Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Dunia Archeon tidak pernah lagi sama setelah jatuhnya Fort Aethelgard. Berita tentang "Sang Penelan Cahaya" menyebar seperti wabah ke seluruh penjuru benua. Rakyat jelata berbisik dalam ketakutan di balik pintu yang terkunci, sementara para raja di takhta emas mereka mulai merasakan dinginnya ajal yang mendekat.
Kael Ravenhart kini berdiri di garda terdepan pasukan Shadowspire. Namun, ia bukan lagi sekadar prajurit atau murid Vorgas. Ia adalah sebuah entitas. Namanya telah menjadi kutukan, dan keberadaannya adalah anomali yang menantang hukum alam.
Di perbatasan Timur, tepatnya di dataran tinggi Ironfang, pasukan Shadowspire mendirikan perkemahan yang tampak lebih seperti kota kematian. Tenda-tenda hitam besar berdiri di atas tanah yang telah mati, di mana rumput tidak lagi tumbuh karena mana negatif yang dipancarkan oleh ribuan prajurit Abyssal.
Di tenda pusat yang paling megah, sebuah perjamuan sedang berlangsung. Namun, tidak ada tawa atau denting gelas anggur yang ceria. Di atas meja panjang yang terbuat dari kayu hitam yang dipahat kasar, tersaji daging hewan buruan hutan terlarang yang masih mengeluarkan darah.
Vorgas duduk di ujung meja, membelah daging dengan pisau besarnya. Di sampingnya, Lady Malice menyesap cairan berwarna perak dari cawan kristal—mana murni yang diekstraksi dari tawanan perang.
Kael duduk di sisi lain, wajahnya tertutup bayangan tudung jubahnya. Ia tidak makan. Bagi seseorang dengan Sigil Void di tahap keempat, makanan manusia tidak lagi memberikan nutrisi. Ia hanya "lapar" pada energi.
"Kau membiarkan gadis Ashveil itu hidup," Vorgas memecah keheningan, suaranya berat dan bergema. "Itu adalah kelemahan, Kael. Di medan perang, kelemahan adalah racun yang akan membunuhmu lebih cepat dari pedang musuh."
Kael mengangkat kepalanya. Mata merahnya bercahaya di kegelapan tenda. "Dia bukan kelemahan. Dia adalah pesan. Katedral akan menghabiskan sumber daya mereka untuk menyembuhkannya, mencoba membangkitkan kembali api yang sudah kupadamkan. Mereka akan sibuk dengan kegagalan, sementara kita bergerak menuju jantung Solaria."
Lady Malice terkekeh, suaranya seperti gesekan sutra di atas batu nisan. "Pikiran yang tajam. Namun, kau harus tahu, Kael... Katedral tidak sebodoh itu. Mereka telah memanggil The Saint of Silence, ksatria kedua dari Holy Wardens. Dia tidak membawa api, dia membawa ketiadaan yang berbeda denganmu."
"Ketiadaan?" Kael bertanya datar.
"Sigil-nya adalah The Great Stillness," lanjut Malice. "Kemampuan untuk menghentikan semua getaran atom, membekukan mana, dan mematikan fungsi organ tanpa menyentuh. Dia adalah lawan alami bagi Void-mu yang haus akan pergerakan energi."
Kael mengepalkan tangan kirinya. Sigil di punggung tangannya berdenyut, seolah-olah menantang nama yang baru saja disebutkan.
"Biarkan dia datang..." bisik Umbra di dalam kepalanya, suaranya kini terdengar lebih serak dan lapar. "Aku ingin tahu, apakah kesunyiannya bisa bertahan saat aku merobek jiwanya dari dalam."
Fajar menyingsing di Ironfang, namun matahari tidak terlihat. Kabut hitam yang dibawa Kael telah menutupi langit sejauh mata memandang.
Di lembah bawah, pasukan Solaria telah bersiaga. Berbeda dengan para penjaga desa atau ksatria perbatasan, kali ini yang mereka hadapi adalah Legiun Radiant—pasukan elit yang setiap prajuritnya memiliki Sigil tingkat Rare. Zirah mereka terbuat dari baja suci yang diberkati, dan setiap perisai mereka diukir dengan mantra pelindung tingkat tinggi.
Di depan pasukan itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut putih yang dipotong pendek. Ia tidak mengenakan baju zirah berat, hanya jubah abu-abu sederhana. Ia tidak membawa senjata, namun kehadirannya membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Inilah Caspian, The Saint of Silence.
"Maju," perintah Vorgas dari atas bukit.
Pasukan Shadowspire menerjang. Draken memimpin di depan dengan kapak raksasanya, mengeluarkan raungan yang menggetarkan bumi. Xerxes, yang telah pulih dan kini memiliki api hitam yang lebih stabil, meluncurkan bola-bola api kegelapan ke arah formasi musuh.
Pertempuran pecah dengan brutal. Baja beradu dengan baja, sihir cahaya berbenturan dengan energi kegelapan. Tanah Ironfang segera basah oleh darah dari kedua belah pihak.
Kael tidak berlari. Ia melayang rendah di atas tanah, meluncur di atas karpet bayangan. Setiap kali ia melewati prajurit musuh, mereka jatuh tanpa luka luar—mana mereka tersedot habis hanya dengan berada di dekat Kael.
"Kael Ravenhart!" suara Caspian terdengar tenang, namun menjangkau seluruh medan perang. "Langkahmu berakhir di sini."
Caspian mengangkat tangan kanannya ke udara. Sebuah gelombang keheningan yang tak terlihat menyapu lembah.
Seketika, semua suara menghilang.
Dentuman meriam sihir, teriakan prajurit, bahkan desiran angin berhenti total. Dunia menjadi sunyi secara mutlak. Para prajurit Shadowspire yang berada di dekat Caspian mendadak membeku, jantung mereka berhenti berdetak bukan karena serangan, melainkan karena getaran hidup mereka dihentikan paksa.
Kael merasakan dampaknya. Sigil Void-nya biasanya bergerak liar untuk menghisap energi, namun di bawah pengaruh The Great Stillness, energi hitam di sekitar Kael menjadi kaku, seperti tinta yang membeku di tengah udara.
"Ini adalah kekosongan yang sesungguhnya," Caspian melangkah mendekati Kael. "Bukan kekosongan yang lapar seperti milikmu, tapi kekosongan yang tenang. Akhir dari segala kekacauan."
Kael mencoba menggerakkan pedangnya, namun lengannya terasa seberat gunung. Setiap kali ia mencoba mengeluarkan mana, mana tersebut langsung kehilangan energinya dan jatuh ke tanah sebagai abu kelabu.
"Dia... dia mengunci frekuensi kita, Kael!" Umbra terdengar panik untuk pertama kalinya. "Dia mematikan getaran mana di tingkat dasar! Jika ini terus berlanjut, Inti Manamu akan retak!"
Caspian berada hanya lima langkah dari Kael. Ia mengulurkan jari telunjuknya, mengarah ke dahi Kael. Sebuah titik cahaya putih kecil muncul di ujung jarinya—serangan yang akan mematikan seluruh aktivitas otak Kael secara instan.
"Kembalilah ke ketiadaan," ucap Caspian.
Namun, di ambang kematian itu, sesuatu di dalam diri Kael pecah. Bukan Inti Mananya, melainkan batas antara kemanusiaannya dan Void.
Kael teringat malam di Eldravale. Ia teringat rasa dingin saat semua orang membuangnya. Rasa dingin itu bukan sesuatu yang diam. Rasa dingin itu adalah rasa lapar yang aktif. Rasa lapar yang merobek sunyi.
"Kau salah, Caspian," suara Kael terdengar di tengah keheningan mutlak itu—sebuah anomali yang mustahil. "Void tidak tenang. Void adalah jeritan yang tak berakhir."
Kael membuka mulutnya, dan sebuah teriakan yang bukan berasal dari pita suara manusia keluar.
"VOID HOWL!"
Bukan suara yang terdengar oleh telinga, melainkan gelombang distorsi ruang-waktu yang meledak dari tubuh Kael. Keheningan Caspian retak seperti kaca. Getaran dunia kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat.
Caspian terlempar ke belakang, darah mengucur dari telinga dan matanya. "Mustahil... kau memecahkan Stillness-ku dengan kekacauan murni?"
Kael tidak menjawab. Ia kini berdiri dengan aura yang berbeda. Garis kelima di Sigil tangannya mulai terbentuk. Darah yang mengucur dari luka-lukanya tidak jatuh ke tanah, melainkan melayang di sekitarnya, berubah menjadi jarum-jarum kristal hitam.
"Kau bilang ini adalah akhir?" Kael melangkah maju. Setiap langkahnya kini menghancurkan realitas di sekitarnya. "Aku akan menunjukkan padamu apa yang ada di balik akhir itu."
Kael mengangkat kedua tangannya ke langit.
"Sihir Tingkat Terlarang: SINGULARITY."
Sebuah titik hitam pekat muncul di antara Kael dan Caspian. Titik itu kecil, namun massa dan daya tariknya melampaui logika. Tanah, batu, senjata, bahkan jasad prajurit yang tewas mulai tertarik masuk ke dalam titik itu.
Caspian mencoba merapal mantra perlindungan terakhirnya, namun mananya tertelan bahkan sebelum mantranya terbentuk. Ia tersedot perlahan menuju pusat gravitasi buatan Kael.
"Tunggu! Jika kau melakukan ini, kau akan menghancurkan seluruh lembah ini! Prajuritmu juga akan mati!" teriak Caspian dalam keputusasaan.
Kael menatap Caspian dengan tatapan kosong. "Mereka semua adalah bagian dari perjalanan ini. Dan Void tidak menyisakan ruang untuk saksi."
Titik hitam itu meledak.
Lembah Ironfang kini tidak lagi berbentuk lembah. Yang tersisa hanyalah sebuah kawah raksasa sedalam seratus meter yang dasarnya permukaannya halus seperti kaca hitam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pasukan Solaria, pasukan Shadowspire, dan pepohonan kuno semuanya telah lenyap, seolah-olah mereka tidak pernah ada dalam sejarah.
Di tengah kawah itu, Kael berdiri sendirian. Jubahnya hancur total, memperlihatkan tanda-tanda hitam yang merayap dari tangannya menuju leher dan wajahnya.
Vorgas dan Lady Malice berdiri di pinggiran kawah, menatap ke bawah dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Dia melakukannya," bisik Malice. "Dia melahap seluruh medan perang tanpa sisa."
"Dia melahap sekutunya sendiri," geram Vorgas, tangannya memegang gagang pedangnya dengan kencang. "Kael sudah mulai kehilangan kendali atas rasa laparnya. Jika kita tidak berhati-hati, kita adalah hidangan berikutnya."
Di dasar kawah, Kael berlutut. Ia merasa sangat kuat, namun ia juga merasa sangat... kosong. Ia tidak merasa senang karena telah mengalahkan salah satu Holy Wardens. Ia hanya merasa ingin "lagi".
Ia mengambil sebuah objek yang tertinggal di dasar kawah—sepotong kecil jubah abu-abu milik Caspian. Dengan satu remasan, kain itu berubah menjadi debu dan dihisap oleh tangannya.
Garis kelima kini telah sempurna.
Jauh dari Ironfang, di ibu kota Solaria, lonceng Katedral Pusat berdentang tujuh kali. Itu adalah tanda bahwa seorang Holy Warden telah gugur.
Di dalam ruang doa yang paling dalam, Liora Ashveil duduk di atas kursi roda. Tubuhnya masih dibalut perban sihir, namun matanya terbuka lebar saat merasakan hilangnya mana Caspian dari dunia ini.
"Caspian telah jatuh..." bisik seorang pendeta tinggi di belakangnya. "Sang Penelan Cahaya telah mencapai tahap kelima. Archeon sedang berada dalam bahaya tingkat kepunahan."
Liora mengepalkan tangannya di atas lututnya yang gemetar. "Aku harus pergi ke Spring of Genesis. Aku harus mendapatkan berkat dari Sang Pencipta jika ingin menghentikannya."
"Tapi Komandan Liora, tubuh Anda..."
"TUBUHKU TIDAK PENTING!" Liora berteriak, api biru kecil kembali menyala di matanya, meski terlihat lemah. "Kael bukan lagi pemuda yang aku kenal. Dia adalah lubang hitam yang akan menelan kita semua. Jika aku harus memberikan jiwaku pada cahaya untuk menutup lubang itu, maka aku akan melakukannya."
Pendeta itu menunduk. "Lalu, bagaimana dengan perintah Raja? Beliau ingin kita menggunakan 'Senjata Pemusnah' dari Era Dewa."
Liora membeku. "Maksudmu... The Sun-Cracker? Jika itu ditembakkan, setengah dari benua ini akan menjadi abu!"
"Itu adalah harga yang bersedia dibayar oleh Raja daripada melihat seluruh dunia menjadi bagian dari Void."
Kembali ke Shadowspire, Kael sedang berdiri di depan cermin besar. Ia menatap wajahnya. Kulitnya kini semakin pucat, hampir transparan, dengan pembuluh darah hitam yang terlihat jelas di sekitar matanya.
"Hanya tinggal dua garis lagi, Kael," Umbra tertawa di dalam pantulan cermin. "Dua garis lagi, dan kau akan menjadi pintu bagi penguasa sejati Void untuk masuk ke dunia ini."
"Siapa penguasa sejati itu?" tanya Kael pada pantulannya.
"Kau tidak perlu tahu sekarang. Yang perlu kau tahu adalah... kau butuh mana yang lebih besar dari ribuan prajurit. Kau butuh mana dari sebuah Kerajaan."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Vorgas masuk dengan wajah gelap. "Kita bergerak malam ini. Tujuan kita bukan lagi perbatasan."
Kael berbalik. "Ke mana?"
"Ibu kota Solaria. Kita akan menyerang jantung mereka sebelum mereka sempat mengisi ulang The Sun-Cracker. Jika kita bisa merebut Inti Mana Kerajaan di sana, kau akan mendapatkan garis keenammu."
Kael tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak memiliki kehangatan sama sekali. "Ibu kota... tempat di mana semuanya dimulai."
"Bukan, Kael," koreksi Lady Malice yang muncul di belakang Vorgas. "Eldravale adalah tempatmu lahir. Tapi Ibu kota adalah tempat di mana kau akan dilahirkan kembali sebagai Dewa."
Malam itu, pasukan sisa Shadowspire bergerak di bawah lindungan kegelapan total. Tidak ada obor, tidak ada suara langkah kaki. Hanya ribuan bayangan yang merayap di atas tanah, menuju pusat peradaban manusia.
Di tangan kiri Kael, Sigil Void mulai bergetar hebat. Ia bisa merasakannya. Inti Mana Kerajaan Solaria—sebuah kristal raksasa yang mengandung energi dari ribuan tahun pemujaan matahari.
Itu adalah hidangan utama yang telah ia tunggu-tunggu.
Namun, di tengah perjalanannya, Kael mendadak berhenti. Ia menatap ke arah langit barat. Ia merasakan sebuah kehadiran yang sangat ia kenal. Kehadiran yang hangat, namun kini bercampur dengan kepedihan yang tajam.
"Liora..." bisiknya.
"Jangan biarkan dia mengganggumu lagi, Kael," peringat Umbra. "Dia hanyalah sisa-sisa dari masa lalumu yang fana."
Kael tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan, namun untuk sesaat, air mata berwarna hitam menetes dari mata kirinya sebelum menguap menjadi asap kegelapan.
Peperangan akhir telah di depan mata. Dan di atas puing-puing dunia yang akan hancur, Kael Ravenhart akan menentukan apakah ia akan menjadi raja dari ketiadaan, atau mangsa dari kekuatannya sendiri.