Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena Balap
"Untung si kali tidak menginap di sini. Kalau menginap, nggak bisa aku pergi malam ini. Ngintil itu bocah satu kemana aja," gumam Mika yang kini sudah berdandan ala pembalap dan anggota geng.
Pakaiannya serba hitam dengan sepatu kets melekat pada kakinya. Jaket kulit berwarna hitam seakan menyempurnakan penampilannya malam ini. Rambutnya dikuncir satu, dengan wajah tanpa make up. Namun kecantikan gadis berusia 15 tahun itu sudah terpancar jelas, walaupun masih terlihat imut karena badannya tidak terlalu tinggi. Mika menghela nafasnya lega karena sepupunya yang bernama Callie dan Ralia itu sudah pulang. Mereka tidak menginap karena esok hari sekolah. Sedangkan dia, besok akan memasukkan beberapa berkas di SMA barunya untuk ikut seleksi masuk.
"Siap mencari pengikut setia dan pengalaman baru," gumam Mika sambil menaikturunkan alisnya di depan cermin meja riasnya.
"Ini salah satu cara biar aku bisa kuat dan berdiri dengan kakiku sendiri. Selain berlatih dengan pengawal, aku harus mencari orang-orang yang bisa membantuku untuk menghancurkan si tua itu. Setidaknya tanpa pengawal dari keluarga ini agar Papa tidak semakin diremehkan. Aku akan meninggikan derajat dan martabat keluarga dengan caraku sendiri," gumamnya sambil menghela nafasnya pelan.
Meluncur...
Mika pun keluar kamarnya dengan mengendap-endap. Dia tak mau ada satu orang pun yang tahu tentang kepergiannya ini. Dia akan melewati pintu belakang rumah yang tidak tertangkap atau terekam kamera CCTV. Di sana juga tidak dijaga oleh pengawal karena ada banyak hewan peliharaan Papa Fabio. Jika ada yang bisa masuk rumah itu lewat belakang, sudah pasti mereka akan ketakutan dan hewan-hewan itu langsung meraung.
Stttt...
"Empus, diam ya."
"Kucing, jangan bergerak dan bersuara. Ini demi kelangsungan hidup Nyonya cilikmu," ucap Mika dengan pelan saat melihat semua anak ular peliharaannya tampak melihat ke arahnya. Bahkan beberapa singa dan macan hendak mengaum membuat Mika memberikan tatapan peringatan. Jari telunjuknya berada di bibirnya untuk memberi kode pada hewan-hewan itu. Beruntung mereka mengerti dan langsung menurut.
"Besok aku ajak kalian pergi buat kenalan sama teman baru Mika, tapi sabar dulu. Orang-orangnya belum bisa aku taklukkan. Nanti kita putar-putar pakai motor gede keliling kota. Mika bakalan ajak," ucapnya seakan sedang berinteraksi dengan hewan-hewan itu. Mika pun segera pergi sebelum nanti ada anggota keluarganya yang bangun.
Krieetttt...
"Perlu diganti nih pintu biar nggak ada suaranya," gumamnya mengomentari pintu tua di belakang rumah yang berbunyi.
Ahaaaa...
"Pinky, mari kita cari teman dan pengalaman baru." Mika mengambil sepeda miliknya yang berwarna pink. Dia menyembunyikan sepeda itu di dekat tempat sampah yang sudah menggunung. Jika nanti akan diambil oleh pemulung, Mika tak masalah.
Mika pun pergi menuju tempat dia janjian dengan dua remaja laki-laki yang belum dirinya ketahui siapa namanya itu. Mika terkekeh geli saat mengingat bagaimana dirinya mengancam dua remaja laki-laki itu. Dia saja tak tahu dimana arena balapan geng motor itu, tapi mereka takut jika tempatnya akan digerebek polisi. Dia hanya asal saja karena sangat penasaran dengan arena balap liar. Dia tahu resikonya besar, makanya memilih mencari anggota geng motor agar dirinya diajak.
"Kenapa kamu lama sekali? 10 menit lagi balapannya akan dimulai," gerutu salah satu dari mereka saat melihat Mika datang.
"Masih 10 menit. Sabar dong, kan butuh waktu buat kayuh sepeda." ucap Mika dengan santainya.
"Sepeda ini? Kamu mau ke tempat balapan pakai sepeda pink ini. Kamu jahilin kita ya?" tuduhnya lagi.
"Nanti aku bonceng kalian dong," ucap Mika yang kemudian meletakkan sepedanya begitu saja.
"Bonceng kita? Kamu nggak lihat kalau..."
Saat sampai di sana, sudah terlihat dua remaja laki-laki menunggu Mika dengan raut wajah kesalnya. Padahal mereka janjian setengah 10 malam. Namun Mika malah datang pukul 10 kurang 10 menit. Padahal waktu yang mereka butuhkan untuk sampai arena balapan itu lebih dari 15 menit. Dua remaja laki-laki bernama Elvano Zakriya dan Reska Abita Radiks itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apalagi melihat sepeda pink mini milik Mika, keduanya sudah meringis pelan. Pasti mereka akan jadi bahan ejekan geng motor lain.
"Salah satu dari kalian, nih naik sepedanya Mika. Nanti Mika bonceng motor gede itu," ucap Mika dengan raut wajah tanpa dosanya saat mengetahui bahwa El dan Reska datang ke sini hanya membawa satu motor.
Yang benar saja,
Lo aja yang bawa sepedanya, El.
Ogah. Yang ada sampai sana besok pagi,
Terus gi...
Ayo buruan ihhhhh...
Eh... Udah nangkring di atas motor aja nih bocah,
Brumm... Brumm...
Bye, El. Sampai jumpa di arena balapan,
Reska sialan...
***
Suara riuh knalpot motor di sebuah tempat balapan liar terdengar oleh Mika. Padahal jaraknya masih cukup jauh. Raut wajah Mika sangat antusias dengan pengalaman baru ini. Walaupun dia belum memiliki motor sport sendiri, tapi dia sudah pernah mencoba menggunakan kendaraan milik Ronand. Kakinya belum sepenuhnya menapak, tapi dia sudah bisa mengemudikannya.
"Res, kayanya seru ya kalau masuk geng motor." seru Mika setelah tadi di jalan sempat berkenalan dengan Reska.
"Ada seru dan nggaknya. Ini juga bahaya, apalagi buat perempuan." ucap Reska yang sepertinya mempunyai beban sendiri saat membawa Mika. Dia harus bisa menjaga Mika karena kebanyakan orang di sana adalah laki-laki.
"Aman, nggak perlu terlalu khawatirin aku. Aku bisa jaga diri sendiri kok," ucap Mika dengan santainya. Kemampuannya itu belum diketahui oleh Reska sehingga wajar saja kalau laki-laki itu sedikit takut.
"Udah masuk sana, kamu nggak bisa lho panggil polisi seenaknya. Awas saja kalau sampai tiba-tiba ada polisi. Berarti kamu yang bocor," ucap Reska memberi peringatan.
"Tenang aja sih. Orang aku tadi cuma ngancam doang, nggak beneran. Aku penasaran sama arena balapan liar itu seperti apa," ucap Mika dengan raut wajah tanpa bersalahnya.
Jangan jauh-jauh dari aku nanti kalau udah sampai sana,
Iya, Pak.
Aku bukan Bapakmu,
Tapi dari tadi ngomelnya udah kaya Bapakku,
Reska hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar alasan Mika yang ternyata hanya penasaran saja dengan arena balap. Padahal jika dari penampilannya, Mika ini terlihat seperti orang kaya. Pasti akan mudah jika ingin melihat arena balap yang sudah berstandar resmi atau Internasional. Namun ini malah melihat arena balap liar.
Reska, lo bawa siapa itu?
Cewek lo?
Bukan. Ini tadi habis nemu di perempatan jalan,
Bugh...
Adohhhhh... Perutku,
Ini cewek kecil-kecil, sikutannya bikin ngilu.
Res, hati-hati. Ntar si Bos marah kalau lo bawa cewek atau orang asing masuk ke geng kita,
Hahaha...
Pakai sepeda siapa itu, El? Mana warnanya pink lagi,
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄