NovelToon NovelToon
Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: LEVIATHAN_M.S

“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”

Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.

“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”

Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.

“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”

“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”

“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”

Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 - Ikan Kecil yang Malang

Bai Fengxuan akhirnya kembali ke gubuk kayunya setelah latihan bersama Tetua Mu Qing selesai. Lautan awan putih menggantung jauh di bawah tebing sekte seperti samudra tanpa ujung, sementara cahaya bulan perlahan menyinari jalan setapak batu yang sunyi di antara hutan bambu.

Udara malam terasa dingin. Namun entah kenapa tubuh Bai Fengxuan justru terasa hangat. Mungkin karena qi spiritual di dalam meridiannya masih bergerak lebih aktif dibanding biasanya. Atau mungkin karena latihan pedang siang tadi benar-benar meninggalkan sesuatu di dalam dirinya.

Sejak memasuki Sekte Forgotten Blade, ia telah mendengar banyak teori tentang kultivasi. Tetua Ji berbicara tentang dao dan ketenangan hati. Han Gu berbicara tentang makanan spiritual dan keberuntungan hidup. Sedangkan dunia di sekitarnya selalu dipenuhi cerita mengenai kekuatan, tahap kultivasi, dan para immortal yang mampu menghancurkan gunung.

Sekarang Bai Fengxuan merasa benar-benar telah memahami sesuatu.

Ketenangan.

Gerakan Tetua Mu Qing siang tadi masih terus terulang di dalam benaknya. Ayunan pedang yang sederhana. Cara napasnya mengalir alami bersama qi spiritual. Dan terutama… perasaan tenang yang muncul di setiap gerakan.

Tidak terburu-buru.

Tidak memaksa.

Seperti air sungai yang terus mengalir tanpa perlu berusaha terlihat kuat.

Begitu memasuki gubuk kayunya, Bai Fengxuan tidak langsung tidur seperti biasanya. Ia justru berjalan menuju sudut ruangan lalu mengambil pedang kayu latihan yang sebelumnya dipinjamkan Han Gu.

Cahaya lampu minyak bergoyang pelan di atas meja kecil, menerangi interior gubuk sederhana yang dipenuhi aroma kayu, rempah, dan sisa nasi hangat malam sebelumnya. Di sudut ruangan, wajan hitam tua miliknya masih terdiam tenang di atas tungku batu seperti benda biasa.

Dulu ia hanya murid luar biasa yang membersihkan kandang ayam. Kemudian ia sudah mulai memahami qi. Dan sekarang mulai mempelajari pedang. Perlahan ia benar-benar melangkah ke dunia kultivasi.

Bai Fengxuan berdiri di tengah ruangan sempit itu sambil mengingat kembali gerakan dasar yang diajarkan Tetua Mu Qing.

Tarik napas.

Turunkan bahu.

Biarkan qi mengalir bersama gerakan.

Pedang kayu perlahan bergerak di tangannya.

Awalnya masih terasa kaku. Namun semakin lama, gerakannya mulai menjadi lebih alami. Cahaya api dari Kayu Api Scarlet yang masih menyala samar di tungku memantulkan bayangan tubuhnya di dinding kayu gubuk.

Ayunan pertama.

Kedua.

Ketiga.

Malam perlahan menjadi semakin sunyi. Dan tanpa Bai Fengxuan sadari, qi spiritual di tubuhnya mulai bergerak mengikuti gerakan pedang tersebut sedikit demi sedikit.

Perasaan itu sangat aneh. Seolah tubuhnya perlahan menjadi lebih ringan. Indranya juga terasa jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. Ia dapat mendengar suara angin malam yang bergerak melewati daun bambu di luar gubuk. Bisa merasakan api kecil di tungku berdenyut bersama aliran qi di sekitarnya. Bahkan gerakan debu halus di udara pun terasa lebih jelas.

Bai Fengxuan perlahan mulai memahami apa yang dimaksud Tetua Mu Qing. Pedang bukan hanya tentang kekuatan. Pedang adalah tentang memahami aliran, memahami ritme, dan memahami diri sendiri.

Gerakannya perlahan menjadi semakin tenang. Semakin alami. Tanpa sadar, qi spiritual tipis mulai berkumpul samar di sekitar tubuhnya saat ia terus mengayunkan pedang kayu di tengah malam pegunungan yang sunyi.

Waktu berlalu perlahan.

Ceplak… ceplak…

Suara aneh tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan dan gerakan Bai Fengxuan langsung berhenti.

Ia perlahan menoleh ke arah ember kayu kecil di dekat jendela. Suara air kembali terdengar pelan dari sana, disertai bunyi kecipakan kecil yang cukup kacau.

Bai Fengxuan berkedip beberapa kali, lalu wajahnya perlahan berubah.

“Ikan…”

Ia langsung meletakkan pedang kayu dan berjalan cepat menuju ember tersebut. Begitu melihat ke dalam, ikan kecil bersisik keemasan yang ia tangkap beberapa hari lalu sedang berenang gelisah di permukaan air sambil terus mengepakkan ekornya.

Dan saat itulah Bai Fengxuan baru sadar sesuatu yang mengerikan.

Ia… melupakan ikan itu hampir tiga hari penuh.

Wajah Bai Fengxuan langsung dipenuhi rasa bersalah.

“Astaga…”

Ia buru-buru berjongkok di depan ember sambil menatap ikan kecil itu dengan ekspresi bersalah seperti seorang ayah tidak bertanggung jawab yang baru mengingat anaknya sendiri.

“Aku benar-benar lupa…”

Ikan kecil itu kembali mengepakkan air hingga sebagian cipratannya mengenai wajah Bai Fengxuan.

Ia langsung menghela napas panjang sambil memijat dahinya sendiri. Selama beberapa hari terakhir hidupnya memang terlalu kacau. Mulai dari latihan pedang, kultivasi, sampai telur ayam spiritual. Tidak heran ia benar-benar lupa ada seekor ikan kecil hidup di sudut gubuknya.

“Aku harus memberimu makan…”

Bai Fengxuan mulai berpikir keras. Namun ia tidak punya pakan ikan. Bahkan ia tidak tahu ikan jenis apa ini sebenarnya.

Tatapannya perlahan bergerak ke luar jendela gubuk menuju area ladang herbal di lereng bawah yang masih diterangi cahaya bulan samar.

Dan beberapa saat kemudian, sebuah ide sederhana muncul di kepalanya.

“Cacing…”

Tak lama kemudian Bai Fengxuan sudah berjalan keluar gubuk sambil membawa cangkul kecil tua yang ia ambil dari pondok alat dekat ladang herbal. Angin malam pegunungan bertiup dingin melewati pakaiannya sementara kabut tipis bergerak pelan di antara tanaman herbal yang tumbuh rapi di lereng.

Suasana malam terasa sangat tenang.

Dari kejauhan terdengar suara air sungai kecil mengalir melewati batu-batu gunung. Cahaya bulan memantul samar di permukaan daun herbal yang dipenuhi embun sementara suara jangkrik memenuhi udara malam.

Bai Fengxuan mulai menggali tanah lembap di dekat ladang dengan cukup hati-hati.

Tidak lama kemudian ia berhasil menemukan beberapa ekor cacing tanah gemuk yang bergerak pelan di antara tanah basah.

“Bagus…” Ia segera mengumpulkan semuanya ke dalam daun lebar lalu buru-buru kembali ke gubuk kayunya.

Begitu tiba, Bai Fengxuan langsung menjatuhkan cacing-cacing itu ke dalam ember dengan wajah penuh harap.

“Nah,” gumamnya sambil berjongkok di depan ember, “makanlah yang banyak.”

Ikan kecil bersisik emas itu langsung bergerak cepat. Tubuh kecilnya melesat di dalam air sambil memakan cacing-cacing tersebut satu per satu.

Melihat itu, Bai Fengxuan akhirnya menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Ia duduk bersandar di dekat ember sambil memperhatikan ikan kecil tersebut berenang perlahan di bawah cahaya lampu minyak.

Entah kenapa ia merasa sedikit perasaan hangat di dalam hati. Mungkin karena ikan ini adalah saksi pertama kehidupannya sebagai “kultivator tenang.” Ikan ini muncul tepat setelah ia mulai memahami dao ketenangan di tepi sungai beberapa hari lalu.

Karena itulah Bai Fengxuan tanpa sadar mulai merasa dekat dengannya.

“Maafkan aku,” katanya pelan sambil mengetuk ember kayu perlahan. “Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.”

Ikan kecil itu berenang memutari permukaan air beberapa kali sebelum kembali mengepakkan ekornya. Namun beberapa saat kemudian…

Ceplak! Ceplak!

Ikan itu mulai bergerak gelisah lagi. Bai Fengxuan langsung mengernyit.

“Hm?”

Ia melihat ke dalam ember dan menyadari cacing-cacing tadi sudah habis dan ikan itu masih terus bergerak liar seperti belum kenyang sama sekali.

“Masih lapar?” Bai Fengxuan mulai panik sedikit. Ia sudah menggali cukup banyak cacing tadi. Masa seekor ikan kecil bisa makan sebanyak itu?

Namun melihat ikan tersebut terus mengepakkan air dengan gelisah, rasa bersalah Bai Fengxuan kembali muncul. Ia benar-benar takut ikan kecil ini mati kelaparan gara-gara dirinya.

Tatapannya perlahan bergerak keluar jendela lagi. Kali ini menuju danau spiritual kecil di dekat ladang herbal.

Di sekitar tepian danau itu memang tumbuh beberapa tanaman air herbal yang biasanya digunakan murid dapur untuk campuran sup spiritual ringan.

Dan beberapa detik kemudian pikiran berbahaya itu muncul lagi di kepala Bai Fengxuan.

“Kalau cuma sedikit…” gumamnya pelan sambil berdiri perlahan, “harusnya tidak apa-apa kan?”

Malam itu untuk kesekian kalinya dalam hidupnya di Forgotten Blade, Bai Fengxuan kembali melakukan sesuatu yang sangat mencurigakan.

Kabut malam masih memenuhi tepian danau spiritual ketika ia berjalan pelan sambil membawa keranjang bambu kecil. Cahaya bulan memantul tenang di permukaan air danau yang jernih, membuat seluruh area tampak seperti lukisan dunia immortal.

Tanaman air herbal tumbuh di tepian dangkal danau. Daunnya panjang berwarna hijau kebiruan dengan qi spiritual tipis yang bergerak samar di permukaannya.

Bai Fengxuan melihat kanan kiri beberapa kali.

Sunyi.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia segera berjongkok dan mulai mencabut beberapa batang tanaman air herbal dengan gerakan cepat.

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

Setelah merasa cukup, ia buru-buru memasukkan tanaman tersebut ke dalam keranjang dan kembali berjalan menuju gubuk sambil jantung berdebar cukup cepat.

Entah kenapa hidupnya sekarang semakin mirip pencuri kecil profesional. Padahal awalnya ia hanya ingin berkultivasi dengan damai.

Begitu kembali ke gubuk, Bai Fengxuan segera memasukkan salah satu batang tanaman air herbal ke dalam ember. Dan reaksinya langsung membuat matanya membesar.

Ikan kecil emas itu bergerak sangat cepat. Tubuh kecilnya langsung melesat mendekati tanaman herbal lalu mulai menggigit daun-daunnya dengan lahap. Bahkan sisik emas di tubuhnya tampak sedikit berkilau lebih terang dibanding sebelumnya.

Bai Fengxuan langsung terlihat lega.

“Jadi kau memang suka makan ini…”

Ia akhirnya memasukkan dua batang sisanya juga ke dalam ember. Kali ini ikan tersebut benar-benar mulai tenang. Gerakannya tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Ia berenang perlahan di antara daun herbal sambil sesekali menggigit batang tanaman dengan santai.

Air di dalam ember perlahan ikut memancarkan qi spiritual tipis.

Bai Fengxuan duduk bersila di dekat ember sambil memperhatikan ikan kecil itu cukup lama. Dan tanpa sadar senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. Ia berhasil menyelamatkan seekor ikan kecil yang malang.

“Bagus,” gumamnya pelan sambil menyandarkan tubuh ke dinding kayu. “Mulai sekarang aku akan mengurusmu lebih baik.”

Ikan kecil itu berenang memutar perlahan di dalam ember seperti benar-benar memahami perkataannya.

Malam semakin larut.

Angin dingin bergerak pelan melewati celah papan kayu gubuk sementara cahaya bulan perlahan turun menyinari lantai ruangan. Di sudut lain, wajan hitam tua masih terdiam tenang di atas tungku batu.

Sedangkan Bai Fengxuan akhirnya tertidur bersandar di dekat ember ikan sambil memegang pedang kayu latihan di sampingnya.

1
awan irwan
cukup bagus dan menarik
Marthen
tetap ketahuan sama zhso yuan apa lagi gadis pendiam Qing Rou...dan itu akan menjadi rahasia mereka masing-masing.. adik bai harus secepatx menenukan teknik menutupi aura yg sebenarx.....
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....
tariii
masih menyembunyikan kekuatan yg sebenarnya.. 👍👍👍
awan irwan
hanya Han gu yang memahami adik bai😄
tariii
bocah 10 th udah punya jurus aja..😍👍
tariii
weehhh... bisa ketemu lagi...😂😂😂
tariii
kereeeenn.... sudah level 4...👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!