Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Pertama: Saham Adijaya
Layar monitor di ruang kerja Geovani memancarkan cahaya biru yang tajam, membiaskan bayangan wajah Briella yang tampak begitu fokus. Bau kopi hitam yang kuat menguap di udara, berpadu dengan aroma kertas baru dan mesin pendingin ruangan yang berdesing halus. Briella duduk tegak di kursi kulit milik Geovani, merasakan kekuasaan yang mengalir melalui ujung jemarinya.
Geovani berdiri di belakangnya, mencondongkan tubuh sedikit untuk memberikan akses penuh pada akun enkripsi tingkat tingginya. Udara di antara mereka terasa panas oleh ambisi yang sama, sebuah sinkronisasi gelap yang kini telah mengikat nasib keduanya. Pria itu meletakkan tangannya di sandaran kursi, mengawasi setiap pergerakan kursor di layar.
"Ingat, Briella, ini adalah operasi bayangan. Jangan tinggalkan jejak digital yang bisa ditarik kembali ke alamat IP mansion ini," bisik Geovani dengan suara bariton yang dalam.
"Aku tahu apa yang kulakukan, Dokter. Aku sudah mempelajari protokol keamanan keluarga Adijaya sejak aku masih tinggal di gudang mereka," sahut Briella tanpa menoleh, matanya terpaku pada barisan data klinik milik ayah Prilly.
Jari-jari Briella menari dengan lincah di atas papan ketik, menembus lapisan pertahanan server internal klinik Adijaya Medika. Ia mencari celah, sebuah borok kecil yang selama ini ditutupi dengan tumpukan uang dan pengaruh politik. Geovani hanya memperhatikan, memberikan kebebasan penuh bagi tawanannya untuk mengeksekusi rencana mereka.
"Kau menemukan sesuatu yang menarik?" tanya Geovani sambil memperhatikan sebuah folder berjudul Laporan Audit Farmasi yang baru saja dibuka oleh Briella.
"Lebih dari sekadar menarik. Ayah Prilly rupanya membiarkan penggunaan alat suntik daur ulang di klinik satelitnya untuk menekan biaya operasional," Briella tersenyum sinis, sebuah ekspresi yang tampak asing namun mematikan di wajah cantiknya.
"Itu adalah malpraktik ringan yang cukup untuk memicu keraguan publik. Jika ini meledak, kepercayaan investor pada saham induk Adijaya akan goyah," komentar Geovani dengan nada datar yang penuh perhitungan.
Briella mulai menyusun rangkaian informasi tersebut menjadi beberapa unggahan anonim di media sosial dan forum diskusi kesehatan kelas atas. Ia menggunakan jalur VPN berlapis yang disediakan oleh sistem Geovani, memastikan bahwa penyebaran berita ini terlihat seperti bocoran dari orang dalam klinik.
"Satu unggahan pertama untuk memancing rasa penasaran publik. Aku akan menyebarkan foto kwitansi pembelian alat medis yang tidak sesuai standar ini," gumam Briella sambil menekan tombol kirim.
"Bagus. Sekarang, tambahkan bumbu tentang keluhan pasien yang selama ini diselesaikan di bawah meja. Biarkan publik merasa bahwa mereka adalah korban potensial selanjutnya," tambah Geovani dengan arahan yang keji.
"Aku sudah menyiapkan akun-akun bot untuk menyebarkan ini secara organik. Dalam dua jam ke depan, nama klinik Adijaya akan menjadi tren negatif di seluruh jaringan Etheria," Briella menyandarkan punggungnya sejenak, menatap layar dengan kepuasan.
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur kehancuran keluarga Adijaya. Briella merasa detak jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gairah balas dendam yang akhirnya mendapatkan penyaluran.
"Kenapa kau membantuku sejauh ini, Geovani? Kau bisa saja kehilangan segalanya jika aliansi kita terbongkar," tanya Briella tiba-tiba, matanya menatap pantulan Geovani di layar monitor.
Geovani menarik napas pendek, matanya menatap tajam ke arah Briella melalui kacamata berbingkai peraknya. "Karena aku benci ketidakteraturan, dan keluarga Adijaya adalah anomali yang harus disingkirkan dari sistem Upper-Chrome. Lagi pula, melihatmu menghancurkan mereka memberikan kepuasan intelektual tersendiri bagiku."
"Hanya kepuasan intelektual? Aku pikir kau menyukai rasa sakit yang kurasakan," sahut Briella dengan nada yang sedikit menggoda namun tetap dingin.
"Rasa sakitmu adalah katalisator. Aku lebih tertarik pada apa yang bisa kau hasilkan dari rasa sakit itu. Dan malam ini, kau menghasilkan kehancuran ekonomi bagi musuhmu," jawab Geovani sambil mengusap pundak Briella pelan.
Layar monitor mulai menunjukkan notifikasi yang masuk dengan cepat. Unggahan Briella telah dibagikan ribuan kali, memicu perdebatan panas di kalangan elit dan masyarakat umum. Beberapa jurnalis investigasi mulai menandai akun klinik Adijaya untuk meminta klarifikasi, sebuah tanda bahwa serangan pertama mereka berhasil.
"Lihat ini, Geovani. Saham Adijaya Group mulai merangkak turun di pasar pra-pembukaan. Investor mulai panik sebelum matahari terbit," Briella menunjukkan grafik perdagangan yang mulai menunjukkan garis merah.
"Itu baru permulaan. Ayah Prilly akan mencoba melakukan buyback untuk menstabilkan harga, tapi jika kau terus membocorkan bukti-bukti baru, dia akan kehabisan likuiditas dalam waktu singkat," Geovani menganalisis dengan nada dingin.
"Aku punya lebih banyak bukti. Malpraktik di laboratorium, manipulasi laporan asuransi, semuanya sudah ada di tanganku," Briella mengepalkan tangannya, merasakan kemenangan kecil yang sangat manis.
"Simpan sisanya untuk besok. Kita butuh serangan yang berkelanjutan. Jangan biarkan mereka memiliki waktu untuk bernapas atau melakukan manajemen krisis yang efektif," instruksi Geovani dengan ketegasan seorang jenderal.
Briella menutup jendela peramban dan mematikan monitor, membiarkan ruangan kembali tenggelam dalam temaram lampu meja. Ia berbalik dan menatap Geovani, menyadari bahwa pria di depannya adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya meraih puncak kemenangan, meski ia harus membayar dengan kepatuhan total.
"Terima kasih atas aksesnya, Dokter. Aku tidak menyangka akunmu memiliki jangkauan seluas ini," ujar Briella sambil berdiri dari kursi.
"Akun itu adalah kunci kerajaan. Dan kau baru saja menggunakannya untuk membakar satu gerbang musuh. Sekarang, bersiaplah untuk kembali ke kenyataan besok pagi," Geovani menatap lebam di pipi Briella yang sudah mulai memudar, namun kebencian di mata gadis itu justru semakin pekat.
"Aku tidak sabar melihat wajah Prilly saat dia menyadari bahwa uang ayahnya tidak bisa membeli kembali reputasi yang hancur," bisik Briella dengan nada yang sangat rendah.
"Dia akan hancur, Briella. Perlahan namun pasti. Dan kau akan ada di sana untuk menyaksikannya dari barisan paling depan," janji Geovani sambil memberikan sebuah ponsel baru yang telah terenkripsi kepada Briella.
Briella menerima ponsel itu, merasakan beban tanggung jawab baru di tangannya. Serangan pertama telah diluncurkan, dan dampaknya mulai merambat melalui jaringan saraf bisnis keluarga Adijaya. Malam ini, ia tidur dengan senyuman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sementara di kediaman Adijaya, kepanikan mulai membara.
"Selamat malam, Dokter. Sampai jumpa di medan perang besok," Briella melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak.
Geovani tetap tinggal di ruangan itu, menatap kursi kosong yang baru saja diduduki Briella. Ia tahu bahwa ia telah melepaskan sebuah kekuatan yang tidak bisa lagi ia kendalikan sepenuhnya, namun itulah yang membuatnya tertarik. Baginya, Briella bukan lagi sekadar subjek penelitian, melainkan rekan dalam kegelapan yang sangat menjanjikan.
Di luar, angin malam Etheria bertiup kencang, seolah membawa kabar buruk ke gerbang kediaman Adijaya. Saham yang turun, reputasi yang tercoreng, dan musuh yang bersembunyi di balik layar adalah awal dari akhir bagi mereka yang dulu merasa tak tersentuh. Briella telah memulai tariannya, dan ia tidak akan berhenti sampai musiknya berakhir.