarkas Fian.
Lana menatap pria itu. Fian memang sangat tampan. Bahkan saat hampir menangis. Lana senang pria itu mulai tersenyum saat matanya masih merah. "Iya, aku memang kelinci yang jelek." Ia pun ikut tersenyum.
Mata pria itu kembali berkaca-kaca. Ia memalingkan wajah dan kini menatap langit-langit. "Yang paling ditakuti pria adalah saat ia mengetahui dirinya mandul." Ada dengusan napas yang sempat terhenti sesaat ketika mengucapkannya. Dengusan napas putus asa.
Lana mengerut dahi. Itukah yang dipikirkan Fian barusan? Dia mandul? "Mas, udah periksa?"
Pria itu menghapus air matanya yang hampir jatuh. "Aku baru saja memeriksanya."
Lana menepuk pundak suaminya dengan gemas. "Ih ... kamu harus periksa, lagi! Terakhir ke dokter kapan?"
"Terakhir ke dokter, waktu pulang dari rumah sakit sehabis kecelakaan. Aku tidak lagi ke sana."
"Apa?" Lana seketika duduk di atas kasur. Rambutnya tergerai turun. "Mas, kamu harus periksa. Gak boleh didiemin. Ayo, sekarang ke dokter!" Ia meraih tangan suaminya.
"Tapi ... itu sudah lama."
"Ngak ada kata terlambat. Ayo!"
***
Karena sudah lama tidak berobat, dokter melakukan cek kesehatan secara menyeluruh hingga bisa menyimpulkan keadaan kesehatannya. Kemudian dokter datang menemui keduanya. Pria itu melipat stetoskop dan meletakkannya di atas meja, barulah ia mulai duduk. "Sepertinya masih belum terlambat. Coba ke bagian fisioterapi. Nanti ibu akan diajari gerakan-gerakan yang bisa dipraktekkan di rumah. Biar Saya resepkan obat dan vitamin buat suaminya dulu."
Lana menoleh pada suaminya dan kembali pada dokter dengan senyum lebar. "Makasih, dok."
"Tapi harus rajin latihannya." Dokter itu mulai menulis di sebuah buku memo.
Sesuatu terlintas di pikiran Lana. "Eh, dok. Apa suami Saya mandul, dok?"
Fian melirik istrinya.
Dokter pun juga berhenti menulis dan memperbaiki kacamatanya. "Mmh, kalau itu nanti bisa dilihat lagi setelah kakinya sembuh, tapi kemungkinannya mungkin sekitar 50%." Dokter itu kembali menulis.
Lana melirik suaminya di samping yang tampak kecewa.
Tak lama mereka pindah ke bagian fisioterapi. Lana berusaha mengingat latihan apa saja yang harus suaminya kerjakan, sedang Fian sendiri pikirannya entah ke mana. Setelah selesai mereka keluar. Kursi roda Fian didorong oleh Hadi.
"Mas, aku lapar ...," sahut Lana sedikit mendengus.
Pria itu tersenyum tipis. "Ya sudah. Kita ke kantin dulu."
Di sana Lana memesan makanan tapi Fian sepertinya melamun. "Mas, mau pesan apa?"
"Mmh? Aku nanti saja," jawab pria itu dengan malas.
"Ngak boleh gitu. Ini udah mau siang lho, Mas belum makan." Lana meraih pegangan kursi roda suaminya. "Makan ya."
"Lana, aku ...."
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp