Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Misi Selesai
Sesuai petunjuk dari titik biru di layar hologramnya, mereka akhirnya berhasil keluar dari kebun dan tiba di tepi jalan raya.
Deru angin menerpa wajah mereka, membawa bau aspal dan asap kendaraan.
Riani menutup wajahnya karena kepanasan, wajahnya terlihat merah karena terik panas hari ini luar biasa.
Alneo segera melepas jaket kainnya yang agak usang lalu menyampirkannya ke bahu kepala Riani. "Pakai ini. Sebentar lagi kita cari kendaraan. Bertahanlah sebentar, ya?"
"Lalu Kakak bagaimana? Nanti Kakak kepanasan juga," protes Riani, mencoba mengembalikan jaket tersebut.
"Kakakmu ini sekarang punya tubuh sekuat baja, Riani. Jangan khawatir," canda Alneo sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dalam hati, Alneo sebenarnya sedang memeriksa status tubuhnya melalui sistem.
[Status Pengguna: Alneo]
[Kondisi Fisik: Otot dan Saraf teregenerasi 85% setelah asimilasi sistem.]
[Efek Samping: Rasa lapar tingkat sedang.]
"Pantas saja aku merasa sangat bugar, meskipun perutku mulai berbunyi," batin Alneo.
Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke jalanan, mencari taksi atau angkutan umum yang lewat.
Tak lama, sebuah angkot kosong melintas dan Alneo langsung melambaikan tangannya.
"Ayo naik," ajak Alneo sambil menuntun Riani masuk ke dalam angkot.
Di dalam angkot, Alneo kembali memfokuskan pikirannya pada layar hologram yang melayang di depan matanya, yang untungnya tidak bisa dilihat oleh sopir angkot maupun Riani.
"Sistem, cari informasi area kos-kosan terdekat yang aman, bersih, dan pemiliknya tidak banyak bertanya," perintah Alneo dalam hati.
[Memindai data sekitar dalam radius 3 kilometer...]
[Ditemukan: Kos-kosan 'Wisma Asri'. Jarak 1,5 km. Fasilitas: Kamar mandi dalam, keamanan 24 jam. Tingkat hunian: Kosong 2 kamar.]
[Rekomendasi Rute: Turun di pertigaan depan, jalan kaki 100 meter ke arah utara.]
Alneo tersenyum puas. Sistem ini benar-benar efisien.
"Kiri di depan, Bang," seru Alneo kepada sopir angkot.
Ia pun membayar uang angkot tersebut, lalu mereka pun turun di sebuah pertigaan yang agak sepi namun bersih.
Mereka berjalan kaki sebentar hingga tiba di depan sebuah bangunan dua lantai dengan pagar besi hitam.
Suasananya cukup tenang. Alneo mengetuk gerbang pos penjaga, dan seorang pria paruh baya dengan sarung tersampir di bahunya keluar sambil menguap.
"Cari siapa, Mas?" tanya penjaga kos itu, matanya meneliti Alneo dan Riani yang tampak sedikit berantakan.
"Permisi, Pak. Saya lihat di internet katanya di sini ada kamar kos yang kosong. Apa betul? Saya dan adik saya butuh kamar malam ini juga," ujar Alneo dengan sopan namun penuh percaya diri.
Penjaga itu mengerutkan dahi, menatap Riani yang bersembunyi di balik punggung Alneo.
"Ada sih yang kosong di lantai bawah. Tapi penyerahan kunci dan administrasi biasanya sama Ibu Kos besok pagi. Dan... biayanya harus dibayar di muka, Mas. Satu juta lima ratus per bulan."
Riani yang mendengar nominal itu langsung menarik-narik ujung baju Alneo, wajahnya tegang. "Kak... mahal sekali. Kita cari tempat lain saja..." bisiknya ketakutan.
Alneo memegang tangan Riani untuk menenangkannya, lalu kembali menatap si penjaga.
"Saya bayar sekarang satu ulan di muka, Pak. satu juta lima ratus. Tapi tolong izinkan kami masuk malam ini karena adik saya sudah sangat kelelahan. Untuk urusan KTP dan administrasi dengan Ibu Kos, saya selesaikan besok pagi-pagi sekali. Bagaimana?"
Penjaga itu tampak bimbang, tergoda dengan tawaran uang tunai instan di malam hari. "Tapi, Mas... uangnya ada?"
Alneo mengeluarkan uang dari sakunya sekitar satu juta lima ratus.
Alneo mengangguk tenang.
Alneo meraba kantong celananya. Ada uang seratus ribuan yang masih kaku mendadak ada di kantongnya. Ia menarik uang itu keluar dan menghitungnya, lalu menyerahkan uang tersebut kepada penjaga tersebut.
"Ini uangnya, Pak. Pas satu juta, setengah. Tolong bantu kami," ucap Alneo datar.
Mata penjaga itu berbinar melihat segepok uang merah tersebut. Sikap ragunya langsung sirna.
"Ah... baik, baik! Karena Mas kelihatan orang baik-baik dan kasihan juga adiknya sudah kecapen, mari saya antarkan ke kamarnya. Kebetulan kuncinya ada di saya."
Ting!
[Saldo Anda di potong 1.500.000]
[Sisa saldo Anda 500.000]
Saat gerbang dibuka dan mereka berjalan masuk, Riani menatap kakaknya dengan mata membulat sempurna.
"Kak Alneo..." bisik Riani setengah tidak percaya saat penjaga kos berjalan agak jauh di depan mereka.
"Kakak... benar-benar punya uang sebanyak itu? Kakak tidak mencuri, kan?" tnya Riani curiga.
Alneo tertawa kecil. Ia merangkul pundak adiknya dengan hangat.
"Sudah Kakak bilang, kan? Mulai malam ini, kehidupan kita berubah. Kakak tidak mencuri, Riani. Ini adalah hasil dari... 'pekerjaan baru' Kakak. Mulai sekarang, kamu tidak perlu hidup kesusahan lagi. Mengerti?"
Riani menatap mata kakaknya. "Iya, Kak. Riani percaya pada Kakak."
Sistem, klaim misi sampingan! Eksekusi hadiah uang tunai!"
[Misi Sampingan: Temukan Tempat Berlindung — SELESAI.]
[Silakan pilih dari angka 1-10]
[Tentukan pilihan Anda]
"Aku pilih angka 8," kata Alneo dengan penuh semangat berharap dapat hadiah besar.
Ting!
[Pilihan jatuh angka 8]
[Selamat Anda mendapatkan uang 800.000]
[Selamat, Anda mendapatkan 8 buah laptop]
[Selamat Anda mendapatkan 800 poin]
[Selamat, Anda mendapatkan 8 pil Penenang]
[Sisa Saldo 1.300.000]
[Sisa poin: 2800]
"Eh, kenapa hadiah uangnya kecil?" tanya Alneo kebingungan.
[Angka besar tidak menunjukkan jika hadiahnya besar, ini ada sistem undian dan keberuntungan, jika Anda beruntung, Anda akan mendapatkan hadiah besar]