Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Asing di Tengah Kekacauanku
Derrt.... derrrtt...
Pagi di Jakarta selalu datang terlalu cepat bagi Joyce. Alarm ponselnya berbunyi sejak pukul enam, tetapi matanya sudah terbuka lebih dulu. Ia menatap langit-langit apartemen beberapa saat dengan mata sembab akibat tangisan semalam. Kepalanya berat, dadanya masih sesak, namun hidup tidak memberinya waktu terlalu lama untuk hancur.
Tagihan tetap berjalan. Pekerjaan tetap menunggu. Dan dunia tidak akan berhenti hanya karena hatinya patah.
Joyce duduk perlahan di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel yang sejak tadi dipenuhi puluhan pesan dari Arka.
“Please jawab.”
“Aku cuma mau jelasin.”
“Joyce..., jangan kayak gini.”
“Aku ke apartemen lagi nanti.”
Napas Joyce tercekat sesaat. Namun kali ini, ia tidak menangis. Dengan tangan gemetar, sambil menghela nafas panjang ia membuka kontak Arka… lalu menekan tombol block.
Selesai. Gadis itu mencoba tersenyum, meski masih ada nyeri di sudut hati yang paling dalam. Setidaknya itu yang ingin ia yakini.
“Aku harus bisa, Dunia ini tidak semuanya harus tentang Arka.. masih banyak keindahan, seperti mimpiku” bisiknya pelan pada diri sendiri.
Hari itu Joyce sengaja mengambil banyak pekerjaan agar pikirannya tidak kembali mengingat ballroom, cincin pertunangan, atau suara Arka semalam. Pagi ini ia sudah menyanggupi untuk menjadi moderator seminar bisnis, siang meeting dengan EO, sore hari ada janji nongkrong dengan Rike, lalu malam harus memandu launching produk sebuah perusahaan besar di hotel bintang lima kawasan Sudirman.
Hectic. Melelahkan. Dan justru itu yang ia butuhkan.
"Aku harus segera bersiap.."
Gadis itu segera beranjak dari pinggir ranjang, dan dengan semangat baru berjalan menuju bathroom.
**************
Marriot Executive Hotel...
Ballroom hotel malam itu dipenuhi para pebisnis dan media. Semua berjalan cepat. Kru hilir mudik membawa perlengkapan. Lighting diuji berkali-kali. Musik opening diputar berulang.
Joyce berdiri di dekat stage sambil memeriksa cue card, dan di sudut ruangan tempat rest panitia, Rike tampak menungguinya. Dia merasa belum bisa membiarkan Joyce sendiri, sehingga meski Joyce berusaha meyakinkannya jika dia sudah sanggup kembali bekerja, Rike tetap belum meninggalkannya sendiri.
"Sepertinya semua sudah siap, aku akan menyiapkan berkas ini di meja stage.."
Namun baru saja Joyce berjalan satu langkah, salah satu panitia tiba-tiba menabraknya dari belakang.
Bruk.
File-file di tangan Joyce jatuh berserakan. Gadis itu hanya menghela nafas, dan melihat kertas yang tadi di pegangnya berserakan di atas lantai.
“Maaf, Mbak! Maaf banget! Aku buru-buru nih.. maaf ya” sambil menunjukan kertas yang terhambur, teman panitianya segera bergegas meninggalkannya.
“It’s okay, lanjut saja..” jawab Joyce refleks sambil jongkok mengambil kertas-kertasnya.
Namun sebelum tangannya menyentuh lembar terakhir, seseorang lebih dulu mengambilnya. Sebuah tangan laki-laki.
“Sepertinya hari Anda cukup berat Ms.”
Suara itu tenang. Dalam. Dewasa..., dan membawa kesejukan dalam hati gadis itu. Baru kali ini, Joyce merasa ada yang memahami perasaannya malam ini.
Joyce mendongak perlahan. Dan untuk beberapa detik, ia lupa bagaimana cara bernapas normal.
Lelaki di depannya mengenakan setelan abu gelap dengan kemeja hitam tanpa dasi. Wajahnya tegas namun teduh. Tatapannya tenang, berbeda dari kebanyakan lelaki yang sering ia temui di acara formal.
Ia menyerahkan lembar cue card itu pada Joyce
“Terima kasih,” ucap Joyce singkat sambil berdiri, dan membungkukkan tubuhnya.
Lelaki itu memperhatikan wajah Joyce beberapa detik, lalu sedikit mengernyit.
“Anda kurang tidur.”
Joyce sedikit tersentak.
“Maaf?”
“Matanya bengkak.”
Jawaban itu terlalu jujur sampai Joyce tidak tahu harus tersinggung atau malu. Ia segera memperbaiki ekspresinya.
“Saya baik-baik saja.”
Lelaki itu tersenyum tipis. Seolah tahu bahwa Joyce sedang berbohong.
“Kalau begitu bagus.”
Belum sempat Joyce membalas, salah satu panitia datang tergesa.
“Pak Ardian, direksi sudah menunggu di VIP room.”
"Pak Ardian. Jadi namanya Ardian." batin Joyce
Lelaki itu mengangguk kecil sebelum kembali menatap Joyce.
“Sampai ketemu di atas panggung, Ms…?”
“Joyce.”
“Joyce, tunjukkan performamu. Aku yakin, performa terbaikmu akan menjadi obat masalahmu” ulangnya pelan.
Joyce tergagu sejenak. Entah kenapa, cara lelaki itu menyebut namanya terdengar berbeda.
“Semoga malam Anda berjalan lancar.”
Lalu Ardian pergi begitu saja menuju VIP room. Sementara Joyce masih berdiri diam di dekat stage dengan jantung yang mendadak berdetak aneh. Untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan Arka…Ada seseorang yang membuat pikirannya berhenti merasa kosong, meski hanya beberapa detik.
"Uhuk...uhuk.." terdengar suara Rike di belakang Joyce.
"Cie.. cie.. terpukau nih dengan Ardian CEO sekaligus owner Aethera Corporation"
"Hush lu ngaco aja Rik.. Siapa laki-laki tadi, memang lu tahu.."
"Allahu akbar Joyce.. Katak dalam tempurung lu... keluar, keluar. Jangan hanya ada Arka saja yang ada pada pikiran lu. Tadi yang nolongin lu itu Tuan Ardian pemilik Aethera Corporation yang mempekerjakan lu.."
"Uuppss... ya sorry Rik.. Gue bener-bener ga tahu. Baik orangnya, ga pandang, gue cuman orang freelancer bayaran, tapi beliau mau bantu. Hempphh... betapa senangnya ya, yang jadi karyawannya.." tanpa sadar Joyce memuji Ardian.
"Dah lanjut kerja aja lu... gue mau cari kopi dulu. Lihat.. kayaknya acara dah mau dimulai deh.."
"Okay.. yap.."
Rike dengan cepat berjalan meninggalkan Joyce. Dan tanpa berpikir panjang, Joyce segera berjalan di atas stage, karena partner kerjanya sudah melambaikan tangan kepadanya.
*************
Beberapa saat kemudian..
Ballroom Marriot Executive Hotel.. malam itu berubah jauh lebih megah dibanding beberapa jam sebelumnya. Cahaya LED memenuhi panggung utama dengan dominasi warna biru gelap dan silver. Giant screen di belakang stage menampilkan animasi produk terbaru milik perusahaan teknologi ternama, Aethera Corporation.
Para tamu undangan mulai memenuhi ballroom, investor, media, public figure, hingga jajaran direksi perusahaan besar. Suasana formal bercampur eksklusif terasa begitu kuat.
Di backstage, Joyce menarik napas panjang sambil memeriksa cue card untuk terakhir kalinya.
"Aku harus bisa perform dengan maksimal malam ini.." bisik gadis itu pelan dalam hati.
"Aku tidak mau, gara-gara Arka brengsek dan gadis bernama Celine, akan menghancurkan performku malam ini."
Gadis itu kembali menghela nafas panjang dan memejamkan mata sejenak, dan beberapa saat mata itu kembali terbuka. Ia menatap ruangan ballroom dengan senyum, sambil mengedarkan pandangan mata ke sekeliling ruangan.
“Opening video ready?”
“Ready!”
“Lighting cue?”
“Stand by!”
“CEO arrival?”
“On the way to ballroom.”
Semua berjalan cepat. Dan Joyce menyukai ritme seperti ini. Sibuk membuatnya tidak punya waktu untuk memikirkan luka.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin backstage. Gaun hitam satin dengan potongan elegan membuatnya terlihat profesional malam itu. Rambutnya disanggul sederhana, makeup flawless menutupi mata sembab yang beberapa hari terakhir selalu sulit disembunyikan.
“Show time in three minutes,” ujar salah satu kru.
Joyce mengangguk pelan.