NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Perkenalan Emily itu sontak membuat suasana kelas berubah seperti konser dadakan. Sorak-sorai cowok mereda hanya ketika dosen mengetuk meja tiga kali. Emily tersenyum manis lalu berjalan menuju bangku kosong di baris depan, tepat di samping Rangga. Beberapa hela napas kesal terdengar dari para mahasiswi, termasuk Aqeela yang menggumam, "Cantik sih, tapi norak."

*

Malam sudah berganti. Lampu-lampu apartemen mulai menyala satu per satu dari balik jendela. Meysa berdiri di depan cermin yang tergantung di dinding. Ia menatapi bayangannya sendiri, kulit yang tidak semulus perempuan lain, bekas jerawat di pipi kiri, dan beberapa bopeng samar yang membuatnya makin tidak percaya diri.

Terkadang ia merasa insecure. Terutama ketika melihat Wulandari yang kulitnya putih mulus, atau Aqeela yang matanya besar dan bulu matanya lentik.

"Apa yang pantas dari diriku untuk menjadi istri orang setampan Rangga?" gumamnya.

Pintu kamar mendadak terbuka tanpa ketukan. Rangga berdiri di ambang pintu. Wajahnya dingin, bibirnya tipis tampak menekan rasa malas yang begitu kentara.

"Kamu masih di sini? Cepat berganti pakaian. Papa sudah nungguin kita."

Meysa mengangguk. "Iya, sebentar."

"Jangan lama-lama. Aku tidak mau Ayah menunggu karena ulahmu."

Suara Rangga terdengar kasar, seperti biasa jika berbicara padanya. Meysa hanya tersenyum, meskipun di dalam dada terasa sakit yang teramat sangat dalam..

Di dalam mobil yang melaju pelan menembus kemacetan malam, keheningan terasa begitu kental. Rangga menyetir dengan tatapan lurus ke depan, sesekali membuang napas kasar. Meysa duduk di kursi penumpang, matanya menatap jalanan yang temaram.

"Kamu tahu," Rangga memecah sunyi. "Aku tidak mau ayahku curiga. Jadi malam ini, kamu harus bersikap baik. Tersenyumlah. Jawab pertanyaannya dengan sopan. Jangan bikin malu."

Meysa menatap sisi wajah Rangga."Aku akan berusaha, Mas.."

"Bukan berusaha, tapi itu harus kamu lakuin." Rangga menekan pedal rem sedikit lebih dalam saat lampu merah menyala. "Dan jangan pernah membayangkan ini lebih dari sekadar akad. Kamu hanya perlu memainkan peranmu, karna sebentar lagi kita akan bercerai."

Perkataannya menusuk seperti pisau. Meysa menahan dadanya yang terasa sesak. Ia ingin menangis, tapi air matanya enggan jatuh.

"Iya, aku mengerti," jawab Meysa pelan, lalu tersenyum.

Rangga tidak menanggapi. Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju. Tak ada lagi percakapan setelah itu, sampai akhirnya mereka tiba di depan restoran berkelas yang sudah dipesan oleh papanya Rangga, Pak Soerya.

Seorang pramusaji berseragam rapi segera membukakan pintu mobil. Rangga turun lebih dulu, lalu tanpa banyak berpikir, ia meraih tangan Meysa dan menggenggamnya erat.

"Tersenyumlah," bisik Rangga di telinga Meysa.

Meysa mengangguk. Ia mengangkat wajah, memasang ekspresi paling bahagia yang bisa ia ciptakan, lalu melangkah masuk ke dalam restoran yang gemerlap, dengan suami dingin di sisinya.

"Nak, kamu datang," sapa Pak Soerya sambil meletakkan gelas winenya. Matanya beralih ke Meysa. "Meysa, sini duduk. Kamu kelihatan cantik malam ini."

Meysa membungkuk hormat. "Terima kasih, Om."

"Panggil Ayah," koreksi Pak Soerya lembut. "Kita sudah menjadi keluarga."

Rangga menarik kursi untuk Meysa, sementara Rangga mengambil tempat di sampingnya. Seorang pramusaji segera menghampiri dan menawarkan menu, tapi Pak Soerya mengangkat tangan.

"Nanti dulu. Kita bicara sebentar."

Meysa menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan.

Pak Soerya menatapnya dengan saksama. "Bagaimana, Meysa? Sudah hampir sebulan kamu menikah dengan Rangga. Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"

Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Meysa, terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Ia menoleh sekilas ke arah Rangga, yang duduk dengan wajah datar.

Meysa menarik napas, lalu tersenyum lebar. Senyum terbaik yang bisa ia ciptakan.

"Baik sekali, Ayah. Rangga sangat perhatian."

Bohong. Setiap kata terasa seperti duri di tenggorokan.

Pak Soerya merasa puas dengan jawaban Meysa. "Syukurlah. Aku khawatir anakku ini keras kepala. Tapi kamu wanita yang sabar, Meysa, Ayah yakin itu."

Rangga yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara."Ayah, jujur saja. Ayah menyuruh kami datang ke sini hanya untuk menanyakan itu? Tidak ada urusan bisnis atau apa?"

Mata Pak Soerya menyipit. "Kesabaranmu sungguh tipis, Nak. Ini bukan urusan bisnis. Ini urusan keluarga kita, terutama kamu dan Meysa."

"Tapi kita sudah makan malam bersama minggu lalu. Apa masih kurang?"

"Karena minggu lalu aku belum sempat bertanya hal yang paling penting."

Pak Soerya menghela napas, lalu menatap Meysa dan Rangga bergantian. Wajahnya berubah serius.

"Kapan kalian berencana punya anak?"

Meysa membeku. Dadanya sesak seperti ditimpa batu besar. Anak? Dia bahkan tidak bisa menyentuh Rangga tanpa rasa canggung yang luar biasa. Bagaimana mungkin membayangkan bisa memiliki anak darinya?

Rangga berdecak. Suara itu keras dan terang-terangan menunjukkan ketidaksabarannya. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, kedua tangannya bersilang di dada.

"Ayah, Itu pertanyaan yang sangat tidak penting." protes Rangga.

"Tidak penting? Kalian sudah menikah hampir sebulan. Itu hal yang sangat wajar untuk dipertanyakan."

Rangga menghela napas panjang. Ia menatap papanya dengan pandangan dingin yang sudah sangat akrab di mata Meysa.

"Nanti saja, Yah. Setelah kami lulus sarjana. Sekarang kami masih fokus kuliah. Meysa juga masih harus beradaptasi."

Pak Soerya terdiam beberapa saat, menatap putranya seolah membaca ada yang disembunyikan. Namun akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak muda lagi. Aku ingin melihat cucu sebelum tubuhku tertutup tanah."

Sepanjang makan malam, suasana terasa kikuk. Pak Soerya berusaha mencairkan dengan berbagai topik kuliah Meysa, kegiatan Rangga di himpunan mahasiswa, hingga rencana liburan semester. Meysa menjawab sebisanya, selalu dengan senyum, selalu dengan sopan. Rangga hanya sesekali menimpali dengan satu atau dua kata, tidak lebih.

Saat hidangan penutup tiba, Pak Soerya mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan mendorongnya ke tengah meja.

"Ini untuk kalian berdua. Untuk biaya hidup dan keperluan lain."

Meysa melongo melihat ketebalan amplop itu. Rangga mengambilnya tanpa banyak bicara, hanya mengucapkan "Terima kasih, Ayah,"

Setelah pamit dan keluar dari restoran, udara malam menyambut Meysa dengan dingin yang menusuk tulang. Rangga melepaskan genggamannya segera setelah pintu restoran tertutup. Ia berjalan cepat menuju mobil tanpa menunggu Meysa.

Di dalam mobil, keheningan kembali menyelimuti. Meysa memandang ke luar jendela, menikmati lampu-lampu kota yang berlalu lalang. Air matanya ingin jatuh, tapi ia tahan. Ia sudah terlalu sering menangis karena Rangga.

"Kamu tidak perlu memikirkan ucapan Ayah.," kata Rangga tiba-tiba,"Tentang anak. Itu tidak akan pernah terjadi."

Meysa hanya tersenyum tipis, meski Rangga tidak bisa melihatnya. "Aku tahu, Mas."

"Karena sebentar lagi kita akan bercerai. Jadi jangan pernah berharap apapun dari Saya."

Pisau yang sama, luka yang sama. Meysa lalu memejamkan matanya..

"Baik, Mas," jawabnya dengan pelan.

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!