NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Suami Rosella

Rosella merasa bingung sekaligus lega. Di satu sisi, Dio memperlakukannya seperti barang dagangan, tetapi di sisi lain, dia diselamatkan dari rasa malu yang luar biasa itu. Meski demikian, komentar mengenai gelang yang dipakainya tetap saja membuatnya kesal. Jika benar-benar harus menikah, Rosella berjanji akan memasukkan racun ke dalam kopinya suatu saat nanti.

“Kamu bahkan belum dengar apa keuntungan bisnis yang bakal kamu dapat,” celetuk pria di sebelah Dio. Rosella sadar, ayahnya memang belum menjelaskan perusahaan apa yang menjadi bagian dari perjanjian ini.

“Hans, diam dan jangan ikut campur,” geram Dio singkat. Nada suaranya membuat Rosella sedikit merinding.

“Sudah ... ada yang mau nawar lebih tinggi lagi?” tanya Baimm sambil memandangi semua orang yang tadi tampak antusias ingin melihat Rosella dipermalukan.

Semua pria itu menggeleng diam.

“Berarti aku yang dapatin dia, kan?” kata Dio sambil tersenyum puas.

Rosella hanya bisa mendengus kesal dalam hati, "Dasar sombong."

“Baiklah. Masuk ke ruang kerjaku, kita bahas detail perjanjiannya,” kata Baimm sambil menunjuk pintu yang berada di sudut ruangan, lalu berjalan pergi begitu saja dan meninggalkan Rosella sendirian di atas meja seperti sebuah pajangan.

Dio berjalan mendekat dan tidak ikut masuk terlebih dahulu. Saat Rosella turun dari meja, kakinya tersandung gelas kosong yang ada di dekatnya. Sebelum sempat jatuh, tangan Dio langsung menahannya dengan gerakan cepat.

“Wah, ternyata kamu jago banget ya, bahkan jago jatuh juga,” bisiknya sambil membantu Rosella berdiri tegak kembali.

Rosella mendesis kesal mendengar ejekan itu. Akan tetapi, Dio malah tertawa kecil dan sama sekali tidak terlihat marah meski ditatap dengan pandangan tajam oleh perempuan itu.

Semua orang masih memperhatikan mereka. Malam ini, untuk pertama kalinya, Rosella merasa canggung. Dia sudah biasa berhadapan dengan laki-laki yang merasa paling hebat hanya karena faktor jenis kelamin. Namun, dia belum pernah bertemu orang dari lingkaran mafia yang memandangnya sebagai sosok setara, bukan sekadar barang atau bawahan.

“Rosella, jangan bikin aku malu saat kami bahas kesepakatanmu,” tegur Baimm dengan nada tajam, yang seketika memutuskan lamunannya.

“Aku harap kamu sudah ajari dia sopan santun yang benar, Baimm,” kata Dio sambil ikut berperan. “Aku butuh istri yang tahu cara bersikap di depan umum.”

Rosella tersenyum manis, senyum yang sudah lama ia hafal caranya. Di mulutnya ia memang diam, namun dalam hati ia berbisik, "Mampus aja kamu!"

Rosella segera berjalan keluar dari ruangan itu. Orang pertama yang ia temui adalah Verlis. Adiknya itu langsung berlari menghampiri, lalu menariknya menuju ke sudut tempat yang sepi dan aman.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Verlis dengan nada sangat cemas.

“Aku ... aku nggak tahu harus jawab apa,” jawab Rosella dengan lemas.

“Tadi sebenernya ada apa di dalam? Cerita dong.”

“Seperti yang udah kita duga,” kata Rosella sambil menghela napas panjang. “Papa mau aku lepas pakaian supaya mereka bisa lihat barang dagangannya dan mau bayar lebih mahal.”

“Bajingan itu,” suara Verlis terdengar rendah, sementara matanya yang berwarna hijau tampak semakin gelap karena rasa marah. “Aku bakal racun dia!"

“Santai aja. Aku nggak jadi ngelakuin hal itu,” ujar Rosella sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. “Pria palsu bernama Billy itu udah membeliku sebelum semuanya terjadi.”

“Si orang bodoh yang nyusup ke pesta itu?” Verlis tampak sangat kaget mendengarnya.

Rosella memang sudah menceritakan banyak hal kepada adiknya sesaat setelah selesai berdansa bersama Dio tadi. Verlis bahkan langsung berusaha mencari nama pria itu di internet, namun hanya menemukan foto-foto kegiatan amal saja.

“Iya. Aku udah bongkar semuanya di depan Papa, tapi dia malah berhasil bujuk Papa buat ikut lelangku.”

Verlis menyipitkan matanya, lalu menatap kakaknya dengan tajam. “Kayaknya kamu cukup terkesan sama dia ya?”

Rosella harus mengakui bahwa ucapan adiknya itu benar adanya. Ayah mereka bukanlah orang bodoh. Baimm bukanlah tipe pemimpin mafia yang mudah ditipu atau dimanfaatkan oleh siapa pun. Itulah alasan mengapa dia masih bisa hidup hingga saat ini dan sangat sulit untuk disingkirkan.

Namun, Dio berhasil meluluhkan hati ayahnya hanya dalam hitungan detik saja.

“Aku akui dia licik banget,” jawab Rosella pelan. “Tapi caranya bujuk Papa secara terang-terangan itu bikin aku jijik aja.”

Saat itu juga, Rosella melihat Angguni dan Dahlia berjalan mendekat bersama sepupu mereka yang paling menyebalkan, Tiffany.

“Kamu udah punya calon suami ya?” tanya Tiffany, nada bicaranya seolah apa yang baru saja terjadi itu adalah hal yang hebat.

Rosella memilih untuk tidak menjawab dan langsung berbicara kepada Angguni, yang menjadi pusat perhatian malam itu. “Gimana rasanya pesta ulang tahunmu?”

“Biasa aja. Membosankan, tapi emang udah bisa diduga sih,” jawab Angguni sambil tertawa kecil.

Memang selalu begitu sejak mereka masih kecil. Perayaan resmi keluarga selalu terasa berat dan penuh aturan yang kaku. Nanti malam, mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan secara mandiri. Baru pada akhir pekan nanti, mereka merayakan ulang tahun dengan cara yang asik.

“Aku harap calon suamimu sadar sama siapa dia berurusan,” celetuk Tiffany lagi, nadanya sengaja dibuat menyebalkan.

“Setidaknya nanti aku nggak bakal dipanggil lampu lalu lintas lagi kayak kamu,” jawab Rosella spontan.

Sepupunya hanya terdiam dan menatap kosong.

“Karena setiap malam, nggak ada satu pun yang ngasih hormat ke kamu,” tambah Rosella lagi.

Ketiga saudaranya langsung tertawa terbahak-bahak hingga beberapa orang dewasa yang ada di sana menoleh ke arah mereka. Tiffany pergi dengan wajah memerah padam untuk mengadu kepada ibunya. Ibu sepupunya itu memang perempuan yang paling sulit diajak berbicara di rumah ini.

Rosella benar-benar tidak mengerti bagaimana Paman Lexy bisa betah tinggal serumah bersama mereka berdua.

“Dia pasti sekarang lagi minta dicarikan jodoh baru,” sela Dahlia dengan santai.

“Dan semoga dapet yang jauh lebih baik dari punya kamu,” sambung Verlis sambil nyengir.

“Ngomong-ngomong, calon suamimu itu kayak gimana sih orangnya?” tanya Angguni penasaran.

“Yah ... cuma orang yang punya uang buat beli istri. Kayaknya itu udah cukup jelasin semuanya,” jawab Rosella dengan nada kesal.

Ia sudah mengetahui sejak dulu bahwa hidupnya akan berjalan seperti ini. Tidak akan ada pernikahan yang didasari atas rasa cinta baginya. Namun, mengetahui hal itu sejak lama ternyata tidak membuat perasaan tersebut menjadi lebih mudah diterima.

“Itu calon kakak ipar kita dateng tuh,” goda Verlis sambil nunjuk ke belakang Rosella.

Kedua saudaranya langsung berbisik-bisik membicarakan hal-hal yang aneh. Mereka mengaku siap membantu Rosella di malam pertama nanti. Rosella hanya menatap mereka dengan pandangan jijik.

“Aku mau ngomong sebentar sama kamu. Mau berdansa lagi?” tanya Dio yang sudah berdiri tepat di depan mereka.

“Emang udah nggak ada perempuan lain yang bisa kamu beli, hah?” balas Rosella ketus.

Ujung bibir Dio terangkat sedikit. “Uangku udah abis. Ternyata acara begini nggak terima pembayaran pakai kartu kredit.”

“Aku pergi sebentar ya,” kata Rosella ke saudari-saudarinya.

“Permisi ya nona-nona, maaf udah ganggu,” ucap Dio sambil tersenyum manis. “Cuma setiap kali lihat saudari kalian, aku jadi nggak minat lihat perempuan lain lagi.”

Dahlia langsung menghela napas panjang seperti orang yang sedang jatuh cinta. Angguni hanya memutar mata, sangat malas mendengar gombalan itu. Verlis menjulurkan lidah ke arah Dio.

“Mereka beda banget sama Papaku,” kata Rosella sambil berjalan beriringan. “Jangan harap bisa belas mereka pakai kata-kata manis ya.”

Rosella membiarkan calon suaminya membawanya kembali ke lantai dansa. Dio merangkul pinggangnya dan menariknya lebih dekat, seakan ingin memberitahu semua orang bahwa Rosella adalah miliknya.

“Wah, jadi kamu mau tandain aku sebagai wilayahmu ... kayak anjing yang kencingin aku gitu?” tanya Rosella.

Dio malah menggesekkan hidungnya ke pipi Rosella sebagai jawaban.

“Kayaknya nggak perlu deh,” ucapnya pelan dan santai. “Tapi bukan berarti nggak mungkin ya. Lagian itu jauh lebih gampang dibersihin dibanding darah yang bakal tumpah kalau ada orang bodoh yang berani deketin kamu.”

“Aku bukan barang milik siapa-siapa. Harusnya itu udah jelas banget ya.”

“Enggak,” kata Dio sambil menatap tajam. “Kamu punya aku. Aku udah bayar buat dapetin kamu, berarti kamu milikku seutuhnya.”

“Yang kamu bayar itu cuma status istri doang,” sahut Rosella cepat. “Itu cuma artinya aku bakal bilang iya di depan pendeta. Nggak ada arti lain.”

“Kayaknya kita punya pandangan yang berbeda soal pernikahan, ya.”

“Beruntung banget kita bahas ini sebelum itu terjadi,” seru Rosella sambil menyengir sinis saat Dio memutar tubuhnya lalu menariknya kembali ke pelukan. “Aku bakal kecewa banget kalau nantinya kamu malah punya harapan tinggi-tinggi.”

“Pasti seru banget rasanya jinakin kamu, manisku,” kata Dio sambil tersenyum puas.

“Kalau kamu ngira aku hewan yang bisa dijinakin, mending dari sekarang kamu biasa-in muka kamu kena tanah, deh!”

Dio terlihat bingung, dan pemandangan itu membuat hati Rosella sangat senang.

“Emangnya kenapa harus gitu?” tanyanya penasaran, mata gelapnya berkilat jahil.

“Biar kamu udah terbiasa pas waktunya tiba,” jawab Rosella dengan tersenyum manis. “Soalnya nanti aku bakal bunuh kamu, terus kubur kamu di kebun aku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!