NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ini Bukan Mimpi Buruk Biasa

"Papa. Mau nikahin aku sama siapa?!"

Suara Zahra pecah di tengah ruang makan yang seharusnya sunyi. Piring-piring mewah di atas meja panjang itu seolah ikut bergetar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, matanya membelalak menatap ayahnya Pak Hendra yang duduk tenang seolah baru saja mengumumkan cuaca besok.

"Zahra." Suara ayahnya datar. Tidak naik. Tidak turun. "Duduk."

"Nggak, Pa. Zahra nggak bakal duduk." Zahra menggeleng keras, rambutnya yang dikuncir asal ikut berguncang.

"Zahra baru aja denger Papa bilang mau nikahin Zahra sama orang dan Papa minta Zahra duduk? Katanya tak tenang.

"Papa nggak minta persetujuan Zahra atau kasih tau zahra dulu, setuju apa nggak."

"Kamu kenal dia."

"Kenal gimana?! Zahra tau namanya doang, Pa!"

"Rafandra Surya Wibowo." Pak Hendra menyebut nama itu perlahan, seperti mengeja sesuatu yang sakral. "Sahabat Papa sejak dua puluh tahun lalu. Kamu pernah ketemu waktu kecil."

Zahra terdiam.

"Rafandra. Om Rafa?" Pria yang dulu selalu datang ke rumah mereka setiap lebaran. Yang rambutnya selalu rapi, kemejanya selalu licin, dan senyumnya selalu dingin bahkan ke anak kecil sekalipun.

Zahra ingat pernah takut sama dia waktu umur delapan tahun, karena om itu nggak pernah senyum ke siapapun. Dan sekarang... dia mau dijodohkan sama orang itu?

"Papa." Suara Zahra turun beberapa oktaf, tapi gemetar. "Om Rafa itu udah berapa tahun? Tiga puluhan lebih? Zahra baru dua puluh satu, Pa. Dua puluh satu. Sangat beda jauh."

"Tiga puluh delapan." Pak Hendra mengangguk pelan. "Dan dia bukan sembarang orang. Dia CEO Wibowo Group. Perusahaan yang menopang setengah bisnis keluarga kita saat ini."

Klik.

Zahra merasakan sesuatu terkunci di dalam dadanya. Sesuatu yang dingin dan pahit.

"Jadi ini soal bisnis." Bukan pertanyaan. "Zahra cuma... alat, Pa? Zahra dikawinkan buat nutupin utang perusahaan atau apalah itu namanya?"

"Zahra—"

"Jawab, Pa."

Hening.

Pak Hendra akhirnya menghela napas panjang. Ia terlihat seperti pria tua yang lelah bukan kepala keluarga yang selalu punya kontrol atas segalanya.

"Perusahaan kita hampir bangkrut," ucapnya pelan. "Rafandra yang menanggung semuanya. Sudah dua tahun dia yang menanggungnya. Dan satu-satunya syarat yang dia minta adalah..."

"Aku." Zahra menyelesaikan kalimatnya sendiri. Bibirnya terasa kelu. "Dia minta aku."

Tidak ada yang menjawab. Dan keheningan itu terasa lebih kejam dari kata-kata apapun.

.

.

.

Zahra tidak makan malam itu. Ia naik ke kamarnya, mengunci pintu, lalu duduk di lantai dengan punggung bersandar ke tempat tidur. Lutut dipeluk ke dada. Napas ditahan sekuat mungkin supaya nggak nangis karena kalau nangis, berarti dia menyerah. Dan Zahra nggak mau menyerah.

"Ini nggak mungkin beneran terjadi."

Tapi benar terjadi. HP-nya bergetar. Nama yang muncul di layar: Sinta sahabatnya sejak SMA.

Zahra angkat telepon tanpa berpikir panjang.

"Zah! Eh, muka lo kenapa? oh wait ini telepon, lo nggak keliatan." Suara Sinta ceria seperti biasa.

"Gue mau nanya besok jadi ke mall nggak sih? Ada sale di—"

"Sin." Zahra memotong. Suaranya retak di tengah jalan.

Sinta langsung berhenti bicara. "...Lo kenapa?"

"Gue dijodohkan."

Hening tiga detik.

"APAAAAA?!"

.

.

.

Tiga hari setelahnya, Zahra masih belum berhasil kabur dari kenyataan itu.

Dia sudah coba ngomong baik-baik sama ayahnya nggak mempan. Ia sudah coba minta tolong ibunya untuk jadi penengah ibunya malah nangis dan bilang "Maafin Mama, Nak, ini demi keluarga kita."

Bahkan sudah coba riset nama Rafandra Surya Wibowo di internet, berharap nemu sesuatu yang buruk supaya ia punya alasan kuat buat nolak.

Yang dia temukan malah sebaliknya.

Rafandra Surya Wibowo, 38 tahun. CEO Wibowo Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Forbes meliputnya tahun lalu dengan judul "The Ice King of Indonesian Business." Foto-fotonya selalu sama: setelan gelap, rahang tegas, mata yang nggak pernah kelihatan hangat meski sedang tersenyum ke kamera.

Ice King. Bahkan media pun pakai kata itu dan Zahra harus menikah sama raja es itu.

Gila.

.

.

.

Pertemuan pertama mereka setelah "Pengumuman" itu terjadi di ruang tamu rumah Zahra, lima hari sebelum akad.

Rafandra datang tepat waktu, tentu saja. Kemeja abu-abu tua, celana bahan hitam, jam tangan yang bahkan dari jarak dua meter kelihatan harganya bikin dompet Zahra menangis. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang... oke, secara objektif, memang tidak jelek.

Tapi Zahra nggak peduli. Ia duduk di sofa dengan tangan dilipat di depan dada, kaki disilangkan, wajah datar. Setelan paling tidak ramah yang bisa ia tampilkan.

Rafandra duduk di sofa seberang. Matanya sempat melirik ke arah Zahra sekilas, datar sebelum beralih ke Pak Hendra untuk berbicara soal persiapan pernikahan.

"Dia bahkan nggak nyapa gue." Zahra menggigit pipi bagian dalam.

Dua puluh menit pertemuan itu berlangsung tanpa sepatah kata pun antara Zahra dan Rafandra. Ayahnya yang bicara. Rafandra yang merespons. Zahra cuma duduk di sana seperti... properti. Seperti barang yang sedang dibicarakan kepemilikannya, tapi tidak perlu dimintai pendapat.

Tepat ketika Rafandra hendak berdiri pamit, Zahra angkat bicara.

"Om Rafa."

Semua orang di ruangan itu, ayahnya, ibunya, asisten Rafandra yang berdiri di sudut langsung menatap ke arahnya.

Rafandra menoleh. Matanya gelap dan tenang.

"Gue mau tanya satu hal." Zahra menatap balik tanpa berkedip. "Om beneran mau nikahin saya? Atau Om cuma mau... merek keluarga Hendra buat kepentingan Om sendiri?"

Ruangan itu seperti kehilangan oksigen tiba-tiba.

Pak Hendra menarik napas tajam. "Zahra—"

"Biarkan." Rafandra mengangkat satu tangan, memotong. Suaranya rendah dan berat. Baru pertama kali ini Zahra mendengar pria itu bicara langsung ke arahnya.

Rafandra menatap Zahra selama tiga detik penuh, cukup lama untuk membuat siapapun tidak nyaman.

"Pertanyaan bagus," katanya akhirnya. Tidak ada intonasi. Tidak ada emosi. "Tapi saya tidak akan menjawabnya sekarang."

"Kenapa?"

"Karena kamu belum siap mendengar jawabannya." berbalik dan melangkah keluar. Asisten mengikuti di belakangnya. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, tapi terasa seperti bunyi gembok yang terkunci.

Zahra menatap pintu itu lama sekali.

"Belum siap mendengar jawabannya."

Kalimat itu berputar di kepalanya bahkan sampai dia mencoba tidur malam itu. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang bikin dadanya nggak karuan bukan karena deg-degan, tapi karena takut.

Karena Zahra punya firasat kuat bahwa jawabannya jauh lebih kompleks dari yang bisa dia bayangkan dan hidupnya mulai hari ini tidak akan pernah sama lagi.

Akad nikah, lima hari lagi. Zahra masih belum tahu caranya berdamai dengan takdirnya sendiri.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!