Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu suasana rumah berubah jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara tawa Anaya yang riang, tidak ada perdebatan kecil antara si kembar yang sering membuat rumah terasa hidup. Semua perhatian tertuju pada Abinaya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajah anak laki-laki itu memerah karena demam tinggi, sementara napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
Kanaya duduk di samping ranjang dengan sebuah baskom berisi air dan beberapa lembar kain kompres di dekatnya. Dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, ia memeras kain lalu meletakkannya di dahi putranya.
Berbeda dengan Kanaya yang berusaha tetap tenang, Arkana terlihat panik. Sejak tadi ia mondar-mandir di dalam kamar sambil sesekali melihat termometer yang baru saja digunakan. Wajahnya tegang dan penuh kekhawatiran.
"Aya, demamnya masih tinggi sekali," katanya dengan suara cemas. "Kita bawa ke rumah sakit sekarang saja."
Kanaya mengangkat pandangan sejenak, lalu kembali mengganti kain kompres di dahi Abinaya. "Tunggu dulu."
"Bagaimana bisa tunggu dulu?" Arkana mengusap wajahnya frustrasi. "Suhunya hampir tiga puluh sembilan derajat."
"Aku tahu."
"Kalau begitu kenapa tidak langsung ke rumah sakit?"
Kanaya mengembuskan napas pelan. "Karena Abi memang seperti ini kalau sakit. Biasanya demamnya naik dulu, baru perlahan turun."
Arkana menatap putranya yang sedang tidur gelisah. Dadanya terasa sesak melihat kondisi anak yang baru beberapa waktu lalu ia kenal sebagai darah dagingnya sendiri. Ia merasa tidak berdaya. Selama ini ia terbiasa menyelesaikan berbagai masalah besar dalam bisnisnya, tetapi menghadapi demam seorang anak kecil justru membuatnya kehilangan ketenangan.
"Aku tetap khawatir," ucapnya lirih.
Kanaya mengangguk pelan. "Aku juga."
Jawaban sederhana itu membuat Arkana terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama lima tahun terakhir, Kanaya menghadapi semua ini sendirian. Saat anak-anak mereka sakit, saat mereka menangis di tengah malam, saat mereka membutuhkan perhatian orang tua, hanya Kanaya yang ada di samping mereka. Sementara dirinya bahkan tidak tahu keberadaan mereka.
Tidak lama kemudian, Abinaya menggeliat pelan. Matanya masih terpejam ketika bibirnya bergerak memanggil seseorang.
"Bunda ...."
Kanaya segera membungkuk mendekat. "Iya, Sayang."
"Aku enggak mau rumah sakit." Suara itu terdengar lemah dan serak.
Kanaya tersenyum tipis sambil mengusap rambutnya yang basah oleh keringat. "Iya. Bunda tahu."
"Aku juga enggak mau minum obat."
Kali ini Arkana sampai menoleh cepat. Dalam kondisi seperti itu, putranya masih sempat menolak obat.
Kanaya terkekeh pelan. "Bunda juga tahu."
Abinaya kembali tertidur sebelum sempat mengatakan apa pun lagi.
Melihat itu, Arkana hanya bisa menghela napas panjang. "Dia memang tidak suka obat?"
"Sangat tidak suka," jawab Kanaya. "Kadang baru mencium baunya saja sudah muntah."
Arkana menggeleng tidak percaya. "Lalu, selama ini bagaimana?"
"Ya, seperti ini. Kompres, dijaga, diberi banyak minum, dan dipantau terus."
Malam semakin larut, tetapi tidak satu pun dari mereka benar-benar beristirahat. Kanaya dan Arkana bergantian mengganti kain kompres ketika suhu tubuh Abinaya mulai naik lagi. Sesekali Kanaya menyuruh Arkana tidur sebentar karena wajah pria itu sudah terlihat lelah, tetapi Arkana selalu menolak.
"Kamu istirahat saja," kata Kanaya ketika melihat Arkana kembali mengecek suhu tubuh putranya.
Arkana menggeleng. "Aku tidak mengantuk."
Padahal matanya sudah memerah karena kurang tidur.
"Paling tidak rebahan sebentar," kata Kanaya.
"Aku baik-baik saja," balas Arkana lirih.
Kanaya menatapnya beberapa saat. "Kalau kamu sakit juga, nanti malah tambah repot."
Arkana terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata pelan, "Aku sudah terlambat lima tahun, Aya."
Kanaya menghentikan gerakannya.
"Aku tidak mau terlambat lagi." Suara itu begitu pelan, tetapi cukup membuat suasana di antara mereka menjadi hening.
Kanaya tidak menjawab. Ia hanya kembali memeras kain kompres, sementara Arkana tetap duduk di samping ranjang menjaga Abinaya.
Kanaya mengembuskan napas lega. Karena di tengah kepanikan dan kekhawatiran yang memenuhi rumah hari itu, setidaknya mereka masih bisa melihat satu hal yang sangat berharga, bahwa Abinaya tidak sedang menghadapi semuanya sendirian. Kini ada banyak orang yang mencintainya dan menunggu ia kembali sehat.
Menjelang subuh, suhu tubuh Abinaya akhirnya mulai turun. Angka yang muncul di termometer membuat Arkana mengembuskan napas lega.
Sejak malam tadi, baru kali itu bahunya sedikit mengendur. Pria itu bahkan sampai memejamkan mata beberapa detik karena rasa syukur yang begitu besar.
Pagi harinya, kondisi Abinaya sudah jauh lebih baik. Meski wajahnya masih pucat, setidaknya demamnya sudah tidak setinggi semalam. Dari dapur tercium aroma bubur hangat yang baru selesai dimasak Kanaya. Perempuan itu kemudian membawa semangkuk bubur ke kamar dan meletakkannya di atas meja kecil.
Abinaya yang sudah duduk bersandar di ranjang langsung melirik mangkuk tersebut. "Bunda yang bikin?" tanyanya.
Kanaya mengangguk sambil tersenyum. "Iya."
Sebelum Kanaya sempat mengambil mangkuk itu, Arkana lebih dulu mengulurkan tangan. "Biar Ayah yang suapi."
Abinaya menatapnya beberapa saat. Biasanya ia akan langsung menolak atau bersikap acuh. Namun, kali ini anak laki-laki itu hanya diam.
"Ayo, buka mulut!" titah Arkana.
Perlahan Abinaya membuka mulutnya dan menerima suapan pertama. Arkana tersenyum kecil, lalu melanjutkan menyuapi dengan sabar. Sesekali ia meniup bubur yang masih panas sebelum memberikannya kepada putranya.
Kanaya yang berdiri di dekat pintu memperhatikan pemandangan itu tanpa mengganggu. Ada sesuatu yang terasa berbeda pagi ini. Tidak besar, tetapi cukup untuk disadari.
Setelah beberapa suapan, Arkana mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Abinaya yang terkena bubur. "Masih mau makan?" tanyanya.
Abinaya mengangguk kecil. "Mau."
Arkana kembali tersenyum lalu melanjutkan menyuapinya sampai mangkuk itu kosong. "Hebat anak Ayah! Makannya habis semuanya."
Abinaya terlihat sedikit malu mendengar pujian itu.
Ketika Arkana hendak berdiri untuk membawa mangkuk ke dapur, tiba-tiba ujung bajunya ditarik pelan. Arkana menoleh dan mendapati Abinaya sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
Abinaya tampak ragu. Anak laki-laki itu menunduk sesaat sebelum kembali mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya penuh pertahanan kini terlihat jauh lebih lembut.
"Ayah ...." panggil Abinaya dengan suaranya yang pelan.
Tubuh Arkana langsung membeku. Itu pertama kalinya Abinaya memanggilnya dengan sebutan tersebut. Jantungnya berdebar keras hingga hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ayah ...." panggil Abinaya sekali lagi. "Terima kasih."
Sebelum Arkana sempat menjawab, anak laki-laki itu tiba-tiba bergerak maju dan memeluknya erat. Pelukan itu masih canggung dan singkat, tetapi cukup membuat dada Arkana terasa sesak oleh haru.
Refleks Arkana membalas pelukan putranya sambil memejamkan mata. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan memenuhi hatinya. Semalaman ia menjaga Abinaya tanpa tidur sedikit pun, tetapi semua rasa lelah itu seakan hilang begitu saja.
"Harusnya Ayah yang minta maaf," bisik pria dewasa itu dengan suara serak.
Abinaya menggeleng kecil di pelukannya. "Terima kasih sudah jagain Abi."
Kalimat sederhana itu membuat mata Arkana memanas. Ia memeluk putranya sedikit lebih erat, seolah takut momen itu akan menghilang begitu saja.
Kanaya hanya bisa terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Arkana kembali hadir dalam hidup mereka, ia melihat tembok yang selama ini dibangun Abinaya perlahan mulai runtuh. Tidak sekaligus, tidak dalam semalam, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa hati seorang anak ternyata mampu melihat ketulusan, bahkan ketika orang dewasa masih sibuk bergulat dengan luka masa lalu mereka.
"Alhamdulillah, suhu tubuh Abi sudah normal kembali," kata Kanaya terlihat lega.
"Iya, Bun. Sekarang Abi sudah sembuh. Terima kasih, Ayah ... Bunda." Senyum tipis muncul di wajah Abinaya.
Melihat senyum kecil itu, Kanaya dan Arkana ikut tersenyum. Hati keduanya merasa tenang sekarang.