Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Makin Di Salahkan
Restu berjalan kaki menyusuri jalan yang gelap. Langkahnya berat, tertatih-tatih. Sepatu kanannya hilang, mungkin terlempar saat jatuh tadi, sehingga kakinya yang telanjang bergesekan dengan aspal yang kasar dan berdebu. Badannya penuh luka, baju compang-camping, dan hatinya hancur lebur.
Motor kesayangannya hilang. Alat untuk mencari nafkah hilang. Harapan yang baru saja tumbuh, kini mati suri.
Butuh waktu hampir dua jam baginya sampai di depan rumah kontrakan yang sempit dan sederhana itu. Saat ia membuka pintu, lampu ruang tamu menyala terang. Di sana, istrinya, 'Rina' sudah menunggu dengan wajah cemas yang bercampur marah.
"Kamu ini kemana saja?! Jam segini baru pulang?! Motor mana?! Kenapa kamu jalan kaki?!"
Serbu istrinya begitu melihat kondisi suaminya yang mengenaskan.
Restu hanya bisa menunduk lemas, suaranya hilang tak bersisa.
"Maaf... Maafkan aku, Rin..."
"Maaf?! Cuma maaf?!"
Istrinya semakin keras, matanya melotot melihat suaminya yang babak belur namun tidak ada niat iba sedikitpun bahkan dia menyalahkan dirinya
"Tadi ada telepon dari orang bilang motormu disita karena nabrak mobil mewah?! Benar itu?! Kamu ini ya! Sudah tahu gaji pas-pasan, bahaya sekali mengemudinya! Sekarang motor hilang! Bagaimana kamu mau cari kerja besok?! Bagaimana kita mau makan?!"
Restu terdiam melihat istrinya yang jadi tambah menyalahkannya hingga dia harus menjawabnya
"Bukan aku yang salah, Rin... Mereka yang..."
"Alasan terus!"
Potong istrinya tak terima dengan apa yang dikatakan suaminta ini
"Pasti kamu yang ngebut! Pasti kamu yang kurang hati-hati! Dasar tidak becus! Sudah miskin, bikin masalah terus! Aku capek hidup sama laki-laki tidak berguna sepertimu!"
Hujatan demi hujatan meluncur deras dari mulut istrinya, menusuk-nusuk jantung Restu yang sudah terluka parah. Ia tidak membela diri lagi. Ia hanya diam, menerima semua tuduhan itu seolah ia memang benar-benar manusia gagal.
Belum reda amarah istrinya, tiba-tiba ponsel Restu berdering nyaring. Nomor anak gadis bungsunya, Maya.
Dengan tangan gemetar, Restu mengangkat telepon itu.
"PAPA KENAPA BELUM JEMPUT MAYA?!!"
Teriak Maya dari seberang sana dengan nada sangat tinggi dan marah melalui handphonenya yang membuat Restu tambah sedih.
"Sudah telat berjam-jam! Teman-teman semua sudah pulang! Cuma Maya yang nunggu sendirian! Papa tuh kenapa sih lambat terus! Papa nggak sayang ya sama Maya?! Hiks! Papa jahat!"
Restu menelan ludah yang terasa pahit. "Maafkan Papa ya Sayang... Papa ada masalah sedikit..."
"Masalah apa sih?! Paling juga main perempuan atau mabuk-mabukan kan?! Papa tuh egois! Cuma mikir diri sendiri!" bentak Maya lalu menutup teleponnya dengan kasar.
Tut... Tut... Tut...
Suara putus sambungan itu terdengar seperti cambuk bagi telinga Restu.
Belum sempat ia mengatur napas, ponselnya berdering lagi. Kali ini Meisya, anak sulungnya yang sedang kuliah meneleponnya dengan video call
"Pa..."
Suara Meisya terdengar dingin dan tegas, tidak seperti anak yang menghormati orang tua.
"Uang kuliahku sudah telat seminggu. Kapan dibayar? Dekan sudah menegur, nanti aku tidak bisa ikut ujian kalau belum lunas."
"Mei... Papa... Papa lagi ada musibah..."
Restu mencoba menjelaskan dengan suara parau yang terpaksa dia harus bicara
"Motor Papa disita... Papa tidak punya uang sekarang..."
"Terus gimana dong?!"
Potong Meisya ketus tanpa perduli dengan apa yang terjadi sama papanya yang badanya penuh luka namun dia mengabaikannya.
"Itu urusan Papa! Aku kan sudah minta dari seminggu lalu! Kenapa sih Pa, selalu aja ada alasan! Papa tuh kalau kerja yang bener dong! Jangan cuma main-main! Lihat teman-temanku, orang tuanya bisa kasih uang banyak, bisa beliin mobil. Aku mah apa atuh, punya bapak cuma bisa bikin malu dan susah aja!"
"Meisya... Papa sudah berusaha..." air mata Restu akhirnya tumpah lagi, kali ini tak terbendung hingga kini membasahi pipinya namun dia hapus dengan cepat sedangkan Meisya seperti masa bodoh dengan apa yang terjadi
"Pokoknya besok uangnya harus ada! Aku gak mau malu!"
Meisya pun mematikan sambungan telepon video call dari anaknya ini.
Restu terduduk lemas di lantai ruang tamu. Ponselnya terlepas dari genggaman.
Di hadapannya istrinya masih terus memaki dan menyalahkan. Di telepon, anak-anaknya marah dan menuntut seolah dia adalah mesin uang yang tidak punya perasaan.
Tidak ada satu pun yang bertanya, "Papa kenapa lukanya banyak?",
Sedangkan Restu berjalan sambil menahan rasa sakit dan bicara dalam hati
"Papa sakit tidak?", atau "Papa kenapa sampai begini?".
Semua orang di rumah ini, yang seharusnya menjadi tempat pulang dan beristirahat, ternyata ikut menjatuhkannya. Mereka ikut menyalahkannya, ikut menambah beban di pundaknya yang sudah tak sanggup lagi menopang dunia.
Restu menatap langit-langit rumah yang reyot. Matanya kosong. Hatinya membeku.
'Jadi... inikah balasanku?' batinnya berteriak dalam hati. 'Aku bekerja keras siang malam demi kalian. Aku menahan lapar demi memberi kalian makan. Tapi saat aku jatuh, saat aku terluka... kalian malah ikut menginjak-injak aku...'
Rasa sakit di tubuhnya tak terasa lagi. Yang terasa hanyalah sakit yang luar biasa di dalam dada. Semangatnya yang tadi sempat mencoba bangkit, kini benar-benar mati total. Padam. Hancur. Tak bersisa.
Ia merasa lebih sendirian dari orang yang tidak punya siapa-siapa di dunia ini.
"Di rumah semuanya menyalahkan ku, di kantor orang-orang bersikap sama bahkan sampai memfitnah ku hingga aku kehilangan satu juta dan di jalan aku jadi bahan kesalahan mereka, ah!"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi