Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
“Jadi, mau bicara apa, Mah, sama aku?”
“Mama mau tahu kenapa kamu tadi di sekolah bisa pingsan. Apa penyebabnya? Kalau pingsan, Mama tahu penyebab kamu pingsan itu cuma satu; kalau kamu lagi di ruangan gelap. Apakah tadi kamu lagi di ruangan gelap?”
Alia mencoba bohong kepada mamanya, tetapi ia berpikir untuk kedua kalinya. Dirinya tidak boleh berbohong kepada mamanya; hanya mamanyalah yang bisa membuat dirinya jujur sepenuhnya.
“Maafin aku, Mah… tadi aku memang lagi ke ruangan gelap sih, kosong gitu, sama temen aku, karena kita lagi ada observasi.”
“Kenapa kamu nggak bilang ke teman kamu aja kalau kamu nggak bisa ke ruangan yang gelap dan sepi? Harusnya kamu kasih tahu ke teman kamu dong, dan Mama yakin teman kamu akan mengerti, sayang.”
“Iya… emang salah aku juga sih, soalnya aku nggak kasih tahu dia. Dia juga nggak bisa disalahin, karena kan semuanya atas persetujuan dari aku; kalau misalkan aku nggak setuju, dia juga nggak mungkin berani.”
Mama tidak bisa banyak bicara kepada Alia. Anak yang dulunya masih kecil, sekarang benar-benar sudah dewasa dan berpikiran luas, sampai membuat Mama berpikir: apakah Alia terlalu cepat dewasa? Mamanya berharap, Alia bisa kembali seperti anak kecil dulu.
“Ya udah deh, sayang… Mama percaya kok sama kamu. Tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi, ya. Mama benar-benar khawatir dan panik banget sama kamu. Harusnya sih teman kamu tadi kasih tahu Mama tentang kondisi kamu. Walaupun Papa kamu lagi ada tugas di luar negeri, tetap aja kamu itu tanggung jawab Mama, sayang.”
“Ya, maafin aku ya… harusnya aku juga bilang ke Mama sih. Tapi mungkin karena akunya juga lagi pingsan, kan gimana aku mau ngasih tahu Mama. Lagi pula, aku percaya kalau orang yang bantuin aku pasti orang yang baik… tapi aku sendiri juga nggak tahu sih orang itu siapa.”
“Loh, bukannya kata kamu tadi, kamu lagi observasi sama teman kamu? Teman kamu itu cewek kan? Bukan cowok… atau kalau emang cowok…”
Mama mencoba menggoda anak abg-nya ini. Akhirnya, Alia mencoba jujur kepada mamanya, walau ia tidak tahu apakah reaksi mamanya nanti akan setuju atau tidak.
“Temen aku itu pria, Mah… dan dia adalah calon suami aku nanti, pas aku lulus, ketika aku nikah sama dia.”
“Oh? Dia kelas berapa? Dan kenapa kamu nggak pernah kenalin dia ke Mama? Apakah kamu takut Mama nggak bakal setujuin kamu sama dia?”
“Sebenarnya bukan begitu sih, Mah. Dia itu kakak kelas aku, dan dia itu pinter banget. Bahkan dia ketua OSIS di sekolah aku. Sama dia itu, kita nggak sengaja bertabrakan sih, terus jadi deket… tetapi kita bukan pacaran, ya. Kita masih benar-benar di posisi di mana status kita itu masih kayak cuma temenan aja.”
“Terus kenapa kamu bisa memilih untuk menikahi dia, sedangkan kamu sendiri bukan siapa-siapanya dia? Apakah kamu nggak takut ketika dia punya pacar, dan kamu akan dibuang sama dia?”
Alia berpikir, ada benarnya juga perkataan mamanya. Tetapi Alia juga tidak bisa menuntut banyak, karena ia yang meminta bantuan kepada Arnold; syukur-syukur juga kalau Arnold mau membantu dirinya.
“Haha, tidak kok, Mah… Arnold orang yang baik, eh—”
“Oh, nama dia Arnold? Mama penasaran seganteng apa anaknya, sampai anak Mama sesuka ini sama dia.”
Alia tidak bisa berkata banyak; takutnya mamanya bercandain dia kembali. Tidak lama, Alia pura-pura ngantuk agar dirinya bisa tidur dan tidak banyak ditanya lagi oleh mamanya.
Mamanya pergi dari kamar Alia, dan Alia merasa malu setelah memberitahu nama Arnold ke mamanya. Ia takut besok mamanya ke sekolah dan mencari pria bernama Arnold. Apalagi, yang namanya Arnold cuma dia satu-satunya di sekolah itu; kalau Mama berhasil bertemu dengannya, bagaimana nasib Alia?
---
Keesokan paginya, di meja makan.
Papa baru pulang dinas dan melihat ke arah Alia, tapi Alia tidak mau melihat ke arah papanya; ia takut ditanya ada apa dengan dirinya.
Alia makan dengan tenang, berusaha tidak membuat kesalahan, sedangkan papanya terus memperhatikannya. Mamanya hanya diam dan tetap makan seperti tidak ada apa-apa.
Selesai makan, Alia mencoba untuk pergi dari hadapan papanya. Tidak lama, papanya merasa ada yang aneh dan mencoba berbicara dengan Alia.
“Al, sini deh… Papa mau bicara sama kamu, Nak.”
Alia selalu takut kalau papanya mau berbicara dengannya. Ia hanya diam saja, seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
Alia menghampiri papanya dan tidak menatap ke arahnya, hanya diam sambil mendengar apa yang akan papanya bicarakan.
“Kamu nggak ada apa-apa kan, sayang, hari ini?”
“Emangnya ada apa, Pa?”
Alia takut mendengar papanya berkata demikian, tetapi ia tetap mendengarkan dengan tegas.
“Hari ini Papa mau ajak kamu sama Mama jalan-jalan. Kalau misalkan kamu pulangnya cepat, nanti Papa jemput kamu di sekolah. Menurut kamu gimana?”
Alia yang mendengar itu senang saja, walau sedikit aneh. Tapi ia tetap mengiyakan selama tidak merugikan dirinya sendiri.
“Ya udah, apa boleh. Nanti aku kabarin Papa ya kalau misalkan aku udah pulang.”
“Oke, sayang. Kalau gitu Papa tunggu. Mau bareng Papa pergi ke sekolahnya, atau kamu sendirian sama Mama kamu?”
“Sama Papa juga boleh, kalau misalkan Papa nggak keberatan dan nggak mengganggu Papa.”
“Ya udah, boleh. Udah lama juga Papa nggak nganterin kamu semenjak kamu SMA.”
Akhirnya, Papa dan Alia pergi ke sekolah bersama menggunakan mobil Papa. Tapi Alia hanya berdiam diri selama perjalanan.
Papa terus menatap ke arah Alia, tetapi Alia tidak ingin berkata apa-apa; ia takut salah bicara.
“Al, kamu kenapa? Kayak ada yang mau kamu bicarakan sama Papa, Nak. Kalau emang ada, bicarakan saja… Papa nggak apa-apa kok.”
“Tidak ada, Pa… aku cuma nggak habis pikir aja bisa ke sekolah lagi bareng Papa setelah sekian lama.”
Alia mencoba mengalihkan pikiran papanya, dan akhirnya berhasil.
“Ya benar, sudah lama banget kayaknya Papa nggak antar kamu. Alia kangen Papa antar, Nak?”
“Kangen, Pa… kayak kembali pas Alia kecil dulu. Tapi Alia paham sih, kan Papa sibuk. Nggak segampang itu mau minjem waktu Papa walau sebentar.”
Papa yang mendengar itu tersadar, apakah Alia memang membutuhkan dirinya. Tanpa sadar, Papa mengusap kepala Alia.
Alia kaget saat papanya mengusap kepalanya, lalu melihat ke arahnya sambil tersenyum.
“Kenapa, Pa?”
“Papa minta maaf ya… karena Papa nggak banyak waktu untuk sayang Alia. Pasti Alia kecewa sama Papa, ya?”
“Tidak kok, Pa. Papa udah menjadi papa yang baik untuk Alia, karena Alia juga sayang Papa. Hehe.”
“Papa juga sayang Alia kok. Kalau nggak sayang Alia, Papa mau sayang siapa lagi?”
Alia hanya tersenyum. Tak lama, sampai di sekolah, Alia berpamitan.
“Pa, Alia pergi sekolah dulu ya.”
“Ya, sayang. Hati-hati, belajar yang benar ya. Jangan ngobrol terus sama teman kamu.”
Alia tersenyum kaku dan keluar dari mobil papanya.
Begitu keluar, Arnold langsung menghampiri Alia. Tanpa sadar, ada barang Alia yang tertinggal di mobil Papa. Papa langsung bergegas mengambil barang itu dan mencari Alia.
Handphone Alia terus berdering dari papanya, tetapi ia memilih untuk menyelesaikan urusan bersama Arnold terlebih dahulu.
“Kenapa sih, Arnold? Kan udah gua bilang, kalau di sekolah jangan terlalu dekat sama gua. Nanti kalau ketemu fans lu, gimana?”
Arnold bingung siapa yang dimaksud fans-nya, karena setahu Arnold, dirinya tidak memiliki fans seperti yang dimaksud Alia.