Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amuk Badai yang Tertunda
Di dalam gudang nomor empat yang sunyi, tiga titik kuning di layar monitor berkedip dua kali lalu berubah abu-abu menandakan pergerakan musuh telah terkunci total oleh barikade tiga kontainer raksasa Al-Anwar. Titik merah yang membawa Mbak Nara dan Bapak Handoko melaju stabil menuju jalur aman yang telah dipetakan oleh jaringan intelijen Hendra.
Davika melompat kecil dari atas jok motor balap Mas Gara, membuat tweed jacket-nya mengembang tipis. Mata green-gray miliknya beralih dari layar dinding menuju wajah Gus Zayyad yang masih menggenggam ponsel pintarnya.
"Truk transformer-nya berhasil, Gus!" pekik Davika girang, sifat random-nya kembali meledak setelah ketegangan mereda. Ia menepuk pundak tegap Zayyad dengan tangan mungilnya yang super kecil. "Gus kaku ternyata kalau lagi mode CEO keren juga ya. Hampir mirip sama Mas Gara waktu lagi ngusir makelar tanah di kampung."
Gus Zayyad tidak langsung merespons. Pandangannya masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan wajah Kapten Sagara dari seberang Shanghai. Riasan comma hair dan sisa liptint peach di bibir tebal Zayyad mendadak terasa kontras dengan sorot matanya yang kembali dingin dan penuh wibawa seorang putra mahkota.
"Kapten Gara," suara bariton Zayyad terdengar berat melewati speaker satelit. "Aset utama sudah aman. Tapi Kamil bukan orang yang akan menyerah hanya karena kehilangan satu komplotan di gerbang tol. Dia memegang akses ke dewan pengasuh pusat pesantren. Besok pagi, draf pranikah yang dimanipulasi itu kemungkinan besar tetap akan dinaikkan ke permukaan untuk menekan posisi Nara."
Di layar ponsel, Sagara melangkah masuk ke dalam lobi hotel kru penerbangan yang megah di pusat kota Shanghai. Ia menyerahkan tas dokumennya kepada petugas hotel tanpa mengalihkan pandangan dari kamera. Pet kaptennya dijinjing di tangan kiri, menampilkan tatanan rambutnya yang rapi namun memancarkan aura dingin yang intimidatif.
"Biarkan dia menaikkannya, Gus," sahut Gara datar, suaranya sedingin es yang memotong udara malam Shanghai. "Hendra sudah mengamankan salinan digital dari draf asli yang ditandatangani Abah Kyai dua puluh tahun lalu. Begitu Kamil membuka suaranya di depan media atau dewan pengasuh, aku akan merilis seluruh jejak digital transaksi gelap yayasan yang dilakukan ayahnya, Kyai Mansyur, ke otoritas hukum."
Gara berhenti di depan lift hotel, berbalik menatap kamera dengan mata elangnya yang tajam. "Gus Zayyad, jaga adik bungsuku malam ini di gudang itu. Jika ada satu helai rambut Davika yang rusak karena kelalaian logistikmu, saya sendiri yang akan menerbangkan pesawat cargo langsung ke Jombang untuk menyelesaikan urusan ini secara personal."
Zayyad mengetatkan rahangnya, namun ia mengangguk kaku. "Anda tidak perlu khawatir, Kapten. Davika aman di bawah perlindungan saya."
"Mas Gara! Jangan lupa oleh-oleh skincare dari Shanghai buat Davik ya!" teriak Davika polos dari balik punggung Zayyad, memecah atmosfer mencekam antara dua pria dominan tersebut dengan kedegilannya yang tiada tara.
Sagara hanya mengembuskan napas pendek—setengah jengkel namun ada kilat kehangatan pelindung yang muncul sesaat di matanya sebelum panggilan video terputus dengan bunyi klik yang bersih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gudang nomor empat kembali diselimuti keheningan mekanis. Sinyal satelit di piringan hitam sudut ruangan berkedip konstan, memancarkan gelombang enkripsi yang mengamankan seluruh area pelabuhan lama dari pelacakan digital luar.
Zayyad mengembalikan ponsel ke tangan Davika. Efek pertarungan fisik dan pelarian gila di atas motor tadi rupanya mulai mengikis ketahanan tubuh kekarnya. Begitu ketegangan taktis mereda, Zayyad mendesis tertahan, tangan besarnya refleks mencengkeram rusuk kirinya yang memar akibat hantaman balok kayu anak buah Kamil. Wajah tampannya yang dilapisi cushion tipis itu tampak sedikit menyusut energinya.
"Gus kaku? Tuh kan, sok tangguh lagi," cibir Davika, namun sepasang matanya yang seindah boneka memancarkan rasa khawatir yang tulus.
Dengan kegesitan yang luar biasa rapi, Davika menarik sebuah kursi kerja hidrolik beroda dari meja komputer, memaksanya meluncur tepat di belakang tubuh tegap Zayyad. "Duduk dulu. Jangan sampai pingsan di sini, Davik malas kalau harus gotong tubuh raksasa Gus ke atas jok motor lagi."
Zayyad terpaksa menjatuhkan tubuh kekarnya di atas kursi besi tersebut. Kemeja hitam formalnya sedikit terbuka di bagian atas, menampilkan ujung perban putih dengan ikatan simpul pita imut buatan Davika yang bertengger di bahunya. Pemandangan itu benar-benar mengikis seluruh kesan sangar khas dunia pesantren yang biasa melekat pada dirinya.
Davika bergerak mendekati rak penyimpanan di sudut bengkel, menyambar sebotol air mineral dingin dari kulkas mini portabel milik Mas Gara, lalu menyerahkannya kepada Zayyad.
"Minum dulu, Oppa dadakan," ujar Davika sembari mendudukkan dirinya sendiri secara santai di atas tangki bensin motor balap 250cc, membiarkan kakinya yang jenjang berayun-ayun bebas. Tweed jacket-nya sedikit terbuka, menampilkan proporsi tubuhnya yang padat dan berisi. "Malam ini benar-benar gila ya. Davik kira cuma di drama-drama Tiongkok yang ditonton Mbak Nara saja yang ada acara tembak-tembakan sama kejar-kejaran polisi. Ternyata dunia nyata lebih butuh banyak kosmetik buat nyamar."
Zayyad meneguk air mineral itu hingga tersisa setengah, membiarkan kesegaran dingin membasahi tenggorokannya yang kering. Ia mendongak, menatap lekat-lekat pada wajah dewasa Davika yang masih berhiaskan garis eyeliner cat-eye tajam dan perona bibir plum gelap. Kepolosan ekstrem yang berpadu dengan keberanian nekat dari adik iparnya ini perlahan-lahan mulai menggoreskan impresi yang sangat dalam di benak sang CEO yang terkenal kaku dan dingin itu.
"Kamu... tidak takut, Davika?" tanya Zayyad rendah, suara baritonnya bergema halus di antara dinding baja gudang. "Tadi itu peluru sungguhan. Kamu bisa saja celaka karena terlibat dalam masalah keluarga kami."
Davika terdiam sejenak, menatap ujung sepatu bot kasualnya yang berlumuran sisa tanah basah pelabuhan. Sudut bibirnya kemudian terangkat, memamerkan senyuman tipis yang manis namun sarat akan ketegasan keluarga Mwohan.
"Takut sih ada, Gus. Tapi Mas Gara selalu bilang, keluarga itu cuma punya satu aturan dasar : kalau satu orang dicubit, yang lain harus siap bawa pemukul kasti," sahut Davika dengan nada ceriwisnya yang khas. "Mbak Nara itu orang baik, dia kakak terbaik di dunia walaupun cerewetnya minta ampun. Jadi, kalau ada orang kotor kayak Kamil yang coba-coba mau merusak kebahagiaan Mbak Nara... Davika bakal tabrak pakai motor Mas Gara sampai orang itu kapok!"
Zayyad tertegun, menatap intens ke dalam mata green-gray langka milik Davika yang berkilau bersih di bawah lampu LED. Di balik tabiat humoris dan kedegilan nya yang tiada tara, gadis mungil di depannya ini memiliki loyalitas dan kekuatan pelindung yang begitu murni. Sebuah kontras indah yang mendadak membuat jantung Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari berdegup dengan ritme yang asing sekali lagi di dalam keheningan malam pelabuhan utara.
selalu bilangnya kitab😄😄😄