NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Gultik..

...****************...

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Ruangan yang tadi masih dipenuhi suara ketikan dan kertas yang dibolak-balik kini perlahan berubah sunyi.

Rhea menatap layar laptopnya beberapa detik terakhir sebelum akhirnya menekan tombol save. Ia mengembuskan napas panjang, bahunya langsung turun seperti baru saja melepas beban yang menempel sejak sore tadi.

“Sudah selesai, Pak.”

Arga yang sejak tadi duduk di sofa hanya mengangguk kecil tanpa banyak reaksi.

Rhea menutup laptopnya pelan lalu berdiri dari duduknya.

“Saya boleh pulang kan?”

“Naik apa kamu?”

“Mobil.”

Arga mengangguk pelan, lalu menatapnya sekilas.

“Kamu ke arah mana?”

“Eh… timur, Pak.”

“Hmm. Kalau begitu sekalian saja antar saya pulang.”

Rhea langsung terdiam beberapa detik.

“Lah? Kenapa jadi nganter Bapak segala?”

“Sudah, jangan banyak tanya.”

Rhea menghela napas panjang, ekspresinya jelas menunjukkan rasa pasrah yang sudah mencapai batas.

“Hadeh…”

Pada akhirnya ia tidak benar-benar punya alasan untuk menolak. Apalagi setelah seharian berada di ruangan itu, ia juga sudah terlalu lelah untuk berdebat panjang.

Beberapa menit kemudian, mereka mulai merapikan barang masing-masing. Arga memasukkan laptop ke dalam tasnya dengan gerakan rapi seperti biasa, sementara Rhea memastikan semua file di laptopnya sudah tersimpan sebelum mematikan perangkatnya.

Setelah itu mereka berjalan keluar ruangan bersama.

Lorong fakultas sudah semakin sepi. Lampu-lampu koridor memantulkan cahaya kuning hangat di lantai keramik yang mulai kosong. Suara langkah mereka terdengar jelas di antara dinding panjang yang hampir tidak lagi dilewati mahasiswa.

Mereka turun tangga bersama, melewati beberapa lantai hingga akhirnya sampai di parkiran yang jauh lebih dingin dan terbuka. Lorong-lorong parkiran yang biasanya ramai kini mulai lengang, hanya tersisa beberapa mobil yang masih terparkir rapi di bawah cahaya lampu yang menyala terang.

Angin malam menyapu pelan begitu mereka keluar dari gedung, membawa sisa hangat dari dalam ruangan yang baru saja mereka tinggalkan. Rhea sedikit merapatkan jaketnya, sementara Arga tetap berjalan dengan langkah tenang seperti tidak terlalu terpengaruh udara dingin itu.

Di parkiran, Arga berhenti dan menoleh ke arah Rhea.

“Mana kuncinya?”

Rhea langsung merogoh tasnya lalu menyerahkan remote mobil.

“Ini…”

Arga mengambilnya tanpa banyak bicara lalu menekan tombolnya.

Bip.

Suara kecil itu terdengar di antara deretan mobil, diikuti kilatan lampu yang menyala dari sebuah mobil berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari mereka.

Arga mengernyit kecil.

“Mobilmu yang ini?”

“Iya, Pak.”

“Kenapa mencolok sekali warnanya.”

Rhea langsung melirik mobilnya sendiri, lalu kembali menatap Arga.

“Biar kalau mobil saya masuk parkiran, semua orang tahu yang datang saya.”

Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mobil itu sekilas, lalu kembali menatap Rhea dengan ekspresi datar seperti biasa.

“Di sini hampir semua hitam dan putih, Pak. Jadi biar saya sendiri yang merah.”

Hening sebentar.

Angin malam lewat lagi di antara mereka, menyusup di antara deretan mobil yang diam tak bergerak, sementara lampu parkiran berkelip pelan seperti menyaksikan percakapan itu tanpa komentar.

Arga akhirnya mengalihkan pandangan, rahangnya sedikit bergerak kecil seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan terlalu jelas.

Setelah itu, tanpa banyak kata, mereka berjalan menuju mobil.

Pintu terbuka satu per satu, suara kecil “klik” terdengar saat Arga masuk lebih dulu ke kursi pengemudi. Rhea menyusul masuk ke sisi penumpang dengan gerakan tenang, menutup pintu tanpa suara berlebihan.

Beberapa detik kemudian, mesin mobil dinyalakan. Suara halus mesin mengisi kabin, disusul cahaya dashboard yang menyala lembut menerangi wajah mereka dalam nuansa redup.

Rhea menarik napas pelan sambil menyesuaikan posisi duduknya, lalu melirik ke kaca spion sekilas.

Mobil merah itu perlahan bergerak maju meninggalkan parkiran, decit roda-rodanya memecah sunyi malam kampus yang mulai kosong.

Dan dalam beberapa detik berikutnya, kendaraan itu melaju keluar dari area kampus, meninggalkan cahaya lampu yang memantul di kaca belakang seperti jejak yang perlahan menghilang di jalanan malam.

...****************...

Mobil merah itu melaju menyusuri jalanan kota yang mulai padat dengan lampu kendaraan. Dari balik kaca depan, jalanan tampak bergerak perlahan dalam arus malam yang mulai sibuk, sementara lampu-lampu jalan menyala satu per satu seperti garis cahaya yang memanjang.

Di dalam mobil, Rhea duduk di kursi penumpang. Kepalanya bersandar sebentar ke kursi, tubuhnya mulai terasa rileks setelah seharian penuh berada di kampus.

Di sampingnya, Arga menyetir dengan tenang. Tangannya mantap di setir, pandangannya fokus ke jalan, tanpa banyak gerakan yang tidak perlu.

Suasana di dalam mobil cenderung hening, hanya diisi suara mesin halus dan sesekali arah sein yang berbunyi pelan saat mobil berpindah jalur. Tidak ada percakapan, tapi juga tidak terasa canggung... lebih seperti diam yang sudah sama-sama diterima.

Beberapa detik kemudian, suara dering ponsel memecah keheningan itu. Rhea langsung menoleh ke arah tasnya yang diletakkan di pangkuan, lalu buru-buru merogohnya.

“Waduh…”

Begitu melihat nama di layar, ia langsung menekan tombol hijau tanpa pikir panjang.

“Halo, Mah…”

“Rhea…”

“Iya?”

“Kamu ini tidur di kampus atau gimana? Sudah mau jam tujuh ini. Kenapa tidak pulang-pulang?”

Rhea menoleh sekilas ke kaca depan, lalu kembali menatap ponselnya.

“I-Iya, Mah. Ini aku lagi di jalan pulang kok. Tadi banyak tugas jadi kerja kelompok dulu…”

Arga tetap fokus menyetir, tapi pandangannya sedikit bergeser ke arah Rhea. Tidak lama, lalu kembali ke jalan tanpa komentar apa pun.

“Haduh… kamu ini bikin orang tua kepikiran saja. Lain kali kabari mamah. Mamah sudah kirim pesan juga kamu tidak balas-balas.”

“Iya, iya, maaf Mah. Aku nggak sempat buka ponsel. Sudah ya, aku lagi di jalan…”

“Ya sudah, hati-hati.”

“Iya.”

Panggilan itu berakhir.

Rhea menurunkan ponselnya pelan, lalu kembali bersandar di kursi. Tangannya masih memegang ponsel, tapi fokusnya sudah kembali ke jalanan yang bergerak pelan di depan mereka.

Di sampingnya, Arga tetap menyetir tanpa banyak bicara, seolah percakapan tadi hanya lewat begitu saja di dalam mobil.

"Kita langsung pulang?"

“Iya. Memangnya Pak Arga mau pergi ke mana?”

Suara Rhea terdengar santai, tapi matanya masih memperhatikan jalan yang perlahan dipenuhi kendaraan malam. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantul di kaca depan seperti garis-garis cahaya yang bergerak pelan mengikuti laju mobil.

Arga tidak langsung menjawab. Tangannya tetap stabil di setir, fokusnya tidak benar-benar bergeser dari jalan, namun ada jeda kecil sebelum ia bicara.

“Saya mau ajak kamu makan sebenarnya. Tapi ibu kamu sudah menelponmu.”

Rhea menoleh sedikit, alisnya naik.

“Mau makan apa, Pak?”

“Apa saja. Terserah.”

Jawaban itu singkat, seperti biasa, tanpa banyak ruang untuk dibantah.

Rhea bersandar pelan di kursinya, lalu menghela napas kecil.

“Ya sudah, putar balik, Pak. Ke Blok M saja.”

Arga menoleh sekilas, kali ini lebih lama dari biasanya.

“Blok M?” ulangnya pelan. “Mau makan apa?”

“Kesana saja dulu. Biar nanti saya izin Mamah kalau makan dulu.”

“Hmm… Baiklah”

Untuk beberapa detik, Arga tidak langsung merespons. Mobil tetap melaju lurus, melewati lampu merah yang baru saja berganti hijau, sebelum akhirnya ia mengambil keputusan kecil di tengah jalan.

Setir sedikit diputar. Lampu sein menyala singkat.

Mobil merah itu perlahan berbalik arah di persimpangan, mengikuti arus kendaraan lain yang juga sibuk bergerak pulang dan mencari tujuan masing-masing.

Di dalam mobil, suasana tetap tenang. Angin dari AC mengalir pelan, bercampur dengan suara mesin yang stabil, sementara bayangan gedung-gedung tinggi melintas di kaca samping seperti potongan-potongan kota yang bergeser cepat.

Beberapa menit kemudian, arah mobil sudah berubah sepenuhnya.

Kini mereka melaju menuju kawasan Blok M yang mulai hidup di kejauhan... cahaya lampu jalan lebih padat, titik-titik keramaian mulai terlihat, dan ritme malam kota terasa semakin dekat.

...****************...

Perjalanan menuju Blok M memakan waktu beberapa belas menit. Semakin jauh mereka masuk ke pusat keramaian malam, jalanan pun mulai dipenuhi kendaraan yang bergerak rapat satu sama lain.

Lampu-lampu toko menyala terang di kanan kiri jalan. Beberapa kafe masih ramai, suara klakson sesekali terdengar bersahutan, sementara trotoar mulai dipenuhi orang-orang yang baru keluar kerja atau sekadar mencari makan malam.

Di dalam mobil, Rhea tampak jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Ia sesekali melihat ke luar jendela, memperhatikan suasana kota yang perlahan berubah semakin hidup.

“Ya ampun rame banget…” gumamnya pelan.

Arga tidak menjawab, hanya melirik sekilas ke arah jalan depan sebelum kembali fokus menyetir.

Beberapa menit kemudian, mobil mereka mulai memasuki kawasan Blok M.

Suasananya langsung berbeda. Lampu-lampu jalan terlihat lebih terang, deretan tempat makan berjajar rapat di sepanjang sisi jalan, dan aroma makanan dari pedagang kaki lima bahkan samar-samar sudah mulai tercium meski kaca mobil tertutup.

Rhea langsung menegakkan tubuhnya sedikit.

“Nah, masuk sini aja, Pak.”

Arga mengikuti arah yang ditunjuk Rhea sambil memperlambat laju mobil. Di sekitar mereka, suasana malam terasa ramai dan hangat sekaligus berisik dengan cara yang anehnya justru hidup.

Motor lalu lalang tanpa henti, suara orang bercakap bercampur tawa terdengar dari beberapa sudut, sementara asap tipis dari gerobak makanan naik pelan ke udara malam.

Mobil merah itu akhirnya masuk ke area parkir pinggir jalan yang masih tersisa beberapa tempat kosong.

Arga mematikan mesin mobil, dan untuk sesaat suasana di dalam kabin langsung berubah jauh lebih sunyi dibanding keramaian di luar.

Rhea buru-buru melepas seatbelt-nya lalu menoleh penuh semangat.

“Ayo, Pak.”

Arga mengangkat pandangannya pelan ke luar jendela, memperhatikan keramaian Blok M beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu mobil tanpa banyak komentar.

“Mau makan apa?”

“Gultik.”

Arga langsung menoleh kecil.

“Gultik?”

“Iya, gultik.” Rhea menatap Arga tidak percaya. “Pak Arga nggak tahu gultik apa?”

Arga hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan. Dan itu sukses membuat Rhea langsung membelalak.

“Belum pernah makan?”

Sekali lagi Arga menggeleng tenang.

“Ya ampun…” Rhea menatap dosennya itu seperti baru saja menemukan fakta paling mengejutkan malam ini. “Selama ini bapak makan apa sih?”

Arga menatapnya datar.

“Makanan.”

“Ya saya juga tahu kalau makanan, Pak.”

Rhea langsung berjalan lebih dulu melewati deretan pedagang sambil masih menggeleng kecil tidak habis pikir. Sementara Arga menyusul dari belakang dengan langkah tenang, tangannya memasukkan kunci mobil ke saku celana.

Suasana Blok M malam itu jauh lebih ramai dibanding yang terlihat dari dalam mobil tadi. Lampu-lampu warung menyala terang, suara motor bercampur obrolan orang-orang memenuhi udara malam, sementara aroma makanan dari berbagai arah bercampur jadi satu.

“Nah, sini Pak,” ujar Rhea sambil menunjuk salah satu lapak di pinggir jalan.

Arga mengikuti langkahnya sambil memperhatikan sekitar beberapa kali, mulai dari gerobak-gerobak sederhana sampai orang-orang yang duduk rapat di kursi plastik kecil.

Beberapa menit kemudian, Rhea berhenti di salah satu lapak gultik yang cukup ramai.

“Duduk sini aja.”

Ia langsung menarik satu kursi plastik kosong lalu duduk santai seperti sudah sangat familiar dengan tempat itu. Arga sempat diam sepersekian detik sebelum akhirnya ikut duduk di depannya.

Dan kontras itu langsung terasa.

Kemeja hitam rapi milik Arga, jam tangan mahal di pergelangan tangannya, lalu kursi plastik kecil di pinggir jalan. Rhea sampai harus menahan senyum sendiri melihat pemandangan itu.

Seorang bapak penjual segera menghampiri sambil membawa catatan kecil.

“Mau berapa, Neng?”

“Dua dulu, Pak,” jawab Rhea cepat. “Sama masing-masing dua sate.”

“Sate apa?”

“Campur aja.”

Penjual itu mengangguk lalu kembali ke arah gerobak.

Sementara itu Arga masih memperhatikan suasana sekitar dengan tenang. Di dekat mereka, suara sendok beradu dengan piring terdengar bersahutan, asap tipis dari kuah panas naik pelan ke udara malam, sementara orang-orang datang dan pergi tanpa benar-benar peduli siapa duduk di sebelah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!