NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Tidak Bisa Disembunyikan Lagi

Bab 35 — Tidak Bisa Disembunyikan Lagi

Ruangan CEO mendadak sunyi. Sekretaris divisi yang baru masuk itu masih berdiri kaku di depan pintu sambil memegang map.

Matanya bergantian melihat Mona dan Wira Aditama. Lalu ke posisi mereka yang tadi terlalu dekat. Dan akhirnya— wajahnya berubah panik.

“S-Saya minta maaf!”

Mona langsung ingin menangis malu.

“Bukan— ini— saya—”

Sementara Wira justru terlihat sangat tenang.

“Masuk saja.”

“Hah?”

“Kamu bawa dokumen, kan?”

Wanita itu masih terlihat bingung setengah mati.

“I-Iya, Pak…”

Ia berjalan masuk dengan langkah super kaku lalu menyerahkan map ke meja. Tangannya sampai gemetar dan Mona benar-benar ingin menghilang dari dunia.

 

Setelah sekretaris itu keluar— suasana langsung berubah hening beberapa detik. Mona perlahan menoleh ke Wira dengan ekspresi putus asa.

“Lihat kan?!”

Wira duduk santai di kursinya.

“Apa?”

“Kita ketahuan!”

“Akhirnya memang akan begitu.”

Mona memegangi dahinya.

“Pak Wira, saya serius!”

“Aku juga serius.”

“Besok satu kantor pasti tahu.”

Wira mengangkat sebelah alis.

“Kamu malu?”

Mona langsung mendelik.

“Ya iyalah!”

Dan bukannya merasa bersalah— Wira justru terlihat menahan senyum. Pria ini benar-benar menikmati penderitaan mental Mona sekarang.

 Benar saja. Kurang dari dua jam kemudian, suasana kantor mulai terasa aneh. Beberapa orang diam-diam melirik Mona. Beberapa staf langsung pura-pura sibuk saat ia lewat. Dan yang paling mencurigakan—

group chat kantor mendadak terlalu aktif. Mona menatap layar ponselnya dengan wajah kosong.

“FIX PACARAN.”

“GUE BILANG JUGA APA.”

“Tadi hampir ciuman katanya?!”

“HAMPIR CIUMAN DARI MANA?!”

Salah satu teman kantornya langsung tertawa.

“Mbak… seluruh lantai udah tahu.”

Mona menutup wajah dengan kedua tangan. Selesai sudah hidup tenangnya.

 

Sementara itu di ruang rapat lantai atas... beberapa direktur sedang membahas proyek kerja sama. Namun fokus salah satu orang justru bukan pada presentasi. Kevin Wijaya duduk sambil memainkan bolpoin dengan wajah dingin.

Ucapan Wira malam gala itu masih teringat jelas.

"Kalau kamu sekali lagi bicara sembarangan tentang Mona… aku pastikan kamu menyesal."

Kevin mengepalkan rahangnya pelan. Ia belum pernah dipermalukan seperti itu sebelumnya. Dan semua gara-gara seorang sekretaris.

“Kau melamun?”

Kevin menoleh. Salah satu rekannya tersenyum miring.

“Masih kesal karena Wira?”

Kevin tertawa kecil dingin.

“Bukan urusanmu.”

Namun jauh di dalam pikirannya— ego Kevin belum menerima kekalahan itu.

*** 

Sore harinya, Mona akhirnya berhasil kabur sebentar ke pantry demi menenangkan diri. Ia menuang kopi sambil menghela napas panjang.

“Kenapa hidup saya jadi begini…”

“Karena kamu jatuh cinta sama bos sendiri.”

Mona langsung menoleh.

Reza berdiri di ambang pintu sambil tertawa kecil. Reza Mahendra memang terlalu suka muncul tiba-tiba.

“Jangan ledek saya lagi…”

Reza berjalan mendekat lalu mengambil kopi juga.

“Jadi gimana rasanya jadi pacar CEO?”

“Capek.”

“Bahagia?”

Mona terdiam sebentar. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

“Iya.”

Reza langsung tertawa puas.

“Nah itu.”

Mona menunduk malu.

“Pak Wira tuh… beda banget kalau lagi sama saya.”

“Karena dia nyaman.” Jawaban cepat itu membuat Mona berkedip.

Reza bersandar santai di meja pantry.

“Wira nggak pernah buka dirinya gampang ke orang lain.”

Tatapannya berubah lebih serius.

“Aku kenal dia lama. Dan aku belum pernah lihat dia segila ini sama perempuan.”

Wajah Mona langsung panas lagi.

“Segila itu ya?”

“Dia sampai marah besar di gala kemarin. Itu udah langka.”

Mona terdiam. Ia memang masih ingat tatapan Wira malam itu. Dingin. Berbahaya. Dan penuh perlindungan.

“Aku cuma mau bilang satu hal,” lanjut Reza pelan. “Kalau suatu hari hubungan kalian berat… jangan langsung menyerah.”

Mona menoleh perlahan.

“Karena Wira mungkin terlihat kuat,” kata Reza lagi. “Tapi dia nggak sekuat itu kalau soal orang yang dia sayang.”

Deg

Kalimat itu langsung tersimpan di hati Mona.

***

Malam mulai turun saat sebagian besar karyawan pulang. Namun Mona masih sibuk membereskan beberapa dokumen di ruangannya.

Dan seperti biasa— Wira belum pulang juga.

Mona akhirnya masuk ke ruang CEO sambil membawa file terakhir.

“Pak, ini revisi kontraknya.”

Wira menerima file itu tanpa melepas pandangan dari laptop.

“Hm.”

Mona berdiri beberapa detik. Lalu menghela napas kecil.

“Capek?”

Wira langsung menoleh.

“Kamu kenapa?”

“Semua orang lihat saya aneh hari ini.”

Wira menutup laptop perlahan. Lalu berdiri.

“Ada yang mengganggumu?”

“Nggak sih…”

“Tapi?”

Mona menggigit bibir kecil.

“Saya nggak suka jadi pusat perhatian.”

Tatapan Wira perlahan melembut.

Ia berjalan mendekat sampai berdiri tepat di depan Mona.

“Aku minta maaf.”

Mona langsung kaget.

“Hah?”

“Aku terlalu terburu-buru.”

Untuk beberapa detik Mona hanya bisa diam. Karena ini pertama kalinya Wira meminta maaf soal hubungan mereka.

Pria itu menghela napas kecil.

“Aku cuma capek menyembunyikanmu.”

Deg

Dada Mona langsung menghangat lagi. Dan lagi-lagi… pria ini selalu tahu cara membuat dirinya tidak bisa marah terlalu lama.

 “Mona.”

“Iya?”

“Kalau kamu mau, kita bisa lebih hati-hati di kantor.”

Tatapan Wira benar-benar serius sekarang. Dan Mona tahu— pria itu bersedia melakukannya demi dirinya. Namun setelah beberapa detik berpikir…

Mona justru tersenyum kecil.

“Nggak usah.”

Wira mengernyit tipis.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Mona menunduk malu sesaat sebelum melanjutkan,

“Lagipula… cepat atau lambat semua orang juga bakal tahu.”

Sudut bibir Wira perlahan terangkat.

“Kamu mulai berani.”

“Sedikit.”

“Bagus.”

Hening nyaman muncul di antara mereka. Lalu tiba-tiba—

Bruk

Lampu ruangan mati total. Mona langsung refleks memegang lengan Wira.

“Pak?!”

Beberapa detik kemudian lampu darurat menyala redup. Suasana kantor mendadak gelap temaram.

“Ada pemadaman?” gumam Mona pelan.

Wira mengeluarkan ponselnya untuk penerangan.

“Tunggu di sini.”

Namun tepat saat ia hendak bergerak— suara benda jatuh terdengar dari luar ruangan.

Brak!

Mona langsung menegang.

“Itu apa?”

Tatapan Wira langsung berubah tajam. Dan untuk pertama kalinya malam itu… insting buruk mulai muncul. Karena suara itu bukan terdengar seperti kecelakaan biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!