NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAGUM

Kriiing!

​Bel panjang berdering, memotong riuh rendah udara gerah di dalam kelas. Naya mengembuskan napas panjang, menutup buku absen di atas meja dengan tepukan pelan.

​"Nah, itu saja pembelajaran kita hari ini. Terima kasih untuk yang sudah mengumpulkan tugas tepat waktu," ucapnya, berusaha menyisipkan senyum formal di bibir yang terasa kaku. "Oh ya, jangan lupa..." katanya sambil menepuk tumpukan buku di depannya. "KM atau perwakilan, tolong bawa buku-buku ini ke meja Ibu di ruang guru, ya."

"Siap Bu. Terima kasih Bu Naya!" Jawab para murid dengan serentak.

​Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu, atmosfer berat yang sedari tadi menghimpit dada mendadak luruh. Ruang kelas yang sesak itu kini terasa lenggang dalam ingatannya, menyisakan keheningan yang perlahan memeluknya hangat.

​"Bu, tunggu!" seru sebuah suara dari ambang pintu kelas. Langkah kakinya terdengar terburu-buru, menggema di koridor sekolah yang mulai sepi saat ia berusaha mengejar Naya.

Dan, panggilan itu membuat langkah Naya terhenti. Begitu berbalik, ia mendapati Zaki tengah berlari kecil keluar dari kelas demi mengejarnya. Siswa itu berhenti tepat di depan Naya dengan napas yang memburu.

"Zaki?" gumam Naya, menatap lekat-lekat wajah pemuda di depannya itu. Ingatannya langsung tertuju pada satu hal. "Oh ya, tugas kamu yang kemarin—"

​"Kirim sekarang ya, Bu. Maaf saya terlambat," sela Zaki. Meskipun napasnya belum sepenuhnya teratur, ia berusaha tetap tenang dan menjaga sopan santunnya.

Tatapan Naya turun, terpaku pada jakun Zaki yang bergerak naik-turun dengan cepat. Remaja di hadapannya ini sedang gugup, Naya tahu itu.

​Namun, alih-alih melihatnya sebagai seorang anak kecil yang takut dihukum, kegelisahan Zaki siang ini atau mungkin caranya berdiri dengan tegap dan bertanggung jawab justru memancarkan aura yang lain. Ada kematangan sikap yang mendadak melompati batas usianya.

Dan hal itu mendadak membuat Naya terpikat, bukan pada statusnya sebagai siswa, melainkan pada sikap dewasa yang entah bagaimana berhasil Zaki tunjukkan detik itu juga.

"Bu?" panggil Zaki mengejutkan. Memecah setengah lamunan Naya. "Bagaimana? Apa ada kesempatan buat saya untuk kirim tugasnya hari ini?"

Naya tersentak kecil, buru-buru menarik kembali kesadarannya yang sempat tertinggal pada gerak jakun di leher Zaki.

​"Uhm," Naya berdehem, mencoba menetralisir kegugupan mendadak yang merayap di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi notebook dan buku absen di pelukannya, mencari pegangan agar suaranya terdengar setegas biasanya. "Ya, tentu saja. Tapi... kenapa kamu akhir-akhir ini sering mengumpulkan tugas terlambat, Zaki?" tanyanya penasaran.

Di mata Naya, Zaki sebenarnya terlihat seperti siswa pada umumnya. Tidak ada penampilan mencolok yang membuatnya langsung jadi pusat perhatian di kelas. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, Zaki memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan etos kerja yang rajin. Belum lagi tutur kata dan sopan santunnya yang luar biasa, membuat Naya sesekali menaruh respek padanya. Dan perubahan Zaki yang belakangan ini sering terlambat mengumpulkan tugas terasa mengganjal di hatinya, memicu rasa ingin tahu yang sulit ia bendung.

"Saya harus bekerja, Bu." Jawab Zaki.

Pernyataan itu seketika membuat Naya terkesiap. "Ke-Kerja?"

"Iya." Angguk Zaki tanpa ragu. "Semenjak tiga bulan lalu Bapak berpulang, saya yang menggantikan pekerjaan Ayah saya sebagai buruh paruh waktu."

"Zaki..." gumam Naya tanpa sadar. "Sebagai apa?"

"Saya barista di kedai kopi yang letaknya gak jauh dari daerah sini, Bu." Lugas Zaki tanpa ada rasa malu yang berusaha coba ia tutupi. "Dan, kemarin-kemarin... saya harus membuat portofolio untuk syarat pengajuan PKL saya nanti. Sekali lagi... saya mohon maaf ya, Bu."

Naya terdiam sejenak. Tatapannya melunak, menyerap setiap informasi yang baru saja didengarnya. Entah mengapa, ada dorongan lain di dalam dirinya yang ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang remaja di hadapannya ini.

​"Kamu... punya adik?" tanya Naya, tak bisa menahan rasa penasarannya.

​Zaki mengangguk pelan. "Saya punya satu adik perempuan, Bu. Kalau kakak perempuan saya, dia sudah menikah."

​"Kakak kamu masih tinggal sama kalian?"

​"Enggak, Bu. Kakak ikut suaminya pindah ke luar kota dan menetap di sana," jawab Zaki tenang dengan senyum tipis yang cukup lama, seolah semua beban itu adalah hal biasa yang memang sudah semestinya ia jalani.

Namun, jawaban itu telak menyentuh sudut hati Naya yang paling dalam. Ada rasa sesak sekaligus haru yang merayap di dadanya. Di saat teman-teman sebayanya masih sibuk bermain game atau nongkrong sepulang sekolah, Zaki justru sudah berdiri tegak sebagai tulang punggung. Rasa kagum Naya melebur bersama debar asing yang kian nyata—menatap Zaki bukan lagi sekadar menatap seorang murid, melainkan seorang pria muda yang sangat matang.

​"Kalau begitu... saya kirimkan tugasnya sekarang ya, Bu," ungkap Zaki lagi, memutus keheningan yang sempat tercipta. "Via grup atau japri saja ke Ibu?"

​Naya masih membisu. Pikirannya masih tertinggal pada kenyataan hidup Zaki yang baru saja terungkap.

​"Bu?"

​"Uhm?" Naya gelagapan. Kesadarannya seperti ditarik paksa. "I-iya. Kirimkan saja tugasnya sekarang."

"Maaf, Bu... dikirim via grup atau japri ke Ibu?" tanya Zaki mengulang dengan sabar.

​"Oh, soal itu..." Naya tersenyum canggung, meremas pelan tepian notebook-nya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah. "Japri saja langsung ke Ibu. Jangan lupa sertakan nama lengkap sama jurusannya."

​"Baik, Bu," angguk Zaki patuh. "Sekali lagi terima kasih banyak. Saya permisi dulu ya, Bu."

Naya hanya mampu mengangguk. Sepasang matanya melekat pada punggung tegap Zaki yang kini berbalik, berjalan mantap hingga sosoknya hilang kembali ke dalam kelas.

Sesaat setelah koridor benar-benar sepi, ego Naya sebagai seorang wanita dewasa mendadak terusik. Sebuah senyuman perlahan terbit di bibirnya. Senyuman yang lahir dari campuran rasa haru, kagum, dan sebuah letupan debar asing yang masih sulit untuk ia artikan. Perasaan apakah ini? Sadar, Nay... sadar!

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!