NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Tugas Kelompok dan Interogasi Knalpot

Riuh rendah suara murid kelas XII IPA 1 langsung menggema begitu Pak Budi, guru Bahasa Indonesia yang terkenal paling santai, melangkah keluar kelas meninggalkan setumpuk tugas di papan tulis. Tugas akhir semester: membuat naskah drama teaterikal yang harus dikerjakan secara berpasangan. Tentu saja, seperti biasa, pengumuman ini memicu kehebohan instan. Anak-anak langsung berhamburan mencari partner yang dirasa paling bisa diandalkan untuk menumpang nama.

Di bangkunya, Rama Arsya Anta sedang sibuk memasukkan buku catatannya ke dalam tas. Dika, teman sebangkunya, sudah menyenggol bahunya dengan semangat membara.

"Ram, kita sekelompok lagi ya! Ingat, persahabatan kita itu harga mati. Susah senang kita tanggung bareng, tapi kalau ngerjain tugas, lo yang nanggung semuanya, gue yang beli cilok buat konsumsi," cerocos Dika tanpa tahu malu.

Rama memutar bola matanya malas, baru saja hendak membuka mulut untuk mengiyakan ajakan parasit temannya itu, ketika tiba-tiba sebuah buku novel tebal mendarat dengan suara buk! yang keras tepat di atas mejanya.

"Sorry, Dika. Rama udah bookingan gue buat tugas ini. Lo cari partner lain aja," ucap sebuah suara perempuan yang lantang dan kelewat percaya diri.

Rama mendongak. Nayla berdiri di depan mejanya dengan melipat kedua tangan di dada. Gadis berjilbab ungu itu tersenyum manis ke arah Dika, senyum yang di mata Rama lebih terlihat seperti seringai kemenangan. Dika melongo, menatap Nayla dan Rama bergantian dengan raut wajah kebingungan sekaligus takjub.

"Hah? Seriusan, Ram? Lo nolak gue demi anak baru?" Dika mendramatisir keadaan sambil memegangi dadanya. "Wah, pesona Ketua Klub Sains kita ternyata udah menembus batas. Ya udah deh, gue ngalah. Selamat mengerjakan tugas ya, lovebirds!"

Dika buru-buru menyingkir dan berlari mencari mangsa lain sebelum Rama sempat memprotes. Rama menatap Nayla dengan rahang mengeras, merendahkan suaranya agar tidak mengundang perhatian anak-anak sekelas.

"Maksud lo apa-apaan? Sejak kapan kita sepakat ngerjain tugas bareng? Gue nggak sudi ngerjain naskah drama romansa picisan kayak novel-novel yang sering lo baca itu," desis Rama tajam.

Nayla menarik kursi Dika dan duduk di sebelah Rama dengan santai, mengabaikan tatapan membunuh cowok itu. "Siapa bilang kita mau bikin drama romansa? Kita bakal bikin drama aksi misteri. Dan lagi pula, Babu, lo lupa sama perjanjian kita? Lo itu harus siap sedia kapan pun gue butuh. Kebetulan otak gue lagi buntu buat ngerangkai kata, jadi lo yang harus ngetik, gue yang nyumbang ide."

"Itu namanya eksploitasi tenaga kerja," gerutu Rama.

"Gue anggap itu pujian," balas Nayla acuh tak acuh. "Sepulang sekolah, kita kerjain tugasnya. Nggak ada penolakan, nggak ada alasan jadwal bimbel abal-abal lo itu."

Rama menghela napas kasar, memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. "Nggak bisa hari ini, Nayla. Sumpah. Sore ini gue harus kumpul sama anak-anak The Ghost di bengkel. Semalam Cakra ngabarin kalau ada masalah sama mesin motor gue, kayaknya ada indikasi disabotase sama cecunguk Kobra Besi waktu gue parkir di belakang sekolah kemarin."

Raut wajah santai Nayla seketika berubah. Alisnya bertaut tajam, matanya memancarkan kekhawatiran yang berusaha ia tutupi. "Disabotase? Maksud lo, ada yang sengaja ngerusak motor lo biar lo celaka? Terus lo mau ke sana buat ngajak ribut lagi? Badan lo itu belum sembuh total dari adu jotos di gudang rongsokan, Ram!"

"Makanya gue harus ngecek sendiri ke markas," balas Rama cepat. "Ini urusan internal geng gue. Lo pulang aja, kerjain bagian lo di rumah, nanti malam drafnya gue lanjutin."

"Nggak. Gue ikut," putus Nayla mutlak, suaranya pelan namun tak terbantahkan.

Mata Rama melebar di balik kacamata minusnya. "Lo gila?! Bengkel itu markas preman, Nay! Isinya anak-anak berandal yang omongannya kasar, kerjanya ngerokok, dan nongkrong nggak jelas. Lo mau jilbab ungu lo itu bau oli bekas?!"

"Gue nggak peduli. Kalau lo nggak ngizinin gue ikut, gue bakal ngikutin lo diam-diam dari belakang. Terserah lo mau milih yang mana," ancam Nayla keras kepala.

Rama menatap mata bulat gadis itu, mencari celah keraguan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah tekad baja. Mengutuk nasibnya sendiri dalam hati, Rama akhirnya mengalah. Berdebat dengan Nayla sama saja dengan berdebat melawan tembok beton.

Sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, motor sport hitam legam milik sang bos The Ghost melaju tidak menuju arah rumah mewah di kawasan Wana Asri, melainkan membelah jalanan pinggiran kota dengan seorang gadis berjilbab ungu di jok belakangnya. Rama mengemudikan motornya jauh lebih pelan dan hati-hati dari biasanya, menghindari setiap lubang jalan agar goncangannya tidak terlalu keras.

"Kita nggak langsung masuk ke bengkel," ucap Rama setengah berteriak melawan angin saat mereka mulai memasuki kawasan Lembah Aspal.

"Terus ke mana?" balas Nayla dari belakang, suaranya sedikit teredam karena ia berlindung di balik punggung lebar Rama.

"Lo nunggu di warung pecel lele Mang Kumis, letaknya di ujung gang sebelum bengkel. Lo duduk di situ, pesan makan atau es teh manis, pura-pura jadi pembeli biasa. Gue cuma butuh waktu setengah jam buat ngecek motor gue di bengkel, habis itu kita langsung cabut. Lo jangan berani-beraninya nyamperin ke markas. Paham?" instruksi Rama dengan nada super serius.

"Iya, iya, bawel banget sih. Kayak mau operasi intelijen aja," cibir Nayla.

Begitu sampai di depan warung tenda pecel lele yang baru saja buka, Rama menurunkan Nayla. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, memastikan Nayla benar-benar duduk manis di salah satu bangku plastik panjang sebelum akhirnya kembali menstarter motornya dan melaju menuju bengkel Sakti Jaya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari sana.

Setibanya di markas, suasana bengkel sudah ramai. Suara musik rock menghentak keras. Namun, begitu Rama mematikan mesin motornya dan melepas helm, ia langsung merasakan ada yang aneh. Tatapan anak-anak The Ghost tidak seceria biasanya. Cakra sedang berjongkok di dekat ban depan motor cadangan Rama, sementara Galang duduk di atas drum oli kosong dengan wajah berlipat ganda, mengisap rokoknya dalam-dalam.

"Gimana, Cak? Apa yang disabotase?" tanya Rama langsung ke point permasalahan, berjalan menghampiri Cakra.

Cakra berdiri, mengelap tangannya dengan majun kotor. "Kabel rem cakram depan lo digunting setengah, Bos. Nggak sampai putus, tapi kalau lo pakai hard braking di kecepatan tinggi, ini kabel pasti langsung putus. Rapi banget potongannya, ini kerjaan orang yang ngerti mesin."

Rahang Rama mengeras. Ini jelas peringatan dari Tora. Kobra Besi tidak akan pernah bermain bersih.

"Bangsat," umpat Rama pelan. "Ganti pakai kabel baru sekarang, Cak. Biar biayanya gue yang tanggung."

"Urusan kabel rem gampang, Ram," sela Galang tiba-tiba. Suaranya terdengar dingin dan berat. Ia mematikan puntung rokoknya ke asbak dengan gerakan kasar, lalu melompat turun dari drum oli. Cowok berambut gondrong itu berjalan menghampiri Rama dengan tatapan mengintimidasi.

"Yang jadi masalah sekarang bukan cuma kabel rem lo, Bos. Tapi kebiasaan baru lo akhir-akhir ini," Galang berdiri tepat di hadapan Rama. "Anak-anak mulai pada nanya, lo sering absen kumpul, lo sering pulang duluan, dan yang paling parah..."

Galang mencondongkan wajahnya, suaranya diturunkan menjadi bisikan yang mendesis tajam. "Anak-anak jalanan di pusat kota ngelihat lo kemarin sore. Boncengin cewek pakai motor sport ini. Cewek pakai jilbab warna ungu. Dan barusan banget, Bagas ngelihat lo nurunin cewek yang sama di warung pecel lele Mang Kumis depan gang. Lo bawa cewek ke area kekuasaan kita, Ram."

Darah Rama seakan berhenti berdesir. Jantungnya berpacu gila-gilaan, tapi bertahun-tahun hidup dalam kebohongan ganda membuatnya mampu mengendalikan raut wajahnya dengan sempurna. Ia membalas tatapan Galang tanpa berkedip, memasang ekspresi datar yang mematikan.

"Terus kenapa kalau gue bawa cewek? Sejak kapan The Ghost punya aturan larangan bawa cewek ke area kita?" balas Rama tenang, nada suaranya dibuat sedingin es.

Galang terkekeh sinis, sebuah tawa yang sama sekali tidak ada unsur humornya. "Nggak ada aturan itu. Tapi lo tahu betul aturannya, Ram. Lo itu pemimpin. Lo nggak boleh punya kelemahan. Seumur hidup lo mimpin geng ini, lo nggak pernah repot-repot ngurusin cewek karena lo tahu dunia kita ini kotor dan bahaya!"

Galang mencengkeram kerah jaket kulit Rama dengan cepat, membuat beberapa anggota lain yang sedang menservis motor langsung menoleh kaget. "Siapa cewek itu, Ram? Lo sadar nggak apa yang lo lakuin? Kalau mata-mata Kobra Besi yang banyak berkeliaran di jalanan tahu lo punya cewek yang sering lo bawa-bawa, Tora bakal pakai dia buat ngancurin lo! Dia nggak bakal ragu buat nyulik atau nyelakain cewek itu buat mancing lo keluar!"

Jleb. Perkataan Galang menghantam kesadaran Rama seperti godam raksasa.

Selama ini, ia hanya berpikir tentang repotnya menuruti kemauan Nayla dan menjaga agar identitas aslinya tidak terbongkar di sekolah. Ia lupa bahwa dengan membiarkan Nayla masuk terlalu jauh ke dalam dunianya, ia secara tidak langsung telah menempelkan target sasaran di punggung gadis itu. Tora adalah iblis yang tidak kenal ampun. Memotong kabel rem adalah bukti nyata bahwa Kobra Besi sedang mengintai gerak-geriknya setiap saat.

Menyadari bahaya nyata yang sedang mengancam Nayla, adrenalin Rama terpacu. Ia menepis cengkeraman tangan Galang dari kerahnya dengan kasar.

"Cewek itu bukan siapa-siapa. Cuma anak sekolahan biasa yang kebetulan searah sama gue," dusta Rama lancar, tatapannya menyiratkan peringatan agar Galang tidak bertanya lebih jauh. "Dan gue tegaskan sama lo semua di sini, nggak ada satu pun dari kalian yang boleh nyentuh, nyamperin, atau ngurusin cewek itu. Ini urusan pribadi gue."

Tanpa menunggu balasan dari tangan kanannya itu, Rama langsung berbalik badan. "Cak, motor gue tinggal di sini dulu sampai remnya beres. Gue balik duluan."

"Loh, Bos! Terus lo balik naik apa?!" teriak Cakra kebingungan.

Rama mengabaikan panggilan itu. Ia berjalan cepat, setengah berlari, keluar dari area bengkel. Pikirannya dilanda kepanikan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia harus segera mengeluarkan Nayla dari kawasan Lembah Aspal ini sebelum ada anggota Kobra Besi yang melihatnya.

Begitu Rama tiba di warung pecel lele Mang Kumis, napasnya sedikit terengah. Matanya menyapu seluruh penjuru warung tenda itu. Namun, pemandangan yang ia cari tidak ada.

Bangku plastik panjang yang tadi diduduki Nayla kini kosong. Di atas meja hanya tertinggal segelas es teh manis yang es batunya sudah setengah mencair. Rama melangkah masuk dengan panik, mendekati Mang Kumis yang sedang menggoreng lele.

"Mang! Cewek yang tadi duduk di sini ke mana?!" tanya Rama dengan nada sedikit membentak saking paniknya.

Mang Kumis menoleh kaget. "Eh, Mas Rama. Anu, neng yang jilbab ungu tadi ya? Baru aja pergi, Mas. Katanya mau ke toilet umum di pertigaan depan, soalnya di sini toiletnya lagi rusak airnya mati."

Toilet umum pertigaan depan. Jantung Rama rasanya seperti merosot ke lambung. Area pertigaan itu adalah wilayah gelap yang minim penerangan, sering dijadikan tempat nongkrong preman-preman mabuk dari geng-geng kecil yang sering mencari masalah.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rama berlari kencang menerobos gelapnya gang kawasan Lembah Aspal. Kakinya memacu aspal dengan kecepatan penuh. Umpatan kasar terus keluar dari mulutnya. Kesalahan terbesarnya adalah mengira bahwa gadis cerewet itu akan aman hanya dengan duduk diam di pinggir jalan.

Tolong, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia, doa Rama dalam hati, sebuah doa putus asa dari seorang preman jalanan yang kini ketakutan setengah mati kehilangan sang majikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!