Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAVILIUN DUA ULER
Ding
"Misi Berhasil, jejak mana dari bunga Lili darah telah tersamarkan oleh aroma melati."
Rania menghela napas lega. Dia berjalan kembali ke arah jendela.
Di bawah sana, di kejauhan dekat gerbang mansion, dia melihat beberapa sosok pria berpakaian serba hitam yang bergerak sangat senyap hingga hampir tak terlihat, mereka adalah pasukan bayangan milik kaisar.
Rania menyandarkan sikunya di bingkai jendela, menatap tajam ke depan, matanya berkilat penuh perhitungan.
"Lina, mulai besok, setiap kali kamu melihat Diana atau Viola keluar paviliun, pastikan kamu mencatat ke arah mana mereka pergi dan siapa yang mereka ajak bicara, bahkan jika ada pelayan dari paviliun mereka yang keluar mansion, segera beri tahu aku," perintah Rania, tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Baik, Nona, tapi bagaimana jika mereka menangkap saya?" tanya Lina, takut.
Rania menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya.
"Jika mereka menyentuh sehelai rambutmu saja, aku akan memastikan mereka merasa lebih baik mati daripada hidup," jawab Rania, tersenyum dingin.
Glek
Lina menelan ludah nya kasar, aura yang dipancarkan Nona nya sekarang benar-benar berbeda, bukan lagi raga yang lemah, melainkan jiwa seorang pejuang yang siap membakar seluruh kediaman Belmont jika ada yang berani menghalangi jalannya.
"Dua hari lagi adalah perjamuan musim semi di istana, Duke pasti harus datang, dan Diana pasti akan memaksa membawa Viola, dan itu saat yang tepat untuk membongkar brankas di paviliunnya," batin Rania kembali menatap ke langit malam.
"Sistem, berapa sisa poin energiku?" tanya Rania, dalam hati.
Ding
"Sisa Poin Energi Anda 120 Poin."
"Level jiwa meningkat menjadi 45%. Anda akan mulai merasakan emosi Rania asli secara lebih intens."
"Sialan!" umpat Rania sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Aku tidak punya waktu untuk galau, kita punya kiamat yang harus dicegah dan sebuah dendam yang harus di balas kan," batin Rania, menarik nafasnya panjang.
"Lina, siapkan gaun terbaikku, walaupun itu gaun lama yang sudah kekecilan," ucap Rania dengan senyum misterius.
"Kita mau ke mana, Nona?" tanya Lina, bingung.
"Tentu saja untuk bersenang-senang, kita akan mengunjungi paviliun Diana," jawab Rania meraba belati kecil yang dia sembunyikan di balik pinggangnya.
Ding
"Misi Sampingan Baru, hancurkan harga diri Diana Belmont di depan para pelayannya."
"Hadiah, 100 Poin Energi & Kunci Gudang Rahasia Duchess Eleanor."
Mata Rania berbinar, saat mendengar hadiah misinya kali ini.
Kunci gudang ibunya? Itulah yang dia butuhkan untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Duches Eleanor ini yang sebenarnya.
"Mari kita mulai pertunjukannya," gumam Rania sambil melangkah keluar kamar dengan aura yang begitu kuat, membuat para pelayan yang berpapasan dengannya di lorong langsung menunduk ketakutan.
Rania berjalan menyusuri lorong panjang mansion Ayah nya dengan dagu terangkat.
Suara ketukan sepatu di atas lantai bergema, menciptakan irama yang mengintimidasi.
Beberapa pelayan yang sedang berlalu lalang langsung menghentikan aktivitas mereka, memberikan jalan dengan kepala tertunduk dalam.
"Lihat itu... bukankah itu Nona Rania?" bisik seorang pelayan setelah Rania lewat.
"Sst! Diam lah! Auranya hari ini mengerikan sekali, seperti melihat Duke saat sedang marah," sahut rekannya dengan suara gemetar.
Rania bukan nya tidak mendengar bisikan-bisikan para pelayan itu, tapi dia tidak peduli, karena saat ini tujuannya hanya satu, yaitu Paviliun Mawar, tempat kediaman Diana dan Viola yang mewah.
Sesampainya di depan pintu besar paviliun, dua pengawal bertubuh kekar langsung menyilangkan tombak mereka, menghalangi jalan Rania.
"Minggir," perintah Rania, dingin.
"Maaf, Nona Rania, Nyonya Diana sedang tidak ingin diganggu," ucap salah satu pengawal dengan nada yang meremehkan.
Rania menatap tajam pada prajurit itu, dia tidak mundur, justru dia melangkah lebih dekat hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan sepatu pengawal itu.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang meminta izin?" tanya Rania, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Nona, tolong jangan menyulitkan kami pergilah kembali ke gudang, maksud saya, ke kamar Anda," ejek pengawal lainnya sambil tertawa kecil.
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pengawal itu sebelum dia sempat menyelesaikan tawa ejekannya.
Kecepatan tangan Rania begitu luar biasa hingga tak ada yang sempat melihat gerakannya.
"Mulutmu terlalu banyak sampah untuk ukuran seorang penjaga pintu," ucap Rania dingin.
"K-kamu! Beraninya!" bentak Pengawal itu hendak menghunuskan pedangnya, namun Rania dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya dan mematahkan nya.
KRAK
"Aaaaaakkhhhh!"
Pria itu berteriak dan jatuh berlutut, seketika tangannya terasa lumpuh.
"Dengar ya, mulai hari ini, siapa pun yang menghalangi jalanku, aku tidak akan segan-segan mematahkan tulang kalian! Sekarang, buka pintunya atau mau aku jadikan kalian semua pria cacat?" ancam Rania, menatap tajam penjaga satunya yang kini sudah pucat pasi.
Tanpa banyak bicara, penjaga yang masih sehat segera membuka pintu ganda itu lebar-lebar.
Rania melangkah masuk dengan santai, diikuti Lina yang berjalan di belakangnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan bangga.
Sementara itu di dalam aula paviliun, Diana sedang asyik meminum teh sorenya bersama Viola, mereka berdua tampak tertawa membicarakan rencana gaun untuk perjamuan musim semi nanti.
"Ibu, aku ingin gaun sutra ungu yang bertabur berlian, aku ingin membuat Dante terpesona dan mengabaikan anak sialan itu selamanya," ucap Viola manja.
"Tentu, sayang, apa pun untuk mu, uang bukan masalah, Duke terlalu sibuk dengan urusan wilayah, dia dia tidak akan memeriksa-"
BRAKK
Pyar
Suara pintu yang ditendang keras membuat cangkir teh di tangan Diana terlepas dan jatuh hancur ke lantai.
"Selamat sore, Ibu tiri tercinta, sepertinya kalian sedang asyik membicarakan uang milik Ayahku ya?" sindir Rania, berjalan masuk sambil menepuk-nepuk debu imajiner di lengannya.
"Rania! Berani-beraninya kamu masuk tanpa izin ke paviliun saya!" teriak Diana, bangkit dari kursinya dengan wajah memerah.
"Izin? Ini rumah Ayahku, setiap jengkal tanah di sini adalah milik keluarga Belmont, dan setahu aku, namamu bukan Belmont sebelum kamu merangkak masuk ke sini, bukan?" jawab Rania, duduk di salah satu kursi mewah di depan Diana tanpa dipersilakan.
"Kamu! Dasar anak kurang ajar! Penjaga! Seret dia keluar!" pekik Diana murka.
"Penjaga di depan sedang sibuk belajar cara memegang pedang yang benar, jadi jangan harap mereka datang," ucap Rania, tersenyum miring.
"Rania! Kamu sudah gila ya? Kamu mau mati?!" Viola ikut berteriak, matanya melotot tidak percaya.
"Viola, jaga bicaramu, aku datang ke sini karena aku lapar, tadi pagi aku minta makanan layak dan obat, tapi yang datang justru dua pengawal bodoh kiriman ibumu. Jadi sekarang, aku datang untuk menagih janji itu secara langsung," ucap Rania, menatap kakak tirinya itu, tajam.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor