Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahlah denganku!
"Loh, ini belum siang kamu sudah masuk," ucap Mimi sembari menatap jam tangannya yang bertali kulit.
Yumi tahu tadi pagi temannya itu minta ijin masuk siang, namun baru jam 8 lebih ia sudah nongol ke ruangan luas yang dipenuhi meja kerja.
Cahaya duduk dimeja kerjanya sambil menaruh tas sling nya. "Kupikir akan lama, tadi cuma mau daftarin cerai aja. Sekarang tinggal nungguin jadwal sidang," jawabnya menghela nafas berat.
"Kamu serius mau cerai sama dia?" tanya Mimi dengan mata sayu, rasanya berita itu masih tak bisa dipercaya.
"Apa yang harus dipertahankan? Rumah tanggaku dari awal tak ada balasan yang baik, lebih baik biarkan pasangan itu hidup bersama," ucap Cahaya.
Yumi menggenggam tangan Cahaya, ia memberikan kekuatan dan menguatkannya. Sebagai sahabat dan satu-satunya orang yang paling dekat dengan Yaya, tentu hanya dia yang harus menemani kesedihan hidup temannya itu.
"Ntar sidang aku temenin, setelahnya kita minum. Kemudian, kita cari pria yang lebih baik dari si brengsek itu. Yaya, kamu gak sendirian. Ada aku disini, ok!" ucap Mimi yang langsung mendekat dan memeluk sahabatnya.
"Makasih, Mimi. Cuma kamu teman dan keluargaku satu-satunya," balas Cahaya sembari menghapus sudut matanya, ia merasa lega masih punya Yumi.
Walau tak punya orang tua, walau tak ada keluarga, punya sahabat seperti Yumi adalah keberuntungan bagi Cahaya.
Wanita yang seumuran dengannya, yang siap menjadi garda terdepan dan penolong untuknya, Cahaya sudah merasa bersyukur. Karena kehadiran Mimi membuatnya tak merasa sendirian, wanita yang selalu siap menggila dengannya dan menemaninya dalam keadaan apapun.
Mereka akan selalu bersama, itulah janji mereka.
"Ngomong-ngomong aku ke inget om bontot kamu, kabarnya gimana? Apa dia sudah menikah?" tanya Cahaya tiba-tiba.
Yumi melepaskan pelukannya, ia diam tak tahu harus menjawab apa. Namun ia juga merasa heran, mendadak banget temannya itu nanyain om bontotnya. Tapi sebelum ia menjawabnya atasan mereka datang sambil membawa berkas.
"Yaya, bawa ini dan berikan pada bos! Ia ingin lihat desain minggu ini sekalian kamu jelasin profosalnya," kata seorang wanita yang berusia 40 an tersebut.
Dua wanita yang berteman itu saling tatap sekejap, bos mereka tak pernah menyuruh mereka untuk melakukan itu. Biasanya kepala departement sendiri yang melakukannya, jadi perintah itu sangat aneh.
"Buat apa si om bontot nyuruh Yaya buat ke ruangannya?" Yumi bermonolog.
"Gawat! Apa dia ingin mecat aku, ya? Karena tidur sama dia," pikir Cahaya dengan kekalutan yang mulai timbul.
"Heh! Kok malah diem? Cepat pergi!" titah atasan mereka dengan nada menyentak.
"Eh, iya bu," sahut Cahaya segera beranjak dari tempatnya.
Sedangkan Yumi hanya diam dengan pertanyaan yang memenuhi otaknya, namun ia segera abaikan karena baginya tak mungkin temannya dekat dengan om bontotnya.
^^^
Cahaya melangkah pelan saat sampai dilantai yang hanya milik pak bos, ia telan ludahnya yang kering. Kepalanya melongok pada dinding yang terlihat meja kerja seorang asisten bosnya, juga pintu gede lubang masuk ke ruangan bosnya. Ia tak hanya ragu, tapi juga takut.
Konon bosnya orang yang sangat menakutkan, ia bukan pria yang bisa diajak bicara lembut. Tak hanya itu, katanya ia punya masalah kesehatan yang aneh dan langka.
Entah semua itu benar atau tidak?
Yang jelas Cahaya tak mau bertemu dengannya sekarang, karena merasa pasti akan kena amukannya.
"Sudah lah! Kalau dipecat, ya sudah! Toh, aku gak akan jadi pengangguran," gumam Cahaya memutuskan.
Sebelum lanjut ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan sekaligus. Meyakinkan diri bisa melewati pertemuan langka tersebut.
"Chandra!" suara pak bos yang begitu mengejutkan Cahaya dan juga asistennya itu.
Cahaya melambaikan tangan kananya keatas, "Maaf, saya disini!" ucap Cahaya saat melihat asisten Chan hendak berdiri.
Dua pria itu menatapnya. Sumpah demi apapun, Cahaya benar-benar tak mampu melihat lirikan mata bosnya yang tajam itu. Ia memilih mengalihkan pandangannya dari pada temu pandang terus.
"Masuklah!" ucap Rayyan melunakkan nada bicaranya.
Seketika Chandra menatap bosnya dengan mulut menganga, seumur-umur bekerja dengan Rayyan baru kali ini ia dengar nada bicaranya selembut itu. Juga ia mengijinkan karyawan wanita masuk ruangannya, jelas ini namanya kiamat para bos.
Chandra menggelengkan kepalanya merasa yakin bahwa bosnya sudah kesurupan, apalagi ia masih ingat keadaan bosnya yang senyam-senyum sendirian.
"Yaya, mending kamu hati-hati sama pak bos!" ujar Chandra menasehati wanita itu saat melewatinya.
Sementara Cahaya hanya termangu tak jelas, ia sungguh tak paham maksud dari ucapan asisten bosnya tersebut. Apalagi pak Chandra itu menganggukan kepalanya seakan meyakinkannya.
Ya udah Yaya balas saja dengan anggukan pelan, dia sendiri sudah dengar gosip buruk tentang bosnya dan mengartikan bahwa semua itu benar.
Kini dua manusia yang pernah tidur bersama itu duduk saling berhadapan, sama-sama canggung yang memenuhi hati mereka. Niatnya hanya sebentar, hanya mengutarakan proyek desain minggu ini akan tetapi malah diajak ngopi.
Sesekali tatapan mereka beradu, tak punya hubungan hanya sebatas atasan dan bawahan. Namun kejadian malam itu tak bisa disangkal, kenangan itu sudah tersimpan dalam memori yang pastinya tak bisa dilupa.
"Apa kau menyesalinya?" tanya Rayyan memulai percakapan yang sudah hening sejak profosal dijelaskan.
"Tidak, tapi rasanya aneh. Saya wanita bersuami malah tidur dengan bos saya sendiri, itu namanya apa ya? Konflik etika, ya," jawab Cahaya dengan pelan tapi cukup jelas terdengar, jujur ia ragu dan tak sanggup menatap mata bosnya yang sejak tadi menyidiknya.
"Cerai saja dengannya dan menikahlah denganku!" ujar Rayyan dengan tak sabarannya.
Cahaya menatap bosnya dengan mata membulat penuh. Tak hanya terkejut, tapi juga merasa digertak. "Hah!"
Cahaya mulai bingung, satu sisi lagi bercerai satu sisi bosnya ngajak nikah. Semua masalah ini begitu tiba-tiba, seakan dewa takdir begitu cepat memainkannya soal jodoh.
"Saya gak minta tanggung jawab, pak," ucap Cahaya menundukkan kepalanya, tangannya meraih cangkir yang berisi kopi dan menyeruputnya sedikit.
"Aku takut kamu hamil," ujar Rayyan.
Cahaya terbatuk-batuk, ia mengambil tisu dan menutupi mulutnya dengan kertas tipis tersebut. Otaknya bertanya-tanya, ada apa dengan bosnya. Baru sekali melakukan itu, tak mungkin akan langsung hamil.
"Mustahil! Baru sekali, itu tak mungkin!" bantah Yaya.
"Itu karena aku sudah minum obat, jadi masih aman," gumam Cahaya dalam hati.
"Begitu, ya. Baiklah, kalau gitu kamu boleh pergi!" usir Rayyan dengan nada kecewa.
"Baik, pak!" ucap Cahaya secepatnya dan langsung melangkah cepat dari ruangan pak bosnya.
Sedangkan Rayyan hanya menatapnya dengan alis bertaut, kalau disuruh pergi langsung pergi keluar seolah tak betah tinggal diruangannya.
Klek
Pintu tertutup setengah kasar, mengejutkan Rayyan yang masih termangu. "Apa aku menakutinya?" gumam lelaki itu merasa tak mengerti dengan sikap karyawan satu ini.
"Aman," gumam Cahaya yang segera pergi dari lantai itu.
***