Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIX
Ratu Mayesa berdiri dengan anggun di teras kediaman Herlos, mengenakan gaun hitam seolah sedang berkabung. Di sampingnya, Adryan tampak sombong dengan tangan di saku celana. Di depan mereka, sebuah peti mati kayu jati yang dipoles mengkilap diletakkan di atas lantai marmer.
"Di mana mayat Della? Kenapa lama sekali pelayan-pelayan ini?" keluh Ratu. "Adryan, kau yakin Aksa sudah membunuhnya tadi malam? Aku sudah tidak sabar melihat wajah pucatnya di dalam peti ini."
"Sabar, Sayang. Mengingat betapa gilanya Aksa, mungkin Della sedang dibersihkan dari darahnya," jawab Adryan sambil tertawa kecil.
"Oh, benarkah? Aku tidak tahu kalian begitu merindukanku hingga membawakan kotak kayu ini sebagai hadiah pernikahan."
Suara Della yang lantang membuat Ratu dan Adryan tersentak. Mereka menoleh dan melihat Della berjalan keluar dengan kemeja putih kebesaran dan celana kain yang pas di tubuhnya. Rambutnya terurai, dan di lehernya...
Ratu membelalak melihat bekas kemerahan itu. "Kau... kau masih hidup?! Tidak mungkin!"
Della tertawa meremehkan. "Tentu saja. Kenapa? Kalian kecewa? Maaf ya, suamiku ternyata sangat mencintaiku. Bekas di leherku ini bukan karena siksaan, Ratu. Tapi karena rasa cinta yang terlalu... menggebu-gebu."
Wajah Adryan memerah padam karena cemburu dan marah. Sementara Ratu gemetar karena geram. "Jangan sombong, Della! Semua orang tahu Tuan muda Aksa itu orang gila! Dia hanya menjadikanmu pelampiasan! Kau akan segera mati di tangannya!"
"Siapa yang kau sebut orang gila?"
Suara bariton yang dingin itu muncul dari belakang Della. Aksa melangkah keluar, berdiri di samping Della dengan postur tubuh yang mengintimidasi. Ia menatap peti mati itu, lalu menatap Ratu dengan tatapan predator.
"Kau membawakan ini untuk istriku?" tanya Aksa dengan suara rendah yang mencekam.
Ratu mundur selangkah, bersembunyi di balik punggung Adryan. "Tu-tuan mu-muda A-Aksa... kami hanya... kami pikir..."
"Kalian pikir aku akan membunuh istriku sendiri?" Aksa melangkah maju. Tiba-tiba ia menendang peti mati itu hingga terguling dan mengeluarkan suara dentuman keras. "Istriku adalah milikku. Siapa pun yang mengharapkan kematiannya, berarti menantang maut dariku."
Aksa tiba-tiba tertawa gila, tawa yang membuat bulu kuduk Adryan berdiri. Ia menjambak rambutnya sendiri sebentar, lalu dengan gerakan cepat ia mencengkeram kerah baju Adryan.
"Tuan Muda Aksa, jangan!" teriak Ratu.
"Kau... mantan tunangannya, kan?" Aksa menatap Adryan dengan mata yang mulai menggelap, tanda dia mulai kambuh). "Kau ingin dia mati agar rahasiamu aman? Atau kau ingin masuk ke peti ini sekarang juga?!"
Aksa mulai mengguncang tubuh Adryan dengan kasar. "Mati! Semua harus mati! Pembohong! Kalian semua pembohong!"
Kegilaan Aksa kambuh lagi karena provokasi peti mati tersebut. Ia mulai berteriak-teriak tidak jelas sambil terus menghajar Adryan. Ratu menjerit-jerit memanggil pelayan.
Della melihat situasi mulai ricuh. Ia tahu jika ia tidak bertindak, Aksa akan benar-benar membunuh Adryan di sini, dan itu akan menjadi masalah hukum bagi keluarga Herlos.
"Aksa! Berhenti!" Della mencoba menarik tangan Aksa, namun Aksa justru mendorongnya hingga Della terjatuh.
"JANGAN MENDEKAT! KALIAN SEMUA INGIN MEMBUNUHKU!" raung Aksa. Ia mulai merusak dekorasi di teras, vas bunga besar dihancurkannya ke lantai. Pelayan dan penjaga keamanan ragu untuk mendekat karena Aksa memegang pecahan keramik yang tajam.
Della bangkit, ia melihat Ratu dan Adryan yang ketakutan mencoba melarikan diri ke mobil mereka.
"Zacky! Ambilkan obat penenang yang asli di kamarku! Cepat!" teriak Della.
Della berjalan mendekati Aksa yang sedang mengamuk. "Aksa... lihat aku..."
"MATI! PERGI KAU!" Aksa mengarahkan pecahan keramik itu ke arah Della.
Della tidak berhenti. Ia menatap mata Aksa yang penuh dengan trauma. "Suamiku, ini aku. Della. Hadiahmu ada di sini. Jangan biarkan orang-orang jahat ini menang."
Mendengar kata "hadiah", gerakan Aksa melambat. Matanya mulai fokus kembali pada wajah Della. Della perlahan mengambil pecahan keramik dari tangan Aksa yang mulai berdarah.
"Ayo, masuk ke dalam. Abaikan mereka. Mereka hanya sampah," bisik Della sambil memeluk tubuh Aksa yang bergetar hebat.
Di depan teras, Ratu dan Adryan berhasil masuk ke mobil mereka dan melaju pergi dengan terburu-buru, meninggalkan peti mati yang hancur terguling di lantai.
Tuan Jerry yang melihat kejadian itu dari balkon atas menghela napas lega. Ia melihat Della menuntun Aksa masuk ke dalam rumah dengan penuh kesabaran.
"Gadis itu... dia benar-benar obat bagi Aksa," gumam Jerry. Namun di balik itu, Della tahu perjuangannya baru saja dimulai. Ia harus mencari tahu siapa yang mengganti obat-obatan Aksa, dan ia harus memastikan keluarga Gauta membayar setiap tetes air mata yang ia keluarkan selama lima tahun terakhir.
"Simpan peti mati ini di gudang, Zacky," perintah Della dingin saat mereka melewati Zacky. "Suatu saat nanti, aku akan mengembalikannya ke rumah keluarga Gauta dengan isi yang berbeda."
...**************...
Suara pintu dibanting keras hingga nyaris terlepas dari engselnya. Ratu melangkah masuk ke ruang tamu keluarga Gauta dengan napas yang memburu. Rambutnya yang tertata rapi kini sedikit berantakan akibat ketakutan yang ia alami di kediaman Herlos. Di belakangnya, Adryan menyusul dengan langkah gontai, tangannya masih memegangi rahang yang terasa bergeser.
Yuhana Emerald yang sedang menikmati teh sore langsung bangkit berdiri. Wajahnya penuh harap. "Bagaimana? Apakah si gila itu sudah menghabisi Della? Apakah kalian melihat mayatnya?"
Ratu mengempaskan tubuhnya ke sofa mewah, wajahnya memerah karena amarah yang bercampur malu. "Mati? Dia bahkan tidak terlihat seperti orang sakit, Ibu! Della masih hidup, bahkan dia berani menghinaku di depan umum!"
Tantowi Gauta keluar dari ruang kerjanya, wajahnya menegang. "Apa maksudmu masih hidup? Zacky dan Tuan Jerry sendiri yang mengatakan bahwa kondisi Dayaksa sedang sangat tidak stabil dan bisa kapan saja mengamuk bahkan melukai orang. Apalagi Della adalah orang asing baginya, pasti Tuan Muda Aksa melakukan sesuatu terhadap Della."
Adryan meringis, suaranya terdengar sengau karena bengkak di wajahnya. "Dia masih hidup, Tuan Tantowi. Bahkan lebih dari sekadar hidup. Dia terlihat... bahagia. Dan lihat wajahku! Ini ulah si Gila itu. Dia mengamuk hanya karena kami membawakan peti mati. Dia bahkan melindungi Della dengan sangat baik."
Tantowi mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Sialan! Jika Della masih hidup, maka uang kompensasi asuransi dan dana hibah tambahan sebesar 20 miliar tidak akan bisa cair! Kalian tahu sendiri, uang mahar dari keluarga Herlos kemarin hanya cukup untuk menutupi utang-utang lama kepada bank. Perusahaan kita sedang sekarat, kita butuh suntikan dana segar untuk memulai proyek yang baru di tahun ini!"
"Tapi Ayah, si Gila itu melindunginya!" seru Ratu.
"Apapun caranya, Della harus mati di kediaman Herlos!" Tantowi berkata dengan nada rendah yang kejam. "Jika dia mati di sana, itu adalah kecelakaan akibat penyakit suaminya. Kita bisa menuntut keluarga Herlos dan mencairkan sisa kompensasi. Jika dia tetap hidup, dia hanya akan menjadi beban dan ancaman bagi posisi kita. Perusahaan kita dipertaruhkan di sini!"
Yuhana mengangguk setuju, matanya berkilat licik. "Benar. Kita harus mencari cara untuk memprovokasi Dayaksa agar benar-benar menghabisi Della tanpa sisa."
Namun, di tengah perdebatan itu, Adryan Juardi hanya terdiam. Pikirannya melayang kembali ke teras rumah Herlos. Ia teringat bagaimana kulit Della terlihat begitu putih porselen di bawah sinar matahari, bagaimana matanya yang dulu redup kini bersinar penuh tantangan, dan bagaimana kemeja putih kebesaran yang dikenakan Della justru membuatnya terlihat sepuluh kali lebih menggoda daripada saat ia menjadi tunangannya dulu.
Della... dia berubah, batin Adryan. Ada rasa tidak rela yang perlahan merayap di hatinya. Mengapa Della justru terlihat lebih cantik dan lincah setelah menikah dengan orang gila? Mengapa bukan kehancuran yang ia lihat?
Mungkin, aku bisa merebutnya kembali, pikir Adryan licik. Tidak mungkin Della benar-benar mencintai si gila itu. Dia pasti terpaksa. Jika aku bisa bersikap manis dan merebut simpatinya kembali, Della bisa menjadi mata-mata yang sangat berguna di dalam keluarga Herlos. Aku bisa mendapatkan informasinya, sekaligus mendapatkan tubuhnya kembali. Ya, itu rencana yang sempurna.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua