HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengorek kepicikan
BAB 5 — Mengorek kepicikan
"Nona tidak ingin makan dulu?" Wanita yang bekerja di rumah kami bertanya khawatir, dia menatap ku lembut.
Bibi Nilam tahu seperti nya keadaan ku tidak baik-baik saja.
"Aku tidak lapar, bi." Aku melebarkan senyuman, menggelengkan kepala perlahan.
"Tapi nona terlihat agak kurusan, jadwal makan anda belakangan cukup berantakan."
Aku menyentuh lengan bibi Nilam, kembali menggelengkan kepala ku perlahan.
"Aku tahu, bibi jangan khawatir. Jika lapar aku akan pergi ke dapur sendiri."
Wanita itu hanya bisa diam,dia menghela nafasnya pelan.
----
Malam itu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata, membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ada sedikit pun rasa kantuk yang menghampiri. Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat dengan tenang setelah apa yang kulihat dengan kedua mataku sendiri? Setelah melihat Arga dan Eliana kembali masuk ke dalam gedung hotel yang sama, menuju lantai yang sama, dan menghabiskan waktu di kamar yang sama persis seperti kejadian sebelumnya. Untuk kedua kalinya mereka melakukan hal itu berdua saja, bersembunyi di balik pintu tertutup, dan berani-beraninya membohongiku dengan begitu santai seolah aku adalah perempuan paling bodoh dan paling tidak memiliki insting di seluruh dunia. Jam di atas meja kerjaku sudah menunjuk angka dua dini hari, namun aku masih duduk diam di kursi empuk ruang kerja pribadi di rumah ini, hanya diterangi oleh satu lampu meja yang cahayanya redup, membuat suasana ruangan yang luas ini terasa semakin sunyi, semakin dingin, dan semakin penuh dengan rasa sakit yang menyiksa. Di hadapanku tergeletak laptop dan tumpukan dokumen perusahaan yang seharusnya kuselesaikan malam ini, namun faktanya barang-barang itu sama sekali tidak kusentuh atau kubaca bahkan sejak satu jam yang lalu. Pikiranku sama sekali tidak berada di sini, jauh melayang kembali ke tempat itu, kembali ke momen di mana aku melihat keakraban di antara mereka, kembali pada tatapan mata yang penuh makna yang tidak pernah ditujukan kepadaku, dan kembali pada kebohongan-kebohongan besar yang keluar begitu mudah dan lancar dari mulut suamiku sendiri.
Tanganku mengepal erat di atas paha, kuku menancap ke daging hingga terasa perih, berusaha menahan amarah yang meluap-luap bercampur rasa kecewa yang mendalam. Jika memang di antara mereka berdua tidak ada hubungan apa pun, jika mereka benar-benar hanya sekadar kakak dan adik ipar seperti yang selalu mereka katakan, kenapa segala sesuatu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi? Kenapa harus memilih tempat yang tertutup dan jauh dari jangkauan orang lain seperti kamar hotel? Dan kenapa harus menutupi keberangkatan itu dengan kebohongan yang begitu jelas dan mudah terbongkar? Aku menarik napas panjang dan berat, berusaha menenangkan diri sejenak, lalu perlahan meraih ponsel yang tergeletak di sisi meja. Sudah waktunya aku berhenti menebak-nebak, berhenti menduga-duga, dan berhenti memberi mereka kesempatan untuk beralasan. Aku butuh kepastian, aku butuh kebenaran, dan yang paling utama aku butuh bukti nyata yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Keesokan harinya aku segera menghubungi seseorang yang dulu pernah bekerja sama dengan perusahaan keluarga kami beberapa tahun lalu. Bukan petugas kepolisian, bukan pula pengacara, melainkan seorang penyelidik swasta yang sangat andal, berkompeten, dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menangani kasus pencurian data dan pemantauan yang rahasia. Namanya Dimas, seorang laki-laki yang tenang, cerdas, dan sangat mengerti arti pentingnya menjaga kerahasiaan klien. Kami sepakat bertemu di sebuah kafe kecil yang letaknya cukup jauh dari pusat kota, tempat yang sepi dan tidak akan ada orang yang mengenali kami. Di sudut ruangan yang agak gelap dan jauh dari meja pengunjung lain, kami duduk berhadapan.
“Ada keperluan apa Ibu ingin bertemu saya secara khusus dan mendadak seperti ini?” tanya Dimas dengan nada bicara yang rendah namun tegas, matanya menatapku tajam namun penuh kehati-hatian.
Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang serak namun bertekad bulat. “Aku ingin menyewamu untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap dua orang yang sangat dekat denganku.”
Dimas tidak terlihat kaget atau bertanya hal yang tidak perlu, ia hanya mengangguk pelan lalu mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari saku jasnya. “Baik, Ibu. Siapa dua orang yang dimaksud, dan apa yang ingin Ibu ketahui dari mereka?”
Aku menyebutkan nama Arga dan Eliana dengan jelas dan lantang. Saat nama suamiku itu meluncur keluar dari bibirku, rasanya begitu asing, begitu berat, dan begitu menyakitkan, seolah aku sedang menyebut nama orang asing yang tidak pernah kukenal sama sekali.
Dimas mencatat kedua nama itu dengan rapi, lalu kembali menatapku. “Boleh saya tahu batasan penyelidikannya? Apakah hanya urusan pekerjaan, atau menyangkut hal-hal pribadi juga?”
“Semuanya,” jawabku tegas tanpa ragu sedikit pun. “Aku ingin tahu ke mana saja mereka pergi dalam waktu enam bulan terakhir, dengan siapa saja mereka bertemu, di mana saja mereka menginap, dan apa saja yang mereka sembunyikan dari pengetahuan orang lain. Aku ingin tahu setiap detail kecil dari gerak-gerik mereka yang tidak diketahui orang banyak.”
Laki-laki itu mengangkat alisnya sedikit, terkejut mendengar permintaan yang begitu luas dan mendetail, namun ia tetap terlihat profesional. “Semuanya? Baiklah, saya mengerti arah yang Ibu inginkan. Saya akan telusuri jejak perjalanan, riwayat komunikasi, serta kebiasaan sehari-hari mereka berdua secara terpisah maupun saat bersama.”
“Aku ingin hasilnya secepat mungkin, Dimas. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu,” tambahku lagi, menekankan betapa mendesaknya kebutuhan ini bagiku.
“Baik, Ibu. Saya akan mulai bekerja sejak hari ini juga, dan saya berjanji akan melaporkan apa pun yang saya temukan, baik itu hal baik maupun hal buruk,” jawabnya yakin.
Pertemuan itu berakhir cepat dan singkat. Namun saat aku melangkah keluar dari kafe itu dan menghirup udara luar yang segar, perasaanku justru terasa semakin buruk dan semakin gelisah. Jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, ada rasa takut yang begitu besar, ketakutan bahwa apa yang akan ditemukan oleh Dimas nanti adalah kebenaran yang jauh lebih pahit dan jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sudah aku bayangkan selama ini.
Tiga hari berlalu begitu lama, terasa seperti tiga tahun penuh penderitaan. Selama masa itu, Arga berperan seolah tidak ada apa-apa, tetap berangkat pagi, pulang larut malam, bersikap dingin dan jauh, serta terus berbohong tentang keberadaannya seolah aku tidak akan pernah tahu fakta sebenarnya. Di sisi lain, Eliana masih sering datang berkunjung ke rumah, masih tersenyum manis dengan wajah polosnya, masih memanggilku dengan sebutan Kakak yang terdengar begitu lembut dan akrab, serta masih bertingkah laku seolah kami adalah keluarga yang paling saling menyayangi, seolah ia tidak sedang menyembunyikan rahasia besar yang bisa menghancurkan hidupku kapan saja. Sampai akhirnya, telepon dari Dimas masuk ke ponselku di sore hari.
“Ibu Violet, saya sudah mendapatkan sesuatu yang mungkin perlu Ibu lihat dan ketahui secepatnya,” ucapnya dari seberang sana, nada bicaranya terdengar serius dan penuh beban.
Jantungku langsung berdegup kencang seolah mau melompat keluar. “Di mana kamu sekarang? Aku akan ke sana.”
“Sebaiknya kita bertemu di kantor saya saja, tempatnya lebih aman dan privasi lebih terjaga,” jawabnya.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰