NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: TOPENG YANG RETAK

Rangga Adiwinata bisa merasakan rasa amis darah di dalam mulutnya. Ia tidak sedang terluka secara fisik, tapi ia menggigit dinding pipinya sendiri begitu kuat guna menahan amarah yang nyaris meledak. Di dalam dekapannya, Livia terasa begitu rapuh, seolah gadis itu bisa hancur kapan saja.

Melihat Livia yang lemas dan ketakutan, sebuah insting primitif yang sudah bertahun-tahun Rangga kunci rapat di dasar hatinya tiba-tiba mendobrak keluar. Bagi Rangga, nama Mateo de Vries bukan sekadar nama mantan kekasih Livia yang menyebalkan. Nama itu adalah racun yang punya sejarah kelam dengan keluarganya.

Mateo—pria naturalisasi yang dipuja-puji di lapangan hijau tapi punya reputasi sampah di balik layar—adalah luka lama bagi keluarga Adiwinata. Lima tahun lalu, sepupu perempuan Rangga hancur secara mental karena permainan "main belakang" pria itu. Dan sekarang, bajingan yang sama mencoba menyentuh Livia. Gadis yang sudah Rangga awasi dan lindungi sejak mereka masih remaja, sejak mereka masih sama-sama mengejar mimpi di klub bulu tangkis yang sama.

"Kamu di sini saja. Jangan keluar," perintah Rangga. Suaranya rendah, tak lagi dingin, melainkan sarat dengan otoritas mutlak yang tak bisa dibantah.

"Rangga, jangan..." Livia mencengkeram lengan kemeja Rangga. "Dia gila, Ngga. Dia bakal hancurin semuanya kalau lo ladenin."

Rangga melepaskan tangan Livia dengan gerakan lembut, namun sangat tegas. "Dia sudah menghancurkan cukup banyak hal, Liv. Tapi tidak denganmu. Tidak hari ini."

***

Di luar gerbang Cipayung, pemandangannya sudah seperti medan perang. Mobil SUV milik Mateo ringsek setelah menghantam pagar besi dengan brutal. Puluhan wartawan sudah mengepung lokasi, kamera-kamera mereka membidik Mateo yang masih memakai seragam klub bolanya—sisa latihan yang ia tinggalkan demi obsesi gilanya pada Livia.

"MANA RANGGA?! MANA LIVIA?!" teriak Mateo kesetanan. "LIVIA HAMIL ANAK GUE! DIA NGGAK BISA NIKAH SAMA SIAPA PUN!"

Rangga melangkah keluar dengan tenang. Kemeja putihnya yang rapi tampak kontras dengan kekacauan yang ada di depannya. Di belakangnya, tim pengamanan keluarga Adiwinata mulai membentuk barikade, menghalangi media agar tidak mendekat.

Rangga berhenti tepat dua langkah di depan Mateo. Postur tubuhnya yang lebih tinggi dan tatapan matanya yang tajam membuatnya tampak begitu mematikan.

"Kamu tahu kenapa kamu selalu kalah, Mateo? Bukan karena kamu kurang berbakat," Rangga mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Mateo agar suaranya tidak tertangkap mikrofon wartawan. "Ini untuk sepupuku yang kamu hancurkan. Dan ini untuk setiap kali kamu selingkuh di belakang Livia saat dia sedang berjuang sendirian di turnamen luar negeri."

Bugh!

Satu pukulan telak mendarat di perut Mateo. Sangat cepat, presisi, dan mematikan. Mateo langsung tersungkur, memegangi perutnya sambil berusaha meraup oksigen yang mendadak hilang.

"Bawa dia," perintah Rangga dingin kepada tim keamanannya. "Serahkan ke polisi atas tuduhan perusakan fasilitas negara dan pemerasan."

Rangga berbalik menghadap kerumunan kamera. Ia membetulkan letak kerahnya yang sedikit miring, lalu mengumbar senyum tipis—sebuah senyum "Pangeran Jawa" yang sempurna, yang besok pagi pasti akan menghiasi semua tajuk utama berita.

"Livia tidak hamil. Mateo sedang mengalami delusi berat. Pernikahan kami akan tetap berjalan sesuai jadwal. Terima kasih."

***

Koridor Sunyi – 20 Menit Kemudian

Livia berdiri mematung di balik pilar dekat ruang ganti. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketakutan yang belum hilang sepenuhnya. Ia berniat mencari Rangga, ingin mengucapkan terima kasih, atau mungkin hanya ingin menangis dalam pelukan pria itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Rangga berdiri di lorong yang sepi, menempelkan ponsel ke telinganya.

Livia baru saja ingin memanggil namanya, tapi nada bicara Rangga membuatnya membeku di tempat.

"Aku sudah urus si brengsek itu, Pa," suara Rangga terdengar sangat datar. Sangat berbeda dari Rangga yang beberapa menit lalu membelanya dengan penuh emosi.

Livia menahan napas, menyembunyikan tubuhnya di balik bayangan.

"Aku tahu Papa sama Mama nggak setuju sama pertunangan palsu ini," lanjut Rangga. Suaranya dingin, seolah sedang membicarakan transaksi bisnis biasa. "Tapi Papa lihat sendiri tadi, kan? Keluarga Liang sedang di ujung tanduk. Mereka nggak punya pilihan selain menyerahkan sisa saham pelabuhan itu sebagai mahar keamanan kalau mau skandal anaknya hilang."

Darah Livia seolah berhenti mengalir. Pertunangan palsu? Saham pelabuhan?

"Soal perjodohanku dengan anak Pak Darmawan..." Rangga terdiam sejenak, mendengarkan suara ayahnya di seberang sana. "Aku nggak lupa kalau aku sudah ditunangkan secara resmi sejak tahun lalu. Livia cuma pion, Pa. Aku cuma butuh waktu sampai urusan saham ini selesai. Setelah itu, dia bisa dibuang kembali ke media."

Livia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis agar tidak bersuara. Air mata yang tadi tertahan kini jatuh membasahi pipinya. Rangga bukan penyelamatnya. Rangga adalah predator yang jauh lebih canggih, lebih licin, dan lebih lapar daripada Mateo.

"Tenang saja, Pa," suara Rangga terdengar makin menjauh saat dia mulai berjalan. "Aku tahu cara mainnya. Livia merasa utang budi padaku sekarang. Dia bakal nurut apa pun yang aku minta."

Livia menyandarkan tubuhnya ke dinding yang dingin, kakinya terasa lemas seperti jeli. Ia baru saja merasa lolos dari mulut buaya, hanya untuk menyadari bahwa ia kini berada di dalam cengkeraman naga yang sedang menunggu waktu untuk menelannya bulat-bulat.

Livia buru-buru menghapus air matanya saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia berbalik dan nyaris menabrak dada bidang milik Rangga. Pria itu tersenyum—senyum "Pangeran Santun" yang kini terlihat begitu mengerikan dan palsu di mata Livia.

"Liv? Kamu di sini?" tanya Rangga lembut. Tangannya terulur, seolah ingin mengusap pipi Livia dengan penuh kasih sayang. "Semuanya sudah aman. Kamu nggak perlu takut lagi."

Livia menatap tangan itu dengan tubuh yang sedikit gemetar. Pikirannya berkecamuk hebat.

Haruskah ia tetap berpura-pura tidak tahu dan mengikuti permainan ini, atau lari sekarang juga sebelum semuanya terlambat?

Livia menarik napas dalam-dalam, memaksakan senyum palsu ke wajahnya yang pucat.

"Iya, Ngga. Terima kasih," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya meraih tangan Rangga, berpura-pura menerima kehangatan itu, meski dalam hati ia merasa seperti menyentuh ular berbisa.

Rangga mengusap pipi Livia dengan lembut, mata hijaunya yang biasa penuh kelembutan kini terlihat seperti mata predator yang sedang mengamati mangsanya. "Ayo pulang. Besok kita urus semuanya. Pernikahan ini harus sempurna."

Mereka berjalan berdampingan keluar dari koridor, Livia menjaga jarak hati meski tubuhnya dekat.

Di dalam mobil mewah Rangga, suasana hening seperti makam. Livia menatap jendela, pikirannya berputar: saham pelabuhan keluarganya, pertunangan palsu, dan bagaimana Rangga memanipulasi semuanya.

Dalam hati dia membatin. Mengapa hidupnya menjadi seribet ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!