Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Adu Ide, Adu Gengsi
Ruang Anggrek berada di lantai tiga Hotel Grand Aurora, jauh dari hiruk-pikuk ballroom utama yang sejak pagi dipenuhi para peserta Indonesia Future Business Summit.
Dibandingkan ruang acara utama yang megah dan ramai, ruangan ini terasa lebih tenang dan eksklusif.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Begitu Almira Valencia Pradipta melangkah masuk, ia langsung melihat seseorang yang sudah cukup untuk merusak suasana hatinya.
Reynard Arsenio Mahardika.
Pria itu sedang duduk di salah satu kursi sambil membaca dokumen yang dibagikan panitia.
Santai.
Tenang.
Seolah dunia tidak pernah memberinya masalah.
Almira mendengus pelan.
Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa terlihat begitu menyebalkan hanya dengan duduk diam.
Di sisi lain, Reynard yang menyadari kehadiran Almira mengangkat pandangannya sekilas.
Mata mereka bertemu.
Tak ada sapaan.
Tak ada senyum.
Hanya tatapan singkat yang cukup untuk mengingatkan keduanya tentang tempat parkir, video viral, dan segala kekacauan yang terjadi dalam dua hari terakhir.
Kemudian mereka sama-sama memilih duduk sejauh mungkin satu sama lain.
Sayangnya, meja rapat berbentuk oval itu tidak cukup besar untuk benar-benar menciptakan jarak.
Satu per satu peserta lain mulai berdatangan.
Ada CEO muda.
Investor.
Direktur perusahaan keluarga.
Dan beberapa pewaris bisnis besar lainnya.
Jumlah mereka tidak banyak, hanya delapan orang.
Namun hampir semuanya mengenali Almira dan Reynard.
Bagaimana mungkin tidak?
Video pertengkaran mereka sudah menjadi bahan pembicaraan nasional.
Beberapa peserta bahkan tampak berusaha menahan senyum ketika melihat mereka berada dalam kelompok yang sama.
Almira berpura-pura tidak memperhatikan.
Sementara Reynard memilih fokus pada dokumen di depannya.
Meski begitu, mereka berdua tahu apa yang sedang dipikirkan orang-orang di ruangan itu.
Dan mereka sama-sama tidak menyukainya.
Tak lama kemudian, fasilitator memasuki ruangan.
"Selamat sore, semuanya."
Para peserta langsung memberi perhatian.
"Sesi ini akan berlangsung selama dua jam. Kalian akan diberikan studi kasus bisnis dan diminta menyusun strategi terbaik untuk menyelesaikannya."
Ia membagikan beberapa dokumen tambahan.
"Di akhir sesi, setiap kelompok harus mempresentasikan solusi yang telah disepakati."
Semua peserta mulai membuka berkas masing-masing.
Almira membaca cepat.
Kasusnya cukup kompleks.
Sebuah perusahaan teknologi besar mengalami penurunan pertumbuhan selama tiga tahun berturut-turut.
Mereka memiliki modal besar, basis pelanggan yang kuat, tetapi mulai tertinggal dari kompetitor yang lebih inovatif.
Tugas kelompok adalah menentukan langkah terbaik agar perusahaan tersebut bisa kembali tumbuh dalam waktu dua tahun.
Almira menyukai tantangan seperti ini.
Namun masalahnya, ia harus mengerjakannya bersama Reynard.
Dan itu membuat semuanya terasa lebih sulit.
"Baik," kata salah satu peserta.
"Sebelum memulai, kita perlu menentukan siapa yang akan memimpin diskusi."
Beberapa orang langsung mengangguk.
"Itu penting."
"Setuju."
Seorang investor muda yang duduk di dekat Reynard tersenyum.
"Saya rasa Pak Reynard cocok menjadi koordinator."
Hampir semua peserta mengangguk setuju.
Reputasi Reynard di dunia bisnis memang tidak perlu diragukan lagi.
"Setuju."
"Saya juga."
"Tidak masalah."
Lalu semua mata beralih kepada Almira.
Karena hanya dia yang belum memberikan pendapat.
Almira meletakkan pulpennya.
"Saya tidak keberatan."
Reynard sedikit mengangkat alis.
Mudah sekali?
Namun Almira melanjutkan kalimatnya.
"Asal dia tidak memimpin seperti memilih tempat parkir."
Ruangan langsung sunyi.
Sangat sunyi.
Seseorang di ujung meja bahkan menunduk sambil menggigit bibir karena hampir tertawa.
Reynard menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kalau begitu saya juga tidak keberatan."
Almira menatapnya.
"Asal ada anggota yang bisa mengendalikan emosinya."
Tawa kecil langsung terdengar dari beberapa sudut ruangan.
Pertandingan resmi dimulai.
Setelah suasana sedikit tenang, Reynard mulai membuka diskusi.
"Menurut saya, perusahaan dalam studi kasus ini perlu melakukan ekspansi regional."
Ia menunjuk grafik pertumbuhan pasar di layar.
"Negara-negara berkembang di Asia Tenggara masih memiliki potensi besar. Jika mereka masuk lebih cepat daripada kompetitor, peluang pertumbuhannya tinggi."
Beberapa peserta tampak setuju.
"Itu masuk akal."
"Pasarnya memang masih berkembang."
"Keuntungannya juga besar."
Reynard melanjutkan penjelasannya dengan tenang dan sistematis.
Semua argumennya didukung data.
Tidak ada celah yang mudah diserang.
Namun ketika ia selesai berbicara, Almira mengangkat tangan.
"Ada masalah?" tanya Reynard.
"Ada."
"Tentu saja."
Almira mengabaikannya.
"Strategi itu terlalu agresif."
Beberapa peserta menoleh ke arahnya.
Almira membuka dokumen yang sudah penuh catatan.
"Masalah utama perusahaan ini bukan pasar."
Ia menunjuk laporan keuangan.
"Masalah mereka adalah efisiensi."
Semua memperhatikan.
"Biaya operasional meningkat setiap tahun. Produktivitas stagnan. Sistem internal mereka sudah usang."
Ia menutup dokumen.
"Kalau mereka langsung berekspansi sekarang, mereka hanya memperbesar masalah yang sudah ada."
Beberapa peserta mulai mengangguk.
Argumennya juga masuk akal.
Reynard menyilangkan tangan.
"Jadi menurutmu mereka harus diam saja?"
"Bukan diam."
"Lalu?"
"Perbaiki fondasi terlebih dahulu."
"Itu terlalu lambat."
"Itu lebih aman."
"Perusahaan ini butuh pertumbuhan."
"Dan mereka juga perlu bertahan hidup."
Hening.
Diskusi mulai berubah menjadi duel.
Empat puluh menit berikutnya terasa seperti pertandingan tenis intelektual.
Reynard mengajukan analisis.
Almira membantah.
Almira mengusulkan solusi.
Reynard mengkritik.
Mereka saling melempar data, statistik, dan studi kasus.
Yang membuat peserta lain terkesan adalah kenyataan bahwa keduanya sama-sama kuat.
Tidak ada yang benar-benar mendominasi.
Ketika Reynard menyampaikan data ekspansi perusahaan teknologi di Singapura, Almira membalas dengan laporan kegagalan beberapa perusahaan yang melakukan ekspansi terlalu cepat.
Ketika Almira menyoroti biaya operasional yang membengkak, Reynard menunjukkan bagaimana pertumbuhan pasar dapat menutup biaya tersebut.
Mereka seperti dua petinju yang saling menyerang tanpa memberi kesempatan lawan bernapas.
"Data itu sudah tidak relevan," kata Reynard suatu ketika.
Almira langsung menggeleng.
"Kalau kamu membaca laporan lengkapnya, kamu akan tahu data itu masih digunakan sampai kuartal terakhir."
Reynard membuka dokumen.
Mencari halaman yang dimaksud.
Dan menemukan bahwa Almira benar.
Sial.
Ia memang benar.
Namun tentu saja ia tidak akan mengatakannya begitu saja.
Sebaliknya, Almira sudah lebih dulu tersenyum kecil.
Senyum yang membuat Reynard ingin membalas dengan argumen baru.
Di tengah perdebatan, peserta lain mulai kehilangan fokus terhadap studi kasus.
Mereka justru menikmati pertarungan verbal itu.
Seorang CEO muda berbisik kepada rekannya.
"Aku baru sadar sesuatu."
"Apa?"
"Mereka sebenarnya mirip."
Rekannya mengangguk.
"Benar juga."
Keduanya sama-sama cerdas.
Sama-sama kompetitif.
Sama-sama keras kepala.
Dan sama-sama tidak suka kalah.
Mungkin itulah alasan mereka terus berbenturan.
Satu jam berlalu.
Diskusi semakin mendalam.
Pada akhirnya, kelompok berhasil mempersempit pilihan menjadi dua strategi utama.
Strategi ekspansi regional yang diusulkan Reynard.
Dan strategi restrukturisasi internal yang diusulkan Almira.
Keduanya memiliki kelebihan.
Keduanya memiliki risiko.
Dan kelompok harus memilih salah satunya.
"Saya rasa kita perlu voting," kata salah satu peserta.
"Itu paling adil."
"Setuju."
Semua orang mengangguk.
Kecuali dua orang yang sedang bersaing.
Karena mereka sama-sama yakin bahwa pendapat mereka lebih baik.
Sebelum voting dimulai, seorang investor yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,
"Saya ingin mengatakan sesuatu."
Semua menoleh.
Pria itu tersenyum.
"Kalian berdua sudah seperti pasangan menikah."
Hening.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Kemudian Almira dan Reynard menjawab bersamaan.
"Tidak!"
Ruangan langsung dipenuhi gelak tawa.
Bahkan fasilitator yang baru masuk tampak kebingungan melihat semua orang tertawa.
Almira menutup wajahnya.
Sementara Reynard memijat pelipisnya.
Entah mengapa semua orang selalu sampai pada kesimpulan yang sama.
Voting akhirnya dimulai.
Satu per satu peserta memberikan suara.
Ketegangan perlahan meningkat.
Satu suara untuk Reynard.
Satu suara untuk Almira.
Dua untuk Reynard.
Dua untuk Almira.
Tiga untuk Reynard.
Tiga untuk Almira.
Imbang.
Kini hanya tersisa satu peserta.
Semua mata tertuju padanya.
Pria itu tampak gugup.
"Kenapa semuanya melihat saya?"
"Karena Anda penentu kemenangan."
"Oh."
Ia melihat catatannya sekali lagi.
Lalu berkata,
"Saya memilih strategi Almira."
Ruangan langsung tenang.
Voting selesai.
Empat lawan tiga.
Almira menang.
Beberapa peserta mengangguk.
"Masuk akal."
"Pendekatan yang lebih aman."
"Saya hampir memilih itu juga."
Reynard bersandar di kursinya.
Ia tidak suka kalah.
Apalagi dalam diskusi bisnis.
Namun yang paling mengganggunya bukan kekalahan itu.
Melainkan kenyataan bahwa sebagian argumen Almira memang sangat kuat.
Dan ia tahu itu.
Saat semua orang mulai membereskan barang-barang mereka, Almira menoleh ke arah Reynard.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyum kemenangan terlihat jelas di wajahnya.
"Kalau mau menangis, aku bisa pura-pura tidak melihat."
Reynard menatapnya datar.
"Kamu sedang berusaha memancingku?"
"Mungkin."
"Itu kekanak-kanakan."
"Katanya orang yang kalah."
Beberapa peserta yang masih berada di ruangan langsung tertawa.
Ketika mereka akhirnya keluar dari Ruang Anggrek, koridor hotel sudah jauh lebih sepi.
Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai marmer.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Lalu Reynard membuka suara.
"Selamat."
Almira menoleh.
"Apa?"
"Strategimu terpilih."
Almira sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Reynard akan mengakui itu.
"Terima kasih."
"Tapi jangan terlalu senang."
Almira tersenyum tipis.
"Kamu juga jangan terlalu sedih."
Reynard menggeleng kecil.
Anehnya, untuk pertama kalinya sejak bertemu wanita itu, ia tidak merasa kesal karena kalah.
Sebaliknya, ia justru merasa tertantang.
Karena akhirnya ada seseorang yang mampu mengimbangi dirinya.
Seseorang yang cukup cerdas untuk membuatnya berpikir dua kali.
Seseorang yang tidak takut berbeda pendapat dengannya.
Dan pemikiran itu terus mengikutinya saat ia berjalan menuju lift.
Sementara itu, Almira juga memikirkan hal yang sama, meski dari sudut pandang berbeda.
Ia masih menganggap Reynard menyebalkan.
Masih arogan.
Masih terlalu percaya diri.
Namun satu hal tidak bisa ia bantah.
Pria itu jauh lebih kompeten daripada yang ia perkirakan.
Dan itu membuatnya sedikit khawatir.
Karena musuh yang cerdas selalu lebih berbahaya daripada musuh yang bodoh.
Tanpa mereka sadari, sesuatu mulai berubah.
Bukan cinta.
Belum.
Bukan juga ketertarikan.
Masih terlalu dini.
Namun benih kecil bernama rasa penasaran perlahan mulai tumbuh di antara semua pertengkaran, sindiran, dan gengsi yang mereka pertahankan.
Dan terkadang, hal-hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.