Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Pagi yang Berisik
Yang paling ku sesali selama ini…
bukan hanya hidup yang terasa terlalu berat.
Tapi juga bagaimana tempat ini memperlakukan kami.
Bahkan beberapa guru dan pelatih di agensi pun mengajar dengan asal-asalan.
Seolah karena kami hanya artis kelas bawah, mereka bebas bersikap seenaknya.
Aku masih ingat salah satu ucapan yang paling sering kudengar.
“Kalian berdiri di sini cukup untuk dipajang.”
Cantik.
Tampan.
Cukup itu saja.
Seolah wajah lebih penting daripada bakat.
Padahal aku tahu sendiri, banyak senior maupun junior di sini yang memang menarik secara penampilan.
Namun bakat… setiap orang berbeda.
Untungnya aku termasuk cepat belajar.
Meski diajari setengah hati, aku masih bisa mengejar.
Mungkin karena sejak awal aku tidak punya pilihan selain bertahan.
Aku menghela napas pelan sambil mengaduk masakan sederhana di atas kompor kecil.
Aroma bawang dan kuah hangat mulai memenuhi rumah sempit itu.
Pikiranku kembali pada kartu hitam berlogo Ardevar yang kusimpan di atas meja.
Mungkin…
aku memang harus menerima kontrak itu.
Tapi…
karierku?
Jari-jariku berhenti sesaat.
Tidak.
Masih ada jalan lain.
Mungkin aku bisa berbicara dengan pria tampan itu.
Setidaknya meminta satu hal.
Aku ingin tetap berkarier.
Aku ingin lepas dari lintah besar bernama agensi lama ini.
Kalau dia benar-benar ingin membantuku…
mungkin ini kesempatan terakhirku.
Sambil menurunkan api kompor, aku berdoa pelan dalam hati.
semoga saat aku menemuinya lagi, dia mau mendengarkan keinginanku
Setelah makanan matang, aku membawanya ke meja makan kecil.
Meja itu bahkan hanya memiliki tiga kursi.
Sederhana.
Sedikit sempit.
Namun itulah rumah.
Di salah satu sisi meja, sebuah foto lama terpajang rapi.
Foto ayah.
Aku menatapnya lama.
Wajah yang hanya kukenal dari bingkai dan foto-foto usang.
Aku mengambil semangkuk nasi kecil.
Lalu menaruh beberapa suwiran lauk di atasnya.
Kebiasaan sederhana yang selalu kulakukan.
Semacam sesajen kecil.
Atau mungkin…
cara konyol ku untuk berpura-pura bahwa ayah masih ada di sini.
Aku menaruh mangkuk itu di depan foto.
Lalu duduk di kursiku sendiri.
Sejak ibu dirawat di rumah sakit…
aku selalu melakukan ini.
Makan sambil bercerita tentang hariku pada ayah.
Mungkin karena rasa rindu.
Meski aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Aku bahkan tidak ingat wajah aslinya.
Tidak ingat suaranya.
Semua yang kumiliki hanyalah rekaman lama.
Video.
Dan cerita dari ibu.
Namun aku yakin…
ayah adalah pria yang sangat baik.
Ia menerima ibu apa adanya.
Mencintainya.
Melindunginya.
Bahkan kakek dan nenek dari pihak ayah pun sangat baik padaku.
Mereka tidak pernah membedakan ku hanya karena aku perempuan.
Mereka tetap menyayangiku seperti cucu yang paling berharga.
Aku menggigit bibir.
Kadang aku tahu ibu masih menyimpan rasa bersalah.
Seolah kematian ayah terjadi karena pekerjaan yang diberikan keluarga Ardevar.
Karena jika ayah bekerja di tempat biasa…
mungkin ia bisa hidup lebih lama.
Namun aku tahu itu bukan salah ibu.
Takdir kematian adalah hal yang pasti.
Cepat atau lambat…
semua orang akan pergi.
Ibu tidak seharusnya terus menyalahkan dirinya sendiri.
Tatapanku kembali jatuh pada foto itu.
Dadaku mendadak sesak.
“Ayah…”
Suaraku pecah.
“Kalau saja ayah masih di sini…”
Air mataku mulai jatuh tanpa kusadari.
“Mireya kangen…”
Aku terisak pelan.
Padahal aku bahkan tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Lucu ya?
Merindukan seseorang yang bahkan suaranya pun tidak kuingat.
“Aku belum pernah dengar suara ayah secara langsung…”
“Bukan dari video…”
“Bukan dari rekaman…”
“Aku pengen dengar suara ayah…”
Isakan ku semakin berat.
“Kalau saja ayah ada di sini…”
“Mungkin ibu masih bisa semangat…”
“Mungkin ibu bisa lebih kuat…”
Air mata menetes jatuh ke meja.
Malam itu rumah kecil ini terasa jauh lebih sepi dari biasanya.
...****************...
Besok aku masih harus bekerja.
Sabtu.
Hari yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi kebanyakan orang.
Tapi tentu saja, hidupku tidak semewah itu.
Kalau ada proyek, aku tetap harus masuk.
Mau itu syuting latar, adegan tambahan, atau sekadar iklan kecil yang bahkan wajahku mungkin hanya muncul dua detik.
Tetap saja aku harus ikut.
Daripada melanggar kontrak dan terkena denda.
Aku sudah cukup sengsara tanpa perlu menambah hutang baru.
Dengan cepat aku mengusap air mata yang masih tersisa di pipi.
Tidak bisa begini terus.
Aku harus tidur.
Besok akan jadi hari yang berat.
Aku buru-buru menghabiskan makan malamku yang sudah mulai dingin.
Lalu membereskan meja kecil itu, termasuk mangkuk nasi di depan foto ayah.
Setelah semuanya rapi, aku melangkah menuju kamar mandi.
Baru saat air hangat menyentuh kulitku, mataku membelalak.
…astaga.
Aku belum mandi.
Pikiranku langsung kembali pada kejadian tadi sore.
Pertemuan dengan Zevran.
Dijemput bak seorang putri.
Naik limosin mewah.
Masuk restoran eksklusif.
Bertemu pria setampan itu.
Dan aku…
belum mandi?
Pipiku langsung memanas.
Tidak.
Bukan hanya belum mandi.
Sejak latihan intens pagi tadi, lalu dipanggil mendadak, aku bahkan belum sempat ganti baju.
Aku menjalani semua itu dengan pakaian yang sama.
Syuting.
Lari.
Naik mobil.
Makan malam.
Sampai pulang larut.
Bayangan diriku duduk berhadapan dengan Zevran membuatku ingin menjerit malu.
Ya ampun… bau badanku tadi gimana?
Aku buru-buru menyiramkan air lagi ke wajah.
Semoga saja tidak terlalu parah.
Atau semoga pria sombong itu terlalu sibuk memikirkan kontrak hingga tidak menyadarinya.
Meski mengingat ekspresi dinginnya…
rasanya dia pasti sadar.
Dan mungkin dalam hati sedang menghinaku.
Pikiran itu justru membuatku semakin malu.
Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian tidur sederhana dan langsung meraih terminal kecil di samping tempat tidur.
Alarm ku setel tepat pukul 07.00.
Aku harus kembali ke gedung agensi besok pagi.
Sabtu seharusnya libur.
Namun jika ada proyek, agensi tidak peduli.
Mau aku baru saja pulang larut malam.
Mau rumahku jauh.
Mau tubuhku lelah.
Aku tetap harus datang lagi pagi-pagi untuk syuting.
Aku menjatuhkan tubuh ke kasur tipis.
Mataku menatap langit-langit kamar.
Besok…
aku harus kembali ke tempat itu.
Kembali bertemu Luna.
Kembali menghadapi dunia yang terus menginjak ku.
Dan entah kenapa…
untuk pertama kalinya, aku merasa tidak ingin terus bertahan dengan cara yang sama.
Tatapanku beralih ke kartu hitam di atas meja.
Menara Ardevar.
Mungkin…
setelah besok, aku harus mengambil keputusan.
...****************...
Alarm berbunyi tepat pukul tujuh pagi.
Aku langsung bangun.
Tubuhku masih terasa berat karena semalam tidur terlalu larut, tapi tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.
Hari ini ada proyek satu hari.
Syuting iklan pendek untuk sebuah merek parfum mewah.
Bukan proyek besar.
Hanya video promosi berdurasi kurang dari satu menit yang akan diputar di layar kota dan platform media.
Tetap saja, untuk artis level sepertiku, proyek sekecil apa pun tidak boleh dilewatkan.
Aku buru-buru mengenakan seragam latihan sederhana dan berangkat menuju gedung agensi.
Sejak memasuki lobi, aku langsung merasa ada yang aneh.
Semua orang memandangku.
Beberapa trainee yang biasanya hanya lewat kini berhenti.
Bisik-bisik terdengar di mana-mana.
“Eh itu dia…”
“Yang kemarin dijemput limosin?”
“Katanya keluarga Ardevar, loh…”
Langkahku otomatis melambat.
Astaga.
Cepat sekali berita itu menyebar.
Belum sempat aku masuk ke ruang ganti, beberapa orang sudah mengerubungi ku.
“Mireya, serius deh, kemarin itu siapa?”
“Bener keluarga Ardevar datang jemput kamu?”
“Katanya kepala keluarga sendiri sampai turun tangan nyari jodoh salah satu kerabatnya?”
Satu pertanyaan datang setelah yang lain.
Kepalaku langsung pusing.
Ternyata orang-orang yang melihat kemarin benar-benar salah paham.
Mereka hanya mendengar kata tunangan.
Dan langsung mengira keluarga Ardevar sedang mencari pasangan untuk salah satu anggota keluarganya.
Padahal… aku sendiri bahkan belum siap memproses kenyataan itu.
Salah satu trainee lain menyela dengan nada nyelekit.
“Emangnya kamu kenal siapa di keluarga Ardevar?”
Tatapannya dari atas ke bawah.
“Kamu kan nggak punya apa-apa.”
“Kenal dari mana?”
Aku mengepalkan tangan.
Kalimat itu menusuk, tapi aku memaksa wajahku tetap tenang.
“Cuma salah paham.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin ada orang yang mirip.”
Atau mungkin… aku sendiri masih berharap semua ini memang hanya salah paham.
Orang-orang saling pandang.
Ekspresi mereka mulai berubah.
Masuk akal.
Karena memang tidak mungkin.
Siapa yang akan percaya orang seperti aku bisa berhubungan dengan keluarga Ardevar?
Dan tepat saat itu— suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Semua orang langsung sedikit menyingkir.
Luna.
Ia datang dengan rambut yang sudah ditata rapi, wajah penuh makeup ringan, dan ekspresi yang selalu membuatku kesal.
Sudut bibirnya terangkat.
Senyum yang terlalu manis untuk dipercaya.
“Oh?”
Tatapannya jatuh padaku.
“Jadi rumor pagi ini tentang kamu itu?”
Nada suaranya lembut.
Terlalu lembut.
Aku tahu senyum seperti itu.
Senyum sebelum dia menusuk.
“Kirain apa…”
ia tertawa kecil.
“Ternyata cuma salah paham.”
Matanya menyipit.
“Aku juga heran, mana mungkin keluarga Ardevar punya hubungan sama… kamu.”
Kalimat terakhirnya diucapkan pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.
Beberapa trainee langsung tertawa kecil.
Dadaku panas.
Namun sebelum aku sempat membalas, Luna sudah berbalik.
“Ayo semuanya, fokus kerja.”
“Jangan buang waktu buat gosip nggak jelas.”
Dan seperti biasa…
semua orang langsung percaya.
Karena memang lebih mudah mempercayai bahwa aku tidak punya apa-apa.
Daripada membayangkan pria seperti Zevran Ardevar benar-benar datang mencari ku.
Aku menunduk.
Bagus.
Untuk saat ini…
biarkan mereka percaya itu hanya salah paham.
...****************...
Take pertama selesai.
Aku bangkit pelan sambil menepuk-nepuk gaun yang sedikit terkena rumput sintetis.
Tanpa sadar sudut bibirku masih terangkat.
Iklan ini benar-benar absurd.
Parfum yang membuat orang tumbang.
Lucu sekali.
Aku bahkan sempat menahan tawa saat salah satu figuran di sebelahku jatuh terlalu dramatis.
Namun rupanya…
ada seseorang yang melihatnya.
Luna.
Matanya yang tadi tersenyum lembut di depan kamera kini menyipit tipis ke arahku.
Tatapan itu tajam.
Tidak suka.
Seolah senyum kecilku tadi adalah sebuah kesalahan besar.
“Cut.”
Sutradara menatap monitor.
Sebelum ia sempat memberi arahan, Luna melangkah mendekat.
Nada suaranya manis.
Terlalu manis.
“Maaf, boleh retake?”
Semua orang langsung menoleh.
Sutradara sedikit bingung.
“Kenapa?”
Luna menunjuk ke arah monitor.
“Bagian figuran sebelah kanan terlalu menarik perhatian.”
Jantungku langsung berdebar.
Sebelah kanan.
Itu aku.
Aku yang tadi tanpa sadar sedikit tertawa saat jatuh.
Luna tersenyum tipis.
“Fokusnya jadi pecah dari produk.”
Kru langsung melihat ulang monitor.
Dan benar saja—
meski hanya sepersekian detik, wajahku ternyata tertangkap cukup jelas.
Cukup untuk terlihat.
Cukup untuk menarik mata.
Salah satu staf langsung memberi instruksi.
“Mireya, geser sedikit ke samping.”
Aku menurut.
Kupikir hanya sedikit.
Namun saat take kedua dimulai, aku kembali dipindahkan.
“Geser lagi.”
Take ketiga.
“Ke pojok sedikit.”
Take keempat.
“Lebih pojok.”
Sampai akhirnya aku berdiri di posisi paling ujung.
Benar-benar di sudut frame.
Hampir tertutup bunga.
Kalau dilihat dari kamera, yang terlihat mungkin hanya sebagian rambut dan ujung bahuku.
Wajahku nyaris tidak muncul sama sekali.
Aku terdiam.
Paham.
Aku sangat paham.
Ini bukan soal fokus produk.
Ini Luna.
Dia tidak ingin aku terlihat.
Karena bahkan sebagai figuran jatuh pun…
aku masih berhasil mencuri perhatian.
Luna melirikku sekilas.
Senyum tipisnya nyaris membuatku ingin mendecih.
“Bagus.”
“Sekarang framing-nya lebih bersih.”
Bersih?
Maksudmu aku sudah cukup tersembunyi?
Aku mengepalkan jemari di balik gaun.
Kesal.
Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.
Kontrakku masih ada.
Dendanya terlalu besar.
Aku hanya bisa menelan semuanya.
Dan kembali menjatuhkan diri saat sutradara berteriak.
“Action!”
bruk
Kali ini aku jatuh di sudut taman.
Hampir tidak terlihat.
Nyaris seperti hiasan.
Tepat seperti yang mereka inginkan.