NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: DEBUR OMBAK DI PANTAI LARANGAN

VREEEUMMM... GRRR... (Suara mesin bus yang dipaksa mendaki)

Bus antar kota yang ditumpangi Arka Nirwana melaju membelah jalanan berkelok di lereng pegunungan kapur menuju arah selatan Malang.

Aroma udara berubah, dari bau pinus dan tanah lembap Kota Batu, kini menjadi aroma garam yang tajam dan panas yang menyengat.

Arka duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar hebat. Di pangkuannya, sebuah ransel kumal berisi beberapa potong pakaian dan buku catatan tua.

Di mata penumpang lain, Arka hanyalah seorang pemuda yang sedang mencari kerja atau mungkin mahasiswa yang sedang melakukan riset lapangan.

Tak ada yang menyangka bahwa pemuda ini baru saja meruntuhkan jaringan korupsi di Dinas Tata Kota hanya dengan satu panggilan telepon.

Arka melirik kaca spion bus. Dua motor trail hitam tanpa plat nomor itu masih di sana. Mereka menjaga jarak sekitar lima puluh meter, mengikuti setiap tikungan dengan presisi militer.

“Bukan Lembah Hitam. Mereka terlalu rapi,” batin Arka. “Ini adalah unit taktis The Sovereign. Mereka tidak menyerang di tempat umum karena mereka masih meragukan identitas asliku.”

CIIIIISSSS! (Suara rem angin bus)

Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal kecil yang gersang di pinggiran Sendang Biru. Arka turun, menyesuaikan topi rimbanya. Udara panas langsung menyergap kulitnya. PHEW...

Ia berjalan menuju sebuah warung kopi sederhana di pojokan terminal untuk mengamati situasi.

"Kopi hitam satu, Mak. Gula sedikit saja," ucap Arka ramah pada pemilik warung, seorang wanita tua dengan kain jarik yang tersampir di bahunya.

Sambil menunggu kopi, Arka merogoh kerang kecil pemberian pria misterius di bus tadi. Kerang itu terasa dingin, kontras dengan cuaca yang membara.

Saat ia memutarnya, ia merasakan getaran halus di bawah telapak tangannya. DZZZT... (Getaran halus di telapak tangan Arka)

Segel Bumi miliknya merespons. Di bawah tanah pesisir ini, ada aliran energi yang sangat kuat seperti nadi raksasa yang sedang berdenyut.

"Mau ke pantai, Mas?" tanya si Emak sambil meletakkan segelas kopi panas.

"Iya, Mak. Katanya di daerah sini ada gua yang isinya naskah-naskah kuno. Saya kolektor buku loak," jawab Arka, tetap menjaga narasi "penjual buku"-nya.

Wajah si Emak mendadak serius. Ia mendekat, suaranya mengecil. "Kalau mau ke pantai wisata, silakan. Tapi kalau mau ke arah barat, ke Pantai Larangan, mending jangan."

"Di sana lagi banyak 'orang kota' yang bawa alat-alat berat. Katanya mau bangun hotel, tapi kelakuannya kayak orang cari harta karun. Warga nggak boleh masuk, katanya itu zona terlarang."

SLRUUPPTT!!

Arka menyeruput kopinya. “Zona terlarang? Tepat seperti yang tertulis di peta meridian.” batin Arka.

"Terima kasih informasinya, Mak. Saya cuma mau lihat-lihat saja kok," Arka membayar kopinya, lalu beranjak pergi.

Arka mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah tebing-tebing karang. Dua motor trail itu tidak lagi mengikuti lewat jalan utama. SREK... SREK... (Suara ban motor di atas daun kering).

Mereka menghilang ke dalam hutan jati. Arka tahu mereka sedang mencoba melakukan pengepungan dari dua arah.

Setelah berjalan sekitar tiga kilometer, pemandangan berubah drastis.

BYURRRRR! (Ombak menghantam karang)

Di depan Arka, terbentang garis pantai yang liar dengan ombak samudera hindia yang menghantam karang-karang tajam.

Namun, yang menarik perhatian adalah sebuah pagar kawat berduri yang membentang menutupi akses menuju sebuah teluk kecil.

Di sana, beberapa tenda militer berwarna abu-abu berdiri, lengkap dengan parabola satelit dan menara pengawas darurat.

Di atas pagar itu terpasang papan bertuliskan: PROYEK PENELITIAN KELAUTAN - DILARANG MASUK.

Arka bersembunyi di balik pohon besar, memperhatikan penjagaan di sana. Mereka mengenakan seragam kontraktor swasta, tapi gerakan mereka sangat terlatih. Mereka memegang senapan serbu yang disembunyikan di balik jaket.

"The Sovereign benar-benar bergerak cepat," gumam Arka. "Mereka sudah menemukan koordinat Nadi Samudera."

Tiba-tiba, dari belakang... SYUT!

Suara langkah kaki di atas daun kering terdengar dari belakangnya. Arka tidak menoleh. Ia hanya menggeser kakinya sedikit ke kanan.

TAK!  Sebuah anak panah kecil dengan ujung beracun menancap di batang pohon tempat kepala Arka berada tadi.

"Siapa di sana? Keluar," ucap Arka datar.

Dari balik semak-semak, muncul dua pria dengan pakaian taktis hitam, pengendara motor trail tadi.

Salah satunya memegang crossbow mekanik, yang lainnya memegang pisau komando yang dilapisi karbon hitam agar tidak memantulkan cahaya.

"Tuan Arka Nirwana," ucap pria yang memegang pisau. "Anda membawa kami menempuh perjalanan yang cukup jauh."

"Sekarang, serahkan Peta Meridian itu secara sukarela, atau kami akan memotong tangan Anda sebelum mengambilnya."

Arka berbalik perlahan, menatap kedua pria itu dengan pandangan malas. "Kalian dari Black Order atau langsung dari pusat The Sovereign? Kenapa tidak kirim orang yang lebih sopan sedikit?"

"Jangan banyak bicara!" Pria dengan pisau itu menerjang. WUUUTSH!  Gerakannya sangat cepat, jauh di atas level preman pasar. Ini adalah pembunuh profesional yang sudah melalui ribuan jam latihan close-quarter combat.

Arka menarik napas panjang. FIIIIUUUU...  Ia merasakan belenggu di punggungnya berdenyut menyakitkan. Kekuatannya tetap terbatas di 1% fisik dan 5% Segel Bumi. Ia tidak bisa melakukan sihir. Ia harus bertarung secara manual.

TAK!

Arka menangkap pergelangan tangan pria itu dengan gerakan yang sangat efisien. Ia tidak membalas dengan pukulan. Ia hanya menggunakan berat badan lawan untuk membantingnya ke arah pohon.

DUAK!

Pria itu terhuyung, namun segera melakukan recovery dengan gulingan di tanah. Sementara itu, pria dengan crossbow melepaskan tembakan kedua.

Arka tidak menghindar kali ini. Ia mengambil tas ranselnya dan menggunakannya sebagai perisai. Anak panah itu menancap di dalam tumpukan buku catatan Arka yang tebal.

Di saat yang sama, Arka melemparkan kerang kecil dari sakunya ke arah pria dengan crossbow. BUM!

Kerang itu tidak berat, tapi Arka menyalurkan sedikit getaran Segel Bumi ke dalamnya saat melempar.

Kerang itu mengenai dahi pria penyumpit itu. Meski kerangnya kecil, dampaknya seperti dihantam batu seberat lima kilogram. BRUK!  Pria itu terjengkang, pingsan seketika dengan dahi membiru.

"Tinggal satu," ucap Arka pada pria berpau pisau.

Pria itu mulai ragu. Ia melihat temannya tumbang hanya dengan lemparan kerang. "Kau... kau bukan manusia biasa. Ilmu apa yang kau pakai?!"

"Ilmu fisika dasar," jawab Arka dingin. "Massa dikali percepatan."

SET!

Arka melesat maju. Kecepatannya masih dalam batas manusia, namun ia menggunakan teknik Langkah Macan yang membuat suaranya tidak terdengar sama sekali.

Sebelum pria itu sempat mengayunkan pisaunya kembali, Arka sudah berada di dalam jarak pukulnya.

Bugh! Bugh!

Dua pukulan pendek ke arah ulu hati dan rahang bawah. Presisi Arka sangat mematikan. Pria itu jatuh berlutut, memuntahkan cairan pahit dari lambungnya sebelum akhirnya jatuh tersungkur.

Arka berdiri tegak, merapikan topinya. Ia mengambil ranselnya kembali, mencabut anak panah yang menancap di sana. Ia tidak membunuh mereka; itu bukan gayanya. Ia hanya melumpuhkan saraf mereka selama beberapa jam.

Namun, saat Arka hendak melanjutkan langkahnya menuju kamp penelitian, ia mendengar suara gemuruh dari arah laut.

GLARAAKKK! (Guntur menggelegar di atas teluk).

Langit yang tadinya cerah mendadak menjadi gelap tertutup awan hitam yang berputar-putar tepat di atas teluk tersebut.

Arka berlari menuju tebing yang menghadap langsung ke teluk. Di bawah sana, pemandangan yang luar biasa terjadi.

Para peneliti The Sovereign sedang mengoperasikan sebuah mesin bor raksasa yang terpasang di atas platform apung. VREEEEEE-BOOOMMMM!  Mesin itu mengebor tepat ke pusat pusaran air yang ada di tengah teluk.

Pusaran air itu tidak alami. Airnya berwarna biru gelap hampir hitam, dan dari dalamnya memancar cahaya putih keperakan yang sangat menyilaukan. Inilah Nadi Samudera, salah satu titik meridian bumi yang menyatukan energi laut dan tanah.

"Mereka gila," bisik Arka. "Mereka mencoba mengekstraksi energi Nadi Samudera secara paksa. Jika segel pelindung teluk ini pecah, seluruh pesisir selatan akan dihantam tsunami energi ghaib."

HUA-HA-HAHA!

Tiba-tiba, sebuah suara tawa terdengar dari pengeras suara di kamp tersebut.

"Selamat datang, Sang Poros!"

Arka menoleh. Di atas menara pengawas, berdiri seorang wanita dengan gaun putih yang kontras dengan lingkungan sekitarnya.

Rambutnya panjang terurai, dan ia memegang sebuah kipas sutra. Dia adalah Madam V, salah satu dari tujuh eksekutif The Sovereign yang dikenal sebagai sang "Manipulator Cuaca".

"Madam V... kau turun tangan langsung hanya untuk setetes energi meridian?" tanya Arka, suaranya dikeraskan oleh energi Segel Udara agar sampai ke menara.

"Setetes? Kau bercanda, Arka," Madam V tersenyum manis, namun matanya penuh dengan ambisi haus darah. "Energi di bawah teluk ini cukup untuk menyalakan kembali seluruh satelit kami yang mati."

"Dan lebih penting lagi, energi ini adalah 'darah' yang bisa meracuni Segel Bumi di punggungmu jika kami berhasil mengubah frekuensinya."

WUUUUUSSSSHHH!

Madam V melambaikan kipasnya. Seketika, ombak di teluk itu naik setinggi sepuluh meter, membentuk tembok air yang raksasa.

"Kau datang di saat yang tepat. Mesin kami butuh satu 'kunci' terakhir untuk menembus inti nadi. Dan kunci itu adalah... darah seorang Satria Piningit."

Tembok air itu tiba-tiba berubah menjadi ratusan tombak air yang tajam dan melesat ke arah tebing tempat Arka berdiri.

Arka mengepalkan tangannya. Ia tahu, dengan kekuatan 1%, ia tidak bisa menahan serangan skala besar seperti ini. Ia menatap ke arah laut lepas.

Di sana, di balik kabut, ia melihat bayangan pria tua dari bus tadi berdiri di atas air, menunjuk ke arah kedalaman teluk.

“Jangan lawan airnya, Arka... Jadilah bagian dari dasarnya,” sebuah suara menggema di kepala Arka.

TAP!

Tanpa ragu, Arka melompat dari tebing setinggi tiga puluh meter itu. Bukan ke arah daratan, tapi langsung menuju pusat pusaran air yang sedang dibor oleh mesin The Sovereign.

GLUP... GLUP... GLUP... Tubuhnya ditelan kegelapan laut yang bergolak.

***

Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!