NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Pagi itu seharusnya jadi hari libur nasional buat kami berdua. Sesuai kesepakatan setelah balapan motor kemarin, Keano dilarang keras menyentuh berkas kantor, dan gue dilarang keras menyentuh keyboard. Rencananya simpel: *Marathon* film aksi, pesan *junk food* sampai kolesterol naik, dan nggak keluar dari kamar sampai matahari tenggelam.

Tapi ya, namanya juga Arcelia dan Keano. Kedamaian itu bertahan cuma sampai jam sembilan pagi.

Gue terbangun karena ngerasa ada sesuatu yang berat nindih perut gue. Pas gue buka mata, gue liat pemandangan yang sebenernya "merusak pemandangan" dalam artian yang sangat menggoda. Keano tidur tengkurap, satu kakinya nindih kaki gue, dan tangannya meluk pinggang gue erat banget kayak gue ini guling limited edition.

"Ké... bangun, Beruang. Gue laper," bisik gue sambil nyubit pipinya yang biasanya kaku tapi kalau bangun tidur gini kelihatan lembut banget.

"Lima menit lagi, Lia..." gumamnya tanpa buka mata. Suara seraknya itu bener-bener ilegal buat didenger pagi-pagi. Bukannya lepas, dia malah narik gue makin nempel ke dadanya yang bidang dan hangat.

Gue mencoba berontak, tapi ya kekuatan gue kalah telak. "Ké, lo bilang mau libur. Libur itu artinya makan, bukan tidur terus kayak hibernasi!"

Keano akhirnya buka mata, tapi sorot matanya beda. Nggak ada kantuk lagi di sana, yang ada cuma tatapan intens yang bikin gue mendadak lupa cara napas. Dia ngerubah posisinya jadi di atas gue, numpu badannya pake kedua tangan, natap gue dengan senyum miring yang paling gue benci karena itu artinya gue dalam bahaya.

"Libur itu artinya... aku bebas ngelakuin apa aja sama istri aku, kan?" bisiknya pelan, hidungnya nempel di hidung gue.

"Eh, nggak gitu konsepnya—"

Kalimat gue kepotong karena Keano langsung nyium gue. Awalnya lembut, tapi makin lama makin nuntut. Tangan gue yang tadinya mau dorong dia malah berakhir nyelip di rambut belakangnya, narik dia makin deket. Suasananya mendadak panas, jauh lebih panas dari mesin motor sport yang gue geber kemarin.

Tapi ya, dasar gue Arcelia. Di tengah momen yang harusnya romantis abis ini, insting bar-bar gue malah muncul gara-gara satu hal sepele.

"Tunggu, tunggu!" gue nahan dadanya kuat-kuat.

Keano berhenti, napasnya tersengal, mukanya udah merah padam. "Kenapa, Lia? Ada yang salah?"

"Gue... gue lupa matiin notifikasi server gue!" gue teriak panik.

Keano melongo. "Lia, demi Tuhan... kita lagi di tengah-tengah momen ini, dan lo mikirin server?"

"Bukan gitu! Ini server rekening Aldric! Kalau gue nggak cek sekarang, script-nya bisa kehapus otomatis!" Gue mencoba merangkak keluar dari bawah kungkungannya, tapi Keano narik kaki gue pelan sampai gue balik lagi ke posisinya.

"Nggak ada server, nggak ada Aldric, nggak ada hacker pagi ini," katanya dengan suara rendah yang tegas. "Cuma ada kita."

Dia mulai nyium leher gue, dan gue ngerasa seluruh saraf gue lumpuh. Oke, gue nyerah. Script bisa gue tulis ulang, tapi momen ini nggak bakal dateng dua kali. Gue mulai ngelepas kancing kaosnya satu-satu dengan tangan yang agak gemetar.

Tapi pas gue lagi berusaha "serius", Keano tiba-tiba berhenti lagi. Dia natap gue dengan muka bingung.

"Kenapa sekarang lo yang berhenti?" tanya gue kesel.

"Lia... itu apa di balik bantal lo?"

Gue nengok. Sial. Gue lupa nyembunyiin *smart tablet* kecil yang gue selipin di bawah bantal tadi malem buat jaga-jaga. Alat itu mendadak nyala dan bunyi *beep-beep* keras banget.

"GUE BISA JELASIN!" teriak gue sambil buru-buru mau ambil tablet itu.

Tapi Keano lebih cepet. Dia ambil tablet itu, liat layarnya, terus dia ketawa geli. "Jadi... sambil pelukan sama gue semalem, lo tetep masang radar pelacak buat gudang Shania?"

"Itu... itu refleks, Ké! Kayak lo yang refleks masang pengawal buat gue!"

Keano ngelempar tablet itu ke ujung kasur, terus dia balik fokus ke gue. Dia narik tangan gue ke atas kepala, ngunci pergerakan gue. "Hukuman karena lo nggak fokus... kencannya kita tunda satu jam. Aku bakal pastiin lo nggak bakal sempet mikirin kode apa pun pagi ini."

Gue baru mau bales omongannya, tapi dia udah nutup mulut gue lagi. Kali ini lebih dalam, lebih panas. Tangan dia mulai menjelajah, dan gue bener-bener ngerasa melayang. Gue bisa ngerasain setiap sentuhannya yang hati-hati tapi penuh gairah.

Pas suasana lagi bener-bener di puncak, dan gue udah nggak peduli lagi sama dunia luar...

*MEONG!*

Seekor kucing gembul warna abu-abu—si "Coki", kucing liar yang gue pungut minggu lalu—tiba-tiba lompat ke atas kasur dan mendarat tepat di punggung Keano.

"ADUH!" Keano teriak kaget, langsung guling ke samping gara-gara kaget sama cakar Coki yang refleks keluar.

Gue meledak ketawa sampai guling-guling di kasur. "HAHAHA! Karma, Ké! Karma karena lo terlalu semangat!"

Keano duduk sambil megangin punggungnya, natap Coki dengan tatapan mau nyembelih kucing. "Gue bakal balikin kucing ini ke jalanan sekarang juga."

"Jangan dong! Coki kan cuma mau ikut libur!" gue narik Coki ke pelukan gue, ngelindungin dia dari tatapan maut Winchester.

Keano narik napas panjang, nyoba nenangin diri. Dia ngacak-ngacak rambutnya yang udah berantakan banget. "Gue nyerah. Kayaknya emang semesta nggak izinin kita dapet momen romantis yang normal."

Gue ngerangkak deket dia, terus meluk lehernya dari belakang. "Emangnya lo mau yang normal? Kalau normal, lo nggak bakal nikah sama Arcelia."

Keano diem sebentar, terus dia narik tangan gue buat duduk di pangkuannya. Dia meluk pinggang gue, nyium hidung gue pelan. "Lo bener. Gue nggak butuh normal. Gue cuma butuh lo."

Dia nyium gue lagi, kali ini lebih santai, lebih manis. Tanpa gangguan tablet, tanpa gangguan server, dan Coki pun akhirnya anteng tidur di ujung kaki kami. Di tengah sinar matahari pagi yang masuk lewat celah gorden, gue sadar kalau kebahagiaan itu nggak harus sempurna. Kadang, kebahagiaan itu adalah momen berantakan bareng orang yang lo sayang, di mana lo bisa ketawa meski rencana lo hancur total.

"Lia..."

"Apa?"

"Setelah ini... kita pesen nasi goreng gila ya? Aku laper beneran."

Gue ketawa. "Siap, Beruang. Tapi lo yang bayar!"

"Ya iyalah, emang kapan gue pernah nyuruh lo bayar?"

Dan pagi itu berakhir dengan kami yang saling peluk di bawah selimut, ngerencanain sisa hari libur kami dengan lebih banyak tawa daripada rencana. Konflik di luar sana mungkin masih ada, tapi buat saat ini, ruang kamar ini adalah seluruh dunia yang gue butuhin.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!