NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: BARA DALAM SEKAM

Langkah kakiku terasa semakin berat saat kami mulai memasuki jantung Distrik Senyap. Jika di pinggiran tadi suasananya seperti gudang rongsokan, di bagian dalam ini Baron terasa seperti perut raksasa dari monster logam yang tak pernah kenyang. Pipa-pipa uap di sini berukuran sebesar terowongan kereta api, berdenyut-denyut mengeluarkan bunyi deg-deg-deg yang konsisten, seolah-olah mesin-mesin ini memiliki jantung yang terbuat dari piston baja.

​Cahaya oranye yang tadi menyengat kini berganti dengan keremangan yang menyesakkan, hanya sesekali diterangi oleh percikan api dari mesin las raksasa yang bekerja secara otomatis di atas kepala kami. Bau oli terbakar kini bercampur dengan aroma logam panas yang menyengat paru-paru.

​"Sersan, berapa lama lagi kita harus berjalan di labirin ini?" tanyaku sambil menyeka keringat yang bercampur dengan sisa darah di pelipisku.

​Sersan berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah lorong gelap di depan kami. "Baron tidak diukur dengan jarak, Haidar. Tapi dengan ketahanan mental. Kota ini akan mencoba membuatmu merasa seperti baut kecil yang tidak berarti. Begitu kamu merasa menyerah, saat itulah kamu menjadi bagian dari mereka."

​Aku menarik napas panjang. Bayangan wajah Kinaya tiba-tiba melintas di benakku. Aku ingat bagaimana dia tertawa saat aku memboncengnya dengan motor bebek itu. Aku ingat janji-janjiku yang belum sempat kutepati—membelikannya tas sekolah baru, mengajaknya jalan-jalan ke alun-alun. Rasa rindu itu tiba-tiba mencubit dadaku dengan sangat keras.

​Anehnya, saat rasa rindu itu muncul, aku merasakan getaran hebat dari belati hitam di pinggangku. Belati itu tidak lagi terasa dingin, melainkan mulai memancarkan hawa hangat yang merayap ke telapak tanganku.

​"Sersan, lihat!" aku mengangkat tanganku. Belati itu mengeluarkan uap hitam tipis yang berdenyut selaras dengan detak jantungku.

​Sersan menoleh, matanya sedikit menyipit. "Itu dia. Di Niskala, emosi adalah bentuk energi yang paling murni. Sang Penjaga memberimu senjata itu bukan tanpa alasan. Belati itu adalah wadah, dan emosimu adalah penggeraknya. Semakin besar rasa sakit dan rindumu, semakin tajam bilah itu."

​"Tapi ini menyakitkan, Sersan. Rasanya seperti jantungku sedang diperas," rintihku.

​"Gunakan rasa sakit itu sebagai amunisi, bukan beban!" balas Sersan tegas. "Di depan kita, ada zona pemurnian. Itu adalah tempat di mana para Grinder tingkat tinggi berkumpul. Kamu harus bisa mengendalikan energi ini jika tidak ingin kita berakhir di dalam tungku pembakaran."

​Kami terus melangkah hingga sampai di sebuah ruangan luas yang menyerupai aula pabrik raksasa. Di tengah ruangan, terdapat sebuah mesin pres berukuran raksasa yang turun naik dengan kekuatan tonase yang luar biasa. BUM! BUM! BUM! Setiap hantamannya membuat lantai besi yang kami pijak bergetar hebat.

​Di sekeliling mesin pres itu, puluhan makhluk yang lebih besar dari The Grinders berdiri berjaga. Mereka disebut "The Overseers". Tubuh mereka lebih kokoh, dilapisi baja tebal, dan lengan mereka bukan lagi gergaji, melainkan palu godam raksasa yang ditenagai oleh tekanan uap tinggi di punggung mereka.

​"Mereka menjaga akses menuju inti distrik," bisik Sersan sambil merendahkan tubuhnya di balik tumpukan pipa. "Haidar, ini kesempatanmu untuk berlatih. Jangan gunakan matamu dulu jika tidak perlu. Gunakan emosimu. Bayangkan apa yang akan terjadi pada Kinaya jika kamu gagal di sini."

​Aku memejamkan mata. Aku membayangkan Kinaya yang menangis di samping tempat tidurku di rumah sakit. Aku membayangkan dia tumbuh besar tanpa figur seorang ayah, diejek teman-temannya, dan harus berjuang sendirian di dunia yang keras. Rasa marah pada diriku sendiri karena mengalami kecelakaan itu, rasa benci pada takdir, dan rasa cinta yang tak terbatas pada putriku... semuanya meledak menjadi satu dalam dadaku.

​WUUUSSSHHH!

​Hawa hitam pekat keluar dari tubuhku, menyelimuti belati di tanganku hingga ukurannya seolah memanjang. Mataku yang tadi perih kini bersinar dengan aura perak yang lebih tajam, tapi kali ini bukan karena penglihatan Sang Penjaga, melainkan karena amarahku yang memuncak.

​"AKU AKAN PULANG!" teriakku, suaraku menggema di seluruh aula pabrik, mengalahkan deru mesin pres.

​Para Overseer serentak menoleh. Lampu di wajah mereka berubah menjadi merah darah. Mereka bergerak maju dengan suara dentuman langkah kaki yang berat. Sersan melesat terlebih dahulu, melakukan serangan pembuka dengan tendangan berputar yang mematikan. Namun, baja para Overseer jauh lebih kuat. Sersan terpental setelah tangkisannya dihantam oleh palu godam salah satu makhluk itu.

​"Haidar! Sekarang!" teriak Sersan sambil berguling di udara untuk menyeimbangkan diri.

​Aku menerjang maju. Gerakanku terasa jauh lebih ringan dan cepat. Saat salah satu Overseer mengayunkan palu godamnya ke arahku, aku tidak menghindar. Dengan insting yang dipicu oleh emosiku, aku menangkis serangan berat itu dengan belatiku.

​TINGGG!

​Percikan api raksasa tercipta. Kekuatan dari rasa rinduku pada Kinaya menahan palu seberat ratusan kilogram itu. Aku bisa merasakan energi dari belatiku merambat masuk ke dalam mesin makhluk itu, mengacaukan sirkuit uap di dalamnya.

​"Mati kamu!" aku memutar belatiku dan menebas leher baja makhluk itu dengan satu ayunan kuat. Kepala mesinnya terlepas dan meledak, menyemburkan oli hitam ke seluruh wajahku.

​Aku tidak berhenti. Aku bergerak seperti kesurupan. Setiap kali aku mengingat tangisan Kinaya, setiap kali aku mengingat wajah istriku yang kuyu karena menjagaku, kekuatanku seolah berlipat ganda. Aku menebas, menusuk, dan menghancurkan setiap mesin yang menghalangi jalanku. Sersan membantuku dari belakang, memberikan dukungan taktis dan memastikan tidak ada musuh yang menyerang dari titik butaku.

​Pertempuran itu berlangsung brutal dan lama. Lantai aula kini penuh dengan potongan logam dan cairan hitam. Aku berdiri di tengah reruntuhan mesin, napas terengah-engah, tubuhku basah kuyup oleh oli. Energi hitam di belatiku perlahan memudar seiring dengan meredanya luapan emosiku.

​"Luar biasa..." gumam Sersan sambil menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu benar-benar tipe pejuang yang berbahaya, Haidar. Kekuatanmu adalah pedang bermata dua. Semakin hancur hatimu, semakin mematikan seranganmu."

​Aku terduduk lemas di atas potongan kepala Overseer. Rasa lelah yang luar biasa menghantamku seketika. "Aku tidak ingin kekuatan ini, Sersan. Aku hanya ingin mereka kembali aman di dunia nyata."

​Sersan berdiri di sampingku, menatap ke arah pintu keluar aula yang kini terbuka lebar. Di balik pintu itu, terlihat sebuah menara uap yang jauh lebih besar dari apapun yang pernah kulihat. Itu adalah pusat dari Distrik Senyap. Tempat di mana Boss utama distrik ini berada.

​"Simpan sisa emosimu untuk apa yang ada di depan sana," ucap Sersan serius. "Boss kota ini, The Steam Overseer, tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan amarah mentah. Kamu akan diuji sampai ke titik di mana kamu merasa kematian adalah satu-satunya jalan keluar. Dan di saat itulah, kita akan melihat apakah cintamu pada keluargamu benar-benar bisa menantang hukum duniaku ini."

​Aku menatap tanganku yang gemetar. Aku tahu Sersan benar. Pertarungan tadi hanyalah pemanasan. Di depan sana, kegelapan yang sesungguhnya telah menanti, siap menghancurkan harapanku berkeping-keping.

​"Aku akan memberikan segalanya, Sersan. Meski aku harus hancur menjadi debu di sini," janjiku.

​Kami melangkah keluar dari aula pemurnian, menuju jembatan besi panjang yang menghubungkan kami dengan menara pusat. Angin panas bertiup kencang, membawa aroma kematian dan logam. Di kejauhan, suara raungan mesin raksasa terdengar seperti peringatan bagi siapapun yang berani menantang keheningan Distrik Senyap.

​Babak baru di Baron dimulai, dan aku tahu, aku sedang berjalan menuju kehancuranku sendiri sebelum bisa bangkit kembali sebagai sesuatu yang lebih kuat.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!