Kang Youngha seorang yang dulunya Direktur Muda Perusahaan Kang. Dia menikah dengan Jang Dohee, sosok perempuan yang dicintainya sedari dulu. Tiba-tiba, Kang Youngha melepaskan diri dari jabatan Direktur Muda. Dia mulai mengenal dunia militer dan masuk melalui Wajib Militer, di dunia militer nya Kang Youngha disegani banyak orang. Kali ini, dia benar-benar satu tim dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah dianggap saudara. Di pertengahan tahun, dia mulai seperti hidup sendiri. Jang Dohee yang sudah tidak diajak berbicara semenjak Ayah Youngha sendiri berbuat hal yang tidak baik kepada keluarganya, Jang Dohee yang merasa kesal dan harus meluruskan ini selama pernikahannya yang sudah hampir menyentuh 5 tahun itu. Meski begitu, Dohee masih memperhatikan Youngha diam-diam dan mulai mengumpulkan semua aset untuk masa tuanya bersama suaminya. Di sisi lain, pria yang bernama Yoon Hain adalah teman masa kecil Kang Youngha. Mereka sudah seperti saudara kandung dan menyimpan banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Black, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Welcome Back
Hari cepat berlalu,
Youngha dengan cepat kembali ke rumah, dia membawa sebuah belanjaan titipan Dohee. Pada saat Youngha masuk ke dalam rumah, isinya berantakan dia sampai bingung dan mencari keberadaan Dohee. Dia langsung menaruh barang belanjaan di meja, dia mengendap-endap sambil mengeluarkan senjata yang entah dia ambil dari saku mana. Ternyata, ribut itu terdengar dari dapur. Youngha sudah menyiapkan dan menyuruh junior nya yang mengantar berjaga di belakangnya untuk melindungi, saat Youngha tahu ternyata ribut itu dibuat oleh pamannya sendiri.
Pamannya yang sudah membanting Dohee dan mencoba untuk membunuh Ibu Youngha. Dohee dengan sekuat tenaga menendang kaki pamannya bagian tengah, Youngha memerintah juniornya memanggil polisi. Dohee langsung beranjak dan memeluk ibunya keluar dari dapur,
“Sayang! Cepat keluar dari sana!” teriak Youngha sambil menodongkan pistol,
“Hah, Kak Youngha!” jawab Dohee sambil menatap Youngha sedikit ketakutan dengan nafas tak teratur,
Pisau yang ada di genggaman pamannya melayang menggores pipi kanan Dohee, dia berhenti sambil menatap pisau itu menancap di lemari.
“Jang Dohee! Lari!” teriak Youngha lagi,
Dohee langsung menarik ibunya dan berlindung di belakang Youngha, polisi datang tepat waktu. Pamannya mencoba menusuk Youngha, untung saja rompi anti pelurunya menahan tusukan tajam dari pisau itu. Youngha segera mengamankan pamannya, saat polisi datang pelaku sudah duduk dalam keadaan terikat. Sisanya polisi yang mengurus semua, Youngha langsung menghampiri Dohee dan ibunya. Ibunya sudah di tolong dengan petugas medis, Youngha mengambil selimut lalu memakaikan di tubuh Dohee.
Youngha memeluk Dohee erat, dia memegang pipi Dohee alih-alih melihat luka sayatannya. Dohee ketakutan dia memeluk erat Youngha dengan wajah pucat,
“Tak apa, aku disini sayang... Tenang semua sudah selesai” ujar Youngha sambil mengelus lengannya dan mengecup kepalanya,
Dohee yang badannya gemetar itu mencengkram seragam Youngha erat seperti orang kedinginan. Youngha membawa pergi ibunya dan Dohee ke rumah yang lain jauh dari rumah Ayahnya, di perjalanan pergi Youngha masih memeluk Dohee sangat erat lalu wajahnya dipenuhi oleh amarah yang sangat dalam. Usai mereka datang, junior Youngha yang bernama Kim Raon, dia membantu Ibunya untuk di obati oleh dokter andalan mereka. Youngha menaruh Dohee di tempat tidur, dia menemani Dohee. Sampai dimana waktu jadi pagi buta, Dohee langsung terbangun dan melihat kancing atas baju Youngha terbuka, dia teringat jelas kejadian waktu malam.
Dohee langsung membuka semua kancing baju Youngha dan melihat di bagian dada kiri serta bagian perutnya memar karena tusukan tadi. Dohee beranjak dari tempat tidur dan membawakan satu baskom air dengan sapu tangan bersih, dia memeras sapu tangan lalu mengompres bagian memarnya. Pada saat mengompres, tanpa sadar tangan kiri Youngha melingkar ke pinggang Dohee, kemudian dia hanya bergerak sedikit. Dohee mengelus kepala Youngha lembut dan mencium kening Youngha, usai itu Dohee langsung tidur di sela antara pundak dan dagu Youngha. Dohee memegang leher Youngha, dia juga mengecek suhu badan Youngha.
Tepat menunjukkan pukul 5, Dohee bangun dan melihat Youngha wajahnya pucat dan kesakitan itu. Dohee cepat-cepat bergegas menghubungi Raon, saat itu juga Youngha dilarikan kerumah sakit milik militer yang tak jauh dari sana. Dia ditangani dengan cepat, kemudian mendapatkan kamar dengan cepat, semua tim personilnya segera menjenguk dan bercerita banyak kepada Dohee. Tak lama, demamnya turun dan Youngha mulai pulih dari kesakitan itu.
“Oh Komandan! Hormat!” ujar semua anggota personilnya sambil hormat,
“Hmm.... Aku sakit lho” jawab Youngha,
“Hahaha, tapi komandan ada yang menjaga setiap saat” ujar Han Sion salah satu Kapten di anggota,
Youngha langsung melihat ke kiri dan menatap Dohee yang cantik dengan rambut hitam panjang sepinggang itu, dia sedang duduk sambil tersenyum manis. Youngha langsung sedikit bangun dari tidur dan bersandar di tempat tidur, Youngha menggandeng tangan Dohee erat.
“Kalian, kembali ke markas... Jangan sampai tidak ada yang jaga” suruh Youngha,
“Siap! Hormat!” ujar Sion memberikan hormat,
“Kapten Sion” panggil Youngha setelah membalas hormat kepada mereka,
“Siap Komandan!” jawab Sion sigap,
“Jangan lupa siapkan penghargaan untuk Letnan Kim Raon” ujar Youngha,
“Siap! Laksanakan komandan!” jawab Sion tegas,
“Sudah, bubar” ucap Youngha kemudian,
“Baik, terima kasih komandan... Nyonya Kang, terima kasih atas makanannya” ujar Sion yang senyum datar ke Youngha lalu memberikan senyuman paling manisnya kepada Dohee,
“Iya Kapten Sion, sama-sama” jawab Dohee baik sambil membalas senyumannya seperti sudah biasa dan mengenal lama,
Usai semua keluar, Youngha menampilkan wajah paling imutnya kepada Dohee.
“Sayang, apa kamu tak apa-apa?” tanya Youngha sambil mengelus pipi kanannya,
“Aku tidak apa-apa, Sayangku” jawab Dohee lemah lembut sambil mengambil tangan Youngha di pipi kanannya,
“Hahh... Aku merasa kemarin kamu ketakutan, sekarang kamu sudah duduk di sebelahku dan menungguku” ujar Youngha menghela nafas,
“Bagaimana aku mengucapkan terima kasih kepada istriku ini?” tanya Youngha bangkit dari sandarannya itu,
“Kenapa terima kasih dengan istri sendiri?” tanya Dohee melembut,
“Karna dia sudah melakukan hal yang terbaik dan setia menjadi istriku lalu bisa menghadapi aku yang seperti anak kecil ini” jawab Youngha mencubit pipi kiri Dohee,
“Hmmm tidak juga kalau seperti anak kecil, jika aku tidak seberani waktu itu tidak mungkin aku bisa seperti sekarang” ujar Dohee menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum,
Kening mereka menempel, mereka tertawa kecil lalu Youngha mengecup bibir Dohee berkali-kali. Saat Youngha mencium bibir Dohee, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Youngha. Kemudian seorang dokter masuk ke dalam,
“Letnan Kolonel Kang, anda sudah bisa pulang malam ini. Saya rasa perlu di rawat dengan kompres air hangat, untung saja istri anda langsung cepat-cepat mengompres dengan air suhu ruang waktu itu” ujar Dokter yang memberikan berita baik,
“Terima kasih dokter, jika aku pulang sekarang bagaimana? Aku rasa sudah agak baikkan” jawab Youngha duduk dengan tegap,
“Boleh saja, tetapi anda tidak boleh mengendarai mobil dan harus istirahat total selama seminggu, kemudian saya sudah siap resep dan saya sudah berikan suratnya kepada anggota anda, Kim Raon” ujar Dokter dengan jelas,
“Baik dokter, aku harus pulang sekarang... Kasihan istri saya sudah menunggu disini” jawab Youngha sambil menggenggam erat tangan Dohee dan menatapnya sesekali,
“Siap komandan! Hati-hati di jalan, sehat selalu” ujar Dokter itu lalu memberikan hormat dan Youngha membalasnya,
“Nyonya Kang, jangan lupa diminum vitaminnya” lanjut Dokter itu sambil menatap Dohee lembut,
“Baik dokter, terima kasih atas bantuannya hari ini” jawab Dohee lalu tersenyum, lesung pipinya terbentuk kecil sangat cantik.
Pada pagi itu,
Youngha tidak pergi ke kantor melainkan pulang kerumah dengan Dohee, di tengah perjalanan Youngha menghubungi adik laki-lakinya. Youngha meminta adiknya, Kang Jungha pulang lebih awal untuk merawat ibunya. Jungha segera pergi meninggalkan markasnya , kembali pulang untuk merawat ibunya. Setelah sampai dari rumah, turun dari mobil tiba-tiba sekali Youngha mengangkat Dohee.
“Eh, Kak Youngha... Kamu masih sakit kan” ujar Dohee terkejut,
“Kamu adalah obatku” jawab Youngha,
Kemudian Youngha langsung membawanya masuk ke dalam dan membawanya ke kamar, Youngha mengunci pintu kamar. Dengan lembut dia mencium bibir Dohee, kemudian dia menaruh Dohee di tepi tempat tidur. Youngha masih mencium bibirnya dengan memakan semuanya, lalu memindahkan sehelai rambutnya yang menutupi leher Dohee. Youngha mulai membuka lengan baju Dohee, dia langsung mencium leher Dohee sampai membentuk merah kecil. Dia melakukan itu berulang-ulang, Youngha juga mencium telinga Dohee dan menggigit pelan telinga Dohee.
Youngha menidurkan Dohee pelan sampai terlentang, nafas mereka berat dan mulai tak beraturan. Youngha membuka bajunya, kemudian Youngha membuka kancing baju Dohee satu persatu sambil mencium Dohee. Lalu Youngha menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, tangan Youngha diatas tangan Dohee menggenggam erat dengan desahan nafas yang tak teratur. Dohee memejamkan mata sambil memegang leher Youngha, tempat tidurnya mulai bergerak cepat. Youngha mencium bibir Dohee,
“Sayang... Berikan aku anak laki-laki... Yang gagah” ujar Youngha dengan nafas tak beraturan,
Dohee melingkarkan tangannya di leher Youngha sambil menggigit bibir bawahnya.
Sore harinya,
Kali ini, Dohee bangun dari tidurnya di pelukan Youngha. Dohee menatap Youngha yang masih memejamkan mata itu, Dohee memegang pipi kanan Youngha. Kemudian Youngha tersadar dia langsung memiringkan badannya menghadap Dohee, Youngha membuka kedua matanya yang sayu itu dan menatap Dohee. Dia mengelus kepala Dohee, membelai rambutnya lembut.
“Hari ini mau makan apa?” tanya Dohee lembut,
“Hari ini kita makan steak buatan sendiri dan aku mau bantu istriku memasak” jawab Youngha tersenyum sambil menempelkan keningnya ke Dohee,
“Aku mau mandi dulu ya? Boleh?” tanya Dohee,
“Mmmm... Jangan dulu, aku masih kangen” jawab Youngha manja,
Dohee tersenyum lebar sangat cantik dan lembut, lalu Youngha mencium bibir Dohee agak kasar.
“Mandi ya sayang” ujar Dohee,
“Mau ikut” kata Youngha manja,
Dohee bangun lalu mencium bibir Youngha lagi dengan lembut,
“Nanti lagi ya, kita makan dulu” jawab Dohee akhirnya.
Youngha membuntuti Dohee mandi, di dalam mereka melakukan hal itu lagi. Setelah mereka keluar, Dohee membantu menggosok rambut Youngha. Dohee melihat bibir Youngha yang merah itu langsung berhenti menggosok dan mencium bibirnya, Youngha melingkarkan tangannya ke pinggang Dohee. Mereka jatuh lagi ke tempat tidur, Youngha menahan badannya dan badan Dohee dengan kedua siku tangan di tempat tidur. Youngha memutar Dohee, kemudian dia membuka tali baju mandi milik Dohee.
Akhirnya malam tiba,
Setelah mereka selesai membersihkan badan lagi, mereka memasak dan makan bersama. Sesudah makan, Dohee meminum vitamin yang diberikan Dokter pada saat itu, Youngha juga meminum obat anti nyeri yang sudah di resep kan oleh Dokter tadi. Mereka kembali tidur, lagi-lagi mereka melakukan hal itu lagi. Ternyata efek vitamin yang diberikan Dokter itu sangat besar, sampai-sampai mereka melakukan sampai tengah malam. Youngha juga tidak punya lelah, dia semakin menurut dengan Dohee.
Sampai pada keesokan harinya,
Dohee bangun dari tidurnya badannya sakit semua terutama bagian pinggang, saat mau turun dari tempat tidur badannya sangat sakit sampai dia pegangan tepi tempat tidur. Youngha pun langsung membuka kedua matanya, dia langsung menolong Dohee yang hampir jatuh itu.
“Ahhh... Kenapa pinggangku sakit sekali ya kak?” tanya Dohee mengeluh, dia yang masih belum sadar,
“Sayang, kamu kan kemarin....” jawab Youngha sambil mengangkat kedua alisnya,
Dohee teringat lalu menatap Youngha dan menutup mulutnya dengan tangan. Youngha langsung tersenyum malu sambil menundukkan kepala,
“Ihhh... Kenapa efek vitamin itu kuat sekali ya” ujar Dohee meringik sambil memegang pinggangnya,
“Sayang, kemarin kamu pake pengaman kan?” tanya Dohee,
“Tidak, semua saat melakukannya tanpa pengaman” jawab Youngha dengan wajah polosnya mata yang sayu,
“Ingatkan aku jika telat haid” ujar Dohee,
“Berarti bulan ini belum?” tanya Youngha,
“Masa subur” jawab Dohee tak sadar, lalu sejenak dia menatap Youngha lagi dan melebarkan kedua matanya,
“Hahaha... Ya sudah kita beli testpack saja ya” ucap Youngha dengan tawa bahagianya,
“Tapi, yang akurat” ujar Dohee dengan kedua matanya terlihat sayu,
“Iya sayang” jawab Youngha lalu mencolek hidung Dohee pelan,
“Sayang, mulai sekarang urusan dapur biar bibi Hwang ya yang menangani... Kamu fokus dengan program hamil dan fokus merawat ku saja, boleh begitu?” tanya Youngha,
“Aku akan merawat mu, kalau punya anak kita akan merawat nya bersama-sama, apapun yang terjadi” jawab Dohee lalu memegang pipi kanan Youngha sambil tersenyum manis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...