Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWENTY FIVE
Di ruang makan lantai bawah, Tuan Besar Jerry Herlos tampak sedang duduk tenang menikmati sarapan paginya. Pria tua yang menjadi pilar tertinggi keluarga Herlos itu menurunkan cangkir tehnya saat mendengar suara langkah kaki yang ceria mendekat.
"Selamat pagi, Kakek Jerry!" sapa Della dengan senyum paling menawan yang ia miliki, mendudukkan diri di kursi samping pria tua itu.
Jerry Herlos terkekeh pelan, gurat wajahnya yang biasa tegas tampak melunak melihat keceriaan cucu menantunya. "Selamat pagi, Della. Wah, sepertinya suasana hatimu sedang sangat bagus pagi ini. Cucu menantuku yang cantik hendak pergi ke mana dengan pakaian serapi ini, hm?"
Della mengambil sepotong roti panggang, lalu menjawab dengan jujur, "Della berencana pergi ke mall untuk berbelanja, Kakek. Selama beberapa hari ini mendekam di rumah, Della agak bosan. Lagi pula, Della ingin membelikan beberapa set pakaian kantor baru, dasi, dan tas kerja untuk Aksa. Kemarin Della melihat ke dalam ruang pakaiannya, dan rasanya tidak banyak setelan jas yang Aksa miliki untuk dipakai ke rapat penting."
Mendengar perhatian Della yang begitu tulus terhadap cucunya, mata tua Jerry berbinar senang. Namun, ia mendadak teringat sesuatu. Jerry mengangkat tangannya, memanggil salah satu pelayan pelaksana yang berdiri di dekat dinding.
"Bawa kemari dompetku," perintah Jerry singkat. setelah pelayan itu kembali dengan dompet kulit buatan tangan miliknya, Jerry meraba bagian dalamnya dan mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna hitam legam dengan logo khusus perbankan privat keluarga Herlos. Ia menggeser kartu itu di atas meja ke hadapan Della. "Gunakan ini untuk belanjamu hari ini, Della."
Della terkejut, buru-buru melambaikan tangannya tanda menolak. "Ah, tidak usah, Kakek Jerry. Terima kasih banyak. Sebelum ke bawah tadi, Aksa sudah memberikan kartu untuk Della gunakan. Bahkan ada tiga kartu sekaligus."
Jerry Herlos tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang. "Hahaha! Della, dengarkan kakekmu yang tua ini. Kartu yang diberikan oleh Aksa itu adalah kartu kredit korporasi dan personal miliknya. Jika nanti di tengah jalan terjadi masalah sistem perbankan pada limit harian atau limitnya tiba-tiba habis karena kau membeli barang-barang bernilai ratusan juta, kau tidak akan bisa membayar di kasir."
Jerry mengetuk kartu ATM miliknya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. "Sedangkan yang kakek berikan ini adalah kartu akses langsung ke tabungan utama milik keluarga Herlos. Ini adalah dana cair tanpa batas. Uang di dalam sini berarti uangmu juga sebagai bagian dari keluarga ini. Jadi, simpan ini."
Melihat desakan yang penuh kasih sayang dari sang kakek, Della akhirnya tersenyum manis dan mengambil kartu tersebut. "Kalau begitu, Della tidak akan sungkan untuk menolaknya lagi, Kakek. Terima kasih banyak."
"Hahaha, begitulah! Bersenang-senanglah, cucu menantuku," ucap Jerry dengan nada bangga yang mutlak. "Keluarga Herlos tidak akan pernah kekurangan uang meskipun kamu berniat membeli seluruh isi pusat perbelanjaan terbesar di kota ini hari ini juga. Lagi pula, bajingan kecil Aksa itu sedang sangat sibuk dengan urusan transisi kantor, jadi dia tidak punya waktu untuk menemanimu keluar. Kakek merasa bersalah membiarkanmu kesepian."
Wajah Jerry mendadak berubah serius, suaranya merendah penuh kewaspadaan. "Nanti, sebelum kamu berangkat, kakek sudah meminta Zacky untuk menyiapkan beberapa pelayan wanita dan tim pengawal terlatih untuk mengawal dan melindungimu di luar. Kita tidak pernah tahu seberapa banyak musuh yang sedang mengintai di luar sana setelah pergerakan Aksa di rapat pleno kemarin. Mengerti?"
Della mengangguk dengan patuh, merasakan kehangatan perlindungan keluarga ini. "Baik, Kakek. Della mengerti." Ia pun segera menghabiskan sarapannya dengan hati yang penuh sukacita.
Pusat perbelanjaan mewah di pusat kota siang itu tampak cukup ramai. Della berjalan dengan anggun, diikuti oleh dua pelayan wanita yang bertugas membawa kantong belanjaan di belakangnya, serta dua pengawal berjas hitam yang menjaga jarak beberapa meter dengan waspada.
Della berkeliling dari satu outlet desainer ternama ke outlet lainnya. Tujuan utamanya tidak pernah berubah, mencari perlengkapan terbaik untuk suaminya. Lima setel jas kerja premium dengan potongan slim-fit modern berhasil ia pilih, lengkap dengan beberapa potong kaos oblong berbahan katun sutra kualitas terbaik untuk Aksa bersantai di rumah. Della membayangkan bagaimana tampannya Aksa jika mengenakan pakaian-pakaian pilihannya ini, dan senyumnya tidak pernah pudar.
Saat langkah kakinya melewati sebuah toko sepatu kulit buatan Italia yang terkenal, pandangan Della terpaku pada sepasang sepatu oxford hitam yang dipajang di etalase kaca depan. Desainnya sangat elegan, sangat cocok untuk karakter Aksa yang tegas.
Namun, tepat saat Della hendak membalikkan tubuhnya untuk melangkah masuk ke dalam toko tersebut, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan kasar dari arah samping, menarik tubuhnya hingga terhuyung mundur.
"Della! Akhirnya aku menemukanmu!"
Della tersentak kaget, rasa panik sempat menyergap dadanya sebelum ia mendongak dan menatap wajah pria yang baru saja menariknya. Adryan.
Sejak Della menginjakkan kakinya di pintu masuk mall satu jam yang lalu, Adryan yang kebetulan sedang berada di sana bersama rekan bisnisnya langsung mengenali sosok Della. Pria itu segera meninggalkan rekannya dan mengikuti pergerakan Della dari kejauhan dengan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang terpendam. Melihat Della yang kini tampak begitu cantik, terawat, dan dikelilingi oleh kemewahan yang bahkan tidak bisa diberikan oleh keluarga Gauta, ego Adryan sebagai mantan tunangan benar-benar tercabik-cabik.
"Adryan?!" Della menyentak tangannya dengan kuat, mencoba melepaskan cengkeraman pria itu. Wajah cerahnya seketika berubah menjadi dingin dan penuh rasa jijik. "Lepaskan tanganmu! Berani sekali kamu menyentuhku di tempat umum seperti ini!"
Kedua pengawal Herlos yang berjaga di belakang langsung bergerak maju dengan cepat, tangan mereka siap meraih kerah baju Adryan. Namun, Della mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar para pengawalnya menahan diri terlebih dahulu. Ia ingin menyelesaikan urusan ini dengan tangannya sendiri.
Adryan mundur satu langkah, namun matanya menatap Della dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan penilaian dan rasa frustrasi. "Della, lihat dirimu sekarang! Kamu berpakaian mewah seperti ini, berbelanja puluhan ratusan juta rupiah... Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?! Apa kamu lupa siapa dirimu sebenarnya?!"
"Apa maksudmu?" tanya Della, suaranya sedingin es di kutub.
"Della, ikut aku sekarang!" Adryan kembali maju, suaranya meninggi penuh pemaksaan. "Ceraikan orang gila itu! Ceraikan Dayaksa sekarang juga! Semua orang di kota ini tahu kalau suamimu itu adalah pria tidak waras yang sewaktu-waktu bisa mencekikmu sampai mati di dalam rumahnya! Untuk apa kamu bertahan hidup bersama monster cacat mental seperti dia, hah?!"
Mendengar suaminya dihina secara terang-terangan di depan mukanya, rahang Della mengencang. Ada amarah yang mendadak meletup di dalam dadanya, menggantikan rasa takut yang biasa ia rasakan jika berhadapan dengan keluarga Gauta.
"Jaga bicaramu, Adryan!" desis Della, matanya berkilat tajam menatap pria di hadapannya. "Dayaksa adalah suamiku yang sah. Dan dia jauh lebih terhormat daripada pria pengecut seperti kamu yang hobi mengemis kekuasaan!"
Adryan terkekeh merendahkan, wajahnya menunjukkan ekspresi muak. "Terhormat? Jangan membual, Della! Dia hanya pria kaya yang otaknya sudah rusak! Perusahaan Herlos Grup pun sebentar lagi akan jatuh karena ketidakwarasan suamimu itu! Kamu hanya dijadikan alat pemuas atau boneka penenang di rumah itu! Ceraikan dia, Della. Kembalilah padaku. Aku berjanji, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau! Kemewahan, status, uang... apa pun! Aku bisa memberikan semua yang kamu impikan selama ini!"
Della terdiam sejenak mendengarkan bualan Adryan yang begitu tinggi. Alih-alih merasa takut atau tergoda, Della justru merasa ingin tertawa melihat betapa dangkal dan menyedihkannya pemikiran mantan tunangannya ini. Sebuah senyum sinis yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya perlahan terukir di bibir indahnya.
Della memiringkan kepalanya sedikit, menatap Adryan dengan tatapan mengejek yang amat dalam. "Benarkah, Adryan? Kamu berjanji akan memberikan apa pun yang aku mau jika aku bercerai dari Aksa dan kembali padamu?"
Lucu deh kalian berdua