NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.Fajar Ungu dan Tekad Seorang Anak yang Tak Mau Mati Biasa Saja

Ratusan pola ukiran, seratus delapan tepatnya, kini terukir dalam benak Xiao Xuan sejelas bintang-bintang di langit malam. Segala bentuk, lekukan, hingga makna tersirat di balik setiap goresan itu tersimpan rapi di kedalaman jiwanya, seolah sebuah perpustakaan kuno yang telah dibuka khusus untuknya, di mana setiap lembar halaman berisi rahasia kekuatan yang telah hilang ditelan zaman. Ia bisa memutar balik ingatan itu kapan saja, menelusuri setiap lengkung garis seolah ia sedang menatap langsung naskah aslinya.

Seandainya saja cadangan kekuatan roh di dalam dadanya saat ini cukup melimpah, pasti ia tak akan ragu sedetik pun untuk segera mencoba menggoreskan pola-pola itu ke atas kertas atau logam, menguji dahsyatnya kekuatan yang tersimpan di balik ilmu luhur itu. Namun, kesadaran akan keterbatasan dirinya saat ini membuat ia menahan diri, bukan karena takut gagal, melainkan karena ia paham betul—memaksakan sesuatu di luar batas hanyalah kebodohan yang akan membawa petaka.

Meski hanya bisa mengamati dan menghafal dalam batin, pikiran Xiao Xuan terus berputar, menyusun peta jalan di kepalanya dengan ketajaman intuisi yang tak lazim dimiliki anak seusianya. Ia paham betul jenjang yang harus ia daki. Untuk jimat-jimat pendukung yang sederhana namun sangat berguna, seperti Jimat Penenang yang mampu menentramkan jiwa atau Jimat Langkah Angin yang membuat gerakan secepat bayangan, ia hanya perlu mengangkat kekuatan rohnya hingga tingkat lima. Itu adalah ambisi yang masuk akal, sesuatu yang bisa diraih dalam waktu dekat.

Namun, untuk pola-pola yang bersifat menyerang dan mematikan, syaratnya berlipat ganda beratnya. Mengaktifkan kekuatan Lima Elemen—Logam yang tajam, Kayu yang hidup, Air yang mengalir, Api yang membakar, dan Tanah yang kokoh—setidaknya menuntutnya untuk mencapai tingkat sepuluh, saat di mana seseorang benar-benar melangkah masuk ke gerbang dunia Master Roh. Di atas itu lagi, ada pola-pola rumit seperti Qimen Dunjia yang memutarbalikkan hukum alam, hingga puncaknya yaitu Jimat Lima Petir Dewa, kekuatan penghancur yang menuntut energi sebesar langit dan bumi sendiri.

Namun, justru kesulitan itulah yang memicu api semangat di mata gelapnya. Semakin berat harga yang harus dibayar, semakin dahsyat pula kekuatan yang akan didapatkan. Seperti prinsip besi yang ditempa api: semakin panas apinya, semakin keras dan tajam bilah yang dihasilkan.

Langit di luar jendela mulai memerah, sinar terakhir mentari senja perlahan ditelan kegelapan malam, saat ketukan halus terdengar di pintu kayu kamarnya.

"Kakak Xiao Xuan! Waktunya makan malam!" suara Xi Yu terdengar ceria, memecah keheningan yang memeluk ruangan itu seharian.

Setelah perut terisi makanan sederhana namun lezat buatan ibunya, Xiao Xuan hendak kembali menenggelamkan diri dalam lautan ilmu dan latihan. Xi Yu sempat menarik lengan bajunya, ingin mengajak bermain di halaman seperti biasa, namun tangan keriput Kakek Jack dengan lembut menahan bahu cucu perempuan itu.

Di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya temaram lampu minyak, suara berat namun lembut lelaki tua itu terdengar rendah, seolah takut mengganggu ketenangan yang sedang dibangun cucu angkatnya di balik dinding tipis itu.

"Biarkan dia menempuh jalannya sendiri... Karena dia memiliki benih bakat untuk menjadi Master Roh, jangan kita halangi atau renggut konsentrasinya... Kita memang orang desa, tak paham seluk-beluk kekuatan roh yang rumit itu, tak mengerti jalan yang ia pilih. Tapi setidaknya, biarlah kita tidak menjadi beban atau rintangan baginya dalam urusan duniawi. Biarkan dia berjalan, dan kita tinggal menopang dari belakang."

Mendengar itu, semua yang ada di ruangan itu—anak, menantu, dan cucu—hanya bisa mengangguk pelan, hati mereka dipenuhi rasa hormat dan pengertian yang mendalam.

Kakek Jack menatap pintu kamar itu cukup lama, matanya berkilat penuh kebanggaan sekaligus kekhawatiran halus, lalu perlahan berjalan keluar rumah. Ia ingin menghabiskan sisa malamnya di gerbang desa, duduk bersama teman-teman lamanya, menghirup udara malam yang sejuk dan mengenang masa muda yang kini hanya tinggal kenangan. Sebagai kepala desa sederhana, ia sadar akan batas kemampuannya. Dulu ia sering merasa paling tahu dan berusaha mengatur segalanya, yang justru sering membawa kerugian. Kini, ia belajar satu hal berharga: cara terbaik mendukung adalah dengan memberi ruang dan kebebasan.

Apakah jalan yang diambil Xiao Xuan ini akan membawa keberuntungan besar atau justru malapetaka, itu semua tergantung pada takdir dan ketekunan anak itu sendiri. Ia sudah tak bisa lagi banyak membantu dengan tenaga atau harta, cukup doa dan dukungan diam-diam yang ia persembahkan.

Waktu bergulir senyap. Keheningan malam perlahan digantikan oleh dingin yang menusuk tulang di dini hari, hingga akhirnya kokok ayam jantan bersahutan dari ujung desa, membelah sunyi dan memberi tanda bahwa fajar akan segera menyapa bumi.

Di dalam kamar, Xiao Xuan perlahan membuka matanya. Binar matanya tak lagi polos seperti anak-anak seusianya, melainkan telah dibaluri kedalaman yang tenang. Semalaman penuh ia habiskan untuk memutar energi di dalam tubuhnya, dan hasilnya cukup memuaskan. Enam kali putaran besar aliran energi telah ia selesaikan dengan sempurna. Tinggal tiga putaran lagi, dan kekuatan rohnya yang kini berada di ambang batas akan melonjak naik ke tingkat kedua.

Namun, ia tak memaksakan diri untuk menyelesaikannya saat itu juga. Ia menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di setiap urat sarafnya, lalu bangkit berdiri. Dengan langkah yang ringan seolah tak menyentuh lantai, ia melangkah keluar, menembus pintu belakang, dan dengan satu lompatan halus, tubuhnya telah mendarat di atas atap jerami rumah mereka.

Di sana, ia duduk bersila tegak, menghadap ke timur—ke arah di mana langit mulai memutih. Angin pagi yang dingin menerpa wajahnya, menerbangkan rambut hitamnya yang agak berantakan, namun ia tak bergeming sedikit pun. Ia tetap menyerap energi alam secara perlahan dan teratur, namun fokus utamanya kini bukan sekadar mengisi cadangan tenaga, melainkan menunggu momen langka yang hanya berlangsung sekejap mata.

Seperti halnya Tang San, Xiao Xuan juga berniat memanfaatkan cahaya fajar untuk mengembangkan teknik matanya yang bernama Mata Roh Xuanqing. Namun, cara yang ia tempuh jauh berbeda, jauh lebih halus dan mendalam, sesuai jalan Tao yang ia tekuni.

Tang San menyerap energi ungu itu langsung masuk ke dalam bola mata, menempanya secara kasar namun cepat. Sementara Xiao Xuan? Ia akan menampung dulu energi ungu yang cepat hilang itu, mengolahnya, mencampurnya dengan kekuatan rohnya sendiri, dan memutihkannya melalui putaran energi di dalam Dantian hingga berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih murni dan lembut: Qi Mendalam. Hanya energi inilah yang akan ia alirkan ke mata, menyehatkan dan menajamkan penglihatannya selapis demi selapis, aman dan tanpa risiko merusak saraf penglihatan.

Tak lama kemudian, kabut putih yang menggantung rendah di atas bukit perlahan terurai, tersapu oleh cahaya yang semakin kuat.

Langit di ufuk timur berubah warna dengan indahnya; dari kelabu pucat, beralih ke merah jambu yang lembut, hingga akhirnya memancarkan sinar putih yang menyilaukan. Dan tepat di celah peralihan cahaya itu, sesaat sebelum matahari benar-benar menampakkan wajahnya, seberkas sinar samar berwarna ungu melintas cepat, nyaris tak terlihat oleh mata biasa.

Sekarang!

Tanpa membuang sedetik pun, Xiao Xuan menarik napas panjang hingga ke dasar paru-paru. Ia menyedot berkas cahaya ungu itu masuk melalui hidung dan seluruh pori-pori kulitnya yang telah dibuka lebar.

Di dalam perut bawahnya, Dantian yang berputar tenang seolah memiliki kesadaran sendiri, segera menyambut energi asing itu. Kekuatan rohnya membelai, mengaduk, dan memisahkan kotoran dari esensi murni sinar ungu itu, hingga perlahan terbentuklah kabut halus berwarna putih pucat—Qi Mendalam yang berdenyut hangat dan penuh khasiat.

Dengan hati-hati, seolah membawa cairan paling rapuh di dunia, ia mengarahkan kabut putih itu berjalan menyusuri jalur meridian di wajah, naik ke dahi, dan perlahan mengalir masuk ke kedua matanya.

Terasa hangat. Sangat lembut. Seolah-olah aliran air hangat yang mengalir membasuh setiap serabut saraf dan urat matanya, membersihkan lapisan kabut halus yang menghalangi pandangan, sekaligus menebalkan jaringan penglihatan itu agar mampu menahan beban energi yang lebih besar di masa depan.

Satu jam penuh berlalu dalam keheningan itu, di mana cahaya matahari telah meninggi namun ia masih diam, membiarkan proses penyempurnaan itu meresap hingga ke akar-akarnya.

Akhirnya, Xiao Xuan membuka matanya perlahan. Dua helai uap putih tipis menyembur pelan dari sudut matanya, menguap seketika begitu bersentuhan dengan udara pagi yang sejuk. Dan saat uap itu lenyap sepenuhnya, perubahan yang luar biasa pun telah terjadi.

Bola matanya yang tadinya biasa saja kini berkilau terang, bening dan tajam bagai permata giok yang baru diasah hingga sempurna. Cara ia memandang dunia telah berubah sepenuhnya. Segala sesuatu di sekelilingnya tampak jauh lebih jelas, lebih nyata, dan penuh detail yang sebelumnya tersembunyi.

Dari ketinggian itu, ia bisa melihat helai rumput yang bergoyang pelan ditiup angin di kejauhan, retakan halus pada tiang pagar kayu di ujung desa, bahkan gerakan seekor semut yang sedang mengangkut remah makanan di tanah belasan meter di bawah sana seolah serangga itu berada tepat di ujung hidungnya.

Xiao Xuan mengangkat alisnya, terkejut namun puas.

"Efeknya setinggi ini?" gumamnya pelan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk lengkungan senyum tipis yang penuh arti. "Dan ini baru tahap awal. Jika sudah mencapai puncaknya... aku mungkin bisa melihat aliran kekuatan roh orang lain, atau bahkan menembus dinding tebal sekalipun."

Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri. "Bagus. Dasar Mata Roh Xuanqing sudah kokoh terbangun. Langkah selanjutnya..."

Tatapannya kembali menjadi tajam dan penuh perhitungan, memetakan waktu dan tenaga dengan cermat.

"Aku harus menyelesaikan tiga putaran besar terakhir itu sebelum makan siang. Saat itu, kekuatanku akan naik ke tingkat kedua. Dan sore nanti... saatnya aku mulai menempa tubuh ini dengan Tubuh Roh Mistik."

Ia mengepalkan tangannya pelan, merasakan aliran darah yang berdenyut kuat di bawah kulitnya. Ambisinya tegas dan tak tergoyahkan: sebelum melangkahkan kaki masuk ke gerbang Akademi Master Roh Kota Nuoding, ia ingin setidaknya menguasai tahap awal teknik itu. Ia ingin telapak tangannya sekeras besi tempa, kulitnya sekuat perisai, dan mampu memunculkan lapisan pelindung energi yang tak tertembus senjata biasa.

Tang San mampu menguasai hampir seluruh teknik dasar Sekte Tang sebelum usia enam tahun. Maka, tak ada alasan baginya—yang memegang ilmu jauh lebih tinggi dan lengkap ini—untuk tertinggal di belakang.

Dengan gerakan ringan yang nyaris tanpa suara, ia melompat turun dari atap, mendarat lembut di tanah halaman.

Begitu kakinya menyentuh bumi, aroma harum yang menggelora langsung menyapa indra penciumannya. Ia menoleh dan melihat ibunya, Xi Yu, yang baru saja bangun dan sedang sibuk mengipasi api di tungku tanah liat di sudut dapur. Asap putih mengepul, membawa bau sedap daun kucai dan lemak daging yang berpadu manis di udara pagi.

"Ibu..." panggilnya pelan, mendekat dengan langkah santai.

Xi Yu menoleh, namun begitu pandangannya jatuh pada sosok anaknya yang berdiri tenang di sana, senyum di bibir wanita itu seketika luntur digantikan raut cemas yang mendalam. Ia segera mendekat, tangannya yang kasar dan penuh guratan lelah akibat bekerja di ladang sepanjang hari, menyentuh dahi dan pipi Xiao Xuan dengan kelembutan yang tak terhingga.

"Kenapa bangun sepagi ini lagi? Kau... kau tak tidur sama sekali semalam, Nak?" suaranya bergetar menahan kekhawatiran, matanya menatap lekat-lekat wajah anak itu seolah mencari jejak kelelahan atau sakit. "Aku tahu kau sangat bersemangat, ingin menjadi Master Roh, ingin mengubah nasibmu... tapi kau masih anak-anak. Tubuhmu masih lunak, masih tumbuh dan berkembang. Bagaimana kalau kau memaksanya terus begini? Nanti kesehatannya rusak, kau jadi sakit-sakitan, lalu apa gunanya kekuatan itu?"

Xiao Xuan tersenyum tipis, menepuk pelan punggung tangan ibunya yang ada di pipinya, berusaha menenangkan gelombang kekhawatiran itu.

"Aku baik-baik saja, Bu. Percayalah. Justru saat aku menenangkan diri dan berlatih, semangatku jauh lebih pulih dibandingkan saat aku tidur biasa. Aku tidak lelah, malah merasa semakin ringan dan kuat setiap harinya."

Xi Yu hanya menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca menatap anak itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan—campuran antara rasa bangga yang membahana dan rasa sedih yang tak terucap. Meski Xiao Xuan hanyalah anak angkat baginya, kasih sayang yang ia berikan sama besarnya, sama tulusnya seperti untuk Xi Yu, anak kandungnya sendiri. Tak ada pilih kasih sedikit pun di rumah sederhana ini. Jika ada sepotong daging, mereka makan bersama. Jika ada selembar kain bagus, mereka sama-sama mendapatkannya. Wanita yang bisa diterima dan disayangi oleh Kakek Jack tentu bukanlah orang yang berhati sempit.

"Baiklah... kalau kau merasa mampu dan tahu batas dirimu, Ibu tak akan ikut campur lagi," ujar Xi Yu pelan, lalu kembali mengelus rambut hitam Xiao Xuan hingga rapi. "Tapi ingat saja... seburuk apa pun keadaan ekonomi keluarga kita, belum sampai ke taraf harus membuat anak kecil bekerja sekeras ini. Seharusnya anak seusiamu itu bermain-main di lumpur, mengejar kupu-kupu, atau berlari-lari mengejar angin bersama Xi Yu... bukan memikul beban berat milik orang dewasa."

Xiao Xuan tertawa kecil, namun getir rasanya di dada. Ia ingin sekali berkata bahwa ia pun mendambakan kehidupan damai dan sederhana seperti itu, hidup tanpa beban, hidup tanpa rasa takut akan masa depan.

Namun sayang, ini adalah dunia Douluo Dalu. Dunia di mana kekuatan adalah segalanya. Dan di sudut ingatannya, ia tahu betul bahwa waktu tak banyak tersisa. Kurang dari dua puluh tahun lagi, langit dan bumi akan berguncang hebat saat perang antar kekuatan tertinggi—bahwa bahkan para Dewa sekalipun akan turun berperang. Di dunia yang keras dan kejam seperti ini, orang yang lemah bahkan tak memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, apalagi melindungi orang yang dicintainya.

"Ibu mengerti kok..." lanjut Xi Yu, senyumnya kembali merekah hangat seolah ia bisa membaca keresahan di mata anak itu. "Kemarin ayahmu juga bilang, mulai sekarang makananmu harus lebih bergizi. Katanya, badan yang kuat adalah modal utama seorang pejuang. Jadi pagi ini Ibu siapkan kesukaanmu: bakpao kukus besar isi daging babi dan kucai, ditambah beberapa butir telur rebus yang gemuk. Makanlah yang banyak ya, Nak. Isi tenagamu sampai penuh, biar tulangmu tumbuh kokoh."

Xiao Xuan mengangguk perlahan, menatap wajah wanita itu cukup lama dengan rasa syukur yang menggunung di hati. Di kehidupannya yang lalu, yang penuh dengan intrik, pertarungan, dan kesepian, sudah terlalu lama ia tak merasakan kelembutan dan kasih sayang sederhana namun murni seperti ini. Kasih sayang yang tulus, tak bersyarat, dan tak mengharapkan balasan apa pun selain kebahagiaan anak itu sendiri.

"Terima kasih, Bu..." jawabnya pelan, suara yang keluar terdengar sedikit berat karena haru. Hatinya terasa hangat dan nyaman, seolah diselimuti selimut tebal di tengah musim dingin.

Di bawah langit pagi yang cerah itu, di tengah aroma masakan yang menggiurkan dan kehangatan kasih sayang keluarga sederhana ini, tekad Xiao Xuan kembali mengeras, mengkristal sekeras intan.

Ia harus menjadi kuat. Bukan hanya demi ambisi pribadi, bukan hanya demi bertahan hidup, tapi demi melindungi orang-orang yang berdiri di belakangnya ini—orang-orang yang telah memberinya tempat bernaung, kehangatan, dan cinta yang tak ternilai harganya. Dan demi keamanan mereka, ia akan menempuh jalan paling sulit sekalipun, berjalan sendirian di tengah badai, dan menaklukkan puncak kekuatan tertinggi yang ada di dunia ini.

Karena baginya, kekuatan sejati bukanlah untuk menguasai dunia, melainkan untuk memeluk dan menjaga apa yang paling berharga di dalamnya.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!