"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMINTA MAAF
Gesta dan Niar sepakat merancang start-up setelah bekerja, keduanya tak mau mencampurkan dengan urusan kantor. Dion dan Wilona belum menyerang Gesta, namun Jaka melaporkan keduanya sudah mengunjungi beberapa petinggi untuk mencari dukungan menurunkan Gesta dari perusahaan. Selagi, saat rapat para petinggi lain tidak membahas, Gesta tak akan menyinggung. Ia pun fokus pada pengembangan project yang sudah di rancang, meski kewaspadaan masih tetap ia pegang.
Gesta dan sang mama masih tidur di klinik, keduanya tak mau tidur di rumah karena dua anomali tak tahu diri itu masih betah di rumah utama. Selain melalui CCTV Gesta mengetahui kabar sang papa dari perawatnya, kadang sepulang kerja Gesta menyempatkan pulang, beruntung kata ART kalau jam 8an, Dion dan Wilona tak ada di rumah, mereka biasa pulang sekitar jam 1 malam. Aje gile, gitu kok mereka hidup.
"Ma..ma gi..na?" tanya papa, beliau selalu menanyakan sang istri pada Gesta. Tak dipungkiri menikah selama 26 tahun, porsi menyayangi istri sah tetap lebih besar. "Pa..pa ma..af!" ucapnya papa lagi.
"Mama baik, beliau tipa hari memantau lewat CCTV, jangan marah sama mama ya, Pa. Mama tak mau menginjakkan ke rumah ini karena ada Om Dion dan Wilo," Gesta mencoba menjelaskan, dan papa mengangguk, paham.
"Ma af!" begitu saja yang diucapkan sang papa, dan Gesta kok feeling ada hal lain yang ingin disampaikan papa pada mama.
"Mau video call mama?" tawar Gesta, dan beliau mengangguk. Gesta pun menyalakan panggilan video. Lama tak langsung diangkat, ia mencoba berulang.
"Iya, Ges?" tanya mama sepertinya beliau di dalam mobil. Gesta tak menjawab, tapi langsung mengarahkan ke wajah papa.
Spontan papa menangis layaknya anak kecil, mama kesal melihat wajah sang suami, tapi ia sadar sudah lama meninggalkan pasangannya dengan kondisi yang tak kunjung membaik itu. "Papa kangen sama mama kah?" tanya beliau, Gesta tersenyum kecil. Seolah sedang melihat drama percintaan yang mulai usang.
Papa mengangguk, lalu meminta maaf kepada mama dengan ucapan terbata. Mungkin mama Gesta sudah mulai ikhlas dan berdamai dengan jalan takdir. Cerewetnya beliau mulai muncul. "Mama juga minta maaf, di saat papa butuh mama, malah pergi. Ya maaf, Pa. Dua orang itu yang membuat mama pergi, bukan kesalahan papa juga. Rasanya mama melihat Dion dan Wilona di rumah itu serasa neraka, jadi mama lebih baik menghindar saja. Toh, papa juga mengizinkan mereka di sana."
"Ma-af!" hanya itu yang bisa diucapkan papa, dan mama memaklumi. Sejak dulu sang suami tidak bisa tegas pada sang adik. Selalu saja menuruti permintaan Dion, mau terlihat salah atau tidak, papa Gesta selalu melindunginya. Hingga terbawa sampai di usia yang tak mudah, selalu dijejali uang, tanpa ada dorongan untuk bekerja layaknya laki-laki normal.
Papa Gesta kembali berulah, kali ini sang perawat dibuat kebingungan setelah berjemur pagi dan sarapan. "El S Je!" ucap papa Gesta terbata, dengan suara cadel juga. Sang perawat bingung, mencoba menebak.
"RSJ?" ulang sang perawat, dan spontan papa Gesta mengangguk. Tumben pagi ini Gesta tak datang, Dion dan Wilona juga tadi malam tak datang.
"Bapak mau ke RSJ menemui siapa? Saya hubungi Pak Gesta dulu ya?" tawar sang perawat, jelas ia tak berani membawa papa Gesta keluar tanpa seizin keluarga. Dianggap menculik dan melanggar kode etik dari rumah sakit yang memperkerjakannya. Namun, tahu lah, orang yang sudah sakit dengan kadar ingatan tidak 100 % akan merengek layaknya anak kecil. Begitu juga dengan papa Gesta, ia tiba-tiba menangis sesenggukan, dan mengoceh tak jelas.
ART rumah pun menghampiri, khawatir sang perawat kesulitan mengurus majikannya sendiri. "Kenapa?" tanya Mbok Maryam. Irwan, sang perawat pun menjelaskan sesuai yang ia tangkap.
"Bapak mau ke RSJ ke siapa?" tanya ART yang tak tahu juga.
"Ke mama saya," tiba-tiba saja Wilona datang bersama Dion. "Kita sudah siap, Irwan kamu bisa ikut bisa juga enggak!" ucap Wilona layaknya nyonya di rumah ini.
Jelas saja Irwan ikut, nanti akan menghubungi Pak Gesta dan share lok juga. Wilona dan Dion pun mengantar beliau ke RSJ. Terlihat tubuh beliau gemetar, dan mengeluarkan keringat dingin. Irwan pun menatap pasiennya, memastikan bahwa keadaannya masih normal, papa Gesta hanya mengangguk, seolah memberikan isyarat dia tak apa.
Pak Gesta kami dibawa Pak Dion dan Wilona ke RSJ. Saya share lok. Saya tidak tahu kenapa kami dibawa ke mari. Mohon sekiranya Pak Gesta menjemput kita, karena Bapak sepertinya tak baik-baik saja. Mohon segera hubungi saya ya Pak Gesta.
Irwan memberanikan diri menghubungi Gesta, meski Wilona dan Dion bilang tak usah menghubungi Gesta maupun mamanya. Ini urusan masa lalu papa Gesta, begitu Pak Dion memberi peringatan.
Namun Irwan tak mau disalahkan nanti, ia hanya mengangguk saja, namun merekam peringatan Dion dengan voice note dan langsung mengirimkan pada Gesta. Mungkin lelaki itu sedang repot, tak merespon sama sekali.
Irwan pun meletakkan ponselnya di saku, rekaman video sudah disetting dan sebisa mungkin merekam aktivitas di sebuah kamar, ada seorang perempuan paruh baya duduk menghadap jendela, dan Irwan sedikit kaget saat Wilona menyapa, Mama.
Wanita itu menoleh dan tersenyum, kemudian menoleh ke arah pintu, matanya tiba-tiba membelalak karena kehadiran papa Gesta. Spontan saja wanita itu menunjuk dengan tangan dengan mata masih melotot.
"Kamu lelaki jahat! Kamu telah merusak masa depanku, kamu yang telah membunuh anak kita, hanya karena dia sakit-sakitan. Kamu tahu, aku memang salah telah menggoda kamu. Tapi kamu juga mau. Anakku sudah mati, kenapa kamu tak membiarkan dia hidup sedangkan uangmu banyak. Kamu hanya menghinaku sebagai perempuan murahan yang gak bisa memberimu keturunan yang sehat layaknya istri sahmu. Kamu jahat, kamu biada*. Aku benci sama kamu. Kamu tega menyetujui alat bantu nafas itu, aku yakin kalau alat bantu nafas itu masih kamu pertahankan anakku tidak akan mati. Kamu jahat. Mati saja kamu!" teriak mama Wilona, perawat RSJ memang ikut ke dalam ruangan tentu saja langsung memberikan obat penenang.
"Dia jahat! Nasib perempuan selalu disalahkan padahal dia juga tergoda!" ucap mama Wilona sebelum akhirnya tertidur.
"Sudah puas? Sudah puas kamu menyiksa mental mamaku! Harusnya kamu minta maaf pada dia sejak dulu, tapi kamu selalu mengagungkan uangmu. Menutup mulut mamaku dengan uang, tapi mamaku malah depresi, dan sekarang anakmu malah menghancurkan hidupku. Keluarga brengse* memang kalian!" ujar Wilona dengan menangis. Dion menepuk pundak Wilo, dan menyuruh perawat untuk membawa Papa Gesta keluar.
Papa Gesta menangis tersedu, sembari mendorong sang perawat sebisa mungkin mengirim video tersebut pada mama dan Gesta.
"ja..ha..t+! Ne...la ka! Ak..aku!" itu yang terdengar Irwan sepanjang lorong menuju parkiran.
lanjut pasti nya..
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭