NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 GERAKAN PERTAMA

Pagi-pagi sekali, mobil keluarga baru milik Abdul sudah meluncur membelah jalanan kota yang masih lengang.

Hari itu adalah hari pertama terapi rehabilitasi intensif untuk Bapak Abdul.

Di kursi penumpang belakang, Bapak Abdul duduk dengan tenang ditemani Ibu Abdul. Sesekali pria tua itu mengelus sandaran kursi mobil yang empuk dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Bahkan sampai sekarang, ia masih belum benar-benar percaya bahwa keluarganya bisa memiliki kendaraan pribadi seperti ini.

Sementara itu, Abdul fokus mengemudi dari depan.

Sesekali matanya melirik kaca spion untuk memastikan kondisi kedua orang tuanya baik-baik saja.

"Nyaman, Pak?" tanya Abdul.

Bapak Abdul tersenyum tipis.

"Nyaman..."

Satu kata sederhana itu sudah cukup membuat Abdul merasa puas.

 

Sesampainya di rumah sakit rehabilitasi, mereka langsung diarahkan menuju lantai khusus terapi saraf.

Ruangan itu sangat luas.

Di dalamnya terdapat berbagai macam alat yang belum pernah dilihat Abdul sebelumnya.

Ada alat bantu berjalan.

Ada alat keseimbangan.

Ada mesin latihan tangan.

Bahkan ada perangkat robotik yang membantu pasien stroke melatih gerakan tubuh mereka secara perlahan.

Seorang fisioterapis wanita berusia sekitar tiga puluh tahun menghampiri mereka.

"Selamat pagi, Pak. Saya Nita. Hari ini saya yang akan mendampingi terapi pertama."

Bapak Abdul tampak gugup.

Wajar saja.

Sudah lumayan lama ia hidup dalam keterbatasan akibat stroke.

Harapan untuk pulih perlahan mulai terkikis oleh waktu.

Namun kini, ia kembali dipaksa untuk percaya bahwa tubuhnya masih bisa diperbaiki.

"Pak, nanti kita mulai pelan-pelan ya," ujar Nita dengan ramah.

"Tidak perlu memaksa diri."

Bapak Abdul mengangguk.

 

Terapi pertama berlangsung cukup berat.

Awalnya hanya latihan sederhana.

Menggerakkan jari.

Melatih pergelangan tangan.

Mengangkat lengan beberapa sentimeter.

Namun bahkan gerakan sekecil itu membuat keringat membasahi pelipis Bapak Abdul.

Beberapa kali wajahnya meringis menahan rasa lelah.

Ibu Abdul yang melihat dari samping sampai harus menahan air mata.

"Kasihan Bapak..."

bisiknya pelan.

Abdul menggenggam tangan ibunya.

"Kalau mau sembuh memang harus dilewati, Bu."

Meski berkata demikian, hatinya sendiri sebenarnya ikut terasa nyeri melihat perjuangan bapaknya.

 

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Sesi terapi akhirnya memasuki tahap pemeriksaan respons saraf.

Fisioterapis mulai memberikan rangsangan kecil pada jari tangan kanan Bapak Abdul yang selama ini paling sulit digerakkan.

"Pak..."

"Nah sekarang coba fokus ya."

"Bayangkan Bapak sedang menggenggam sesuatu."

Bapak Abdul memejamkan mata.

Mencoba berkonsentrasi.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada perubahan.

Kemudian...

Sangat perlahan.

Sangat kecil.

Namun nyata.

Jari telunjuk tangan kanannya bergerak.

Hanya sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam.

Fisioterapis langsung tersenyum.

"Nah!"

"Bagus sekali, Pak!"

Ibu Abdul menutup mulutnya.

Air mata langsung mengalir.

"Bapak...!"

Bapak Abdul sendiri tampak terkejut.

Ia menatap tangannya dengan mata membelalak.

Lalu mencoba lagi.

Dan kali ini...

Jari tersebut kembali bergerak.

Sedikit lebih jelas.

Abdul yang sejak tadi berdiri di belakang langsung merasakan dadanya bergetar hebat.

Mungkin bagi orang lain itu hanyalah gerakan kecil.

Namun bagi keluarganya...

Itu adalah keajaiban.

Itu adalah harapan.

Itu adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

 

Selesai terapi, mereka pulang dengan suasana hati yang jauh lebih cerah.

Sepanjang perjalanan, Ibu Abdul tidak berhenti membicarakan apa yang terjadi tadi.

"Bapak lihat sendiri kan?"

"Bisa gerak!"

"Beneran bisa gerak!"

Bapak Abdul hanya tersenyum malu.

Namun sorot matanya jauh lebih hidup dibandingkan beberapa bulan lalu.

Sementara Abdul mengemudi sambil tersenyum tipis.

Hari ini terasa seperti kemenangan kecil.

Dan terkadang...

Kemenangan kecil adalah awal dari perubahan besar.

 

Sesampainya di rumah, Abdul langsung disambut oleh Rian dan Jaka yang sedang mengecek hasil produksi konveksi.

"Gimana, Dul?" tanya Rian penasaran.

"Terapi lancar?"

Abdul mengangguk.

"Lancar."

"Lebih dari yang aku harapkan."

Jaka mengangkat alis.

"Wah, kabar bagus nih?"

"Bapak bisa gerakin jari."

Mata Rian dan Jaka langsung membesar.

"Serius?!"

"Iya."

"Alhamdulillah..."

Keduanya ikut tersenyum tulus.

Mereka tahu betapa besar arti kabar itu bagi Abdul.

 

Malam harinya, suasana rumah terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bapak Abdul terlihat begitu bersemangat saat makan malam.

Ia bahkan beberapa kali mencoba menggerakkan tangan kanannya sendiri meskipun masih sangat terbatas.

Setiap gerakan kecil yang berhasil dilakukan selalu membuat Ibu Abdul tersenyum bahagia.

Melihat pemandangan itu, Abdul merasa semua uang yang telah ia keluarkan benar-benar sepadan.

 

Menjelang tengah malam.

Abdul kembali masuk ke kamarnya.

Tubuhnya memang lelah.

Namun hatinya terasa sangat ringan.

Ia merebahkan tubuh di atas kasur.

Lalu memandangi langit-langit kamar.

Hari ini adalah hari yang baik.

Sangat baik.

Bahkan mungkin salah satu hari terbaik sejak sistem misterius itu hadir dalam hidupnya.

Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai datang.

Kelopak matanya terasa semakin berat.

Dan perlahan...

Kesadarannya mulai tenggelam ke alam mimpi.

 

Dalam mimpinya kali ini, Abdul berdiri di tengah sebuah ruangan futuristik yang dipenuhi cahaya putih.

Di sekelilingnya berjajar berbagai peralatan medis canggih yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Robot rehabilitasi.

Mesin terapi saraf.

Perangkat latihan motorik otomatis.

Semuanya tampak sangat mahal.

Di ujung ruangan berdiri sebuah layar hologram raksasa.

Tulisan demi tulisan muncul di atasnya.

Kemudian berhenti pada satu angka yang bersinar terang.

Rp1.800.000.000

Angka itu melayang di udara seperti bintang.

Terlihat begitu jelas.

Begitu nyata.

Abdul menatapnya tanpa berkedip.

Dan sebelum ia sempat mendekat...

Seluruh ruangan perlahan berubah menjadi cahaya keemasan yang menyilaukan.

 

Sementara itu...

Di dunia nyata...

Jarum jam menunjukkan pukul 04.50 dini hari.

Ponsel di atas meja samping tempat tidur Abdul tiba-tiba menyala.

Cahaya keemasan muncul di layar.

Deretan teks putih mulai mengetik sendiri.

[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]

[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Peralatan Rehabilitasi Medis Modern.]

[Nominal Akumulasi Visual Dalam Mimpi: Rp1.800.000.000,00.]

[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]

[Proses Konversi Berhasil...]

[Pengiriman Dana Sedang Berlangsung...]

Beberapa detik kemudian...

Cahaya keemasan itu perlahan menghilang.

Dan sebuah getaran notifikasi mulai terdengar di dalam kamar yang gelap.

Bzzzt...

Bzzzt...

Menandakan bahwa subuh berikutnya kembali membawa rezeki baru bagi Abdul.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!