NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah mati

Alan bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menampilkan panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun, bayangan yang terpantul di kaca bukanlah kemegahan kota, melainkan wajah Xarena yang tadi pucat pasi. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​Dendam adalah api yang ia pelihara selama lima tahun di negeri orang. Api itu yang menghangatkannya saat ia harus bertahan hidup di bawah telapak kaki keluarga Kusumaningrat, menjadi pion dalam permainan kekuasaan Monique demi mendapatkan modal untuk menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianatinya.

​"Kau pikir kau menderita, Xaren?" bisiknya pada keheningan. "Kau tidak tahu rasanya dibuang seperti sampah saat aku hampir mati mencarimu."

​Sementara itu, di toilet kantor, Xarena membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wanita yang tampak rapuh dengan mata sembab. Ia menarik napas panjang, berusaha mengusir sesak yang masih menghimpit dadanya.

​"Jangan menangis, Xarena. Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk masa lalu," gumamnya pada diri sendiri.

​Ia harus bertahan. Biaya pengobatan Mommy yang kian membengkak dan sekolah Ciara adalah prioritasnya sekarang. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini, meskipun bosnya adalah iblis dari masa lalunya sendiri.

​Saat ia keluar dari toilet, Kinan sudah menunggunya dengan wajah cemas. "Xaren, kamu oke? Si Bos Baru itu... dia galak banget ya? Mukamu pucat banget."

​Xarena hanya tersenyum tipis, sebuah senyum paksa yang tidak mencapai mata. "Hanya sedikit kaget, Nan. Tekanan kerjanya sepertinya akan sangat tinggi."

​"Yah, kudengar dia memang tangan besi. Tapi yang lebih parah lagi, Nyonya Monique itu sangat pencemburu. Kamu harus hati-hati, jangan sampai dia melihatmu salah sedikit saja," bisik Kinan penuh peringatan.

​Baru saja Xarena duduk di kubikelnya, interkom di mejanya berbunyi. Suara dingin Alan kembali menyapa indra pendengarannya.

​"Ke ruangan saya sekarang. Bawa semua data vendor lima tahun terakhir."

​Xarena tertegun. "Tapi Pak, data itu ada di gudang arsip di lantai bawah. Butuh waktu untuk—"

​"Sepuluh menit. Jika terlambat, anggap saja surat pengunduran dirimu sudah ada di meja saya," potong Alan sebelum memutus sambungan secara sepihak.

​Xarena tersentak. Sepuluh menit? Itu mustahil. Ia segera berlari menuju tangga darurat karena lift sedang penuh oleh karyawan yang ingin makan siang. Dengan napas terengah-engah, ia menggeledah tumpukan map di gudang arsip yang berdebu. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kelelahan fisik, tapi karena ketakutan akan kehilangan satu-satunya sumber penghasilannya.

Apalagi sekarang Xarena hanya bisa mengandalkan pendapatannya di perusahaan ini demi untuk menopang kehidupan keluarga Biantoro Grup yang telah bangkrut empat tahun yang lalu.

​Tepat pada menit kesembilan, ia kembali masuk ke ruangan Alan dengan rambut yang sedikit berantakan dan keringat di pelipis. Ia meletakkan tumpukan map itu di meja Alan.

​Alan melirik jam tangannya, lalu menatap Xarena dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "Berantakan sekali. Apa standar karyawan di perusahaan ini memang serendah ini?"

​Xarena mengepalkan tangan di samping tubuh. "Saya sudah membawakan data yang Bapak minta tepat waktu."

​Alan tidak menjawab. Ia membuka salah satu map, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai hingga kertas-kertasnya berserakan—persis seperti isi tas Xarena tadi pagi.

​"Susun kembali berdasarkan abjad. Sekarang. Di depan saya," perintah Alan sambil menyandangkan kaki di atas meja, menunjukkan kekuasaan mutlaknya.

​Xarena menelan ludah. Ia berlutut di atas lantai marmer yang dingin, mulai menyusun kertas-kertas itu satu per satu. Di atas sana, ia bisa merasakan tatapan Alan yang menghujam.

​"Bagaimana kabarmu, Xarena? Atau haruskah kupanggil... Nona Keuangan yang rajin?" tanya Alan tiba-tiba dengan nada sarkasme yang kental.

​Xarena tidak mendongak. "Saya baik, Pak. Terima kasih."

​"Baik? Setelah menghilang tepat di hari pemakaman ibuku? Setelah mematikan semua akses komunikasimu saat aku memohon bantuanmu?" Suara Alan mendadak rendah dan penuh kemarahan yang tertahan.

​Gerakan tangan Xarena terhenti. Luka lama itu kembali berdenyut. "Bapak salah paham. Saya—"

​"Salah paham?" Alan tertawa kering, suara yang terdengar lebih menyakitkan daripada bentakan. "Aku melihatmu, Xaren. Aku melihatmu masuk ke mobil mewah itu dengan pria tua itu. Kau memilih kenyamanan daripada pria miskin yang tidak punya apa-apa sepertiku."

​Xarena akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca. "Pria tua itu adalah—"

​"Cukup!" Alan memotong, tidak ingin mendengar penjelasan apa pun. Baginya, kenyataan yang ia lihat lima tahun lalu sudah cukup menjadi bukti pengkhianatan. "Aku tidak butuh penjelasanmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu satu hal: kau berutang padaku, dan aku akan menagihnya perlahan-lahan."

​Alan mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam netra Xarena. "Kau akan tetap bekerja di sini. Aku tidak akan memecatmu. Itu terlalu mudah. Aku ingin kau ada di sini, menyaksikan bagaimana aku hidup bahagia dengan wanita terkaya di negeri ini, sementara kau... kau akan tetap merangkak di bawah kakiku."

​Xarena merasakan dadanya sesak luar biasa. Ingin rasanya ia berteriak bahwa pria tua yang Alan maksud adalah paman yang membantunya melarikan diri dari kejaran penagih utang mendiang ayahnya. Ingin ia katakan bahwa ia menghilang demi melindungi Alan dari ancaman orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga mereka.

​Namun, melihat kebencian yang begitu pekat di mata Alan, Xarena sadar bahwa kata-kata tidak lagi berguna. Alan yang ia cintai sudah mati. Pria di hadapannya hanyalah cangkang kosong yang dipenuhi rasa dendam.

​"Selesai, Pak," ucap Xarena lirih setelah merapikan kertas terakhir. Ia berdiri dengan kaki yang terasa lemas.

​Alan hanya memberikan isyarat tangan agar ia pergi.

​Saat Xarena mencapai pintu, suara Alan kembali terdengar, kali ini lebih lembut namun tetap menusuk. "Besok malam, ada jamuan makan malam perusahaan. Kau harus datang sebagai asisten pribadiku. Monique akan ada di sana. Pastikan kau memakai baju yang... pantas untuk seorang pelayan."

​Xarena memegang gagang pintu dengan tangan gemetar. Ia tidak menoleh. Ia hanya melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan pria yang pernah menjadi dunianya, yang kini menjadi neraka baginya.

​Di dalam ruangan, Alan kembali menatap foto pernikahannya dengan Monique. Ia mengambil bingkai itu dan membaliknya hingga tertelungkup di meja.

​"Kau akan membenciku, Xarena. Sebagaimana aku membenci diriku sendiri karena masih belum bisa melupakanmu," bisik Alan, suaranya pecah di tengah keheningan ruang kerjanya yang mewah namun terasa hampa.

​Permainan baru saja dimulai. Di gedung megah itu, dua jiwa yang terluka terjebak dalam lingkaran dendam dan rahasia yang belum terungkap, sementara takdir tertawa melihat bagaimana cinta berubah menjadi senjata yang paling mematikan.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!