Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: CINTA, DAN SEDIKIT KEKACAUAN
Suara bising helikopter dan dentuman di halaman depan kediaman Bogor perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang mulai bernyanyi di balik kabut.
Konflik besar itu berakhir bukan dengan ledakan dramatis, melainkan dengan pemandangan yang agak konyol, Baskoro tersangkut di pagar mawar berduri saat mencoba kabur, sementara Adrian yang akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi penjahat, duduk lesu di sofa ruang tamu sambil memegang kompres es di kepalanya akibat terkena lemparan vas bunga "nyasar" dari Laluna.
"Aku bersumpah, aku tidak berniat mengenai kepalamu, Adrian," ucap Laluna sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Aku mengincar Baskoro, tapi kau mendadak muncul di antara kami."
Adrian meringis.
"Setidaknya sekarang aku tahu, keluarga Arta Wiguna punya selera wanita yang... eksplosif."
Reihan, yang sedang mengancingkan kembali kemejanya yang robek di bagian bahu, hanya mendengus.
Ia berjalan mendekati Laluna, menarik istrinya menjauh dari kerumunan pengawal dan polisi yang mulai mendata kerusakan.
"Ayo pergi," bisik Reihan di telinga Laluna.
"Tempat ini terlalu ramai. Aku butuh udara yang tidak berbau mesiu."
Mereka tidak kembali ke apartemen mewah di Jakarta.
Reihan membawa Laluna ke sebuah paviliun kecil di bagian paling belakang perkebunan Bogor, tempat yang dulunya adalah dapur percobaan rahasia Kakek Surya.
Tempat itu sunyi, beraroma kayu tua, dan yang terpenting, memiliki oven batu yang masih berfungsi.
Begitu pintu tertutup, suasana tegang yang mencekam selama berjam-jam seketika luruh.
Reihan menyandarkan punggungnya di pintu, menatap Laluna yang sedang memeriksa stok tepung di lemari tua.
"Luna," panggil Reihan pelan.
Laluna menoleh. "Ya?"
Tanpa kata, Reihan melangkah maju dan menarik Laluna ke dalam pelukan yang sangat erat. Begitu erat hingga Laluna bisa merasakan detak jantung Reihan yang masih memacu kencang.
Reihan membenamkan wajahnya di leher Laluna, menghirup aroma vanila yang entah bagaimana masih tersisa di balik bau asap dan debu.
"Jangan pernah melempar vas bunga lagi," gumam Reihan, suaranya parau.
"Jantungku hampir copot saat melihatmu berdiri di tengah baku tembak hanya untuk menyelamatkan dokumen kakekmu."
Laluna tertawa kecil, tangannya mengusap punggung lebar suaminya.
"Aku harus menyelamatkannya, Reihan. Itu adalah tiket kita untuk mencuci piring bersama selamanya."
Reihan melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Laluna. Ia mengusap noda debu di pipi istrinya dengan ibu jari.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Ciuman itu terjadi dengan sangat lembut, penuh dengan rasa syukur dan janji yang tidak perlu diucapkan.
Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi bayang-bayang Adrian atau Malik. Hanya ada mereka berdua di antara bayang-bayang dapur tua.
"Ehem..."
Laluna tersentak dan melepaskan diri. Mereka menoleh ke arah jendela. Ternyata Dimas berdiri di sana, memegang sebuah kotak P3K dengan ekspresi wajah yang sangat datar seperti biasanya.
"Maaf mengganggu momen 'reintegrasi keluarga' ini, Tuan Reihan," ucap Dimas tanpa dosa.
"Tapi Anda perlu mengobati luka gores di bahu Anda sebelum infeksi, dan Nyonya Laluna... ayah Anda menelepon lima belas kali menanyakan apakah stok donat besok pagi aman karena ruko cadangan sudah mulai buka."
Reihan menghela napas panjang, kepalanya terkulai lesu di bahu Laluna.
"Dimas, aku akan memotong bonusmu tahun ini."
"Silakan, Tuan. Tapi Nyonya sudah berjanji memberi saya saham donat seumur hidup," balas Dimas sambil berlalu pergi dengan langkah tenang.
Laluna tertawa melihat Reihan yang kesal. Ia menarik tangan suaminya menuju meja dapur kayu yang besar.
"Sudahlah. Biar kuobati lukamu, lalu... mau membantuku?"
Reihan menaikkan sebelah alisnya. "Membantu apa?"
"Membuat donat. Toko cadangan butuh stok, dan aku butuh sesuatu untuk menenangkan sarafku."
Jadilah malam itu, sang CEO Arta Wiguna yang baru saja memenangkan perang korporat internasional, berdiri dengan apron yang kekecilan bergambar beruang lucu milik penjaga paviliun sambil memegang penggilas adonan.
"Reihan, kau menekannya terlalu kuat. Itu adonan donat, bukan kepala Tuan Malik," protes Laluna sambil menaburkan tepung ke arah Reihan.
"Ini sulit, Luna! Kenapa adonan ini terus menempel di tanganku?" Reihan menatap tangannya yang penuh dengan gumpalan putih dengan wajah frustrasi yang belum pernah dilihat dunia luar.
Tiba-tiba, Laluna mencelupkan jarinya ke dalam tepung dan mengoleskannya ke hidung Reihan.
Reihan terpaku. "Kau baru saja melakukannya?"
"Ya," tantang Laluna dengan mata berbinar.
Reihan menyeringai. Ia meraih segenggam tepung dan membalasnya. Dalam sekejap, dapur tua itu dipenuhi suara tawa dan kejar-kejaran kecil. Tepung beterbangan seperti salju di tengah malam Bogor yang dingin. Di sela-sela canda itu, Reihan menangkap pinggang Laluna, menariknya kembali ke dalam pelukannya.
Kali ini, tidak ada interupsi dari Dimas.
"Aku mencintaimu, Laluna," bisik Reihan, kali ini dengan keseriusan yang membuat napas Laluna tercekat.
"Bukan karena kau pemegang saham, bukan karena kau pelindungku. Tapi karena kau adalah satu-satunya orang yang membuat duniaku terasa seperti rumah."
Laluna tersenyum, menyandarkan dahinya pada dahi Reihan. "Dan aku mencintaimu, Reihan. Bahkan jika kau adalah pencuci piring yang buruk."
"Aaaahhh!"
Luna memekik, saat tangan kekar Reihan mengangkat tubuhnya dengan satu hentakan keatas meja kayu jati yang kokoh.
Seolah tau apa yang harus dia lakukan, Luna mengalungkan tangannya membalut leher Reihan dengan mesra. Seolah, tidak ingin pria itu pergi lagi darinya.