NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Konflik Kerajaan Central

Pagi hari yang cerah menyambut dengan hembusan angin Planet Nova yang terasa begitu menyejukkan. Suara sahutan burung-burung yang berkicau riang di pohon dekat rumah Alexa menambah kedamaian pagi itu.

"Alexa, mau Ayah antar ke sekolah?" tanya sang ayah sambil merapikan barang-barangnya.

"Gak usah, Yah. Soalnya aku sudah janjian dengan Tuan Putri Kirana buat ketemuan di jalan sebelah sana," sahut Alexa.

Sang ayah menatap putrinya dengan pandangan mengingatkan. "Kamu harus bisa membiasakan diri ya dengan Tuan Putri. Kau tahu sendiri dia itu tuan putri kerajaan."

"Tapi dia baik kok, Yah."

"Ya, Ayah hanya mengingatkan. Yaudah, berangkat sana. Ayah juga mau ke perkebunan lagi mau bekerja. Cepat, nanti Tuan Putri nungguin loh."

"Oke, Ayah, aku berangkat ya. Dadah!"

"Dadah!"

Alexa pun melangkah pergi menelusuri jalanan desa. Di tengah perjalanan, ia akhirnya bertemu dengan Kirana yang sudah menunggu di pinggir jalan, lengkap dengan pengawalan dua prajurit kerajaan di sisi kanan dan kirinya.

"Oi, Alexa!" seru Kirana begitu melihat temannya datang.

"Ya, Tuan Putri... Hosh, hosh," sahut Alexa sembari mengatur napasnya.

Kirana langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Kan kemarin aku sudah bilang, cukup panggil Kirana saja, jangan panggil Tuan Putri. Hadehh."

"Eh, ya, maaf, Kirana."

Kirana kemudian berbalik, menatap kedua pengawalnya dengan raut wajah memohon.

"Sudah, Pak Prajurit, jangan mengawal saya lagi. Saya ingin jalan berdua dengan Alexa saja."

"Maaf, Tuan Putri, ini adalah perintah dari Raja. Saya tidak bisa menolak," jawab salah satu prajurit dengan tegas namun tetap sopan.

"Haduh, risih juga sih kalau kayak gini." Kirana menggerutu pelan sembari melanjutkan langkah. "Kau tidak masalah, Alexa?"

"Gak apa-apa, Kirana."

"Yaudah, ayo berangkat. Kira-kira pelajaran hari ini tentang apa ya?"

Mereka berdua pun akhirnya berjalan beriringan menuju sekolah, diikuti oleh kedua prajurit yang menjaga jarak beberapa langkah di belakang.

Sementara itu, beralih ke situasi Kerajaan Central yang damai sebelum sebuah pesan penting menghampiri istana. Sang menteri berjalan tergesa-gesa di koridor menuju ruang utama untuk menemui sang raja.

"Hormat saya, Yang Mulia. Saya ingin memberikan laporan, Tuan Raja Nexalion Ars. Kami mendapatkan pesan dari Tetua Guardian Nova. Sang Guardian Nova ingin berbicara dengan Anda," lapor Menteri Ethan sembari membungkuk hormat.

Raja Nexalion menghentikan kegiatannya. "Sepertinya hal yang mendesak, ya?"

"Di dalam pesannya, dia menuliskan untuk segera ke sana," tambah Menteri Ethan.

"Baiklah kalau begitu. Tolong siapkan beberapa pasukan, persediaan makanan, dan... Kudaku."

"Siap, Raja."

(Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Guardian Nova memanggilku secara mendadak seperti ini? Semoga bukan pertanda buruk bagi planet ini.)

Di tengah lamunan sang raja yang mulai dilingkupi kecemasan, langkah kaki kecil terdengar mendekat. Putri Kinanti datang memecahkan keheningan, langsung memanggil ayahnya begitu masuk ke ruangan.

"Yah, Ayah, Kakak sudah berangkat ya? Baju olahraga dia ketinggalan." Kinanti menunjukkan pakaian di tangannya.

Raja Nexalion menghela napas lalu tersenyum tipis. "Wah, dia lupa lagi? Oh ya, apakah dia sudah mulai menerimamu?"

Raut wajah Kinanti seketika meredup, matanya menatap ke arah lantai. "Belum, Yah.

Aku masih diacuhkan. Kadang ketika aku memaksa untuk berbicara dengan dia, dia langsung bilang ke aku bahwa aku itu pembunuh Mama. Aku selalu berpikir... Semenjak aku lahir yang tidak tahu apa-apa ini, kenapa aku dicap pembunuh Mama oleh Kakak? Kalau aku bisa memilih, sebenarnya aku gak pengen dilahirkan jika aku menjadi penyebab kematian Mama." Air mata Kinanti mulai menetes membasahi pipinya.

Melihat hal itu, Raja Nexalion langsung mendekat dan memeluk Kinanti dengan erat, mencoba menyalurkan kehangatan seorang ayah.

"Jangan berbicara seperti itu, Kinanti. Mama sudah berjuang dalam melahirkan kamu, itu membuktikan Mama sangat menyayangimu. Kau nanti pasti akan mengerti ketika kau menjadi orang tua. Tidak apa-apa, Ayah yakin pasti kakakmu suatu saat akan menerimamu. Untuk sekarang biarkan saja dia. Udah, jangan menangis. Masa anak cantik Ayah begini menangis? Nanti cantiknya pudar kalau menangis. Oh ya, untuk anak yang kau temukan di sungai itu gimana kondisinya? Apakah dia sudah membaik?"

Kinanti mengusap air matanya, mencoba tersenyum kembali. "Sudah, Ayah. Dia lagi proses pemulihan sekarang. Nanti siang aku, Bibi, dan dia akan berjalan-jalan mengelilingi kota Central."

"Yaudah kalau sudah baik. Kalau memang dia sudah sembuh total, tanyakan kepadanya di mana dia tinggal, biar prajurit yang akan mengantar dia pulang."

"Oke, Ayah."

"Satu tambahan lagi, Ayah hari ini akan pergi ke luar daerah Central. Kemungkinan akan pergi selama tiga hari. Kau yang baik-baik saja ya di kerajaan. Kalau kau lagi butuh apa pun, tanyakan ke menteri dan bibi, oke?"

Kinanti langsung menegakkan tubuhnya, memberi hormat layaknya seorang prajurit.

"Siap, Kapten!"

Raja Nexalion tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan putri bungsunya. "Hahaha! Oke, sekarang berbalik pergi ke sekolah, siap grak!"

"Siap!"

Di saat yang sama, Menteri Ethan kembali masuk ke ruangan. "Kuda Anda sudah siap, Raja."

"Baiklah, aku akan pergi siang ini. Jaga kerajaan ini, Ethan, aku percaya padamu."

"Siap, Raja. Serahkan kepada saya."

Raja Nexalion bersama Menteri Ethan akhirnya berjalan keluar untuk memeriksa persiapan akhir sebelum keberangkatan mereka.

Kinanti yang masih berdiri di dalam ruangan tiba-tiba tersadar sambil menepuk dahinya sendiri. "Oh ya, tunggu! Baju Kakak gimana?"

Ia melihat ke luar jendela, mendapati ayahnya sudah berkuda menjauh bersama rombongan pasukan. (Yah, tampaknya Ayah sedang sibuk banget, ya. Sepertinya aku harus memberikannya sendiri ke sekolah.

Ehmmm... Bisa, ayo Kinanti!)

Dengan tekad bulat, Kinanti pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah kerajaan membawa baju olahraga kakaknya yang tertinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!