NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Matahari sore mulai merendah, membiaskan cahaya jingga kemerahan di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Di dalam ruangan CEO, Thomas sudah mulai merapikan jasnya, bersiap untuk mengajak istrinya pulang dan mungkin beristirahat setelah seharian menghadapi Ardi dan Aletta.

Namun, Arunika punya rencana lain. Ia berdiri di depan pintu dengan tas kecilnya, menghalangi jalan keluar Thomas.

"Mas, jangan pulang dulu," ucap Arunika sambil menahan pintu.

Thomas menghentikan gerakannya memakai jam tangan, alisnya terangkat sebelah. "Terus... kamu mau ke mana lagi, Sayang? Ini sudah jam lima lewat. Kamu nggak capek?"

Arunika tidak langsung menjawab. Ia meletakkan jari telunjuknya di dagu, matanya berputar seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat besar dalam kepalanya.

"Painting date!" seru Arunika tiba-tiba dengan mata berbinar. "Mas, ayo ya... Pasti seru banget tahu ngelukis bareng. Ada kafe baru di dekat sini yang konsepnya art and coffee. Kita bisa ngelukis di kanvas masing-masing sambil minum latte."

Thomas mengembuskan napas panjang, namun bibirnya tidak bisa menahan senyum tipis. "Ngelukis? Nika, terakhir kali aku memegang kuas itu mungkin saat ujian seni rupa di SMP. Dan hasilnya... guru lukisku menyarankan aku masuk jurusan ekonomi saja."

"Ih, nggak apa-apa! Kan ini judulnya date, bukan ujian nasional!" Arunika menarik-narik lengan baju Thomas. "Ayo dong, Mas. Mas nggak bosen apa liatin angka terus di layar? Sekali-kali liatin warna-warni cat gitu."

"Kamu ini memang tidak pernah habis energinya," gumam Thomas sambil pasrah membiarkan dirinya ditarik menuju lift.

"Iya dong. Gen Z gitu loh," Arunika menoleh ke arah Thomas dengan seringai jahil yang paling menyebalkan sekaligus menggemaskan. "Let's go, Om!"

Langkah kaki Thomas seketika terhenti tepat di depan lift yang baru saja terbuka. Ia memutar tubuhnya, menatap Arunika dengan tatapan yang mendadak menjadi sangat gelap dan dalam.

"Kamu... panggil aku apa tadi?" tanya Thomas, suaranya merendah satu oktav.

Arunika mengerjapkan mata polosnya, meskipun di dalam hatinya ia sedang tertawa puas. "Om. Kenapa? Kan Mas Thomas emang lebih tua dari aku. Terus kaku, hobi ngatur, pake jas terus... pas banget kan kalau dipanggil Om?"

Thomas melangkah maju, memojokkan Arunika di dinding dalam lift yang baru saja mereka masuki. Pintu lift tertutup, menciptakan ruang privasi yang mendadak terasa sempit. Thomas meletakkan satu tangannya di samping kepala Arunika.

"Panggil aku 'Mas' atau 'Sayang', Nika. Jangan 'Om'," bisik Thomas tepat di telinga Arunika. "Panggilan itu... punya konotasi yang sangat berbeda di kepalaku jika kamu yang mengucapkannya. Kamu tidak mau kan kita batal ke tempat lukis itu dan malah langsung pulang ke apartemen?"

Arunika menelan ludah, wajahnya langsung merona hebat. "I-iya, Mas! Cuma bercanda tadi! Ampun!"

Thomas terkekeh, ia menjauhkan tubuhnya tepat saat lift berdenting di lantai lobi. "Bagus. Jangan diulangi kalau kamu belum siap dengan konsekuensinya."

Sesampainya di kafe lukis tersebut, suasana sangat estetik. Banyak pasangan yang sedang sibuk dengan palet dan kuas mereka. Thomas tampak seperti makhluk asing di sana—seorang pria dengan kemeja kantor mahal duduk di depan kanvas putih yang bersih.

"Nah, ini kanvas Mas, ini punya aku," Arunika menyiapkan cat akrilik berbagai warna. "Temanya bebas. Mas mau lukis apa?"

"Aku akan melukis sesuatu yang logis," jawab Thomas serius. Ia mulai mencelupkan kuasnya ke cat biru tua.

Arunika mulai asyik melukis pemandangan abstrak dengan warna-warna ceria. Sesekali ia melirik ke arah kanvas Thomas yang masih berupa garis-garis kaku.

"Mas, itu lukisan atau grafik pertumbuhan saham?" tanya Arunika sambil tertawa.

"Ini pemandangan laut, Nika. Hanya saja airnya sedang tenang," bela Thomas sambil berusaha membaurkan warna cat yang malah terlihat seperti noda besar.

"Sini aku bantuin!" Arunika mendekat, ia berdiri di belakang Thomas dan memegang tangan suaminya yang masih memegang kuas. "Mas harusnya nariknya pelan-pelan begini... jangan kaku. Ikutin aliran tanganku."

Thomas terdiam. Ia tidak lagi fokus pada kanvasnya. Kehadiran Arunika yang begitu dekat—aroma rambutnya, hangat tubuhnya, dan suara napasnya yang lembut di dekat telinganya—jauh lebih menarik daripada lukisan laut mana pun.

"Nika..."

"Iya, Mas? Tuh kan, jadi lebih bagus warnanya—"

Arunika menoleh dan mendapati wajah Thomas hanya berjarak beberapa senti darinya. Thomas tidak membuang waktu. Di balik kanvas yang mereka gunakan sebagai pelindung dari pandangan pengunjung lain, Thomas mencuri sebuah ciuman singkat namun dalam di bibir Arunika.

"Mas! Ada orang!" bisik Arunika panik sambil memukul pelan bahu Thomas.

"Mereka semua sibuk dengan kanvas masing-masing, Sayang," sahut Thomas santai. Ia mengambil sedikit cat warna merah di ujung jarinya, lalu dengan jahil mengoleskannya ke ujung hidung Arunika.

"Mas Thomas!" seru Arunika kaget. "Iih! Ini susah ilang tahu!"

"Sekarang kita adil. Kamu memanggilku 'Om', dan aku memberimu hidung badut," Thomas tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang sekali terlihat.

Arunika tidak mau kalah. Ia mengambil segenggam cat warna kuning dan mencoba menyerang kemeja putih Thomas. Terjadilah perang kecil di sudut kafe itu. Mereka tertawa, saling kejar dengan kuas, dan mengabaikan fakta bahwa lukisan mereka kini sudah menjadi abstrak yang tidak berbentuk sama sekali.

"Mas, liat kemeja Mas! Itu pasti mahal banget!" Arunika menunjuk noda kuning dan biru di kemeja Thomas.

Thomas melihat kemejanya, lalu kembali menatap Arunika yang wajahnya sudah penuh dengan coretan cat berbagai warna. "Tidak apa-apa. Kemeja ini bisa diganti, tapi momen melihatmu tertawa sampai menangis seperti ini... tidak ada harganya."

Thomas menarik Arunika ke dalam pelukannya, tidak peduli jika baju mereka kini saling mengotori dengan cat yang masih basah.

"Mas Thomas beneran ya... makin hari makin pinter ngomong manis," gumam Arunika di dada Thomas.

"Itu karena gurunya sangat hebat. Seorang gadis Gen Z yang hobi mengajak suaminya melakukan hal-hal ajaib," balas Thomas sambil mencium puncak kepala Arunika.

Sore itu, mereka pulang dengan membawa dua kanvas yang lukisannya tidak karuan. Namun, bagi mereka, itulah lukisan terbaik yang pernah mereka buat. Sebuah lukisan tentang dua orang yang berbeda dunia, namun berhasil menyatu dalam satu palet warna yang indah.

"Jadi, Mas masih mau diajak date aneh-aneh lagi besok?" tanya Arunika saat mereka berjalan menuju mobil.

Thomas membukakan pintu untuk istrinya. "Selama gurunya kamu, aku akan ikut. Tapi ingat, dilarang panggil 'Om' di tempat umum."

"Siap, Mas-ku sayang!" Arunika memberikan jempol, membuat malam itu ditutup dengan tawa hangat di tengah kemacetan Jakarta.

***

Suasana apartemen terasa sejuk saat pintu terbuka, sangat kontras dengan sisa adrenalin dan tawa yang mereka bawa dari kafe lukis tadi. Di atas karpet bulu dekat sofa, Mochi sudah duduk manis dengan gaya anggunnya. Kucing gembul itu sesekali menjilat kaki depannya, lalu menoleh malas ke arah majikannya yang baru pulang dengan noda cat di mana-mana.

"Hai, Mochi!" Arunika langsung menghampiri, menggendong makhluk berbulu itu dengan gemas. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambilkan kaleng makanan basah kesukaan kucingnya.

"Maaf ya lama tadi, habis kencan sama Papa kamu soalnya. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendirian?" tanya Arunika pada kucing itu seolah Mochi bisa menjawab. Mochi hanya berkedip lambat, lalu mengeong pelan saat aroma tuna memenuhi indra penciumannya.

Thomas berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan bahunya di kusen sambil memperhatikan pemandangan itu. Kemeja putihnya yang mahal kini hiasan noda biru dan kuning, beberapa kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kokoh.

"Papa?" gumam Thomas dengan suara baritonnya yang rendah. "Jadi sekarang aku sudah naik jabatan dari 'Om' jadi 'Papa'?"

Arunika berbalik setelah meletakkan piring makan Mochi. Ia tersenyum jahil, wajahnya masih menyisakan coretan cat merah di pipi dan hidung. "Ya kan Mas yang beli Mochi. Jadi Mas Papanya, aku Mamanya. Pas, kan?"

Thomas tidak membalas dengan kata-kata. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Arunika terdesak ke pinggiran meja dapur (kitchen island). Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah. Sisa candaan tadi menguap, digantikan oleh ketegangan magnetis yang jauh lebih pekat.

"Kalau begitu..." Thomas meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Arunika, mengurung gadis itu. "Sebagai Mama yang baik, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat Papa-nya Mochi ini kotor karena cat."

Tangan Thomas terangkat, jemarinya mengusap noda merah di pipi Arunika dengan sangat perlahan. Tatapannya jatuh ke bibir Arunika yang sedikit terbuka. "Dan kamu juga harus bertanggung jawab atas panggilan 'Om' tadi, Nika. Aku bilang kan... ada konsekuensinya."

Arunika merasa jantungnya berdegup kencang, suaranya tercekat di tenggorokan. "K-konsekuensi apa, Mas?"

Thomas tidak menjawab. Ia langsung memiringkan kepalanya dan meraup bibir Arunika dalam sebuah ciuman yang tidak lagi lembut. Ciuman kali ini terasa haus, menuntut, dan penuh dengan gairah yang sempat tertahan selama di kafe tadi. Arunika mengerang pelan, jemarinya merayap naik ke pundak Thomas, meremas kemeja pria itu yang sudah tidak karuan bentuknya.

Thomas mengangkat tubuh Arunika, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin. Sensasi dingin marmer di paha Arunika beradu dengan hawa panas dari tubuh Thomas yang menempel padanya.

"Mas... Mochi lagi makan..." bisik Arunika di sela-sela napasnya yang memburu.

"Dia tidak akan peduli," sahut Thomas serak. Ia memindahkan ciumannya ke leher Arunika, menghisap kulit sensitif di sana hingga meninggalkan jejak kemerahan yang baru. Tangannya yang besar mulai bekerja, membuka kancing kemeja Arunika satu per satu dengan ketidaksabaran yang jarang ia tunjukkan.

"Mas Thomas..." rintih Arunika saat telapak tangan Thomas yang hangat menyentuh kulit perutnya. Setiap sentuhan pria itu seolah membakar semua keraguannya.

Thomas melepaskan ciumannya sejenak, menatap mata Arunika yang sudah sayu karena gairah. "Kamar, atau di sini?"

Arunika tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru menarik kerah kemeja Thomas dan mencium pria itu kembali dengan lebih berani, seolah memberikan jawaban bahwa ia tidak peduli di mana pun asalkan itu bersama Thomas.

Tanpa membuang waktu, Thomas menggendong Arunika menuju kamar utama. Langkahnya tegap meski napasnya berat. Begitu sampai di dalam, ia membaringkan Arunika di atas sprei satin yang halus. Thomas segera menanggalkan kemejanya yang penuh noda cat, membuangnya ke lantai begitu saja, memperlihatkan tubuh atletisnya yang berotot di bawah cahaya remang lampu kamar.

Ia kembali menindih Arunika, menyatukan kulit mereka yang mulai berkeringat. "Malam ini... aku tidak akan membiarkanmu tidur cepat, Nika."

Pergulatan gairah itu pecah dalam keheningan malam. Setiap sentuhan, setiap bisikan, dan setiap erangan menjadi melodi yang memenuhi kamar itu. Thomas menjelajahi setiap jengkal tubuh Arunika dengan penuh pemujaan, seolah ingin menghapus semua noda cat tadi dengan sentuhan bibirnya.

Arunika merasa dirinya melebur. Semua batasan, semua rasa canggung, dan semua kenangan pahit tentang masa lalunya telah terbakar habis oleh api yang dinyalakan Thomas malam ini. Di bawah bimbingan Thomas, ia menemukan sisi dirinya yang lebih berani, lebih ekspresif, dan lebih mencintai pria yang kini berada di atasnya.

Puncak kenikmatan itu datang seperti gelombang pasang yang menghantam mereka berdua. Arunika memeluk punggung kokoh Thomas erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya saat seluruh syarafnya terasa meledak dalam kepuasan yang luar biasa. Thomas mengerang rendah, membenamkan wajahnya di rambut Arunika, membiarkan gelombang itu membawa mereka pergi jauh dari kenyataan.

Beberapa saat kemudian, hanya suara napas yang teratur memenuhi ruangan. Thomas masih memeluk Arunika, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang lelah.

"Mas..." bisik Arunika lirih.

"Ya?" sahut Thomas sambil mengecup kening istrinya.

"Besok... kita beli kemeja baru ya buat Mas. Yang tadi beneran rusak kena cat."

Thomas terkekeh, suara tawanya terasa bergetar di dada Arunika. "Beli sepuluh pun tidak apa-apa, asalkan kencan kita berakhir seperti ini setiap malam."

"Dasar mesum!" Arunika mencubit perut Thomas pelan, namun ia justru semakin mengeratkan pelukannya.

Di luar kamar, Mochi yang sudah kenyang hanya duduk di depan pintu yang tertutup rapat, menunggu dengan sabar sampai kedua "orang tuanya" selesai dengan urusan orang dewasa mereka. Malam itu, apartemen Adiputra benar-benar menjadi saksi bahwa cinta Gen Z dan Milenial bisa melebur dalam harmoni yang sangat panas dan indah.

***

Guys aku bakal kasih hadiah buat komentar teraktif selama novel ini aku up ya. Jadi buat kalian yang mampir jangan lupa like+komen yaa😘😘

1
Kusii Yaati
Thomas sama Marcel Gantengan mana sih Thor, penasaran aq🤭
Penulis GenZ: sama-sama ganteng kak. tapi masih matengan si Thomas hehe.
total 1 replies
Kusii Yaati
gemas nggak sih kalau ketemu cewek kayak arunika...di getok dulu kepalanya baru peka😂
Kusii Yaati
pasti nanti Marcel akan merasa kehilangan arunika udah nggak ngejar" dia lagi... biasa kalau udah kehilangan baru terasa, bahwa hanya arunika yang tulus mencintainya,BASI cel😒
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!