NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelisahan yang Tak Bisa Dijelaskan

Malam itu, suasana rumah masih terasa dingin setelah keributan saat makan siang.

Laura duduk di tepi tempat tidur sambil melipat pakaian yang sebenarnya tidak perlu dilipat lagi. Ia hanya butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.

Arka baru selesai mandi. Ia keluar dari kamar dengan kaus sederhana, lalu duduk di samping Laura.

Beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

Laura akhirnya menatap suaminya.

“Ka…”

“Hmm?”

Laura ragu sejenak.

“Kamu tadi… kenapa pulang lebih cepat?”

Arka menoleh.

“Bukannya kamu harus kerja sampai besok?”

Laura mencoba tersenyum kecil.

“Aku cuma penasaran.”

Arka terdiam sebentar, lalu menarik napas pelan.

“Karena aku gelisah.”

Laura menatapnya bingung.

“Gelisah?”

Arka mengangguk.

“Sejak berangkat pagi itu, entah kenapa pikiranku terus ke kamu. Aku tidak bisa fokus kerja. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres di rumah.”

Laura menunduk.

Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

“Aku cuma merasa… aku tidak seharusnya meninggalkan kamu sendirian di sini.”

Kalimat itu membuat mata Laura kembali berkaca-kaca.

Ia berusaha menahannya.

“Ka… aku tidak ingin kamu terus merasa bersalah karena aku.”

Arka langsung menatapnya serius.

“Ini bukan soal merasa bersalah. Ini soal aku sebagai suami. Aku tahu kamu sedang berjuang sendirian di rumah ini.”

Laura menggigit bibirnya.

“Aku hanya tidak mau jadi alasan hubungan kamu dan Ibu semakin buruk.”

Arka menghela napas.

“Ibu memang keras. Tapi itu bukan salahmu.”

Laura berkata pelan, “Tapi setiap kali Ibu marah, rasanya aku seperti orang asing yang tidak akan pernah diterima.”

Arka menggenggam tangan Laura.

“Dengar aku baik-baik. Kamu bukan orang asing. Kamu istriku. Rumahku adalah rumahmu juga.”

Air mata Laura jatuh tanpa izin.

“Aku takut, Ka…”

“Apa?”

“Takut suatu hari kamu lelah membelaku.”

Arka menggeleng tegas.

“Itu tidak akan terjadi.”

Ia mengusap air mata Laura dengan lembut.

“Yang aku takutkan justru kamu menyerah lebih dulu.”

Laura terdiam.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lebih kuat.

Ia menyandarkan kepala di bahu Arka.

“Jangan tinggalin aku sendirian.”

Arka memeluknya.

“Tidak akan.”

Namun di luar kamar itu… rumah masih menyimpan badai yang belum selesai.

Di ruang tengah, Arman baru pulang dari kebunnya.

Ia duduk sambil melepas sandal dan memperhatikan suasana rumah yang terasa aneh sejak siang tadi.

Beberapa saudara yang datang tadi siang sudah pulang lebih cepat dari biasanya.

Dan yang paling mencurigakan— Laura tidak terlihat sama sekali.

Arman menatap Rohaya yang sedang membereskan meja dengan wajah dingin.

“Ada apa tadi siang?”

Rohaya tidak menoleh.

“Tidak ada apa-apa.”

Arman mengernyit.

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa suasana rumah seperti habis perang?”

Rohaya meletakkan piring sedikit lebih keras dari biasanya.

“Karena menantumu itu membuat malu keluarga.”

Arman terdiam.

“Laura?”

“Iya. Masakannya asin, semua orang membicarakannya. Di depan keluarga besar lagi.”

Arman duduk lebih tegak.

“Hanya karena masakan asin?”

Rohaya menatap tajam.

“Bagi kamu itu sepele. Tapi bagi saya, itu harga diri.”

Arman menghela napas pelan.

“Yaya… dia masih baru di rumah ini. Wajar kalau masih belajar.”

Nama panggilan itu membuat Rohaya menatapnya lebih dingin.

“Jangan mulai membelanya juga.”

“Saya tidak membela siapa-siapa. Saya hanya bilang, jangan terlalu keras.”

Rohaya tertawa sinis.

“Tentu. Sekarang semua orang merasa saya yang salah.”

Arman menatap istrinya lekat.

“Bukan soal salah atau benar. Tapi saya melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukan Laura.”

Rohaya membeku sesaat.

Tatapannya berubah tajam.

“Kamu juga?”

Arman melanjutkan dengan suara tenang, “Dia itu istri anak kita. Bukan musuhmu.”

Kalimat itu seperti menyentuh luka lama.

Rohaya langsung berdiri.

“Kamu tidak mengerti apa-apa!”

Arman ikut berdiri.

“Kalau begitu jelaskan!”

Rohaya menatapnya dengan mata penuh amarah yang selama ini dipendam.

“Menjelaskan apa? Bahwa perempuan kota selalu membawa kehancuran? Bahwa saya pernah kehilangan semuanya karena orang seperti dia?”

Arman terdiam.

Ruangan seketika sunyi.

Nama itu tidak disebut. Masa lalu itu tidak dibuka.

Tapi keduanya sama-sama tahu luka yang dimaksud.

Arman menurunkan suaranya.

“Itu masa lalu, Yaya.”

“Bagi kamu mungkin masa lalu. Bagi saya, itu luka yang tidak pernah selesai!”

Suara Rohaya bergetar.

“Dan sekarang kamu ingin saya diam saja melihat perempuan kota lain masuk ke hidup anak saya?”

Arman menatap istrinya lama.

Ia tahu… ini bukan tentang Laura.

Ini tentang dendam yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Dengan suara pelan ia berkata, “Jangan hukum Laura untuk dosa orang lain.”

Rohaya menahan air matanya.

Namun gengsinya lebih besar.

Ia berbalik.

“Kamu tidak perlu ikut campur urusan saya dengan menantu saya.”

Lalu ia pergi meninggalkan ruang tengah.

Arman berdiri diam.

Tatapannya jatuh pada lorong menuju kamar Arka dan Laura.

Untuk pertama kalinya, ia mulai benar-benar memperhatikan—

bahwa rumah ini sedang perlahan hancur dari dalam.

Dan jika dibiarkan, bukan hanya Laura yang akan terluka…

tapi seluruh keluarganya.

(Bersambung Episode 7)

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!