Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Juan sendiri tidak benar-benar menyadari bagaimana waktu bisa berlalu begitu cepat di dalam kamar sempit yang kini pengap oleh aroma percintaan itu.
Ketika akhirnya ia duduk kembali di tepi ranjang yang spreinya sudah berantakan dan menatap jam di ponselnya, angka yang terpampang membuatnya terdiam cukup lama.
Tiga jam.
Juan mengembuskan napas perlahan, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih sisa-sisa dari gempuran terakhir. Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah fisik semata, melainkan karena campuran emosi yang belum sepenuhnya bisa ia pahami.
Ia bangkit perlahan, mengenakan kembali pakaiannya dengan gerakan yang lebih tenang, sementara otot-otot tubuhnya masih terasa berdenyut akibat dorongan energi liontin yang luar biasa.
Di belakangnya, Lisa masih terbaring tanpa mengenakan sehelai benang pun, hanya tertutup separuh sprei yang kusut. Kulitnya yang putih tampak memerah di beberapa bagian akibat gesekan dan remasan tangan Juan.
Wajahnya terlihat sangat letih, matanya sayu dengan kelopak yang berat, namun terselip ekspresi lega yang sulit dijelaskan. Ia membuka mata ketika mendengar suara gesper ikat pinggang Juan berdenting.
“Kamu mau pergi?” tanyanya pelan, suaranya parau dan hampir habis.
Juan mengangguk sambil merapikan kerah bajunya. “Iya. Teman-temanku pasti sudah lumutan nunggu di depan.”
Lisa mencoba bangkit untuk duduk, namun ia langsung meringis dan kembali merebahkan diri saat merasakan lembahnya yang terasa sangat penuh dan pegal luar biasa.
“Aku nggak bisa nganter sampai depan,” katanya jujur dengan wajah merona. “Badanku benar-benar lemas, tulangku rasanya seperti dipreteli.”
Juan tersenyum kecil, sebuah senyum pemenang yang maskulin. “Nggak apa-apa. Istirahatlah.”
Lisa menatap Juan beberapa detik lebih lama, seolah ingin merekam setiap garis wajah pria yang baru saja memberikan pengalaman paling religius dalam hidupnya.
Sebelum Juan benar-benar melangkah menjauh, Lisa menarik lengan Juan sekali lagi. Gerakannya lembut namun penuh perasaan.
Tanpa peringatan, Lisa menarik leher Juan dan melumat bibirnya dengan rakus, sebuah ciuman perpisahan yang terasa seperti candu yang mematikan.
“Terima kasih,” ucapnya lirih saat pagutan mereka terlepas.
Juan menatapnya dalam. “Untuk?”
“Untuk semuanya,” jawab Lisa sungguh-sungguh. “Buat uangnya… dan juga buat caramu memperlakukanku. Aku jarang ketemu orang yang beda seperti kamu. Dan jujur, aku tidak akan pernah bisa lupa bagaimana kuat dan panasnya timun super milikmu ini,” Lisa mengucapkannya sambil tangannya yang nakal mengelus bagian menonjol di balik celana Juan.
Juan terdiam sejenak, merasakan getaran halus dari sentuhan Lisa. “Pelayananmu juga sangat luar biasa, Lisa. Kamu mahasiswi yang hebat.”
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang lagi, lalu meletakkannya di meja kecil di samping ranjang yang kini sudah tidak rapi lagi.
“Ambil ini. Aku harap kamu nggak putus kuliah dan segera fokus pada ujianmu.”
Lima lembar uang pecahan seratus ribu tergeletak rapi di sana. Lisa langsung menggeleng, matanya membelalak. “Aku nggak bisa terima lagi, Juan. Ini terlalu banyak.”
“Kenapa?”
“Karena malam ini… aku ngerasa justru aku yang mendapatkan kepuasan gila. Kamu yang memuaskanku habis-habisan sampai aku ampun-ampunan,” jawab Lisa jujur tanpa tedeng aling-aling. “Bukan aku yang memberimu kepuasan.”
Juan tersenyum tipis, sorot matanya terlihat dewasa. “Anggap saja ini tambahan semangat untuk belajarmu.”
Lisa terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan diri agar air matanya tidak merusak riasan tipis yang masih tersisa.
“Kamu orang paling aneh yang pernah aku temui di gedung ini,” katanya akhirnya sambil tersenyum kecil.
“Mungkin,” balas Juan singkat.
Lisa akhirnya mengambil uang itu dengan tangan gemetar. “Makasih, Juan. Aku akan ingat ini.”
Juan mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah keluar, meninggalkan kamar yang masih menyisakan aroma gairah Lisa yang tertinggal di bajunya.
Begitu ia sampai di ruang depan, ia menemukan Andre dan Doni masih setia duduk di kursi kayu panjang. Ponsel mereka menyala terang, jari-jari mereka bergerak cepat dengan suara efek permainan perang-perangan yang bising.
“Mabar terus kalian,” ujar Juan sambil berdiri tegak di depan mereka. Aura kepemimpinannya kini terasa jauh lebih pekat.
Andre menoleh lebih dulu, dan sedetik kemudian matanya hampir keluar dari kelopaknya.
“Buset! Lu masih hidup, Wan?”
Doni ikut mengangkat kepala, ia menatap Juan seolah-olah Juan adalah alien yang baru turun dari piring terbang. Mereka berdua saling pandang dengan ekspresi horor sekaligus kagum.
“Tiga jam, Bro,” kata Andre dengan nada penuh penekanan yang dramatis. “TIGA JAM! Lu di dalam ngapain? Bongkar pasang mesin?”
Juan mengernyit, mencoba tetap tenang. “Kenapa memangnya?”
Andre berdiri, mendekat, lalu mengitari tubuh Juan seolah sedang menginspeksi kendaraan tempur. “Lu pakai obat kuat merek apa? Atau lu habis pasang susuk di Kalimantan? Tiga jam non-stop itu nggak masuk akal, Wan!”
Doni ikut mendekat dengan wajah memelas. “Iya, sumpah. Bagi infonya, Juan. Gue aja tadi baru sepuluh menit sudah tumbang. Lu malah seperti nggak ada capeknya.”
Juan langsung mengangkat tangan dan mendaratkan pukulan pelan di kepala Andre. “Ngaco kalian.”
“Eh! Sakit, Bro!” Andre meringis sambil mengusap kepalanya.
“Gue nggak pakai apa-apa,” jawab Juan datar. “Kuncinya cuma satu, rajin olahraga dan jaga napas.”
Andre terdiam beberapa detik, menatap wajah Juan yang tampak segar meski baru saja berperang, lalu ia tertawa keras. “Bullshit! Olahraga apa yang bikin 'anu' jadi seperti baja begitu? Pasti ada rahasianya!”
Juan hanya mengangkat bahu, tidak berniat menjelaskan tentang liontin di lehernya yang kini sedang menyerap energi sisa dari Lisa. Andre menggelengkan kepala.
“Lu ini makin lama makin misterius saja, Wan.”
“Ayo pulang. Sudah malam,” ajak Juan sambil menepuk bahu Doni.
Mereka bertiga meninggalkan gedung muram itu. Di perjalanan pulang, Andre masih sesekali melirik Juan dengan tatapan penuh selidik, seolah-olah ia berharap bisa menemukan botol jamu yang disembunyikan Juan.
Namun Juan hanya menatap lurus ke depan, menikmati dinginnya udara malam yang membantu meredakan sisa panas di tubuhnya.
Pukul delapan malam, Juan akhirnya tiba di depan rumahnya. Ia sengaja tidak mampir ke warung Teteh Ayu malam ini.
Ia tahu betul, jika ia muncul di sana dengan kondisi energi yang masih bergejolak seperti ini, Teteh Ayu pasti akan langsung mencium aroma pria perkasa dan tidak akan membiarkannya pulang sebelum tengah malam. Dan jujur, meskipun staminanya masih ada, Juan sedang ingin menyendiri.
Ia membuka pintu perlahan, melepaskan sepatu, lalu langsung menuju kamar mandi. Air dingin yang mengguyur tubuhnya terasa sangat nikmat, membasuh sisa-sisa aroma Lisa dan keringat yang menempel di kulitnya.
Setelah merasa segar, Juan hanya mengenakan celana pendek dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia meraih ponselnya yang sejak tadi berada dalam mode senyap. Begitu layar menyala, jantung Juan seolah berhenti berdetak sesaat.
Belasan panggilan tak terjawab. Dan satu nama yang terpampang di sana membuat perasaan bangganya sebagai pria perkasa runtuh seketika, digantikan oleh rasa sesak yang aneh.
Semua panggilan itu dari Raisa.