Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Satu bulan kemudian, pesta ulang tahun pernikahan Pak Haris dan Bu Nia digelar dengan meriah. Pasangan pengusaha garmen terbesar di kota tersebut, mengundang banyak tamu undangan, terutama dari kalangan pebisnis dan pejabat.
Ballroom hotel termewah di kota itu dipenuhi tamu undangan sejak dua jam yang lalu. Acara berlangsung mewah. Lampu kristal berkilauan. Musik mengalun lembut. Para tamu mengenakan pakaian pesta terbaik mereka.
Sementara di balik kesuksesan acara itu, tim katering BUNDA AYA bekerja dengan sibuk memastikan semuanya berjalan sempurna. Kanaya mengenakan gamis elegan dan cadar berwarna lembut. Ia sedang memastikan seluruh pelayanan berjalan lancar ketika seseorang memanggilnya.
"Kanaya!"
Kanaya menoleh. Dan terkejut melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Bu Winda?" Kanaya segera memeluk Bu Winda.
"Senang bisa bertemu dengan kamu lagi," ucap Bu Winda.
"Aruna, kenalan ini Kanaya. Bundanya si kembar yang Mama ceritakan sama kamu dulu," lanjut Bu Winda kepada perempuan cantik yang datang bersama dengannya.
"Halo, kenalkan ... Aruna. Anak kedua Bu Winda," kata Aruna sambil cipika-cipiki dengan Kanaya.
"Senang bisa kenalan dengan kamu," balas Kanaya.
"Aruna, kamu harus belajar dari Kanaya. Dia wanita mandiri yang berjuang dari bawah sambil membesarkan dua orang anak. Hidup kamu sudah enak, tinggal meneruskan usaha Mama, tapi malah tidak mau," ucap Bu Winda mulai cerewet.
Kanaya malah jadi serba salah. Karena merasa tidak enak dijadikan bahan bandingan dengan orang lain.
"Mama mana anak yang katanya mirip aku masih kecil?" tanya Aruna mengalihkan pembinaan.
Kanaya terkejut. Setelah dia telisik-telisik, warna rambut dan lensa mata Aruna agak mirip Anaya.
Dibandingkan dengan Kanaya yang memiliki wajah mirip orang campuran Asia dan Turki, wajah Abinaya dan Ayana mirip campuran bule Italia atau Amerika Latin. Karena mirip dengan ayah kandungnya.
"Anak-anak tidak ikut?" tanya Bu Winda.
"Tidak, Bu. Jika acara diadakan di malam hari, biasanya aku tidak mengajak mereka," jawab Kanaya sopan.
Seketika wajah Bu Winda dan Aruna kecewa. Capek-capek Bu Winda merayu putrinya agar mau ikut menemaninya datang ke pesta, dengan alasan ingin mengenalkannya kepada dua anak Kanaya.
Pembicaraan antara Kanaya dan Bu Winda pun berlanjut. Ternyata Bu Winda adalah sahabat lama sekaligus rekan bisnis Pak Haris. Mereka sudah saling mengenal sejak masih merintis usaha puluhan tahun lalu.
Ketiganya kemudian berbincang cukup lama di salah satu sudut ballroom. Pembicaraan mereka terasa menyenangkan.
Bu Winda bahkan merasa nyaman berbicara dengan Kanaya. Ada ketulusan dan kerendahan hati yang jarang ia temukan pada banyak orang sukses.
Aruna tidak henti mencicipi berbagai macam makanan di sana dan memuji Kanaya.
"Jika setiap hari aku makan masakan Kanaya, pasti akan naik drastis berat badanku," celetuk Aruna dan membuat Kanaya tertawa kecil.
"Padahal kamu itu sulit sekali kalau disuruh makan. Makanya tubuh kamu kurus begitu," kata Bu Winda kepada Aruna.
Aruna pergi lagi ke tempat makanan. Kali ini dia kebingungan memilih dessert yang kelihatan enak semua, sementara perutnya sudah hampir kenyang.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, ponsel Bu Winda tiba-tiba berdering. Layar telepon menampilkan nama seseorang. Senyum Bu Winda langsung melebar.
"Anak sulung saya telepon."
Kanaya tersenyum. "Silakan diangkat dulu, Bu."
Bu Winda langsung menerima panggilan video tersebut. "Arkana, ada apa?"
Di tempat lain, seorang pria tampan sedang tersenyum dari layar ponsel. "Masih berada di acara Pak Haris, Bu?"
"Iya."
"Tumben sekali betah lama-lama. Apa acara masih ramai?"
"Sangat ramai."
Kanaya yang mendengar itu langsung berdiri. Ia tidak ingin mengganggu percakapan ibu dan anak.
"Maaf, Bu. Saya tinggal sebentar."
"Oh iya, silakan."
Kanaya melangkah pergi. Cadar yang menutupi wajahnya bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Dia lewat di belakang Bu Winda.
Mata Arkana yang sedang berbicara dengan ibunya tanpa sengaja menangkap sosok wanita bercadar yang berjalan menjauh. Walau hanya sekilas, bahkan wajah wanita itu tidak terlihat. Akan tetapi, entah mengapa jantung Arkana mendadak berdegup sangat kencang.
Pria itu langsung membeku. Tatapannya mengikuti sosok tersebut. Perasaan aneh memenuhi dadanya. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Ma ...." Suara Arkana berubah pelan.
"Ya?" sahut Winda sambil tetap memegang ponselnya.
"Itu siapa?"
"Yang mana?"
"Wanita bercadar yang barusan pergi."
Winda menoleh ke arah yang ditunjuk Arkana melalui layar video call. Ia tersenyum kecil karena langsung tahu siapa yang dimaksud putranya.
"Oh, itu Kanaya." Suara Bu Winda terdengar biasa saja.
Seketika tubuh Arkana membeku, napasnya tercekat, dan jantungnya berdetak sangat keras hingga terasa menyakitkan.
"Siapa, Ma?" Arkana sampai memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Kanaya," ulang Winda. "Pemilik katering yang sedang menangani acara Pak Haris malam ini."
Wajah Arkana langsung kehilangan warna. Tangannya gemetar memegang ponsel. Nama yang selama lima tahun terakhir terus ia cari ke mana-mana. Nama yang setiap malam ia sebut dalam doanya. Nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Kanaya.
"Ma ... apa Mama serius?"
Winda mengernyit melihat perubahan ekspresi putranya. "Tentu saja serius. Memangnya kenapa?"
Arkana bahkan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku ke arah tempat Kanaya tadi menghilang. Pikirannya kacau dan perasaannya berantakan. Di dalam dadanya, harapan yang selama ini hampir padam mendadak menyala kembali. Karena untuk pertama kalinya setelah lima tahun dia mendengar kabar tentang Kanaya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, perempuan itu ternyata berada begitu dekat dengannya.
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃