NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Aura di sekitar tubuh Kaelos berubah menjadi warna hijau pekat di mata Valerius. Itu adalah perwujudan dari rasa tamak tak berdasar yang akan segera menjadi tali gantungan bagi sang Baron.

Namun, Kaelos bukanlah orang yang sepenuhnya bodoh hingga bisa menduduki posisinya saat ini. "Bagaimana aku bisa mempercayai kata-kata dari seorang pemuda yang sedang di ambang kematian?" tanyanya curiga.

Valerius sudah memprediksi keraguan ini sejak ia masih berada di luar benteng. Ia dengan perlahan melepas cincin stempel Keluarga Draken dari jari telunjuknya.

Ia menyodorkan benda paling berharga miliknya itu ke telapak tangan Baron Kaelos yang gemuk. "Pegang ini sebagai jaminanku, Tuan Baron."

"Tanpa cincin ini, aku tidak akan pernah bisa mengklaim hak warisku di ibu kota nanti," jelas Valerius dengan nada meyakinkan. "Ini adalah bukti bahwa hidupku sekarang sepenuhnya bergantung padamu."

Baron Kaelos menatap cincin emas murni di tangannya dengan pandangan yang sangat memuja. Ia mengusap ukiran naga hitam itu layaknya sedang mengelus pipi seorang gadis jelita.

Bagi Kaelos, memegang cincin ini berarti ia telah memegang nyawa pewaris kedua keluarga Duke. Ia merasa telah menjadi pemenang mutlak dalam negosiasi singkat yang penuh tipu daya ini.

"Kau anak yang cerdas, Valerius," tawa Kaelos pecah menggelegar memenuhi ruangan. "Kau tahu persis kepada siapa kau harus meminta perlindungan di dunia yang kejam ini."

Sang Baron menyembunyikan cincin itu ke dalam kantong sutra di balik jubah merahnya. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menerima sebuah racun yang akan menghancurkan hidupnya secara perlahan.

"Aku akan menyiapkan ruangan terbaik untukmu dan menyediakan tabib pribadi," janji Kaelos dengan penuh semangat. "Kita akan membicarakan rencana perjalananmu ke ibu kota besok setelah kondisimu membaik."

Valerius mengangguk lemah, memejamkan matanya kembali seolah kehabisan tenaga. "Terima kasih, Tuan Baron... kebaikanmu tidak akan pernah kulupakan."

Baron Kaelos berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa sangat ringan. Ia merasa malam ini para dewa keberuntungan telah tersenyum lebar dan menjatuhkan emas dari langit ke pangkuannya.

Saat suara pintu kayu ditutup dan langkah kaki sang Baron menjauh, Valerius membuka matanya perlahan. Tatapan ketakutan dan lemahnya seketika lenyap tanpa sisa.

Di wajahnya kini hanya ada sorot mata hitam kelam yang sedingin bongkahan es abadi. Senyum asimetris kembali terukir di wajahnya yang kotor oleh darah.

Notifikasi holografik sistem langsung bermunculan dengan rentetan suara mekanis yang memuaskan telinga Valerius.

[Misi 'Domba Berbulu Serigala' Berhasil Diselesaikan Secara Sempurna.]

[Target: Baron Kaelos berhasil dimanipulasi melalui eksploitasi sifat rakus.]

[Hadiah Penyelesaian: +400 Poin Dosa. Peningkatan Atribut Kharisma Gelap.]

[Skill Pasif Baru Terbuka: 'Lidah Berbisa'. Perkataan kebohongan Host kini memiliki efek hipnotis ringan pada target yang rentan.]

Valerius mengusap dagunya, menikmati aliran energi baru yang masuk ke dalam otaknya. Ia tidak peduli dengan cincin berharga yang baru saja ia berikan kepada babi gemuk itu.

Cincin itu hanyalah sebuah umpan murah yang ia lemparkan ke dalam kolam yang keruh. Ia tahu pasti bahwa Baron Kaelos tidak akan pernah puas hanya dengan janji sepertiga kekayaan.

Malam ini, Baron itu pasti akan mengirim pesan rahasia ke ibu kota, mencoba menjual informasi keberadaan Valerius kepada Aldrich. Sang Baron akan mencoba bermain di dua kaki untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari kedua belah pihak.

Dan justru itulah yang sangat diinginkan oleh Valerius sedari awal. Ia membutuhkan Baron Kaelos untuk mengabarkan berita "keselamatannya" kepada keluarga Draken di ibu kota.

Berita itu akan memicu kepanikan massal di faksi kakak kandungnya. Mereka akan mengirim lebih banyak pembunuh ke benteng ini, yang artinya akan ada lebih banyak Poin Dosa yang bisa ia panen secara gratis.

Valerius menatap langit-langit kayu ruangan itu, merajut skenario kehancuran yang tak kasat mata. Ia akan membiarkan sang Baron merasa memegang kendali penuh selama beberapa hari ke depan.

Ia akan menunggu hingga keserakahan sang Baron mencapai titik puncaknya yang paling memabukkan. Dan pada saat itulah, Valerius akan menarik talinya dan menyaksikan pria tambun itu jatuh hancur berkeping-keping.

"Beristirahatlah dengan nyenyak malam ini, Kaelos," bisik Valerius di ruang kosong itu. "Karena mulai besok, setiap keping emas yang kau impikan akan berubah menjadi paku yang menutup peti matimu sendiri."

Valerius perlahan bangkit dari ranjang, tidak lagi memedulikan akting lemahnya karena tidak ada mata yang mengawasi. Ia berjalan menuju sebuah baskom tembaga berisi air bersih di sudut ruangan.

Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan air yang tenang tersebut. Wajah pemuda berusia sembilan belas tahun ini terlalu lembut untuk memuat jiwa monster yang bersemayam di dalamnya.

Dengan menggunakan air dingin itu, ia mulai membersihkan sisa darah palsu dan kotoran di wajahnya. Rasa dingin air tersebut membantunya menjernihkan pikiran dari sisa-sisa adrenalin pertarungan semalam.

Ia tidak merasa bersalah sedikit pun karena telah membohongi penguasa wilayah perbatasan ini. Di dalam kode etik seorang mantan narapidana terkejam, kebohongan adalah bentuk diplomasi yang paling efisien.

Ia mengingat kembali setiap detail ekspresi Baron Kaelos saat mendengar kata 'kekayaan'. Pupil mata yang membesar, napas yang memendek, dan postur tubuh yang mencondong—itu adalah tanda-tanda kelemahan fatal.

Orang-orang seperti Kaelos sangat mudah dihancurkan karena tujuan hidup mereka sangat transparan. Mereka dikendalikan oleh materi yang fana, bukan oleh ideologi atau loyalitas yang tak tergoyahkan.

Valerius mengeringkan wajahnya dengan handuk kasar yang tergantung di dekat baskom. Ia kembali berjalan menuju ranjang dan duduk bersila di tengahnya, menyiapkan diri untuk meditasi pemulihan.

Sistem di dalam otaknya kembali berdengung, memberikan laporan status yang mendetail.

[Status Tubuh Saat Ini: Kondisi Fisik 95%. Cadangan Mana: 120/150.]

Ia memejamkan mata, memfokuskan pikirannya untuk menyerap sisa-sisa Mana murni dari udara di sekitarnya. Aliran energi di dalam tubuhnya terasa seperti benang-benang tipis berwarna hitam yang merajut kembali otot-ototnya yang lelah.

Sementara tubuhnya beristirahat, otaknya tidak berhenti berhitung untuk merencanakan langkah selanjutnya. Ia harus menemukan cara untuk membunuh setiap pembunuh bayaran yang akan dikirim oleh Aldrich nantinya.

Ia tidak bisa melakukannya secara terang-terangan di dalam benteng yang dipenuhi prajurit ini. Ia harus menciptakan sebuah "kecelakaan" yang akan membuat kematian mereka terlihat sangat natural dan tak terhindarkan.

Valerius tersenyum di dalam meditasinya, sebuah gagasan cemerlang melintas di dalam kepalanya yang gelap. Ia akan menggunakan keserakahan Baron Kaelos sebagai senjata utama untuk membunuh para utusan kakak kandungnya sendiri.

Dengan sedikit bisikan dan dorongan kebohongan yang tepat, Kaelos akan mengeksekusi mereka demi mengamankan rahasia brankas palsu tersebut. Ini adalah seni membunuh tanpa menyentuh pedang sama sekali.

Ini adalah tarian kematian yang sangat elegan, sebuah keahlian yang membuatnya mendapat julukan Nomor Nol di masa lalu. Ia akan menyulap Benteng Besi Hitam ini menjadi sebuah panggung teater pembantaian tertutup.

Angin pagi masuk melalui celah jendela kayu yang terbuka sedikit, membawa udara dingin masuk ke dalam ruangan. Namun, hawa dingin yang dibawa angin itu tidak sebanding dengan kedinginan yang bersemayam di dalam hati Valerius.

Ia adalah badai kehancuran yang menyamar sebagai domba kecil yang terluka. Dan seluruh Benua Aethelgard akan segera merasakan bagaimana rasanya disapu bersih oleh badai yang tidak mengenal kata ampun tersebut.

Valerius mengingat kembali struktur bangunan benteng yang sempat ia pindai dengan Mata Penilai Iblis. Menara penjaga di bagian utara memiliki titik buta akibat bayangan tembok tinggi di sore hari.

Itu adalah rute pelarian darurat yang sempurna jika rencananya berantakan dan ia harus membunuh seluruh penghuni benteng. Namun, pembantaian massal saat ini belum akan memberikan keuntungan politik yang ia butuhkan untuk mengguncang ibu kota.

Ia butuh saksi hidup yang kredibel untuk membawa ketakutan ini kembali ke pusat peradaban manusia. Seseorang yang cukup bodoh untuk dimanfaatkan, namun cukup berpangkat untuk didengar suaranya oleh para bangsawan tinggi.

Dan Baron Kaelos adalah kandidat yang sangat sempurna untuk posisi saksi bodoh tersebut. Valerius akan membuat sang Baron percaya bahwa ia mengendalikan permainan, hingga detik terakhir di mana lehernya berada di bawah pisau.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu kayu ruang perawatan. Valerius dengan cepat memutus meditasinya dan membaringkan kembali tubuhnya di bawah selimut tipis.

Ia mengatur napasnya menjadi lambat dan teratur, seolah-olah ia telah jatuh tertidur karena kelelahan ekstrem. Pintu berderit terbuka, menampakkan seorang pelayan wanita muda yang membawa nampan berisi bubur hangat dan obat-obatan.

Pelayan itu melangkah masuk dengan sangat hati-hati, takut membangunkan tamu penting sang Baron. Valerius mengamati gadis itu dari balik kelopak matanya yang menyipit tipis.

Gadis itu memiliki aura abu-abu pucat, pertanda ketakutan yang terus-menerus dan penindasan mental. Ia jelas merupakan korban dari kekejaman dan keegoisan para penguasa benteng militer ini.

Valerius tidak merasakan empati sama sekali melihat nasib gadis malang tersebut. Di dunianya, mereka yang tidak bisa memberontak memang ditakdirkan untuk menjadi batu pijakan bagi mereka yang kuat.

Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja kecil di sebelah ranjang tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia menunduk hormat ke arah Valerius yang pura-pura tertidur, lalu bergegas keluar dan menutup pintu kembali.

Valerius membuka matanya sepenuhnya setelah ruangan kembali kosong dan sunyi. Ia melirik mangkuk bubur gandum itu dengan tatapan dingin yang penuh kecurigaan.

Ia tidak akan memakan makanan apa pun yang tidak ia periksa sendiri di dunia yang penuh pengkhianatan ini. Ia mencelupkan sebuah jarum perak yang ia temukan di meja tabib ke dalam bubur tersebut.

Jarum perak itu tidak berubah warna menjadi hitam, menandakan bahwa tidak ada racun fatal di dalam makanan itu. Namun, instingnya masih menolak untuk mempercayai kebaikan kecil ini.

Ia memanggil skill Mata Penilai Iblis dan menatap mangkuk makanan sederhana tersebut. Sebuah aura ungu pudar yang sangat tipis terlihat melayang di atas permukaan bubur hangat itu.

Itu bukan racun mematikan, melainkan obat penidur dosis tinggi yang tidak berbau dan berasa. Baron Kaelos tampaknya ingin memastikan bahwa tamunya ini tidak akan berkeliaran mencari masalah di malam hari.

"Kau terlalu berhati-hati untuk ukuran babi pemalas, Kaelos," gumam Valerius pelan. Ia meraih mangkuk itu dan menuangkan seluruh isinya ke dalam pot tanaman mati yang ada di sudut ruangan.

Ia kemudian mengoleskan sedikit sisa bubur di sekitar mulutnya untuk mengelabui siapa pun yang memeriksa esok hari. Permainan manipulasi ini menuntut kesempurnaan di setiap detail kecil, sekecil remah makanan sekalipun.

Valerius kembali berbaring di ranjang kayunya, menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Matanya tetap terbuka lebar, menatap tajam menembus kegelapan malam yang perlahan kembali menyelimuti benteng.

Hari pertama dari kebangkitannya di dunia ini telah ditutup dengan sebuah kemenangan manipulatif yang sangat manis. Namun, ini barulah babak pembuka dari sebuah drama tragedi epik yang akan segera ia sutradarai.

Singgasana berdarah yang ia tuju masih berada jauh di ibu kota kerajaan. Dan ia akan melangkah ke sana di atas jembatan yang terbuat dari tulang-belulang musuh-musuhnya.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!