"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KETIKA LANGIT BERSUJUD
Suasana di lereng Panderman mendadak hening, sebuah keheningan yang menyakitkan telinga. Rintik hujan yang semula deras kini tertahan di udara, seolah-olah waktu sendiri sedang membeku di hadapan Arka.
Arka berdiri di tengah reruntuhan rumah aman, postur tubuhnya tegak lurus sama persis seperti saat ia bangkit di depan Nenek Lastri di Hotel Grand Atma.
Tidak ada lagi Arka yang membungkuk menyeka noda anggur di sepatu emas dengan serbet putih.
Yang ada hanyalah sosok pria yang memancarkan aura wibawa yang begitu pekat, membuat oksigen di sekitar tempat itu terasa menipis dan berat untuk dihirup.
Di dalam helikopter yang melayang rendah, Siska Adiningrat menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela dengan gemetar. Wajahnya yang cantik kini pucat pasi, matanya terbelalak menatap ke bawah.
Ingatannya terseret paksa kembali ke malam-malam di Jakarta, saat ia mencaci Arka sebagai beban, pria gila yang hanya bisa menatap dinding, dan sampah yang memalukan reputasi keluarga Adiningrat.
Saat itu, ia merasa berada di puncak dunia sementara Arka adalah debu di bawah tumitnya.
Namun sekarang, melihat Arka berdiri begitu tenang di tengah kepungan pasukan elit global, Siska merasakan perutnya mual oleh rasa takut yang menghujam jantungnya.
"Rendra... hentikan!" jerit Siska, suaranya parau karena panik yang luar biasa. "Lihat matanya! Itu bukan mata Arka yang kita kenal! Jangan teruskan ini!"
Rendra Adiningrat, yang berdiri di samping mobil mewah dengan tablet kontrol satelit di tangannya, tidak menggubris.
Wajahnya merah padam, otot-otot lehernya menegang karena ambisi yang sudah melampaui batas kewarasan.
"Diam, Siska! Dia hanya manusia yang punya sedikit trik klenik sisa masa gilanya! Di depan teknologi pemusnah massal The Sovereign, dia tetaplah debu yang harus disapu dari peta ini!"
TIIIIT... TIIIIT... Rendra menekan tombol eksekusi pada jantung mekanik yang kini berpendar api hitam pekat. Di orbit bumi, sebuah satelit militer mengunci koordinat Arka dengan presisi milimeter.
Sebuah batang tungsten raksasa, Rod from God dilepaskan. WREEEEEEUUUMMMMM!
Benda itu meluncur menembus atmosfer, menciptakan ekor api yang membelah langit malam Batu, membawa energi kinetik yang sanggup meratakan gunung dalam sekejap mata. SREEEEEEEETTTTT!
Arka mendongak. Matanya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Untuk sesaat, kilatan ungu, tanda Segel Nusantara muncul di pupilnya. ZING!
Ia teringat mimpi tentang kuda cokelat raksasa yang mendekat ke jendela kosannya. Kuda itu kini tidak lagi hanya meringkik, ia sudah menyatu ke dalam nadi Arka.
"Siska," ucap Arka lirih. Meski suaranya rendah, kata-kata itu menggema di dalam batin Siska, seolah Arka sedang berbisik tepat di telinganya. WUUUUUNG...
"Dulu kau bilang kotoran di hati manusia tidak bisa dibersihkan. Sekarang, lihatlah bagaimana langit bersujud pada pria yang kau sebut kotor."
Arka tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Ia memegang Keris Kyai Sangga Buwana dengan posisi terbalik, lalu Arka menghujamkan ujung Keris Kyai Sangga Buwana ke tanah. JLEB!
“Aji Selo Gilang: Lipat Bumi!”
Arka tidak hanya memanipulasi ruang secara fisik, tapi ia memanggil kekuatan ghaib yang menjaga tanah Jawa. Seketika, getaran luar biasa muncul dari perut bumi. DHUMMMMMMM!
Suara guntur terdengar bukan dari langit, melainkan dari bawah tanah, seolah-olah ada raksasa yang sedang bangun dari tidurnya.
Batang tungsten yang meluncur dari langit itu mendadak melambat, bukan karena hukum fisika, tapi karena ia memasuki domain "Sunyaruri" yang diciptakan Arka. VREEEEEE...
Ruang di atas kepala Arka melengkung, membentuk kubah transparan yang memancarkan rajah-rajah kuno aksara Jawa yang menyala keemasan. GLOW!
Batang tungsten itu menghantam kubah tersebut. Namun, alih-alih meledak, benda raksasa itu seolah menabrak dinding waktu. SAAAAPPP!!!
Energi kinetiknya diserap habis oleh bumi, dialirkan melalui kaki Arka menuju jalur meridian Nusantara. DZZZZZT...
Langit di atas Batu mendadak cerah sejenak, memancarkan gelombang cahaya biru yang menyilaukan mata, sebelum akhirnya awan-awan hitam itu terkoyak dan menghilang sepenuhnya. BLAAAM!
Rendra terjatuh di samping mobilnya. PYARRRR! BZAT!
Tablet di tangannya meledak, mengeluarkan percikan listrik yang membakar telapak tangannya. "Tidak mungkin... kekuatan klenik macam apa yang bisa menahan serangan orbital?!"
Arka menurunkan tangannya perlahan. HAAH... UHHUK! Ia terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. CRAH.
Membuka Segel Ruang dan menggabungkannya dengan energi bumi secara paksa adalah beban yang hampir meremukkan tulang-tulangnya.
Namun, Arka tetap berdiri tegak. Ia tidak boleh terlihat runtuh di hadapan orang-orang yang pernah memisahkan ia dari kewarasannya.
Dari sudut rubanah, Reyna Viyanita keluar perlahan. Ia berjalan dengan tenang, membawa aura kesejukan yang menjadi jangkar bagi sukma Arka yang tengah membara. Di sampingnya, Dafa berlari kecil. Wajah bocah itu polos, penuh kekhawatiran yang tulus. Baginya, Arka adalah segalanya.
"Papa!" Dafa memeluk kaki Arka dengan erat. SREP. "Papa jangan sakit lagi. Dafa takut kalau Papa diam saja seperti dulu."
Arka berlutut, mengabaikan rasa sakit di paru-parunya. Ia mengusap kepala Dafa dengan tangan yang kasar. SREET... SREET...
Mengingat bagaimana Maya memisahkan mereka berdua di masa lalu, menyebut Arka pria gila yang berbahaya bagi masa depan anak, membuat amarah dingin Arka kembali membeku di dadanya.
"Papa tidak akan diam lagi, Nak," ucap Arka, suaranya berat dan beresonansi dengan tanah di bawah mereka. "Kuda cokelat itu sudah ada di depan rumah kita. Dia akan menjaga kita."
Arka berdiri kembali, masih membiarkan Dafa memegang tangannya. Ia menatap ke arah helikopter Siska yang mulai terbang menjauh dengan goyah.
"Siska!" suara Arka menggelegar, membelah keheningan lereng Panderman.
"Pulanglah ke Jakarta. Katakan pada Nenek Lastri... serbet putih yang dulu aku gunakan untuk menyeka sepatunya, kini aku simpan sebagai kain kafan bagi kejayaan keluarga kalian yang akan runtuh malam ini juga."
Siska menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis histeris di dalam helikopter. HUUUU... HUUUU...
Penyesalan itu datang seperti belati yang menusuk ulu hatinya. Pria yang selama setahun ia jadikan pelayan, ternyata adalah poros di mana dunia ini berputar.
Setelah semua pasukan musuh mundur dalam kekacauan, Arka berpaling pada Reyna. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memberikan garis cahaya pada puncak-puncak pegunungan.
"Reyna," panggil Arka.
"Iya, Arka?"
"Kakek di bioskop itu benar... tanpamu, kekuatanku hanya akan menjadi senjata pemusnah. Kau adalah ketenangan yang aku butuhkan setelah badai ini," Arka menatap mata bening Reyna.
Reyna tersenyum kecil, senyum yang memberikan kedamaian yang tidak pernah Arka dapatkan selama bertahun-tahun pernikahannya dengan Siska.
"Tugas kita masih panjang, Arka. Nusantara belum benar-benar seimbang. Para leluhur sedang mengawasi langkahmu."
"Wironegoro!" Arka berseru.
Dari balik bayang-bayang pohon pinus yang hangus, Jenderal Wironegoro muncul dan langsung bersujud di atas aspal basah.SREK. "Hamba menghadap, Gusti Arka."
"Siapkan keberangkatan. Aku akan membawa Dafa dan Reyna ke tempat di mana semuanya bermula. Dan Wironegoro..."
Mulai fajar ini, tarik semua 'napas' kehidupan dari Adiningrat Group." Biarkan mereka merasakan apa artinya menjadi debu."
"Sendika dawuh, Gusti."
Arka melangkah pergi, berjalan bersisian dengan Reyna.
Dafa berjalan di tengah mereka, menggandeng tangan Arka dan Reyna sekaligus, membentuk sebuah formasi keluarga yang belum pernah Arka rasakan sebelumnya.
Kedamaian itu begitu nyata, seolah-olah seluruh penderitaan Arka selama 4 tahun terbayar dalam satu momen ini.
Namun, saat mereka mencapai gerbang depan lereng Panderman, udara mendadak berubah menjadi sangat dingin. KRETEK... KRETEK... Bau kemenyan dan melati yang menyengat memenuhi indra penciuman mereka.
HMMM... Seekor burung gagak hitam besar hinggap di dahan pohon beringin tua yang terbelah petir. PROK... PROK...(Suara kepakan sayap).
Burung itu tidak bersuara layaknya burung biasa, melainkan mengeluarkan suara tawa seorang pria tua yang berat dan berwibawa.
"Hehehe... Sang Satria sudah bangun. Tapi ingatlah, Arka... saat janji Sabdo Paloh mulai terpenuhi, gunung-gunung akan memuntahkan amarahnya."
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di belakang burung itu, muncul sosok bayangan raksasa setinggi pohon kelapa. WREEEEUMMM...
Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya dua titik mata berwarna putih yang menenangkan namun sangat berkuasa.
Sosok itu membungkuk dalam ke arah Arka, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai bentuk penghormatan ghaib yang luar biasa.
"Siapa ini, Rey?" bisik Arka, tangannya refleks menarik Dafa ke belakang tubuhnya.
Reyna mematung, wajahnya memancarkan rasa hormat yang mendalam. "Itu adalah Sang Pamomong, Arka. Penjaga ghaib tanah ini. Dia datang bukan untuk menghentikanmu, tapi untuk memberi peringatan."
Bayangan raksasa itu kemudian mengulurkan tangannya yang transparan.SRAK. Di telapak tangannya, muncul sebuah pusaka berbentuk Gading Gajah berwarna hitam yang dibalut kain mori putih.
"Ambillah," suara raksasa itu menggema di dalam pikiran Arka tanpa menggerakkan bibir. WUUUNG.
"Ini adalah Kunci untuk membuka portal ke kawah Candradimuka. Di sana, kau akan bertemu dengan Dia yang telah menunggumu selama 500 tahun untuk menyerahkan janji yang tertunda."
Arka melangkah maju. Saat ia menyentuh gading hitam itu, ia merasakan sebuah penglihatan masa lalu.
Ia melihat reruntuhan Majapahit, ia melihat sumpah seorang Patih, dan ia melihat dirinya sendiri berdiri di atas tumpukan bangkai musuh-musuh Nusantara.
Namun, kejutan sebenarnya terjadi saat Dafa menyentuh ujung gading itu bersama Arka. TING! Gading hitam itu mendadak berubah warna menjadi putih bersih yang bersinar terang. WHIIIIIIITTTT!
Sebuah fenomena yang membuat Sang Pamomong raksasa itu tersentak mundur dan menghilang dalam asap putih. PUFF!
Reyna menutup mulutnya karena terkejut. "Dafa... bagaimana mungkin..."
Arka menatap anaknya dengan bingung. Dafa hanya tersenyum polos, seolah tidak terjadi apa-apa. "Gadingnya bagus ya, Pa? Putih kayak awan."
Arka merasakan jantungnya berdegup kencang. DEG... DEG... Ia menatap ke arah puncak Gunung Semeru yang tiba-tiba mengeluarkan asap hitam tebal ke langit fajar. BOOOOOMMMM!
Tanah kembali bergetar pelan namun dalam. GRRRRRRR...
Di sana, ia merasakan kehadiran kekuatan yang jauh lebih kuno dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar satelit militer atau pasukan bionik.
Sebuah kekuatan yang telah menanti kebangkitannya untuk satu alasan. Menagih janji kehancuran tanah Jawa yang pernah diucapkan 500 tahun silam.
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.