NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Sentuhan yang Mengubah Segalanya

Jari Lin Chen berhenti sesaat sebelum menyentuh bulu merah itu.

Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul dari dalam dirinya, sebuah firasat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Seolah ada suara yang berbisik jauh di dalam jiwanya.

Suara itu tidak memperingatkannya tentang bahaya.

Justru sebaliknya.

Suara itu seakan mengatakan bahwa apa yang akan terjadi setelah ini akan mengubah segalanya.

Bahwa ada saat-saat tertentu dalam hidup seseorang yang tidak dapat diulang.

Satu langkah kecil yang akan menentukan seluruh perjalanannya di masa depan.

Dan setelah langkah itu diambil, tidak ada jalan untuk kembali.

Lin Chen merasakan semuanya dengan jelas.

Namun ia tidak ragu.

Perlahan, tangannya bergerak maju.

Ujung jarinya akhirnya menyentuh bulu merah yang hangat itu.

Sesaat, tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada ledakan energi.

Tidak ada kilatan cahaya yang mengguncang langit.

Hanya kehangatan.

Kehangatan yang lembut dan hidup.

Kehangatan itu mengalir dari ujung jarinya menuju telapak tangannya, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.

Rasanya seperti menyentuh api yang tidak membakar.

Hangat, tenang, dan penuh kehidupan.

Tiba-tiba, makhluk kecil itu bergerak.

Kepalanya sedikit terangkat, kemudian kedua matanya perlahan terbuka.

Lin Chen terdiam.

Mata makhluk itu berwarna emas keemasan, seperti logam cair yang memantulkan cahaya matahari.

Meski tubuhnya tampak lemah dan sekarat, tatapan itu masih menyimpan sesuatu yang luar biasa.

Kebijaksanaan, Keagungan, dan seolah olah melampaui batas waktu.

Tatapan itu tertuju langsung kepada Lin Chen, seperti seseorang yang sedang memandang sosok yang telah lama dikenalnya.

Untuk sesaat, Lin Chen bahkan merasa bahwa dirinya sedang diteliti.

"Kau masih hidup..."

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Ia sendiri tidak tahu mengapa berbicara kepada makhluk yang bahkan mungkin tidak mampu memahami ucapannya.

Namun anehnya, hal itu terasa alami.

Makhluk kecil itu berkedip sekali.

Gerakannya lambat dan lemah, tetapi cukup untuk membuat jantung Lin Chen berdetak lebih cepat.

Lalu sesuatu berubah pada dirinya sendiri.

Di dalam tubuhnya, tempat yang selama bertahun-tahun hanya dipenuhi rasa sakit dan kegagalan.

Di antara meridian-meridian yang rusak, ada sesuatu yang bergerak.

Rasanya seperti sebuah pintu tua yang telah lama terkunci.

Pintu yang selama ini tidak pernah berhasil ia buka, dan sekarang, untuk pertama kalinya, kunci yang tepat seolah telah ditemukan.

Getaran halus menyebar dari dadanya.

Semakin kuat.

Semakin jelas.

Pada saat yang sama, tubuh makhluk kecil itu mulai memancarkan cahaya.

Awalnya hanya kilauan samar.

Bintik-bintik merah dan emas yang muncul di sela-sela bulunya yang kusam, namun dalam hitungan detik, cahaya itu bertambah terang.

Dan terus bertambah terang.

Semakin lama, semakin menyilaukan.

Lin Chen menyipitkan matanya.

Ia belum sempat memahami apa yang sedang terjadi.

Cahaya itu berkembang dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Dalam waktu singkat, area di sekitarnya telah dipenuhi sinar merah keemasan yang jauh lebih terang daripada cahaya matahari yang menembus hutan.

"Tunggu..." Lin Chen secara refleks mencoba menarik tangannya.

Namun gagal.

Bukan karena ada sesuatu yang mencengkeramnya.

Bukan pula karena tubuhnya kehilangan kendali.

Melainkan karena ia merasakan adanya hubungan yang tidak terlihat.

Sebuah ikatan yang menghubungkan dirinya dengan makhluk itu.

Tidak berwujud, namun terasa begitu nyata.

Seolah ada benang takdir yang mengikat keduanya menjadi satu.

Semakin keras ia mencoba melepaskan diri, semakin jelas ikatan itu terasa.

Makhluk kecil itu kembali membuka matanya.

Kali ini sepenuhnya.

Mata emasnya bersinar terang seperti dua matahari kecil di tengah kegelapan hutan.

Tatapannya masih tertuju pada Lin Chen.

Dalam sorot mata itu, Lin Chen seolah melihat sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh pikirannya.

Waktu terasa melambat.

Angin berhenti berembus.

Daun-daun berhenti bergoyang.

Bahkan suara hutan yang selama ini mengelilinginya mendadak lenyap.

Seolah seluruh Pegunungan Cang Lei sedang menyaksikan momen tersebut.

Kemudian, Cahaya itu meledak.

Sinar merah keemasan memenuhi seluruh area, menelan pepohonan, bebatuan, dan langit di atas kepala mereka.

Dalam sekejap, dunia di sekitar Lin Chen menghilang, ditelan oleh kegelapan, namun kegelapan itu berbeda dari apa pun yang pernah ia kenal.

Kegelapan itu terasa hidup. Dan memiliki tekanan yang seolah mampu menelan seluruh dunia.

Di tengah kehampaan itu, sebuah suara terdengar.

Suara seorang perempuan.

Terdengar lembut, tetapi mengandung kewibawaan yang sulit dijelaskan.

"Kau akhirnya datang."

Lin Chen ingin menjawab.

Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

"Jangan berbicara." Suara itu kembali terdengar. "Dengarkan saja. Waktu yang tersisa tidak banyak."

Di tengah kegelapan, sesuatu perlahan muncul, bayangan yang tersusun dari nyala api.

Bentuknya terus berubah.

Kadang menyerupai manusia.

Kadang berubah menjadi kobaran api yang menjulang tinggi.

Tidak pernah benar-benar tetap.

"Aku adalah Percikan Kesembilan." Suara itu bergema di seluruh ruang hampa. "Yang terakhir bertahan dari sembilan saudari Phoenix."

Nyala api di sekitarnya bergetar perlahan.

Seolah sedang mengenang masa lalu yang sangat jauh.

"Kami berasal dari Yang Sulung. Yang Pertama. Makhluk yang lahir sebelum dunia mengenal nama, sebelum langit dan bumi memiliki bentuk seperti sekarang."

Meskipun tidak sepenuhnya memahami kata-kata itu, Lin Chen dapat merasakan kesedihan yang tersembunyi di balik setiap kalimatnya.

Kesedihan yang begitu tua hingga sulit dibayangkan.

"Kami adalah penjaga keseimbangan antara langit dan bumi, tetapi keseimbangan tidak selalu disukai oleh mereka yang berkuasa."

Suasana di sekitar mereka berubah.

Tanpa peringatan, berbagai gambaran muncul dalam benak Lin Chen.

Langit yang terbakar.

Lautan api yang membentang tanpa ujung.

Gunung-gunung yang runtuh.

Bintang-bintang yang jatuh dari langit.

Dan sosok-sosok agung yang memancarkan kekuatan luar biasa sedang bertempur melawan sesuatu yang tidak memiliki bentuk, tetapi memiliki kehendak yang menekan seluruh alam.

Perang yang melampaui pemahaman manusia.

"Perang Kejatuhan Surga." Suara perempuan itu terdengar kembali. "Kami kalah."

Kata-kata itu sederhana, namun mengandung keputusasaan yang begitu dalam.

"Kami tidak dibunuh. Jalan Langit mengetahui bahwa membunuh kami hanya akan mengembalikan kekuatan kami ke alam semesta, lalu suatu hari nanti menyatukannya kembali."

"Karena itu, ia memilih cara lain." Api di sekeliling mereka bergetar hebat. "Kami dipecah."

"Ingatan kami disegel."

"Jiwa kami dilemparkan ke dalam siklus kelahiran kembali sebagai manusia biasa."

Lin Chen menatap sosok api itu tanpa berkedip.

"Kami hidup kembali, tetapi tanpa mengetahui siapa diri kami sebenarnya."

"Kekuatan Phoenix yang kami miliki tertidur jauh di dalam jiwa."

Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang tersisa.

Kemudian suara itu kembali terdengar, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang menyerupai harapan. "Tetapi ada satu hal yang bahkan Jalan Langit tidak mampu hapus."

"Apa itu?" tanya Lin Chen.

"Ikatan."

Sosok api itu menatapnya.

"Ikatan antara kami sembilan saudari. Dalam kehidupan ini, delapan saudari lainnya masih hidup."

"Mereka bereinkarnasi sebagai manusia."

"Mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa mengetahui siapa diri mereka sebenarnya."

Lin Chen merasakan jantungnya berdebar.

"Dan teknik yang akan kuwariskan kepadamu adalah satu-satunya cara untuk membangunkan mereka."

Keheningan kembali menyelimuti ruang itu.

Setelah beberapa saat, Lin Chen akhirnya bertanya, "Mengapa aku?"

"Aku bukan siapa-siapa."

Sosok api itu tersenyum tipis, senyum yang mengandung kelelahan sekaligus keyakinan.

"Justru karena itulah." Api di sekelilingnya perlahan membesar. "Seseorang yang memiliki segalanya akan takut kehilangan."

"Tetapi seseorang yang telah kehilangan hampir semuanya tidak lagi memiliki banyak hal untuk dipertahankan."

Tatapan api itu menjadi lebih tajam. "Warisan ini akan membawa bencana."

"Seluruh dunia kultivasi bisa menjadi musuhmu."

"Jalan Langit sendiri akan berusaha menghapus keberadaanmu."

"Orang biasa akan memilih mundur, tetapi kau tidak memiliki jalan untuk mundur."

Lin Chen terdiam. Karena ia tahu bahwa kata-kata itu benar.

"Seseorang seperti aku." Ia tersenyum pahit.

Sosok api itu mengangguk. "Seseorang seperti dirimu."

Perlahan, nyala api tersebut bergerak mendekat, lalu menyentuh dada Lin Chen.

Tidak ada rasa sakit, hanya kehangatan yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Seolah sesuatu yang telah lama hilang akhirnya kembali ke tempatnya.

"Warisan ini bukan hadiah." Suara perempuan itu mulai melemah. "Ini adalah beban sekaligus senjata."

"Gunakan dengan bijaksana."

Cahaya api mulai memudar sedikit demi sedikit, namun sebelum benar-benar menghilang, suara itu kembali terdengar.

"Temukan mereka, delapan saudari yang sedang menunggu tanpa mengetahui bahwa mereka sedang menunggu."

"Kembalikan apa yang telah dirampas oleh Jalan Langit."

Sosok api itu semakin transparan.

"Dan jika suatu hari langit mencoba menghentikanmu..."

Suaranya hampir menghilang, namun setiap kata tetap terdengar jelas di telinga Lin Chen.

"Jangan tunduk."

"Jangan menyerah."

"Lawan dan hancurkan."

Keheningan menyelimuti segalanya, kemudian suara terakhir itu bergema untuk terakhir kalinya.

"Jika langit menghalangi jalanmu... bakar langit itu."

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!