NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Ki Lurah terpaku sesaat, namun tak sedikit pun terlihat rasa gentar di wajahnya. Bagi dirinya, kelompok ini sudah melampaui batas. Hanya saja, melawan seorang diri jelas bukan keputusan yang bijak.

Sementara itu, satu warga yang tersisa terus mundur perlahan dengan tubuh gemetar, nyaris kehilangan keseimbangan setiap kali kakinya menginjak tanah berakar. Ki Lurah tetap berdiri di tempatnya. Diam, tegak, dan menatap tajam ke arah komplotan di hadapannya.

“Jangan menyesal, Ki Lurah. Sekali lagi kutanya… di mana rumah anak itu? Atau lehermu yang akan kami putus berikutnya?” ancam pria tinggi itu, suaranya rendah namun penuh tekanan.

“Kalian datang ke desa orang, membawa kematian. Lalu dengan pongah meminta sesuatu seolah tempat ini milik kalian,” ucap Ki Lurah tegas, setiap katanya terucap jelas tanpa goyah.

“Sayang sekali, Ki Lurah.”

Wuss!

Salah satu dari mereka kembali melesat dari arah belakang, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Di tangannya, sebilah golok terangkat tinggi, lalu dihantamkan lurus mengarah ke leher Ki Lurah dengan niat mematikan.

Namun tepat di detik terakhir, sebelum mata bilah itu menyentuh kulit, sesuatu meluncur dari kejauhan.

Srat!

Sebuah rantai besi berujung pisau tajam menerobos udara malam, berputar dengan kecepatan mematikan. Dalam sekejap, rantai itu menghantam lalu menembus kepala penyerang tersebut dengan presisi mengerikan.

Clabbbb

Darah muncrat bersama serpihan daging kecil.

Tubuh pria itu tersentak keras, gerakannya langsung terhenti di udara sebelum akhirnya ambruk tanpa suara. Goloknya jatuh lebih dulu ke tanah, disusul tubuhnya yang roboh dengan posisi tak lagi utuh.

Ki Lurah langsung mengalihkan pandangan ke arah datangnya serangan itu. Matanya menyipit, membaca situasi baru yang tiba-tiba berubah.

Dari balik kegelapan hutan di kejauhan, terdengar suara langkah pelan… teratur… seolah pemiliknya tidak sedang terburu-buru sedikit pun.

Perlahan, rantai itu kembali melayang di udara, berputar ringan seperti makhluk hidup yang tahu jalan pulangnya. Ujung pisau tajamnya berkilat sebentar sebelum akhirnya kembali ke tangan pemiliknya—seorang wanita berbalut pakaian gelap seperti ninja, gerakannya tenang namun penuh ancaman.

Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh tegap, wajahnya tertutup kain, hanya menyisakan sorot mata yang dingin dan waspada. Keduanya tidak banyak bergerak, tapi kehadirannya saja sudah membuat udara di sekitar terasa berbeda.

Sringgg.

Dari sisi pria itu, sebilah golok besar perlahan ditarik dari sarungnya. Suara logam yang bergesekan terdengar tajam, seperti tanda bahwa batas damai sudah benar-benar putus.

“Pergi dari sini… atau kalian akan menyesal,” ucap Ki Bagaskara, suaranya datar namun berat, sosoknya tetap diselimuti bayangan identitas yang tak ingin ia ungkapkan.

“Bajingan… berani-beraninya kalian membunuh anak buahku! Serang!” teriak pria kekar yang sejak tadi memimpin kelompok itu, amarahnya meledak tanpa bisa ditahan lagi.

Sekejap kemudian, puluhan orang itu bergerak serentak. Langkah mereka menghentak tanah, membelah sunyi malam dengan teriakan dan senjata yang terangkat tinggi.

Satu penyerang paling depan melompat lebih dulu, goloknya diayunkan lurus ke arah Ki Bagaskara. Tapi di saat yang sama, sosok itu sudah bergerak lebih cepat.

Wuss!

Tubuh Ki Bagaskara menghilang dari posisi semula dalam satu tarikan gerak. Ia melesat seperti bayangan yang terlepas dari tubuhnya sendiri.

Trang!

Bilah senjata beradu di udara. Denting keras menggema, namun bukan sekadar benturan—golok lawan langsung patah menjadi dua. Pecahannya terpental ke samping, berputar sebelum jatuh ke tanah.

Tanpa jeda, Ki Bagaskara melanjutkan gerakannya. Satu tebasan cepat melintas tanpa ragu.

Srakk!

Dalam satu garis lurus yang nyaris tak terlihat, leher penyerang itu terbelah. Tubuhnya berhenti sesaat dalam posisi berdiri, sebelum akhirnya roboh tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

Di belakangnya, barisan yang semula berlari penuh amarah langsung terhenti mendadak. Mata mereka terpaku pada kepala yang kini menggelinding pelan di tanah, meninggalkan jejak gelap di antara rerumputan basah.

“Mengapa kalian berhenti, pengecut? Ayo serang!” kembali pria kekar itu berseru, suaranya menggelegar di antara gelapnya hutan.

Seolah tersengat amarah komandan mereka, para anak buah itu kembali tersadar. Keraguan yang sempat muncul langsung tertutup oleh teriakan dan dorongan massa.

“Heyaaa!” teriak puluhan penyerang serempak, lalu mereka kembali menerjang dengan senjata terangkat tinggi.

Nyai Lodra segera memutar rantainya. Gerakannya cepat dan presisi, rantai itu meliuk di udara seperti ular hidup yang mencari mangsa, ujung pisaunya sesekali memantulkan cahaya obor yang tersisa. Di sisi lain, Ki Bagaskara sudah masuk ke posisi kuda-kuda, tubuhnya sedikit merendah, sorot matanya tajam mengunci arah serangan yang datang bertubi-tubi.

Tanpa banyak kata, keduanya bergerak hampir bersamaan.

Wuss!

Ki Bagaskara melesat ke depan lebih dulu, menyambut gelombang penyerang dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Di saat yang sama, Nyai Lodra melepaskan rantainya ke arah sisi kiri, membelah barisan lawan yang mencoba mengepung.

Trang! Srat! Wush!

Benturan senjata, tarikan rantai, dan gerakan tubuh yang saling menyilang terjadi dalam satu arus pertempuran yang kacau namun terarah. Setiap langkah Ki Bagaskara selalu diikuti satu tebasan pasti, sementara setiap putaran rantai Nyai Lodra membuka celah sekaligus menutup ruang gerak lawan.

Para penyerang yang tadi penuh keyakinan mulai kehilangan ritme. Barisan mereka pecah, langkah kaki tak lagi serempak, digantikan kepanikan yang mulai merayap diam-diam di antara mereka.

Dan di tengah pusaran itu, dua sosok itu tetap bergerak stabil—seperti dua badai yang baru saja bertemu di satu titik yang sama.

Perlahan namun pasti, jalannya pertempuran berubah arah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut perlawanan. Keseimbangan benar-benar runtuh, digantikan oleh dominasi yang dingin dan tak terbantahkan.

Darah menyembur di berbagai sisi, membasahi tanah yang sebelumnya masih tertutup rerumputan liar. Di antara benturan senjata dan teriakan yang kian melemah, potongan tubuh dan kepala mulai terlempar ke berbagai arah, menandai setiap langkah yang terlambat, setiap keputusan yang salah.

Nyai Lodra dan Ki Bagaskara bergerak tanpa ragu, seolah menyatu dengan arus pertempuran itu sendiri. Rantai dan golok mereka menjadi perpanjangan dari kehendak yang tak memberi ruang untuk balik menyerang. Setiap lompatan, setiap putaran, selalu berujung pada satu hal yang sama—jatuhnya lawan tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Di mata para penyerang, keduanya bukan lagi manusia biasa. Mereka seperti bayangan maut yang hidup, melintas di antara cahaya obor yang mulai redup, menari di tengah kekacauan sambil mencabut nyawa satu per satu dengan ketenangan yang justru terasa lebih menakutkan daripada amarah.

Dalam hitungan waktu yang semakin kabur, barisan itu terus menyusut, berubah dari kelompok penyerang menjadi sisa-sisa yang hanya bisa bertahan dalam kepanikan.

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!