Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Mata di Balik Pagar
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat ketika ketenangan semu di kontrakan bawah mulai terusik. Tiga hari telah berlalu sejak perundingan pragmatis di meja makan siang itu. Hino sudah berangkat sejak pukul dua siang untuk mengurus persiapan audit bulanan di gerai minimarket waralaba milik Irmi, meninggalkan area bawah dalam pengawasan penuh Erni. Sesuai dengan kata-katanya, Erni benar-benar berhenti dari pekerjaan pembantu panggilan. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat, dan hanya keluar ke koridor jika benar-benar diperlukan.
Di teras depan, Irmi sedang memeriksa catatan pengiriman barang dari distributor. Menginjak usia kehamilan dua bulan, tubuhnya mulai tidak bisa berkompromi dengan rasa lelah. Udara sore yang agak lembap mendadak membuat isi perutnya bergolak brutal. Irmi reflex bertumpu pada tiang beton teras, memejamkan mata erat-erat, sebelum akhirnya terbatuk kecil dan memuntahkan cairan bening ke arah selokan samping.
Ia tidak menyadari bahwa dari balik celah pagar besi yang membatasi kontrakan dengan jalan kampung, sepasang mata sedang mengintip dengan binar penuh kepuasan.
Bu Hina, wanita berusia tiga puluh enam tahun dengan gelang emas berderet di pergelangan tangan kanannya, sengaja menghentikan langkah kaki. Sore itu dia baru saja pulang dari arisan tingkat kecamatan, mengenakan pakaian seragam yang mencolok dan tas jinjing bermerek lokal. Suaminya yang bekerja sebagai kontraktor proyek jalan dinas daerah membuat Hina merasa memiliki kasta tertinggi di RT ini, dan melihat pemilik dua gerai minimarket kaya raya seperti Irmi mendadak muntah-muntah di teras adalah sebuah pemandangan yang terlalu berharga untuk dilewatkan.
Hina membuka gerbang besi tanpa mengetuk, membiarkan bunyi berdecit keras sengaja memecah keheningan sore. "Aduh, Jeng Irmi... sore-sore begini kok wajahnya pucat sekali? Mana pakai muntah-muntah segala di pinggir selokan. Masuk angin atau sedang ada 'isi' yang disembunyikan?"
Irmi langsung menegakkan punggungnya, menyeka bibirnya dengan tisu kain sutra yang ia ambil dari saku piyama. Ia menatap Hina dengan pandangan dingin, mencoba menyembunyikan getaran di tubuhnya akibat mual yang belum sepenuhnya hilang. "Bukan urusanmu, Bu Hina. Kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya Ibu tidak perlu masuk ke pekarangan rumah orang tanpa izin."
Hina tertawa cempreng, sengaja mengibaskan tangan kanannya agar deretan gelang emasnya bergemerincing nyaring. "Jangan galak-galak begitu, Jeng. Suamiku baru saja memenangkan tender pengaspalan jalan depan komplek ini, jadi aku cuma mau memastikan lingkungan kita tetap bersih dari hal-hal yang mencurigakan. Lagi pula, aneh saja melihat seorang janda kaya mendadak mual di sore hari, sementara di dalam rumah bawah ini ada suami orang yang tinggal satu atap."
Pintu kamar nomor tiga mendadak terbuka dengan sentakan kasar. Erni keluar dengan daster longgarnya, wajahnya yang kuyu tampak mengeras menatap wanita hedon lokal tersebut. Perubahan status ekonominya yang kini ditopang oleh aliran dana toko Irmi membuatnya tidak lagi memiliki rasa rendah diri.
"Kalau Ibu penasaran dengan isi perut Irmi, kenapa tidak tanya langsung pada saya saja, Bu Hina?" potong Erni, suaranya lambat namun sarat akan ancaman yang membuat Hina langsung menoleh.
Hina melebarkan matanya, menatap Erni dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Oh, istri sahnya keluar juga. Erni, kau ini polos atau bodoh? Kau membiarkan suamimu yang cuma kepala toko itu tinggal satu atap dengan bosnya yang mendadak mual-mual seperti orang mengidam? Di mana harga dirimu sebagai istri?"
Erni melangkah mendekati meja teras, berdiri tepat di samping Irmi. Aliansi paksa yang lahir dari kebutuhan perut itu kini menjelma menjadi dinding pertahanan yang solid demi melindungi bayi di dalam kandungan mereka masing-masing. "Harga diriku bukan urusan warung kelontong Ibu. Irmi sedang sakit lambung karena kelelahan mengurus laporan keuangan gerai depan bersama Hino. Jika Ibu terus berdiri di sini dan menyebarkan fitnah murahan, saya sendiri yang akan meminta suami Ibu untuk memeriksa kembali berkas pajak proyek jalannya ke kantor kecamatan."
Wajah Hina mendadak berubah merah padam, rasa sombongnya terusik mendengar gertakan Erni yang membawa-bawa posisi suaminya. Namun, sebelum ia sempat membalas, selembar uang ratusan ribu dari saku piyama Irmi sudah dilemparkan ke atas meja teras dengan bunyi tepukan yang menghina.
"Ambil ini untuk membeli jajanan anakmu di rumah, Hina," ucap Irmi dengan nada merendahkan yang sangat kental. "Dan ingat satu hal, tanah tempat warung makan suamimu berdiri di ujung jalan itu adalah milik keluargaku. Sekali lagi kau mengintip ke pekarangan bawah ini, aku akan pastikan surat perpanjangan sewanya hangus minggu depan."
Hina menyambar uang di atas meja dengan gerakan cepat, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang koyak di depan dua wanita tersebut. Ia melangkah mundur menuju gerbang, namun matanya tetap melirik tajam ke arah jendela lantai dua, di mana gorden kamar Linda tampak sedikit bergerak. "Kalian bisa menutup mulutku sore ini dengan uang dan ancaman tanah. Tapi ingat, Linda si dosen di atas itu tidak butuh uang tokomu, Irmi. Dia punya dokumen yang jauh lebih mematikan untuk membongkar kebusukan kalian!"
Setelah gerbang besi ditutup dengan bantingan keras oleh Hina, Erni berbalik menatap Irmi yang kembali memegang perutnya yang mual. "Perempuan itu tidak akan berhenti mengendus. Kita harus mengunci gerbang depan mulai jam lima sore."
Irmi mendongak, menatap kaca jendela kamar lantai dua yang kini kembali tertutup rapat. "Hina itu urusan kecil. Musuh terbesar kita ada di atas kepala kita. Linda sengaja memanfaatkan situasi ini untuk riset gilanya."
Dari balik kegelapan jendela lantai dua, Linda tersenyum puas sambil mencatat reaksi Hina di buku tebalnya. Ia berbisik pada dirinya sendiri dengan nada yang sangat dingin. "Variabel lingkungannya sudah mulai bergerak secara alami, Hino. Kita lihat seberapa lama aliansi dua rahim di bawah bisa menahan mulut ember orang kampung."