NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Kadir dan anak-anaknya keluar dari rumah setelah mendengar suara bising dari luar. semua anak, menantu cucu kadir berkumpul dirumahnya dan akan pulang setelah 7 hari tahlilan Midah, karena mereka tidak tega meninggalkan kadir dengan ayu yang hanya berdua, apa lagi sejak kejadian semalam nyawa ayu yang hampir direnggut oleh mahluk tersebut. para tetangga pun keluar untuk melihat suara berisik yang berada di dekat rumahnya Bukan kerumunan biasa. Mereka melihat orang-orang sibuk mengangkat barang dan ada tukang juga untuk menambah bangunan toko kelontong Samsul dan sitoh

Ayu belum pergi kesekolah, karena kondisinya masih lemah dan dia libur sekolah karena sakit. Malam tadi dia bilang ada tangan basah merayap dari bawah tempat tidurnya, berbisik memanggil nama namanya. Untung Kadir keburu masuk dan membaca ayat kursi sampai suaranya serak.

Di depan toko kelontong Samsul dan Sitoh, bangunan itu bertambah lagi.

Yang tadinya toko kelontong kecil dan sekarang jadi semakin besar. Ada ruangan baru di belakang, pintunya dicat hitam legam tidak ada jendela.

“Rezeki nomplok bener itu orang,” gumam Pak RT sambil mengusap jenggot. Tapi matanya tidak lepas dari tumpukan karung yang bercak coklatnya mirip sidik jari kecil.

Kadir berdiri di halaman rumahnya

Tangannya menggenggam erat yang bersembunyi di belakangnya dan kadir mulai curiga bahwa kematian istrinya ada hubungan dengan samsul dan sitoh, tapi dia tidak mau prasangka buruk dulu, karena dia tidak mempunyai bukti. Dia cuma menatap Sitoh yang berdiri di pintu toko.

Rambutnya masih acak-acakan, matanya merah karena tidak tidur. Tapi di bibirnya ada senyum tipis yang aneh dan Senyum orang yang baru saja menang atau baru saja kalah.

Pak RT masih berdiri di pinggir jalan, pura-pura ngobrol sama tukang. Tapi matanya tidak lepas dari karung beras yang bercak coklatnya belum kering. Dia pernah melihat bercak seperti itu, waktu dia memandikan mayat safri yang meninggal dengan cara tragis, tapi dia hanya diam dan tadi malam dia juga menyaksikan saat ayu anaknya pak Kardi yang hampir merenggang nyawa karena mahkluk menyeramkan itu.

Ibu-ibu tetangga yang tadi heboh sekarang mulai bisik-bisik di belakang punggung.

"Toko sebesar itu, duitnya dari mana...? Safri mati, Midah mati, dan tadi malam juga ayu hampir dibunuh sama mahkluk besar dan menyeramkan. pagi ini lalu toko samsul dan sitoh makin besar..." ucap tetangga yang bernama ani."Kalian tidak dengar....!Malam-malam ada suara anak menangis dari arah samping toko Samsul.

Suara bisik itu merambat dari satu halaman ke halaman lain, pelan tapi tidak bisa dibendung. Bahkan Pak RT yang biasanya netral udah berhenti nyapa Samsul kalau papasan di jalan.

Sementara itu, di dalam rumah. Ayu melihat semua itu dari jendela kamarnya.

Dia tidak menangis, Dia cuma berguman.

"apa yang kau tanam, suatu saat itulah yang kau hasilkan".Tangannya mencengkeram kusen kayu sampai buku jarinya putih.

Sejak kecil diajarin ibu kalau rezeki yang datang tiba-tiba tanpa keringat, biasanya minta dibayar mahal....? Mahal banget.Yang dia dengar sekarang bukan suara orang di luar, melainkan suara ibu dulu waktu mengaduk gula merah di tungku: pelan, sabar, dan selalu bilang."Kalau yang gampang itu datang sendiri, tanya dulu apa maunya."

Tangannya terlepas dari kusen. Pelan-pelan dia mundur dari jendela, lalu membuka laci kecil di meja. Di dalamnya ada buku catatan ibu, sampulnya sudah lusuh, pinggirnya menguning. Di halaman pertama tertulis dengan tinta biru yang mulai pudar:

"Kalau kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat, jangan lari". Tulis

Ayu sambil menggigit bibir. Dia melanjutkan tulisannya.

Di bawah, Kadir masih berdiri di halaman. Matanya tidak lepas dari rumah sitoh dan orang masih berlalu lalang untuk membangun toko samsul dan sitoh. Setelah berdiri beberapa saat, kadir dan anaknya masuk ke dalam rumah dan masih memikirkan darimana Samsul dan sitoh mendapatkan banyak uang untuk membangun toko sebesar itu.

Kadir mendorong pintu rumahnya sendiri dan diikuti anak-anaknya Bau lembap kayu jati dan kapur Barus masih masih melekat dirumah Kardi. Bau dan asap dapur menyambut mereka, Dia tidak langsung duduk. Dan masih Berdiri di tengah ruang tamu, menatap lantai papan yang sudah retak.

Biasanya setiap pagi Midah akan menyediakan kopi untuk menyambut pagi hari kadir, tapi hari ini...? walaupun rumah terasa ramai karena ada anak menantu kadir, tapi rumah akan tetap terasa sepi Tampa kehadiran sosok yang selalu tersenyum saat menyambut kadir pulang dari kerja. Anak-anaknya hanya menatap sendu ayah mereka, mereka memang kehilangan sosok seorang ibu, tapi ayahnya jauh lebih kehilangan sosok bidadari yang selama ini menemaninya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!