Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Fakta Sebenarnya
Arya pun tidak segan-segan lagi dalam melakukan tindakannya malam ini untuk menikmati tubuh Anna yang sudah dia idamkan sejak berbulan-bulan yang lalu.
Tubuh seksi yang sering dia lihat kini bisa dia sentuh sesuka hati secara langsung.
Gelora masa mudanya dulu kini bangkit kembali dan Arya menemukan rasa yang telah lama tidak dia rasakan kembali setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Suasana di luar Hotel masih tetap seperti sebelumnya dan membuat suara ******* Arya dan Anna sedikit teredam dan berbaur dengan derasnya hujan yang ada di luar bangunan.
***
Kenangan indah beberapa hari yang lalu masih membekas dalam ingatan Arya.
Saat ini lelaki dewasa itu sedang dalam perjalanan menuju ke rumah keluarga kecilnya yang memang terbilang sangat mewah dan megah di kota besar ini.
Senyum sumringah tidak pernah luntur dari bibir Arya kala lelaki itu membaca pesan singkat dari sekretaris cantiknya yang kini merangkap menjadi kekasih gelap lelaki itu.
"Yank, kalau udah sampai rumah jangan lupa ngabarin ya!" pesan Anna.
"Iya, Sayang. Pasti aku langsung ngabarin kok. Oh iya, gimana ibu kamu, suka nggak sama oleh-oleh yang kita beli?" tanya Arya yang memang di perjalanan kali ini dia membeli banyak oleh-oleh untuk diberikan kepada sekretarisnya itu.
"Mama aku suka banget, Sayang. Makasih banyak ya."
"Iya, sama-sama."
Anna memang sudah sampai lebih dulu ke rumah kontrakannya karena mobil yang menjemput mereka memilih untuk pergi mengantarkan gadis itu lebih dulu.
Arya lah yang memerintahkan hal itu karena lelaki itu tidak tenang jika membiarkan Anna pulang seorang diri.
***
Sesampainya di rumah megahnya, Arya keluar dari dalam mobil sembari membawa bingkisan oleh-oleh yang jumlahnya tidak sebanyak Anna karena dia hanya membeli sekedarnya saja.
"Papa!" sorak Vania saat melihat ayahnya akhirnya pulang setelah beberapa hari melakukan perjalanan dinas ke luar kota.
Tubuh Arya pun di peluk oleh gadis remaja itu yang masih duduk di bangku SMP kelas dua.
"Pesenan aku nggak lupa kan, Pah?" tanya Vania.
"Nggak dong. Mana mungkin Papa lupa." Arya pun menunjukkan barang bawaan yang dia pegang sejak tadi.
"Makasih, Papa," ucap Vania sembari mengambil alih oleh-oleh yang dia minta dari ayahnya beberapa hari yang lalu.
Gadis remaja itu melihat isi paper bag yang dia pegang dan wajahnya begitu bersinar karena senang.
Dari arah dalam muncul seorang pemuda yang usianya sekitar sembilan belas tahunan.
"Kok wajah Papa cerah banget sih?" ucap Dimas anak sulung Arya. "Abis dapet durian runtuh ya," canda pemuda itu.
"Iya." angguk Arya membenarkan.
"Pasti bisnis Papa lancar nih kemarin."
"Iya, Bang. Kemarin kliennya langsung setuju buat tandatangan kerjasama. Makanya Papa seneng banget."
"Baguslah kalau gitu. Semoga Papa dapet bonus yang lebih banyak lagi dari tahun kemarin ya, Pah."
"Aamiin."
Arya meski seorang presdir namun perusahaan yang dia kelola bukanlah miliknya. Dia hanyalah orang kepercayaan dari pemilik saham mayoritas di perusahaan itu.
Meski hanya orang kepercayaan saja, namun gaji yang diterima oleh Arya sungguh sangat fantastis sekali. Maka wajar saja jika rumahnya begitu mewah mirip seperti para sultan kaya di negara ini.
"Kamu mau ke mana, Dim?" tanya Arya pada anaknya.
"Aku mau main ke rumah temen, Pah."