"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kini Arash duduk bersandar di sebuah sofa kain lusuh yang busanya sudah menyembul keluar di sudut rooftop.
Di depannya, sesosok hantu cewek yang entah sejak kapan sudah mengubah penampilannya menjadi memakai seragam putih abu-abu sama persis dengan yang dikenakan Arash berdiri melayang-layang dengan santai.
‘’Darimana lo dapet baju itu?’’ tanya arash to the point.
Dia ingat, tadi hantu itu memakai kain lusuh, tapi kini sudah berganti seragam.
‘’Aku ambil di loker tadi,’’
‘’Punya siapa ?’’
‘’Gak tahu, aku asal pakai,’’
‘Emang beneran setan, gak wujudnya, sifatnya pun kaya setan, astagfirullah al adzim,’ gumam Arash dalam hati.
‘’Eh tapi, kok lo gak takut matahari?" tanya Arash lagi.
Dia menyipitkan mata karena suasana di atas langit Surabaya siang itu lumayan terik, dengan cahaya matahari yang menyengat langsung ke kulit.
Normalnya, dalam benak Arash yang pengetahuannya dicekoki oleh film-film horor layar lebar, makhluk halus seharusnya membenci tempat terang benderang dan hawa panas yang menyengat.
"Aku setan Mas, bukan vampir," sahut hantu cewek itu ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kalian sebangsa!" bantah Arash tidak mau kalah.
"Walau sebangsa tapi beda tanah air! Vampir impor, kalau aku lokal asli!" balasnya dengan nada sewot yang membuat aura mistisnya hilang dalam sekejap.
‘Udah kaya daging aja pakai impor lokal,’ celetuk arash pelan.
Arash menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak terasa nyut-nyutan. Dia tersadar bahwa berdebat soal taksonomi dunia gaib dengan hantu "cegil" di tengah hari bolong adalah tindakan paling sia-sia dalam hidupnya.
"Oke, oke. Jadi sekarang lo mau apa?" tanya Arash langsung ke inti masalah, menatap roh cewek itu dengan ekspresi lelah.
"Aku—" ucapan cewek itu mendadak terputus.
"Tapi, sebelumnya lo bisa gak sih ubah wujud lo lebih cakep dikit gitu?" potong Arash cepat, sebelum hantu itu melanjutkan kalimatnya.
Jari telunjuk Arash menunjuk ke arah wajah roh tersebut dengan pandangan ngeri sekaligus jijik.
"Itu belatung sama darah di muka lo... astaghfirullah, sumpah gue mual banget lihatnya. Tadi pas di bawah kelihatan bersih, kenapa sekarang malah berubah jadi spek zombie begini?"
Hantu cewek itu mengerucutkan bibirnya, tampak tersinggung tapi kemudian malah terkekeh geli.
"Hehehe, oke! Bilang dong dari tadi kalau Mas Sholeh mau lihat aku versi cantik maksimal!"
Hanya dalam hitungan detik, sebuah pendaran cahaya abu-abu tipis menyelimuti tubuh roh tersebut.
Perlahan, gumpalan darah hitam yang mengering dan belatung-belatung kecil yang sempat menggeliat di pipinya tampak memudar dan lenyap tak berbekas. Gadis itu benar-benar berubah wujud kembali ke rupa aslinya.
Wajahnya benar-benar cantik dengan garis rahang yang tegas dan mata bulat yang indah. Hanya saja, seluruh permukaan kulitnya terlihat sangat putih pucat bin kontras, khas makhluk yang tidak dialiri darah segar.
Arash memperhatikan perubahan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu tatapannya terkunci pada bagian wajah hantu tersebut.
"Bibir lo, bisa diubah gak?" tanya Arash lagi dengan polosnya.
"Gak bisa! Harus ke Thailand buat operasi plastik kalau mau diubah bentuknya!" ketus si hantu cewek, berkacak pinggang dengan gaya bar-bar.
"Haiss... maksud gue bukan bentuknya! Kasih warna dikit gitu biar gak kayak orang tipes. Pucat banget, bikin gue makin ngeri lihatnya," ralat Arash sambil mendengus gemas.
Dia gemas melihat bibir hantu itu yang sewarna dengan ubin semen di bawah mereka.
"Gak bisa, Mas. Ini udah setelan pabrik dari alam baka! Udah deh, jangan bibir shaming sama roh gentayangan!" omel roh cewek itu tidak terima, wajah cantiknya merengut sebal akibat dikritik bertubi-tubi oleh cowok di depannya.
Arash menarik napas panjang melalui hidung, menahannya sejenak di dada, lalu mengembuskannya secara pelan-pelan.
Dia mengelus dadanya berulang kali, mencoba menyuntikkan stok kesabaran baru ke dalam jiwanya yang sudah terkuras habis sejak semalam.
Ternyata menghadapi setan zaman sekarang, sangat tidak mudah.
Setan yang satu ini tidak memiliki wibawa menakutkan sama sekali, dia sangat cerewet, keras kepala, memiliki jiwa cegil akut, dan tingkat menyebalkannya sudah melampaui batas toleransi manusia normal.
"Ya sudah, terserah lo," ucap Arash mengalah, tidak ingin memperpanjang drama urusan kosmetik dunia gaib. Dia menegakkan posisi duduknya di sofa lusuh, menatap intens ke arah roh cewek yang masih melayang rendah itu.
"Sekarang buruan ngomong, kenapa lo ngikutin gue sampai ke sekolah? Dan kenapa tadi pas di koridor lo tiba-tiba kelihatan linglung kayak orang hilang arah?"
Mendengar pertanyaan serius dari Arash, ekspresi menyebalkan dan cerewet dari roh cewek itu mendadak luruh. Dia menurunkan sepasang kakinya hingga melayang hanya sejengkal di atas lantai ubin semen *rooftop*.
Matanya yang bulat kembali menatap ke arah sekeliling gedung sekolah dengan pandangan sayu yang sama seperti yang Arash lihat di dekat mading tadi pagi.
"Aku juga gak tahu, Mas..." jawab roh cewek itu lirih, suaranya mendadak berubah menjadi sangat pelan, kontras dengan pekikan cemprengnya beberapa menit lalu.
"Tapi pas aku lihat seragam yang kamu pakai pagi ini, terus pas aku mengintil kamu masuk lewat gerbang depan sekolah tadi... dada aku rasanya sesak banget. Aku kaya gak bisa nafas,”
‘Lah kan udah mati, jelas lah gak bisa nafas,’ saut Arash tapi hanya dalam hati.
‘’ Ada banyak potongan memori yang kayak mau keluar dari kepala aku, tapi semuanya macet kaya kaset radio kusut,’’ Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang tampak semi transparan di bawah terik matahari.
"Aku ngerasa... aku punya urusan yang besar banget di sekolah ini. Seolah-olah, sebelum aku berakhir melayang-layang di jalanan sepi semalam, aku itu sering jalan di koridor sekolah ini. Aku tahu tata letak kelasnya, aku tahu wangi pohon kamboja di dekat laboratorium... aku akrab sama tempat ini,’’
Arash terdiam seribu bahasa mendengarkan penuturan roh di depannya. Kemampuan indigonya mulai menangkap adanya getaran energi spiritual yang kuat namun tidak stabil dari tubuh cewek tersebut.
Getaran itu adalah manifestasi dari emosi, kerinduan, dan rasa bingung yang amat mendalam dari sebuah jiwa yang terputus dari raganya secara paksa.
‘’Nama lo siapa, nanti gue bantu cari info,’’ tanya arash.
‘’Nah itu dia,”
‘’Itu dia apa?’’
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅