NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5 Profesionalisme yang gagal

Pagi ini seperti hari hari sebelumnya Dimas kembali bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya, dengan langkah penuh semangat Dimas berjalan ke arah parkiran mobil apartemen tempat dimana dia memarkir mobilnya di sana.

Tak berapa lama dia pun sudah masuk ke dalam mobilnya dan seketika itu juga Dimas mengemudikan mobil pergi meninggalkan area parkiran tersebut.

Ratih juga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor tapi kali ini dia tidak di antarkan oleh Regan karena Regan ada rapat mendadak di kantornya.

Ratih keluar dari apartemen tempatnya tinggal dan segera berjalan menuju ke arah taxi yang sudah di pesannya tadi.

Dengan segera Ratih membuka pintu mobil dan setelah itu dia pun duduk di kursi belakang di belakang sopir.

Jalanan pagi ini terlihat sangat ramai seperti biasa aktivitas jam kerja membuat jalan gajah mada yang sedang di lalui nya mengalami sedikit kemacetan.

"Macet mbak," ucap supir taxi itu pada Ratih sambil tetap fokus melihat ke arah jalan.

"Iya pak, tidak apa-apa masih belum terlambat kok," jawab Ratih pada pak supir taxi itu.

"Iya mbak," sahut supir taxi itu lagi.

Setelah sepuluh menit berlalu kemacetan di jalan gajah Mada ini masih belum berkurang juga dan hal itu juga membuat taxi yang ditumpangi Ratih mengalami kesulitan mencari jalan keluar.

"Aduh gimana ini....bisa terlambat aku sampai ke kantor nanti," ucap Ratih gusar sambil melirik ke arah jam tangannya.

Tepat jam delapan taxi yang Ratih tumpangi akhirnya bisa keluar juga menembus kemacetan yang sudah berlangsung selama beberapa menit tadi.

Akhirnya Ratih pun bisa bernafas dengan lega meskipun pada akhirnya dia bakalan terlambat juga sampai ke kantor pagi ini.

"Mbak, saya kebut ya biar gak kelamaan terlambatnya," kata supir taxi itu seolah mengerti kekhawatiran Ratih.

"Iya pak," jawab Ratih pasrah.

Tak berapa lama akhirnya taxi itupun sampai di depan gedung kantor PT. Mahameru tempat Ratih bekerja selama ini.

Dengan terburu-buru Ratih segera turun dari taxi dan bergegas berjalan ke arah pintu masuk gedung kantornya itu.

Ratih masuk ke dalam gedung kantor itu dengan terburu-buru dan dia tidak menyadari kalau dari jauh Dimas yang sedang berdiri di lobi sedang memperhatikan dirinya yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah mesin check clock karyawan yang terpajang di depan dekat ruang lobi.

Setelah selesai check clock dan absen wajah Ratih kemudian berjalan lagi dengan terburu-buru menyusuri koridor menuju ke ruangan kantornya tapi sebelum dia sempat melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Dimas sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Terlambat?" tanya Dimas menatap Ratih datar layaknya seorang pimpinan yang sedang menegur karyawannya yang berbuat salah.

Ratih paham sekarang Dimas adalah pimpinan di kantor tempat dia bekerja jadi wajar kalau dia menegur dirinya karena terlambat masuk kantor dan dengan profesional Ratih mengakui kesalahannya pada Dimas.

"Maaf," ucap Ratih pada Dimas dan untuk sesaat mata mereka beradu lagi, Ratih tidak mau berlarut-larut membiarkan suasana seperti ini terjadi dia takut akan terbawa perasaan pada Dimas.

"Maaf aku harus segera masuk ke ruangan," ucap Ratih mengalihkan pandangannya dari Dimas dan bergegas berjalan menuju ke ruang kerjanya.

Tanpa berkata apa-apa Dimas segera menggeser posisinya memberi jalan lewat pada Ratih.

Dimas menatap Ratih yang sedang berjalan itu sampai Ratih menghilang dari pandangan matanya.

"Ratih, sikap kamu seolah tidak pernah mengenal aku, apa kamu sudah benar-benar melupakan aku dan atau kamu sudah ada yang lain?" ucap Dimas cemas dalam hatinya.

"Kenapa kamu harus cemas Dimas, bukannya kamu dulu yang memutuskan untuk pergi jauh dari Ratih agar supaya Ratih tidak ikut menderita kalau tetap bersama kamu, kamu ingin Ratih hidup bahagia dengan orang yang lebih baik dari kamu," hati Dimas mulai berisik sejak pertama dia bertemu kembali dengan Ratih dan sejak dia tahu perubahan sikap Ratih padanya.

"Ya, aku harus sadar kalau dulu aku yang menginginkan semua ini aku tidak mau Ratih menderita dan sekarang aku harus bisa terima bagaimana pun sikap yang Ratih tunjukan padaku," Dimas mencoba menenangkan dirinya dengan menahan segala ego yang sedang berkecamuk di dalam hatinya saat ini.

Dimas menghela nafas panjang lalu diapun berjalan menyusuri koridor ruangan menuju ke arah ruang kantor nya yang tak jauh dari ruangan kantor Ratih.

"Rat, tumben kamu telat hari ini?" tanya Cindy ketika melihat Ratih masuk ke dalam ruangan.

"Iya, taxi yang aku tumpangi tadi mengalami kemacetan di jalan gajah Mada beberapa menit," jawab Ratih sambil menarik kursi kerjanya.

"Aduh kamu ini Rat, kok bisa-bisanya telat padahal sebelumnya kamu gak pernah telat lho, tadi ada yang lihat kamu datang terlambat gak?" tiba-tiba wajah Cindy berubah mode serius banget menatap Ratih.

"Ada, tadi aku sempat di tegur pak Dimas setelah aku check clock ," ucap Ratih.

"Waduh gawat ini, bisa-bisa nanti pak Dimas menilai kinerja karyawan di sini gak bagus loh gara-gara melihat kamu tadi datang terlambat," wajah Cindy berubah cemas.

"Benar juga kata Cindy, jangan-jangan Dimas menganggap aku ini karyawan yang gak disiplin dan sering terlambat ngantor," batin Ratih sedikit cemas juga.

"Bagaimana dong Rat, nanti dikiranya departemen finansial itu orangnya gak disiplin semua," ucap Cindy mengerutkan kedua alisnya menatap Ratih.

"Tenang Cindy, karena aku yang berbuat salah nanti aku juga yang akan bertanggung jawab pada pak Dimas," Ratih tersenyum menepuk pundak Cindy mencoba menenangkannya.

"Nah gitu dong, secara kan pak Dimas itu masih baru memimpin perusahaan ini jadi kita juga harus menunjukkan prestasi yang bagus biar departemen kita dapat nilai plus di mata pak Dimas," Cindy balik menepuk pundak Ratih dengan tersenyum lega.

Sementara itu di ruangan Dimas terlihat Bu Bella sudah berdiri di sana sedang berbincang dengan Dimas.

"Tolong kumpulkan semua departemen adakan rapat sekarang," perintah Dimas pada Bu Bella.

"Baik pak, akan segera saya umumkan," ucap Bu Bella yang kemudian keluar meninggalkan ruangan Dimas.

Bu Bella masuk ke dalam ruangannya dan memanggil semua kepala departemen di perusahaan PT Mahameru untuk menghadiri rapat dengan pak Dimas.

Semua kepala departemen sudah berkumpul di ruang rapat menunggu kedatangan Dimas sebagai pimpinan rapat siang ini.

Tak berapa lama Dimas sudah masuk ke dalam ruang rapat.

Dimas berjalan ke arah kursi yang terletak di ujung meja rapat yang sudah di sediakan untuk dirinya sebagai pimpinan rapat.

Semua mata tertuju pada Dimas kecuali Ratih yang berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Dimas.

"Selamat siang semuanya," ucap Dimas membuka acara rapatnya.

"Siang pak," jawab semua kepala departemen.

"Ini untuk pertama kalinya saya memimpin rapat di sini dan sebelum saya lebih lanjut membahas materi yang akan saya sampaikan saya ingin menegaskan di sini tentang kualitas karyawan yang perlu di perhatikan salah satunya adalah tentang kedisiplinan, untuk kedepannya saya tidak mau melihat ada karyawan yang datangnya terlambat lagi," Dimas menatap tajam ke arah Ratih yang masih diam mendengar penuturannya tadi.

Ratih merasa kalau pernyataan Dimas itu di tujukan pada dirinya, Ratih menoleh pada Dimas sambil berkata padanya ," maaf pak Dimas saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi," ucap Ratih menatap Dimas dan lagi mata mereka saling mengunci tatapan untuk sesaat dan entah kenapa hal ini membuat hati Dimas sangat bahagia tapi dia harus tetap menjaga keprofesionalan kerjanya di mata Ratih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!